
di dalam Adinda mendengar suara keributan, ia penasaran lalu segera mendekati suara tersebut.
untung saja Arkan sudah tertidur, jadi ia meminta Desi yg baru saja selesai masak untuk menjaga Arkan sebentar.
saat menuju pintu, dilihatnya Satria yang sedang memukuli Jonatan tiada henti, Adinda juga melihat wajah Jonatan yang sudah memar memar, dan sudut bibir nya mengalir darah segar.
"astaga!." gumam Adinda tak percaya untuk pertama kali melihat kemarahan suaminya separah itu
Adinda sesegera mungkin menarik Satria
"Satria cukup!." Adinda menghalangi Satria agar berhenti menyiksa Jonatan
"minggir, jangan ikut campur urusan ku." balas Satria dingin
"hentikan Satria, jika kau terus memukuli nya maka dia akan mati di tangan mu!." kata Adinda menegaskan
"aku tidak perduli! lebih baik dia mati dari pada menghancurkan keluarga ku!!." ucap Satria masih dipenuhi rasa amarah
Adinda terus berusaha menghentikan suaminya tapi justru emosi Satria sudah sangat memuncak sampai tidak bisa lagi ditahan.
Adinda memegang erat tangan suaminya tapi justru Satria melepaskan dengan kasar sampai Adinda terhempas dan jatuh mengenai pintu
"aaghh." tubuh Adinda terasa sakit saat terkena pintu tersebut
__ADS_1
"Adindaa!!." teriak Selin
Satria menoleh dan melihat istrinya yang kini terduduk kesakitan.
"Dinda?!!!!!." Satria mendekati Adinda dan menggendongnya ke kamar tanpa memperdulikan Selin ataupun Jonatan
Satria menuju kamar dengan cepat, lalu ia meletakkan istrinya di atas ranjang.
"sayang??? kau tidak apa apa? maaf kan akuuuu." ucap Satria menyesali perbuatan nya
"tubuh ku sedikit sakit." jawab Adinda dengan suara terdengar sedikit lemah
"aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyakiti mu, sebaiknya aku membawa mu ke rumah sakit." kata Satria bersiap untuk menggendong istrinya lagi
"kenapa tidak usah? aku takut kau kenapa napa." ucap Satria
"sini mendekat." pinta Adinda
Satria mendekati Adinda, lalu Adinda mengelus lembut kepala suaminya
"kenapa kau semarah itu sayang? kau hampir saja membunuhnya." ucap Adinda
"bagaimana tidak?! Selin berkata kalau dia mencintai laki laki bejat itu." kata Satria mulai emosi lagi
__ADS_1
"jangan emosi, kau sedang berbicara dengan istrimu, bukan orang lain." ucapan Adinda menyadarkan suaminya
"ya maafkan aku, aku tadi benar benar kehilangan kendali, aku tidak tahan saat melihat wajah laki laki itu, maaf aku menyakiti mu." Satria memeluk istrinya
"berjanji pada ku kalau kau tidak akan mengulangi hal buruk seperti itu?." pinta Adinda
"tapi aku tidak bisa memastikan apakah aku akan mampu menahan emosi atau tidak saat melihat nya." jawab Satria
"ingat saja wajah ku, kau pasti bisa, jangan menjadi laki laki kejam seperti tadi, maafkan kesalahan Jonatan, mungkin kali ini dia benar benar sadar akan apa yang sudah dia lakukan kemarin." Adinda meyakinkan suaminya
"bagaimana kalau dia memang ingin balas dendam dengan cara menyakiti Selin??." tanya Satria
"aku yakin dia tidak akan menyakiti kak Selin, kau harus percaya dan mulai menerima nya, biarkan kak Selin bahagia bersama cinta nya yang baru, kalau nanti terjadi sesuatu pada nya maka kau boleh mengambil tindakan asal tidak melewati batas wajar."
"tapi..."
"sudah lah Satria, jangan seperti ini, aku tidak suka melihat mu kaya tadi, kau harus ingat, kau baru saja memiliki anak laki laki, kau tidak mau kan jika dia besar akan menjadi laki laki kejam seperti mu tadi?." ucap Adinda
"iya tentu saja aku tidak ingin melihat putra ku seperti itu, sekarang dia dimana? aku ingin melihatnya." pinta Satria
"dia ada di kamar nya bersama Desi, kau kesana saja, aku akan tetap disini."
"ya sudah aku kesana, kau istirahat ya, maafkan kelalaian ku tadi, aku mencintai mu." Satria mengecup kening istrinya
__ADS_1