
"Selin tolong bertahan!." Jonatan memegangi tangan Selin, belum lagi dirinya melihat darah yang mengalir di kaki istri cantiknya itu.
"Satria! lebih cepat! Selin mengalami pendarahan!." Jonatan frustasi.
Sesampainya di rumah sakit, Selin segera ditangani oleh dokter.
Tania, Jonatan, Selina dan juga Satria saling berdoa agar hal buruk tak terjadi pada wanita tersebut.
"Mama, aku sudah maafkan Mama." Selina menangis.
Di rumah,
"Aku mendengar sesuatu, tapi kepalaku sedikit sakit jika bangun dari kasur." Adinda menyandarkan tubuhnya di ranjang.
"Mas? kamu dimana Mas?." Adinda memanggil sang suami seraya memijit kening perlahan-lahan.
"Nona, Tuan sedang tidak ada." Kata Pelayan.
"Kemana dia?."
"Nona Selin baru saja terjatuh karena tak sengaja terpeleset, mereka sekarang pergi ke rumah sakit." Jelas Pelayan.
"Apa?!." Adinda buru-buru mengambil kunci mobil karena ingin menyusul mereka semua, namun tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"H-halo Mas?! Kak Selin?! Bagaimana keadaan nya?!." Satria mendengar nada sang istri yang begitu panik.
"Sayang tenang. Aku sedang menunggu dokter, tolong jangan pergi kemana-mana, tetap di rumah, aku pasti segera pulang menemui mu, kau tidur sangat sebentar, kembalilah ke kasur." Perintah Satria.
"T-tapi Mas.."
"Cepat." Wanita itu segera menuruti keinginan suaminya.
"Beritahu aku jika ada perkembangan tentang Kak Selin." Pinta Adinda.
"Dengan satu hal! kau diam disitu sampai aku pulang!." Satria menutup telepon.
"Mas Satria keterlaluan! main tutup telepon begitu saja! bagaimana bisa aku hanya diam disini! apa harus terbang untuk mengambil segelas air kalau aku haus?! itu konyol." Kata Adinda sebal.
..
"Kenapa aku jadi kepikiran Selin terus ya? apa karena kemarin dia bersikap seperti itu padaku? tidak tenang rasanya." Gumam Bryan.
Drttt...drtttt.
"Halo?." Kata Bryan.
__ADS_1
"Bryan, Selin jatuh, ah ini bukan tentang dirinya tapi aku menghubungimu karena dia mengandung anakmu." Ucap seseorang di sebrang telepon.
"Apa?! Selin jatuh?! dimana?! aku ke sana sekarang!." Bryan menerima lokasi dan bergegas pergi.
Bryan mengebut untuk cepat-cepat datang ke rumah sakit, sesampainya di sana ia pun langsung menuju ruangan Selin yang telah diberitahu oleh Jonatan.
"Hei! apa Selin benar-benar terjatuh?! bagaimana keadaan anakku?!." Tanya Bryan.
"Selin keguguran." Kata Jonatan.
"Jangan bercanda kau!." Bryan menarik kerah Jonatan sampai pria itu kesulitan bergerak.
"Lepaskan tangan mu! jangan membuat kekacauan di rumah sakit ini!." Satria menepis tangan Bryan dari kerah Jonatan.
"Kau bilang kekacauan?! bagaimana kalau Adinda keguguran?!." Mata Satria memerah dan langsung meninju wajah Bryan.
"Tutup mulutmu! Aku sudah pernah kehilangan anak keduaku saat dia masih berada di dalam kandungan! kau tidak tahu apa-apa Bryan! kau bahkan belum pernah menikah!." Satria emosi karena Bryan membawa-bawa Adinda dalam perihal ini.
"Sudah-sudah! Satria, lebih baik kamu pulang, dan kamu Bryan! tahu diri sedikit!." Ucap Tania.
"Tidak tahu malu kau!." Satria mendorong Bryan kemudian pergi untuk pulang ke rumah.
Di rumah,
"Bagus, kau menuruti perkataan ku." Kata Satria.
"Tidak, bayinya mati." Wanita itu dengan cepat tercengang.
"Apa?! mati? apa kau pikir dia hewan Mas! maksudmu bayinya meninggal?! pasti Kak Selin sangat sedih!." Ucap Adinda.
"Dasar bodoh! apa yang ada di kepalamu sih?!." Satria mendorong Adinda ke tembok lalu menguncinya.
"A-apa ya? di kepala ku pastinya ada otak Mas, hei! bisa-bisanya kau ingin meledekku di keadaan seperti ini." Adinda memajukan wajahnya dan melotot.
"Bagaimana bisa kau mengasihani orang lain, kau lupa ya? perutmu sudah besar begini, jadi lebih baik kau pikirkan kandungan mu!." Ucap Satria.
"M-mas?." Wanita didepan nya kini memasang wajah sedih, bibirnya cemberut, cepat-cepat Satria memalingkan wajahnya.
"Mas marahi aku?." Adinda kembali merengek sambil memegang baju Satria.
"Mas tidak mau melihat wajahku?." Katanya lagi.
"Ah! perutku keram!." Mendengar itu Satria segera menengok dan mengecek kondisi Adinda secara detail, ia tak lupa dengan apa yang Bryan katakan di rumah sakit.
"Sayang?! mana yang sakit?! kita ke dokter ya sekarang!." Ucap Satria.
__ADS_1
"Mas marahi aku?." Satria menyadari kalau istrinya hanya pura-pura sakit agar dilirik, ia tak bisa melihat wajah cemberut yang sangat imut itu, bisa-bisa dirinya tertawa disaat sedang marah.
"Mas, aku pergi ya." Kata Adinda lagi.
"Mas tidak dengar ya?? aku mau pergi nih." Adinda terus bicara.
"Aku pergi ya Mas, nih aku pergi nih."
"Mas! aku mau pergi lho! kamu gapapa kalau aku pergi?." Tanya Adinda.
"Ah tau ah! aku pergi beneran deh!." Adinda hendak keluar kamar, tetapi Satria menarik tubuh itu ke dalam pelukan nya.
"Sayangku yang manis, pandai sekali ya buat Mas tidak marah lagi." Kata Satria.
"Ih kamu! lagi kenapa marah sih? aku tau pasti Mas lagi kesel kan?! ngaku." Kata Adinda ngeluh.
"Iya-iya, Mas lagi emosi tadi di rumah sakit, Bryan datang dan bawa-bawa kamu tentang keguguran, Mas jelas tidak terima!." Ucap Satria.
"Tuh kan, kalau aku tidak begini pasti Mas juga tidak akan cerita." Ucap Adinda sinis.
"Rujak mau?." Tanya Satria.
"Mauuuuuuuu !." Adinda segera memeluk Satria dan menciumi pipinya.
"Tuh kan, giliran Mas tawarin kamu rujak aja langsung deh manis begini." Kata Satria.
"Kan memang aku manis Mas." Adinda tersenyum sambil mengangkat alisnya berkali-kali.
"Tidak boleh jutek lagi ya?." Ucap Satria.
"Iya Mas tidak jutek lagi." Adinda tersenyum-senyum, hatinya gembira ingin dibelikan rujak.
"Sayang, kok kamu terlihat gendut ya?." Kata Suami.
"Keterlaluan kamu ya Mas! aku lagi hamil begini lho! kalau tidak mau aku gendut yasudah, jangan sentuh aku!." Ucap Adinda.
"Oh begitu, baiklah tidak jadi beli rujak, Mas mau pergi saja ada urusan." Kata Satria.
"Yah, kok pergi Mas? katanya tadi mau belikan aku rujak." Adinda menduduki kasur dengan wajah lesu.
"Tidak mau, istri Mas jutek." Satria ingin pergi meninggalkan kamar.
"Sayang, sepertinya lebih baik kalau kita cari Ayah baru ya, yang bisa belikan kamu rujak." Adinda berbicara sambil mengelus perut nya yang besar.
"Sayang? kita cari Bunda baru ya, yang bisa mengerti keinginan Ayah." Satria meniru gaya istrinya, Adinda menatap Satria sambil kesal.
__ADS_1
"Sayang, jangan cari suami baru ya, aku belikan kamu rujak sekarang." Satria berbaik hati mendekatkan diri kemudian mencium kening wanitanya.
"Mohon ditunggu rujaknya Ratuku." Kata Satria.