Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Menyelamatkan Rain


__ADS_3

"Zheng, kau disini." Kata Jeremy.


"Aku sudah selesai mengurus bajingan itu." Ucap Zheng sebelum ia menatap mata Agatha.


"Em, a-aku.." Ia kebingungan harus bicara bagaimana, kemudian teringat dengan suara yang sangat mirip dengan Rain.


"Aku pergi dulu." Agatha hendak keluar, Jeremy menahan tangannya.


"Tidak, kau harus tetap didekatku. Ini bukan tempat yang aman untukmu berkeliling." Kata Jeremy menegaskan.


"Aku masih punya urusan penting, kau tidak usah menahanku." Jawab Agatha.


"Nona, apa anda ingin pria tua itu kembali menemui dirimu ?." Ucap Zheng membuat Agatha menelan saliva.


"Bukankah kau berhasil mengurusnya ? itu berarti aku akan aman ditempat ini." Agatha menjawab lalu melepaskan tangan Jeremy.


"Zheng sebaiknya kau pulang lebih dulu, aku harus menemani wanita ini." Perintah Jeremy yang segera dituruti oleh Zheng.


"Hari ini dia terlihat sangat aneh." Zheng menggelengkan kepala.


"Aku akan menemanimu." Jeremy mengejar Agatha dan menggandengnya dengan lembut.


"Aku lupa, siapa namamu ?." Tanya Agatha.


"Jeremy."


"Sebelum aku dikejar oleh tua bangka tadi, aku sempat mendengar suara temanku disini, entahlah sebenarnya ini bukan sesuatu yang penting tapi aku merasa aneh, kenapa orang selembut dirinya pergi ketempat seperti ini." Agatha memegangi lengan Jeremy sambil melihat ke segala arah.


"Kau ingin aku membantu mencarinya ?." Agatha mengangguk.


"Tempat ini sangat luas, aku pikir akan sulit menemukannya." Kata Agatha.


"Tidak ada yang sulit bagiku." Jeremy mengajak Agatha menelusuri beberapa tempat untuk mencari Rain.


..


"Rain, ayo minum satu gelas lagi." Ajak Rubby.


"Tidak Rubby, aku sudah terlalu banyak minum. Rasanya mual." Rain menutup mulutnya dan merasa ingin muntah.


"Ayolah, hanya satu. Aku janji ini yang terakhir." Rubby berpura-pura meminum empat gelas, padahal dia tidak meminumnya sama sekali.


"Cepat ini minum." Ia menyodorkan gelas dan menenggakkan alkohol tersebut kedalam mulut Rain.


"Uhuuuk..uhukk." Rain tersedak, kemudian penglihatannya menjadi kabur.


"Rubby, kepalaku pusing." Rain memegangi tangan Rubby untuk menyeimbangkan tubuhnya, tetapi justru dia terjatuh keatas sofa.


"Arkan, bantu aku." Rain menyebut nama kekasihnya, Rubby hanya tersenyum licik.


"Hei manis, akhirnya berjumpa lagi." Leonard memeluk Rubby sebagai tanda pertemuan.


"Dia sudah mabuk, kau bisa membawanya." Bisik Rubby.


"Jangan lupa dengan perjanjian kita." Leonard terkekeh.


Samar-samar Rain mendengar suara yang tak asing baginya, tapi dia tak kuat lagi untuk melihat dengan normal.


"Arkan ?." Sebutnya.


"Rain, aku sangat merindukanmu." Kata Leonard menempelkan jarinya dari ujung kepala sampai pinggang Rain.


"Aku mau pulang, kamu antar aku ya ?." Ucap Rain tak menyadari lagi pada siapa dia meminta bantuan.


"Dengan senang hati, ayo berangkat." Leonard menggendong tubuh Rain dan membawanya masuk kedalam kamar yang sudah disediakan oleh Rubby.


"Bersenang-senanglah." Rubby tersenyum lalu pergi.


"Sudah sampai ya ? cepat sekali." Gumam Rain.


"Tentu saja sudah, setelah malam ini selesai kau bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman." Leonard mencium pipi Rain.


"Panas." Rain merasa tubuhnya seperti terbakar, ia mengacak bajunya sendiri agar mendapati udara segar.


Perbuatannya sangat memancing gairah Leonard.


"Kenapa tidak seperti ini dari dulu ? apa kita harus bertengkar ratusan kali hanya untuk melihatmu menggodaku ?." Leonard menghela nafas.


"Tolong, tubuhku panas." Rain meringis.


"Malam ini kau sepenuhnya menjadi milikku Rain, ha-ha." Leonard tertawa dan hendak membuka pakaian Rain sedikit demi sedikit.


"Arkan, jangan lakukan itu." Pintanya.

__ADS_1


"Sssstttt, ini adalah waktu yang tepat untuk kita menikmatinya berdua." Leonard menyentuh bibir Rain dengan jari telunjuknya.


"Jangan, jangan lakukan. Jangan Arkan." Rain masih berteriak, sementara itu matanya terpejam. Badannya sangat lemas.


"Jeremy ! aku mendengarnya lagi." Kata Agatha menatap wajah Jeremy.


"Dimana ?." Jeremy menoleh ke berbagai arah.


"Arkan berhenti, jangan lakukan ini padaku." Kata Rain mendorong Leonard.


"Dia menyebut nama Kakakku, apa dia bersama Kakak disini ?!." Agatha mendekati sebuah pintu.


"Kakakmu ?." Jeremy bingung.


"Tidak mungkin, Kakak bukan orang seperti itu." Agatha tak percaya, ia sangat penasaran dan ingin mendobrak pintu tersebut.


"Biar aku yang buka." Jeremy membuka paksa pintunya dan terlihat seorang pria yang hampir membuka pakaian wanita didepannya.


"Rain !." Agatha berteriak, lalu tiba-tiba saja semua lampu mendadak mati.


Leonard segera kabur dari kamar itu sampai dia menabrak Agatha hingga keduanya terjatuh.


"Aaaah." Jeremy sibuk mencari Agatha ditengah kegelapan.


"Jer, sakit." Agatha mengeluh, ia mendapati tangan Jeremy yang menjulur untuk menolongnya.


"Kau baik-baik saja ?." Agatha mengangguk dan menyalakan senter.


"Itu temanku ! dia temanku Jer." Agatha berlari menghampiri Rain.


Jeremy menghadap dinding dan tak ingin menoleh ke arah wanita itu.


"Ayo bantu aku membawanya." Pinta Agatha.


"Sebaiknya kau tutupi tubuh temanmu walaupun hanya dengan selembar selimut." Perintah Jeremy.


Agatha meminta Jeremy menggendong Rain keluar, namun pria tersebut justru menolak.


"Aku tidak mau menggendongnya." Jeremy pikir tak kenal siapa wanita itu dan sama sekali tidak tertarik menyentuhnya.


"Ah yasudahlah, aku akan menopang dia." Agatha berjalan perlahan-lahan diiringi oleh sinar cahaya dari ponsel Jeremy dibelakang.


"Aku akan membawanya dimobilku." Kata Agatha.


"Aku tidak mau banyak merepotkan, kau pulanglah dan jangan kembali kesini lagi. Selain tempat ini tidak cocok untukku, dia juga tidak cocok denganmu." Mendengar perkataan Agatha Jeremy terdiam, dia bertekad untuk tidak akan datang lagi ke club ini.


"Aku akan mengawalmu dari belakang, menyetirlah dengan hati-hati." Jeremy mengelus kepala Agatha dan tersenyum.


"Baiklah, ayo pergi." Keduanya masing-masing memasuki mobil kemudian melaju.


"Hatimu benar-benar sebaik hati ibuku." Jeremy memegang keningnya sendiri.


"Kau persis dengannya."


Setibanya dikediaman Anggara, Agatha membawa Rain turun dari dalam mobil.


Arkan yang sudah menunggu sejak tadi segera memeriksa keberadaan Adiknya.


"R-rain ?! apa yang terjadi ?." Tanya Arkan.


"Wanitamu benar-benar dalam bahaya." Agatha segera memberikan Rain kepada Kakaknya sehingga Arkan menggendongnya kedalam.


"Dia wanita Kakakmu ?." Tanya Jeremy.


"Iya, dia wanita pertama yang berhasil merebut hati Kakak." Raut wajah Agatha sedikit sedih.


"Apa ada hal yang mencemaskan ?." Tanya Jeremy, Agatha pun menggeleng.


"Terimakasih."


"Untuk apa ?." Kata Jeremy.


"Kau sudah menyelamatkan aku, dan juga mengawalku pulang kerumah." Agatha tersenyum canggung.


"Jangan begitu, aku siap membantumu kapanpun." Jeremy tersenyum manis.


"Kalau begitu aku masuk dulu, kau cepat pulang ya, jangan kembali kesana lagi." Jeremy mengangguk senang, dia menunggu sampai Agatha masuk kedalam rumahnya.


Didalam,


"Nona, sore tadi seseorang mencari anda." Ucap salah satu pelayan.


"Siapa ?." Katanya.

__ADS_1


"Tuan Greg, dia sempat bertengkar dengan Tuan Arkan." Agatha segera berlari ke kamar dan memeriksa ponselnya.


Entah berapa banyak panggilan dan pesan masuk dari Greg.


'Agatha, aku merindukanmu' begitu tulisnya.


"Greg, rupanya kau mencariku juga." Agatha tersenyum.


Tring..tringg, telepon masuk.


"Halo Greg ?." Suara Agatha terdengar lembut.


"Agatha, kau baik-baik saja ? aku sangat khawatir padamu." Ucap Greg.


"Aku sangat baik, kau bagaimana ? maaf aku baru bisa memberimu kabar." Kata Agatha.


"Tidak masalah, aku tau kau datang mencariku." Greg tersenyum.


"Bisakah kita bertemu besok ? aku juga merindukanmu." Balas Agatha.


"Tentu saja, kita memang harus bertemu."


...


"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa Rain bisa sampai seperti ini." Arkan berjalan kesana kemari sambil memijat keningnya.


"Hal ini tidak boleh terulang lagi, aku harus mendapatkan informasinya." Arkan mengirim pesan pada seseorang kemudian keluar dari dalam kamar tempat Rain berbaring untuk menuju kamar sang Adik.


"Iya Greg jangan khawatir padaku lagi." Agatha tertawa kecil.


"Agatha !." Niat ingin mengecek keadaannya justru sekarang berubah menjadi amarah karena mendengar Agatha menyebut nama Greg.


PRAKKKKKKK ! Ponsel Agatha dibanting ke lantai sampai hancur.


"Kakak !." Agatha sangat syok, dia terlihat ketakutan.


"Apa ucapanku dan orang tuamu kurang cukup ? jauhi Greg ! keberadaannya hanya akan membuatmu dalam bahaya !!." Arkan berkata tegas.


"Menurutmu apa Rain tidak membuat Kakak dalam bahaya ?! begitu banyak pria nakal yang ingin mendekati wanita itu, siapa yang tau kalau memang dulunya dia sering menjual diri." Arkan mengangkat tangannya hendak menampar Agatha.


"Apa ?! Kakak mau tampar aku ?! Tampar kak, selama ini yang Kakak tahu hanya kebahagiaan Kakak kan ?! Harusnya Kakak berterimakasih padaku, kalau bukan karena aku mungkin wanita itu tidak akan selamat." Rain berteriak didepan wajah Arkan.


"Sejak kapan Adikku yang manis menjadi galak dan berani melawan ?." Arkan berkata dingin.


"Mulai detik ini aku bukan lagi Adikmu." Agatha menjatuhkan air matanya dan berkemas.


"Agatha ! apa yang kau lakukan ?!." Arkan cemas.


"Aku akan pergi, jangan pernah cari aku." Agatha memasuki semua baju bajunya ke dalam koper.


"Hei, kita bisa bicarakan ini baik-baik kan ? tidak perlu pergi dari rumah, ini bukan hal yang benar." Lagi lagi Arkan menyesal atas perkataannya.


"Tidak perlu lagi bicara baik-baik, besok dan disetiap hari-hari berikutnya kau tak akan pernah bisa menceramahiku, kau tak bisa melarangku." Agatha menghapus air mata dipipinya kemudian pergi keluar.


"Agatha ! tunggu." Arkan menarik tangan wanita didepannya, memeluknya dan mendekapnya.


"Jangan pergi, kau tahu aku lemah tanpamu ?." Kata Arkan.


"Dari dulu aku memang sangat membanggakan perkataan itu, tapi sekarang tidak lagi." Agatha mengeluarkan semua kartu didalam dompetnya termasuk kunci mobil.


"Aku tidak butuh semua hal ini, akan aku buktikan kalau aku bisa menjalani hidupku tanpa bantuan kalian." Setelah itu Agatha pergi keluar dari pintu rumah menuju gerbang, ia menghentikan taksi yang lewat didepannya.


"Agatha ! Agatha jangan lakukan itu !." Arkan hendak mengejar Adiknya memakai mobil, tiba-tiba Pelayan berlari menghampirinya.


"Tuan ! Nona Rain sudah sadar." Mendengar itu Arkan pun mengurungkan niatnya untuk menyusul Agatha.


Diperjalanan, supir taksi sepertinya terlihat mengantuk. Karena ini juga sudah malam, Agatha menyadari kalau mobil yang dinaikinya sering berbelok-belok.


"Pak, tolong menyetir dengan baik." Kata Agatha menegur.


"Ya Nona." Jawab si supir, tak lama ia menabrak sebuah mobil mewah didepannya.


"Aaagh." Agatha terkejut, ia melihat mobil mewah didepannya sedikit penyok.


"Pak, saya kan sudah bilang kalau menyetir itu yang benar, ini bahaya loh." Ucap Agatha lagi.


Seorang pria turun dari dalam mobil, kemudian mengetuk pintu taksi.


"Ya Tuan." Supir taksi keluar dan bicara pada pemilik mobil tersebut.


"Hei Pak ! Kalau mengantuk jangan menyetir ! yang kau lakukan membahayakan orang." Ucap pemilik mobil.


Agatha segera keluar dan melihat seberapa parah kerusakan itu.

__ADS_1


"Agatha ?."


__ADS_2