Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Ditolak dan diusir


__ADS_3

"Aku tidak mungkin diam saja, tidak seharusnya aku berada ditempat busuk ini !!! mana mungkin aku tega mencelakai wanita yang aku cinta !." Kata Greg penuh amarah.


"Hei keparat !!!! bebaskan aku ! kau sama sekali tidak punya bukti !." Greg meneriaki polisi yang tak jauh berada didekatnya.


"Diam ! jangan membuat keributan disini." Jawab polisi tersebut.


"Manusia terkutuk ! tidak bisakah kau mencari tahu terlebih dahulu tentang hal ini ?! beraninya memenjarakan orang tanpa bukti-bukti." Greg benar-benar muak.


"Kami hanya menjalankan tugas sesuai laporan terkait, mohon anda tetap tenang sampai kami berhasil menyelidiki kasus ini." Sahut polisi lainnya lagi.


...


Dua hari berlalu, Agatha masih menetap dirumah sakit karena dokter belum mengizinkannya pulang.


"Jeremy, aku benar-benar bosan disini. Bisakah kau meminta pada dokter agar aku bisa segera pulang ?." Agatha memohon.


"Agatha, jika keadaanmu sudah jauh lebih baik, pasti dokter akan mengizinkan tanpa diminta sekalipun. Sabar sedikit lagi ya." Kata Jeremy, ia menyendok sesuap bubur untuk diberikan pada Agatha.


"Ayo makan dulu biar kau cepat sehat." Wanita itu menurut dan langsung memakannya dengan lahap.


Kreek..


"Agatha." Suara Arkan sedikit membuatnya terkejut.


"Untuk apa datang kesini ?." Tanya Agatha kecut.


"Dokter mengizinkanmu pulang, jadi aku sengaja datang untuk menjemput." Arkan membuang nafas kasar seolah kecewa dengan perlakuan Agatha saat ini.


"Bagus, bagus jika dokter memberiku izin untuk pulang. Tapi aku akan memberimu peringatan, bahwa aku tak akan pulang bersamamu." Tutur Agatha.


"Bunda dan Ayah menunggumu dirumah, Nenek juga sangat rindu padamu." Kata Arkan.


"Stop membawa nama mereka karena aku tak akan terpengaruh sedikitpun ! aku akan pulang bersama Jeremy ! dia jauh lebih mengerti dibandingkan kau !." Balas Agatha menekankan.


"Aku Kakakmu, aku menjagamu dari kau masih kecil. Aku menyayangimu sepenuh hati. Lalu kau memilih Jeremy dari pada aku ?." Tanya Arkan kesal.


"Kakak ??? kau sebut dirimu sebagai Kakak ?! Aku bingung, apa kau masih pantas berada diposisi itu atau tidak." Agatha kesal sekali melihat wajah Arkan.


"Sekarang kau berani melawanku ?!." Arkan menghampiri wanita didepannya dan hendak menampar, namun Jeremy menahan tangan itu.


"Pikirkan hal ini baik-baik, kau tidak bisa kasar pada orang yang keras kepala seperti Adikmu." Jeremy berbisik.


"Kau berhasil mencuci otaknya." Arkan menatap tajam Jeremy.


"Terserah kau ingin menilaiku seperti apa, yang terpenting adalah kau harus ikut bermain dalam kondisi ini agar Agatha bisa kembali padamu." Jeremy membalas tatapan tajam itu.


"Sekarang habiskan dulu makannya, setelah itu kita pulang." Jeremy menyodorkan sendok berisi bubur itu lagi.


"Dimana kau akan tinggal bersama Jeremy ?." Tanya Arkan mengalah.


"Kau tak perlu tahu dimana, lebih baik kau keluar karena aku muak melihat wajahmu." Agatha mengusir Arkan secara terang-terangan.


"Baik, aku pergi sekarang."


"Kau seharusnya jangan terlalu keras pada Kakakmu. Dia pasti sangat khawatir." Kata Jeremy lembut.


"Aku sangat benci padanya." Agatha memalingkan wajah.


"Suatu hari kau akan mengerti kenapa dia melakukan itu. Ayo satu suap lagi." Saat makan selesai, mereka berkemas untuk keluar dari rumah sakit.


"Bisa jalannya ? atau mau aku bantu ?." Ucap Jeremy.


"T-tidak, aku bisa." Ia melihat Agatha masih begitu lemah melangkahkan kakinya, tanpa pikir panjang lagi Jeremy pun segera mengangkat tubuh Agatha dan berjalan ke lobby.


"Hei, nanti kau keberatan." Ucap Agatha.


"Tidak, kau sama sekali tidak berat. Tubuhmu pas kok." Jeremy tersenyum, mereka menaiki lift untuk turun.


Semua orang yang berada di lift melihat betapa romantisnya Jeremy.

__ADS_1


"Wah ! anda benar-benar suami yang pengertian." Kata salah satu pengunjung rumah sakit.


"Betul, kalian pasangan yang cocok !." Mendengar itu Agatha langsung saja menatap wajah Jeremy yang sepertinya kebingungan memberi jawaban.


"Senyum saja, tak usah dijawab jika kau bingung." Bisik Agatha.


Mereka berdua tersenyum.


di mobil, Jeremy memasangkan sling belt untuk Agatha dan mengusap kepalanya.


"Kalau pusing kau tidur saja." Wanita itu hanya mengangguk sebagai tanda setuju.


***


Kediaman Anggara,


"Kenapa hanya sendiri ? dimana Agatha ?." Tanya Adinda.


"Benar, cucuku dimana ? apa dia masih didalam mobil ya karena tidak kuat jalan ? kenapa kau tidak menggendongnya saja." Kata Tania Anggara.


"Hem, maaf semuanya. Arkan gagal membawa Agatha pulang." Ucap Arkan.


"Apa ??!! maksudmu bagaimana sih ?! kenapa gagal !." Adinda frustasi.


"Sabar sayang, jangan marah-marah terus. Kita dengarkan dulu alasan Arkan." Saran Satria.


"Agatha benar-benar marah dan benci padaku karena aku menghalangi cintanya pada Greg. Dia tak mau bertemu denganku lagi, bahkan saat ini pun dia memilih untuk pergi bersama Jeremy dibandingkan aku." Satria melihat kekecewaan diwajah Arkan.


"Ayah mengerti, dia pasti marah karena kita sudah melarang pada siapa dia jatuh cinta." Satria menepuk bahu putranya.


"Lalu bagaimana nasibnya ?!! aku tidak mungkin membiarkan putriku bersama dengan pria itu. Kita bahkan tidak bisa melihat bagaimana dia makan, mandi, dan tidur." Agatha menangis.


"Nenek sangat rindu pada cucuku." Ucap Tania.


"Sabar ya Arkan, kau sudah melakukan yang terbaik. Nanti juga Agatha akan mengerti dan kembali kerumah." Kata Selina.


"Semoga itu benar." Arkan segera masuk kamar dan mengunci pintu.


"Aku sangat mencintaimu, tidak akan ada hari dimana aku rela melihat Adiknya sendiri dicelakai oleh pria yang mengaku mencintaimu." Ucap Arkan lagi.


"Tidak ada yang bisa mencintaimu melebihi perasaanku, Ayah, Bunda dan Nenek." Arkan membanting vas bunga yang ada dikamarnya.


"Arkan." Suara Selina terdengar dari sebrang pintu.


"Arkan please, you can't hurt yourself." [ kamu tidak bisa menyakiti dirimu sendiri ] Kata Selina.


"Aku benar-benar marah padamu Greg ! kau membuat hubungan keluarga kami hancur ! aku akan balas agar kau lebih hancur dari ini." Arkan mengepalkan tangannya.


Selina benar-benar khawatir mendengar Arkan terus memberontak, sehingga dia memilih untuk menghubungi Rain.


"Halo Rain, bisakah kau datang kemari ? Arkan marah besar, aku takut dia menyakiti dirinya sendiri." Ucap Selina.


"Baik, tunggu aku lima belas menit." Rain bergegas menuju kediaman Anggara dan menemui kekasihnya itu.


Lima belas menit kemudian,


"Rain, ayo kita temui Arkan." Selina menarik tangan Rain menuju kamar saudaranya.


"Sejak kapan dia seperti ini ?." Tanya Rain.


"Saat dia kembali dari rumah sakit, dan menerima penolakan Agatha." Balas Selina.


Rain kini berdiri didepan pintu, lalu mendengar suara barang-barang yang terus dibanting ke lantai.


"Dia benar-benar kehilangan kendali." Rain mengetuk pintu itu perlahan.


"Arkan, bisa kah kau buka pintunya ? ini aku, Rain." Kata Rain, namun Arkan tak mendengarkan sedikitpun.


"Arkan, kau dengar aku ? kita bisa bicara sebentar ?." Ucap Rain lagi.

__ADS_1


"Aku tak tertarik untuk bicara pada siapapun !." Jawab Arkan tegas.


"Selina, apa tidak ada cara lain untuk menghentikan ini ? pintunya terkunci, kita tidak bisa masuk kedalam." Rain khawatir.


"Rain ! aku baru ingat, semua ruangan yang ada disini selalu memiliki kunci cadangan. Kau tunggu sebentar, aku akan cari kuncinya." Selina berlari mencari kunci yang ia maksud.


Tidak menunggu lama, kunci itu dengan mudah didapatkan.


"Ini." Rain menerima kuncinya dan segera membuka pintu Arkan.


Hal itu bertepatan dengan Arkan yang sedang melempar bingkai foto hingga mengenai Rain.


Kreeekk,


"Aaagh." Rain terhenti lalu memegang lengannya.


"Rain ?." Arkan menoleh, cepat-cepat ia menghampiri wanita itu.


"Heuh Arkan." Rain menatap pria setengah bodoh didepannya.


"A-aku aku sama sekali tidak berniat melukaimu, kau seharusnya tidak masuk kesini." Balas Arkan.


Tanpa menjawab apapun, Rain langsung menarik anak itu kedalam pelukannya yang hangat.


"Kau membuat semua orang khawatir ! apa aku harus terluka dulu seperti ini agar kau mau berhenti ?." Tak tega melihat lengan Rain berdarah, Arkan membawanya duduk diatas sofa kamar dan cepat-cepat diobati.


"Aku minta maaf, karena aku tanganmu jadi terluka begini." Rain mengangguk.


"Aku tahu kau marah, kau kecewa, tapi bukan begini caramu bersikap. Kau sudah dewasa Arkan, tidak baik membiarkan emosi menguasai tubuhmu. Kau harus bisa mengendalikannya." Rain mengusap wajah Arkan.


"Tapi kau tidak tahu bagaimana rasanya ketika mendengar Adikku sendiri menolakku kemudian mengusirku." Rain hanya tersenyum kecil. Ia justru kembali teringat dengan apa yang dia alami dulu.


"Agatha hanya butuh waktu untuk bisa menerima semua ini, dia pasti akan syok jika mengetahui keberadaan pria yang dia cintai." Kata Rain.


"Berapa lama waktu yang dia butuhkan ? aku sudah muak melihatnya terus membantahku." Arkan menatap Rain seolah meminta jawaban.


"Jika semua orang tidak menyetujui hubungan kita, apa yang akan kau lakukan ?." Ucap Rain.


"Tidak mungkin, semua orang pasti setuju." Jawab Arkan tertawa kecil.


"Andaikan, aku cuma ingin dengar jawabanmu."


"Aku akan memperjuangkan hubungan kita, karena aku mencintaimu. Tidak ada alasan untuk mereka melarang." Rain sangat senang mendengarnya tapi disisi lain dia kembali bicara.


"Itu yang Agatha rasakan ketika semua orang melarangnya berhubungan dengan Greg. Aku yakin dia punya moment indah sehingga sangat sulit berpisah dari Greg." Arkan mengernyit.


"Kau tak tahu apapun tentang Greg, dia benar-benar tidak bertanggung jawab. Dia sering membuat Adikku dalam bahaya." Arkan kesal.


'Aku bahkan mengenal Greg sebelum kamu, dia bukan orang seperti itu. Dia berbeda dengan Adiknya.'


"Kau harus belajar mengerti perasaan Agatha, dia mungkin belum bisa mengontrol hati dan pikirannya sendiri." Kata Rain memegang tangan Arkan lembut.


...


"Kacau ! semuanya menjadi kacau ! hari itu benar-benar buruk !!!!!." Rubby marah besar.


"Rain ! kau seharusnya sudah menjadi santapan binatang buas seperti Leonard ! bukan aku !!." Kata Rubby lagi.


"Pokonya aku harus mendapatkan perhatian Tuan Arkan ! dia adalah pria yang berani mengambil ciumanku pertama kali. Dan aku harus merasakannya lagi sampai akhir ! aku ingin hidup bersamanya." Rubby mengepalkan tangan.


"Rubby." Suara mengejutkan datang dari pintu.


"Temani aku datang ke jamuan minggu depan." Kata Laos.


"Minggu depan ? apa banyak orang penting disana ?." Tanya Rubby.


"Temanku tidak mungkin mengundang orang sembarangan, Tuan Arkan juga pasti datang." Mendengar itu Rubby sangat senang dan menuruti keinginan Laos untuk menemaninya.


'Ini kesempatan bagus untuk mencuri perhatiannya'

__ADS_1


Rubby tersenyum sinis.


__ADS_2