Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Tuan Hardest


__ADS_3

"Jeremy benar-benar telah merebutnya dariku, aku tak akan membiarkan ini." Greg mengepalkan tangan kemudian pergi dari kediaman Anggara.


...


Rain yang mengetahui kepulangan Agatha segera berkunjung.


"Bagaimana kabarmu ?." Tanya Rain.


"Aku baik, jauh lebih baik saat Jeremy ditemukan." Agatha tersenyum kecil.


"Sementara ini jagalah dulu kondisimu, jangan sampai sakit." Kata Rain memegang tangan Agatha.


"Aku selalu meminum vitamin selama menjaganya disana. Rain, apa kau mau mendengar ceritaku ?." Ia menatap Rain penuh harap.


"Tentu saja, aku pasti mendengarkanmu." Kata Rain.


"Jeremy sudah tiga hari tak sadar, tapi belum ada satupun keluarganya yang datang. Apa menurutmu mereka sangat sibuk sampai tidak bisa membagi waktunya sebentar ? Jeremy pasti sedih jika tahu hal ini." Agatha menyandarkan kepala dibahu Rain.


"Benarkah belum ada yang datang ? Aku rasa tidak mungkin kalau Jeremy tidak mempunyai keluarga, kecuali mereka memang bermasalah sebelumnya." Ucapan Rain membuat Agatha berpikir.


"Tapi kau tenang saja, jangan memikirkan hal ini terus. Lain kali kau bisa bertanya pada suamimu saat dia sembuh, dan disana kau akan mendapat jawaban." Rain mengusap bahu Agatha agar anak itu tidak terlihat sedih.


"Kau benar, aku bisa menanyakan keluarganya saat dia sembuh nanti. Makasih Rain karena sudah mendengar ceritaku." Agatha tersenyum lega.


"Seterusnya, kau boleh ceritakan apapun padaku seperti ini." Rain memegang tangan Agatha sambil menenangkannya.


Esok hari,


"Tuan Hardest !." Zheng menunduk memberi hormat.


"Aku dengar berita bahwa putraku telah ditemukan." Balas Hardest, Ayah dari Jeremy.


"Benar Tuan, Jeremy sudah ditemukan sejak empat hari lalu. Tapi beliau belum juga sadar." Zheng menjelaskan.


"Ada hal yang ingin aku tanyakan denganmu." Hardest menatap dingin.


"Tentu, saya akan menjawab." Ucap Zheng memantapkan ketenangan hati.


"Apa benar soal isu yang beredar kalau Jeremy sudah menikah secara diam-diam ?." Mendengar pertanyaan itu, Zheng terdiam.


"Sepertinya raut wajahmu menolak pertanyaan ini ya." Hardest segera melipat kakinya diatas sofa.


"Jeremy memang sudah menikah Tuan, dan hal ini disaksikan langsung oleh pihak dari keluarga wanita." Jawab Zheng.


"Yang benar saja, mana mungkin putraku menikah dengan ala kadarnya begitu. Memalukan." Terlihat sekilas tawa hinaan didalam wajah Hardest.


"Saya dengar Jeremy akan menikahkan istrinya secara berulang, karena beliau menginginkan pernikahan yang sesungguhnya." Ucap Zheng lagi.


"Bagaimana keluarga wanita itu ? Apa dia terlihat rendahan ?." Tanya Hardest.


"Tidak Tuan ! Nona memiliki latar belakang yang baik, keluarganya adalah pengusaha kaya dikota ini." Hardest memegang dagunya seraya berpikir.


"Maaf sebelumnya, apa anda mengetahui semua hal ini dari..."


"Marry, dia menceritakan semuanya kepadaku. Aku hanya bingung, bagaimana mungkin Jeremy menelantarkan kekasihnya dan menikahi wanita lain. Kau tahu betul bahwa Jeremy pernah berlutut dihadapanku demi membawa Marry bersamanya." Ucap Hardest.


"Setelah Tuan pergi, sudah banyak sekali yang Marry lakukan termasuk hal-hal bodoh tidak masuk akal." Ucap Zheng.


"Aku ingin mendengar apa saja kekacauan yang dibuat oleh anak itu sehingga Jeremy lebih memilih wanita lain." Saat Zheng ingin menyampaikan semua keburukan Marry, tiba-tiba ketukan pintu terdengar.

__ADS_1


Tok..tok


"Ayah Hardest !." Marry memeluk pria tua itu dihadapan Zheng.


"Aku senang Ayah datang." Kata Marry tersenyum.


"Zheng, tinggalkan kami sebentar." Pinta Hardest yang langsung dituruti oleh Zheng.


"Bagaimana kabarmu ?." Kata Hardest memegang pipi Marry.


"Tidak baik, semenjak kehadiran wanita itu. Aku hampir gila dibuatnya." Kata Marry sedih.


"Kenapa kau tidak melarang Jeremy menikahi wanita lain ?." Hardest bicara dengan sangat tenang.


"Wanita itu benar-benar pintar cari muka didepan Jeremy, sehingga aku tak mampu lagi mencegahnya." Marry kembali memeluk Hardest.


"Kau yakin Jeremy masih mencintaimu ?." Marry mengangguk dengan percaya diri.


"Bahkan sampai hari ini wanita ****** itu tidak datang menjenguk Jeremy. Dia pasti hanya menginginkan harta Jeremy saja." Hardest mengernyit.


"Tapi Zheng bilang kalau keluarganya adalah pengusaha kaya dikota ini, tidak mungkin jika berniat untuk menguasai harta putraku." Marry tercengang, lalu berusaha mengambil kepercayaan Hardest.


"Ayah, jika tidak seperti itu untuk apa lagi dia menikah dengan Jeremy ? Semua orang pun tau kalau dia sudah punya kekasih sebelumnya." Sedikit terpancing dengan ucapan Marry, Hardest segera berpikir.


"Kau tidak perlu khawatir, Ayah akan melakukan cara agar mereka berpisah." Marry langsung menyeringai saat mendengar ucapan Hardest yang memihaknya.


Tok..tok


"Zheng, aku datang.." Agatha berhenti dan mematung didepan pintu setelah melihat Marry bersama pria tua diruang rawat suaminya.


"Marry, kau mau apa ?." Agatha bingung.


"Tentu saja aku ingin bertemu calon suamiku, untuk apa kau kemari ? Bukankah sejak Jeremy ditemukan kau sama sekali tidak datang kesini untuk menjenguknya ?!." Marry berdiri dan mendominasi Agatha.


"Apa kau istri Jeremy ?." Tanya pria tua disebelah Marry.


"Benar, maaf kalau saya lancang tapi anda siapa ya ?." Agatha bertanya penuh nada halus.


"Saya Hardest, Ayah dari Jeremy." Mendengar itu Agatha langsung menunduk hormat dan memberi salam.


"Ah maaf, perkenalkan namaku Agatha. Senang bisa bertemu dengan Ayah Hardest secara langsung hari ini." Kata Agatha.


"Untuk apa kau menikah dengan putraku ?." Tiba-tiba saja jantung Agatha seperti ditusuk oleh belati.


"Apa mungkin sifat Ayahnya memang seperti ini ? Sepertinya aku harus berhati-hati, karena bisa saja Marry sudah berhasil mempengaruhinya agar membenciku." Gumam Agatha dalam hati.


"Tentu saja kami menikah karena saling mencintai, maaf kalau saat itu kami tidak memberitahu Ayah." Kata Agatha.


"Pembohong ! Jelas-jelas kau punya kekasih ! Tapi kau masih bersikeras menikahi calon suamiku." Kata Marry kesal.


"Marry, aku tahu kau marah, tapi bisakah kecilkan suaramu ? Ini rumah sakit, dan suamiku belum pulih. Jadi tolong jaga sikapmu baik-baik." Hardest hanya memperhatikan Agatha dari atas sampai ujung kaki.


"Sebaiknya kita bicarakan ini dirumah, ayo." Hardest mengajak Marry dan Agatha menuju kediaman Jeremy.


Semua pelayan terkejut melihat kedatangan Hardest yang tiba-tiba seperti ini, padahal mereka tahu bahwa selama ini pria tua itu tidak ingin menginjakkan kaki ditempat putra kandungnya.


"Selamat datang Tuan besar." Ucap para pelayan.


Tak lama kemudian Hardest pun dibuat terkejut dengan isi rumah mewah itu, karena sudah banyak sekali foto-foto besar milik Agatha & Jeremy yang terpajang di dinding.

__ADS_1


"Apa kau tidak tahu alasan Jeremy menikahimu ?." Tanya Hardest sambil memegang salah satu foto Agatha yang terletak diatas meja.


"Tentu saja karena Jeremy mencintaiku. Ayah, tidak mungkin seorang pria menikahi wanita jika tidak mencintainya." Ucap Agatha.


"Ada." Hardest menjawab begitu dingin.


"Siapa ?." Agatha bertanya.


"Saya." Perkataan Hardest membuat Agatha tercengang.


"Dulu, saya menikahi Ibu Jeremy karena dijodohkan. Saya sama sekali tidak mencintainya, dan kesalahan terbesar saya adalah menyentuh wanita itu sampai Jeremy terlahir." Agatha benar-benar syok, begitu pula Marry yang bertahun-tahun tidak tahu apapun tentang latar belakang keluarga Jeremy.


"Dan hari ini, melihatmu berdiri didepan saya seperti melihat wanita itu bicara dengan mulutnya." Hardest mengambil sebuah foto yang tersimpan didalam dompetnya, lalu diberikan kepada Agatha.


"K-kenapa wajahnya mirip sekali denganku ?." Agatha tak percaya.


"Jeremy sangat mencintai ibunya, itu alasan dia kenapa ingin menikahimu." Hardest bicara seolah-olah Jeremy mencintai Agatha dengan kepalsuan.


"Ayah, aku percaya pada suamiku. Dia tidak mungkin mencintaiku hanya karena aku mirip dengan mendiang ibunya." Melihat Agatha yakin, Hardest hanya tertawa.


"Kau tidak tahu siapa Jeremy, suatu hari kau akan menyesal karena pernah begitu yakin." Marry tertawa ketika melihat Agatha diam tak bicara.


"Itulah kenapa aku memintamu untuk tidak sombong ! karena hari ini aku telah membuktikannya padamu, cinta itu tidak ada." Marry terkekeh.


"Halo semua." Suara pria terdengar dari belakang mereka.


"Ayah, dia siapa ?." Tanya Marry.


"Kau belum mengenalnya ya ? Ayo kenalan dulu." Ucap Hardest.


"Marry." Ucap Marry menjabat tangan pria tersebut.


"Liam." Pria itu tersenyum.


"Ayah siapa wanita yang ini ?." Liam bertanya pada Hardest setelah melihat Agatha berdiri didepan Ayahnya.


"Tanyakan sendiri padanya, siapa dia." Pinta Hardest.


"Bolehkah aku tahu namamu ?." Liam bertanya lembut smbil mengulurkan tangan.


"Agatha." Ia sama sekali tak mau menjabat tangan itu.


"Hem, baiklah." Liam terus memperhatikannya.


"Berhenti memandangi kakak iparmu." Ucap Hardest.


"A-apa ?!." Liam memperhatikan Agatha dari atas sampai bawah.


"Kau sudah menikah dengan Jeremy ?." Agatha mengangguk.


"Jika ingin tinggal disini, berhati-hatilah dengan sikapmu Liam. Kau bukan tinggal dimana semua wanita bisa kau sentuh semaumu." Liam mengangguk setuju.


"Harusnya Ayah beritahu aku kalau ada wanita secantik dia disini, aku juga tak mau kalah dengan Jeremy." Bisik Liam pada Hardest.


"Dasar wanita murahan ! dulu dia merebut Jeremy dariku, sekarang dia sedang berusaha manis didepan Liam." Marry diam-diam mengepalkan tangan.


"Ayah, jika sudah selesai bicara bolehkah aku pergi ? Aku harus menjaga Jeremy dirumah sakit." Marry memberi kode kepada Hardest agar melarangnya.


"Tidak perlu, dari kemarin Marry sudah susah payah menjaganya, biarkan dia yang menjaga Jeremy lagi." Agatha hendak membantah omongan Hardest namun dia tahu akan kalah bicara disini.

__ADS_1


"Hari ini aku mengizinkanmu menang Marry." Ucap Agatha terang-terangan didepan Hardest.


"Wajahnya sangat tenang, aku yakin dia bukan wanita sembarangan." Gumam Liam.


__ADS_2