Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Berita terkini


__ADS_3

Besoknya, pagi-pagi Agatha menerima pesan dari Jeremy.


'Sayang, selamat pagi'


'Kau baik-baik saja kan ? Kenapa tidak menjawab teleponku'


'Aku pulang sore ini, sudah memesan tiket pesawat'


'Hadiahmu sudah aku belikan, tunggu aku ya'


"Jeremy, apa benar kalau aku membuat hidupmu menjadi sulit ? Apa bercerai juga pilihan yang benar ? Aku sangat bingung." Agatha merenung dibalik selimut tebal.


"Sayang, makan yuk ? Makanan sudah siap." Adinda membuka pintu kamar dan mengelus kepala putrinya.


"Iya nanti aku menyusul, bunda duluan saja." Jawab Agatha.


"Baiklah, cepat turun ya kami semua menunggu dibawah." Adinda mencium kening Agatha dan pergi turun.


Dibawah,


"Kakak belum berangkat ?." Pria itu tersenyum lebar.


"Aku libur, karena hari ini Ayah yang datang." Ia menyantap makanan dengan lahap.


"Begitu ya." Agatha mulai memakan makanannya.


"Hari ini Jeremy pulang ya ? Kau pasti sangat senang, karena jaman dulu Bunda selalu menerima hadiah setiap Ayah pulang berbisnis dari manapun." Kata Adinda membuat Agatha tersenyum getir.


"Wajahmu berubah sedih, ada apa ?." Ucap Tania.


"Sepertinya aku akan menceraikan Jeremy." Arkan tersedak saat mendengarnya.


"Uhuuuk ! Uhuuuk !."


"Kenapa sayang ? Kau tidak bahagia ?." Adinda menghentikan makannya kemudian memeluk Agatha karena ia yakin putrinya berada dalam masalah.


"Bunda, kau selalu tau apa yang aku butuhkan." Agatha menangis sedih.


"Karena aku ibumu, aku tahu apa yang anakku butuhkan." Adinda membelai Agatha begitu lembut sambil menanyakan keadaannya saat ini.


"Kau harus berpikir secara matang sebelum mengambil keputusan, bercerai bukan jalan terbaik saat kalian didatangi masalah." Kata Adinda, Tania tersenyum sambil mengangguk, ia percaya bahwa apa yang dulu dia tanam saat ini sudah berkembang didalam diri Adinda.


"Benar Agatha, dulu Bundamu juga hampir menyerah atas sikap Ayah, namun mereka berhasil bertahan sampai detik ini." Tania memegang tangan Agatha untuk menguatkan.


"Aku hanya takut Jeremy semakin sakit." Kata Agatha.


"Sebaiknya untuk sementara lupakan dulu soal perceraian, Bunda temani jalan ke mall bagaimana ? Kau harus senang-senang hari ini." Adinda menawarkan diri untuk menemani putrinya berjalan-jalan.


"Setuju, aku akan mandi setelah makan." Agatha tersenyum senang.


"Aku akan mengantar Bunda." Kata Arkan.


"Begitu dong ! Harus saling menyayangi dan menguatkan." Tania melanjutkan makan lagi.


"Nenek aku bawakan oleh-oleh saja ya, karena wanita itu lama kalau berjalan-jalan, nanti nenek lelah." Arkan mencium tangan Neneknya.


"Benar, Nenek pernah mengalaminya waktu dulu." Tania terkekeh.


Agatha bergegas mandi setelah makan, begitu juga Adinda.


Saat keduanya siap mereka berdiri berdampingan sambil bercanda menunggu Arkan.

__ADS_1



"Pasti dulu Ayah tenggelam setiap hari." Kata Agatha.


"Tenggelam apanya ?." Jawab Adinda.


"Tenggelam melihat kecantikan Bunda, ha-ha." Meskipun Adinda bukan lagi anak-anak, wajahnya tetap memerah ketika dipuji oleh putrinya.


"Kamu sekarang meledek ya ?." Ia menggelitiki perut Agatha sampai anak itu kabur sembunyi dibelakang tubuh Arkan yang baru saja datang.


"Eh ada apa ini ?." Tanyanya.


"Kak lihat deh ! Bunda cantik kan ? Pantas saja Ayah sangat suka." Melihat Agatha dan Adinda tertawa geli, Arkan diam-diam tersenyum melihat kebersamaan mereka.


'Jarang sekali aku melihat Bunda dan Agatha bercanda seperti ini'


"Sudahlah ayo, nanti jalanan tambah macet." Kata Adinda memasuki mobil.


Setibanya mereka dimall, Adinda menemani Agatha kemanapun yang dia inginkan.


Sementara Arkan hanya diminta untuk membawakan semua barang, seperti bodyguard saja.


"Kak ! Kamu cocok deh." Agatha tertawa.


"Iya iya baiklah, asal kau senang terus saja berkata begitu." Arkan mendengus.


"Bunda ! Lihat deh, dia siapa ya kenapa mengikuti kita terus sih ?!." Agatha menunjuk wajah Arkan.


"Bercanda terus ya kalian." Adinda menggelengkan kepala.


"Bicara padaku sekali lagi, akan aku buang belanjaan ini." Mendengar hal tersebut Adinda segera berhenti dan menjewer telinga putranya.


"Bawa saja yang benar, nakal."


"Rasakan itu ! Hahahaha."


SORE HARI , Tingg..


Suara pesan masuk.


'Sayang, aku menuju bandara'


Agatha masih sibuk berbelanja tanpa melihat isi pesan tersebut.


And tringg...tringg


"Jeremy.." Ia ragu untuk mengangkat.


"Angkat dong, dia pasti khawatir denganmu." Melihat wajah Bundanya penuh yakin, ia pun langsung menjawab panggilan dari suaminya.


"Halo Agatha, kenapa sulit sekali menerima jawaban darimu ? Apa kau marah ?." Suara Jeremy sangat lembut.


"Tidak, maafkan aku karena membuatmu cemas. Apa kau akan pulang ?." Tanyanya.


"Benar, aku sudah dibandara sejak tadi, sebentar lagi pesawatku berangkat." Ucap Jeremy.


"Baiklah, hati-hati ya, aku akan menunggumu dirumah." Agatha tak sadar menjatuhkan air matanya karena sangat sedih.


"Aku mencintaimu, sampai ketemu dirumah." Panggilan terputus.


"Belikan Nenek apa ya ? Mungkin baju ?." Kata Arkan.

__ADS_1


"Sepertinya jangan, Nenekmu tidak begitu suka dibelikan baju. Bagaimana kalau bawakan dia sebuket bunga dan juga makanan ?." Ucap Adinda menatap kedua anaknya.


"Boleh, Nenek pasti jarang kan mendapati bunga, aku yakin itu akan membuatnya mengingat masa-masa indah waktu muda." Sahut Agatha setuju.


Pukul 19.05


Prakkkk ! Kopi yang sedang dinikmati oleh Zheng jatuh hingga pecah berantakan.


"Haiss, membuat kerjaan saja." Ujarnya, ketika sedang membereskan pecahan gelas ia mendengar sebuah berita buruk dari televisi.


BERITA TERKINI


'Selamat malam semua, apa kabar ? Saya harap kalian dalam keadaan baik. Malam ini musibah kembali datang dan menimpah saudara saudari kita, tepat pukul 19.00 pesawat tujuan kota Xx dengan nomor penerbangan Xxx telah jatuh diperbatasan laut utara. Kabarnya hingga saat ini masih belum bisa dipastikan penyebab dari jatuhnya pesawat tersebut. Namun pihak berwenang telah menurunkan tim SAR untuk ikut serta dalam membantu pencarian para korban agar segera dapat dievakuasi. Sekian terimakasih dan sampai jumpa.'


Zheng terdiam, jantungnya seperti hampir berhenti. Dengan tenang ia kembali mengecek pesan dari Jeremy untuk melihat nomor penerbangan yang diinformasikan tadi.


"..."


"Tidak mungkin !." Ia berusaha mengirim Jeremy pesan, bahkan menghubunginya berulang kali.


Hasilnya nihil, nomor Jeremy tidak lagi aktif.


Zheng langsung sibuk menuju lokasi untuk mencari tahu kabar para korban termasuk Jeremy.


Jarak yang sangat jauh membuat Zheng menempuh perjalanan selama kurang lebih empat jam agar bisa sampai kesana.


"Jeremy ! sampai kau mati aku tak mau bekerja lagi !!!!!." Zheng frustasi, dia benar-benar khawatir.


.


.


.


Agatha hendak mencuci wajah dengan sabun, tapi sebelum sabun itu dituang ke telapak tangannya, cincin yang melingkar dijari manisnya terlepas dan jatuh menggelinding ke lantai.


"Aaah cincinku." Ia meletakkan kembali sabun wajah kemudian mengejar cincin tadi.


Tiba-tiba saja saat memegang benda kecil tersebut, hatinya merasa tak tenang.


"Apa yang terjadi ?." Gumam anak itu.


DITEMPAT KEJADIAN PERTAMA,


LAUT UTARA, PUKUL 23.45


"Hei bung, berapa jumlah penumpang didalam pesawat itu ?." Seseorang bertanya pada penanggung jawab.


"Ada dua ratus tiga puluh enam, ini buku daftar penumpang, disana tertulis siapa yang sudah atau belum ditemukan." Zheng segera menghampiri orang tersebut untuk melihat nama-nama korban didalam buku.


"Kau tidak boleh masuk kesana, lihat garis polisi itu !." Seseorang menegur Zheng.


"Aku tahu, aku hanya ingin melihat buku ini. Keluargaku adalah korban." Ia memberikan buku itu pada Zheng kemudian Zheng segera memeriksanya.


"..."


"Jeremy Wiradinata." Bughhhhh ! Zheng meninju meja penanggung jawab sampai beberapa orang terkejut.


"Berapa lama pencarian ini berjalan ?!." Tanya Zheng.


"Sampai semua korban ditemukan, sabarlah dulu bung, menjadi keluarga korban memang sangat sedih tapi berdoa saja agar saudara atau saudarimu kembali selamat." Orang itu menarik buku daftar nama penumpang.

__ADS_1


Zheng tanpa sadar menangis karena khawatir Jeremy tak selamat.


"Apa wanita itu layak mengetahui hal ini ?." Pikir Zheng.


__ADS_2