Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Memergoki Greg


__ADS_3

"Aku sudah katakan jangan pernah tidur satu kamar denganku ! kau itu mesum !." Jeremy melongo dibuatnya.


"Kau mengataiku mesum ? hah ?." Ia langsung menggelitiki Agatha sampai dia tertawa keras.


"Hahaha bodoh ! Jeremy hentikan !." Tiba-tiba ponsel Jeremy berbunyi.


"Sebentar, aku angkat telepon dulu." Jeremy menjauhi Agatha dan menerima panggilan tersebut.


[ Panggilan terhubung ]


"Ada apa Zheng ?." Tanya Jeremy.


"Kau harus kekantor sore ini, ada meeting penting dan dia mau kau sendiri yang menghadirinya." Ucap Zheng.


"Baik, nanti aku kesana."


[ Panggilan terputus ]


"Agatha, sore ini aku harus pergi meeting ke kantor, kau dirumah tidak apa-apa kan ?." Tanya Jeremy.


"Aku bosan, mau jalan-jalan." Kata Agatha.


"Em sepertinya aku pulang malam, atau mau besok saja jalan-jalannya ?." Jeremy takut kalau Agatha pergi sendirian.


"Bosannya hari ini, bukan besok." Jawabnya sinis.


"Oke oke, kau boleh pergi jalan-jalan tapi diantar supir ya." Pinta Jeremy.


"Padahal aku bisa bawa mobil sendiri, bilang saja kalau kau takut mobilnya lecet." Agatha kesal.


"Bukan begitu, aku lebih takut kau bahaya jika sendirian, mobil itu tidak ada artinya kalau dibandingkan denganmu." Jeremy pergi menuju kamarnya.


Sore-sore pria itu pergi tanpa mengatakan apapun pada Agatha.


Sementara Agatha langsung berdandan rapih memakai dress yang telah dibelikan suaminya untuk pergi jalan-jalan.


"Nona, mobilnya sudah siap." Ucap supir bernama Gerry itu.


"Ayo berangkat." Gerry membantu Agatha masuk kedalam mobil, lalu melajukan mobilnya perlahan-lahan.


"Kita mau kemana ?." Tanya Gerry.


"Aku mau ke toko bunga." Sang supir menganggukkan permintaan Agatha.


Beberapa menit kemudian,



Agatha membeli sebuket bunga mawar yang indah seperti dirinya.


"Aku tak pernah melupakan harum pada bunga ini." Ia tersenyum dan lekas membayar.


Didepan, matanya melihat seorang pria paruh baya menjual balon air.


"Nona, anda mau kemana ?." Tanya Gerry yang sudah membukakan pintu.


"Pak, balon airnya satu ya." Segera saja bapak itu memberikan balon air pada Agatha.


"Ini uangnya, tidak usah kembali." Kata Agatha seraya pergi menuju mobil lagi.


"Anda menyukai balon air ?." Mendengar pertanyaan Gerry, Agatha hanya tersenyum kecut.


"Tidak juga, hanya saja balon ini membawa kenangan indah untukku." Agatha meniupnya keluar jendela.


"Tuan pasti menyukai anda karena anda memiliki kepribadian yang unik." Gerry tersenyum.

__ADS_1


"Dari mana kau tahu ?." Agatha bingung kenapa supirnya mengetahui bahwa Jeremy menyukainya.


"Saya bisa melihat cara beliau menyikapi anda, sebenarnya saya sudah lama berharap Tuan untuk memberi ruang pada orang baru, karena wanitanya begitu angkuh dan arogan kepada kami sebagai pelayan." Gerry menceritakan tentang Marry.


"Maksudmu ? arogan dan angkuh ?." Pria disebelahnya mengangguk.


"Nona Marry sering merendahkan orang lain, merasa dirinya paling sempurna karena bisa mendapati hati Tuan. Kala itu dia pernah melakukan kesalahan besar akibat melakukan perselingkuhan pada karyawan Tuan dikantor. Mereka bertengkar hebat, tapi Nona Marry selalu mengeluarkan jurusnya untuk membuat Tuan Jeremy luluh hingga akhirnya memaafkan." Gerry sangat geram.


"Itu artinya Jeremy pernah diselingkuhi ?." Agatha tak percaya.


"Benar, saya juga tidak tahu hal apa yang membuat Tuan bertahan pada wanita itu, padahal sudah jelas kesalahannya tak bisa dimaafkan." Kata Gerry lagi.


"Aku jadi tahu bagaimana hubungan Jeremy dengan wanita itu." Mendengar ucapan Agatha, Gerry langsung menelan ludahnya.


"M-maaf Nona, saya jadi menceritakan semua ini. Sekali lagi mohon maaf, tolong jangan katakan hal ini pada Tuan." Ucap Gerry khawatir.


"Tenanglah, aku tak akan memberitahu hal ini padanya."


Agatha terus mengajak Gerry berkeliling, dia sangat senang melihat pemandangan dijalan.


Malamnya, dia meminta Gerry untuk berhenti ditaman.


"Kau boleh tunggu dimobil, aku hanya sebentar." Pinta Agatha.


Wanita itu berlari menulusuri taman dan meniup balon air pembeliannya.


Matanya terpejam, mengingat apa saja yang terjadi ditempat ini bersama Greg.


"Andai saja aku punya satu kesempatan untuk melihat wajahmu walau hanya dari jauh, aku tak akan pernah melewati waktu yang tersisa." Agatha menumpahkan balon dirumput-rumput.


Merasakan saat dirinya jatuh dan ditertawai oleh Greg, benar-benar indah.


"Aku tidak punya pilihan lain, kalau aku lambat memutuskan, Adikmu akan mengancam keselamatan keluargaku." Agatha menangis.


"G-greg ?!." Agatha menoleh.


"Maaf saya hanya menjalankan tugas dari Tuan untuk menjaga anda." Kata Gerry tersenyum canggung.


"Oh ya, terimakasih." Agatha menghapus tangisnya lalu meninggalkan tempat itu untuk kembali kedalam mobil.


Waktu telah berlalu, langit benar-benar sudah gelap, tapi mereka masih ada diperjalanan.


"Nona, sudah larut malam. Apa tidak sebaiknya kita pulang ?." Tanya Gerry.


"Sebentar lagi kita pulang." Tak lama mengatakan itu, Agatha melihat mobil Greg terparkir disebuah bar.


"Stop stop ! a-aku keluar dulu sebentar." Kata Agatha lagi.


Gerry memperhatikan kemana Agatha masuk, karena ini perintah.


"Nona masuk kedalam bar, untuk apa ?." Gerry mengirim pesan pada Jeremy.



Agatha benar-benar nekat masuk kedalam untuk memeriksa apakah benar Greg ada ditempat ini.


"Untuk apa dia datang ke tempat seperti ini ?." Wanita itu mencari Greg disetiap tempat.


"Nona, sendirian ? mau aku temani ?." Kata seorang pria mabuk.


"Aku tidak ada urusan denganmu." Agatha melewatinya dan pria itu hanya tertawa.


"Sombong sekali."


Dari kejauhan, Agatha menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kalau Greg sedang minum diujung sana.

__ADS_1


"Kau keterlaluan !." Agatha menghampiri Greg, pria didepannya langsung memandangi wajah Agatha.


"Agatha ?!." Greg memeluk wanitanya sangat erat.


"Aku merindukanmu, benar-benar merindukanmu." Ucap Greg.


"Mau apa kau datang kesini ?! aku sudah pernah bilang jangan datang ke tempat aneh begini !!!." Agatha kesal.


"Aku sudah putus asa, menghabiskan seharian ini untuk mencarimu." Jawab Greg.


"Kau harus berhenti minum dan keluar dari sini." Pinta Agatha menggenggam tangan pria tersebut.


"Aku akan berhenti kalau kau menceraikan suamimu itu. Cintamu hanya untukku Agatha, bukan yang lain. Kenapa kau membohongi perasaanmu sendiri ?." Ucap Greg memeluk Agatha lagi.


"Dari mana kau tahu aku sudah menikah ?." Greg tertawa.


"Ayahmu yang bilang, bodohnya aku tak percaya. Tapi ternyata itu benar kan ? kau hanya main-main, kau tak mencintaiku, kau cuma mempermai..." Agatha mencium bibir Greg sambil melingkarkan tangannya.


'Kau masih mencintaiku, kau tidak mencintai pria lain.' Greg memegang pinggang Agatha dan membalas ciumannya.


"Aku mohon keluar dari tempat ini." Agatha memegang wajah Greg penuh kasih sayang yang tulus.


"Aku ingin mabuk setiap hari agar kau bisa selalu ada di sampingku seperti ini." Kata Greg menyandarkan kepalanya ditubuh Agatha.


"Kau sudah berjanji padaku agar tidak pernah datang lagi, kenapa bohong ?." Agatha menundukkan kepala.


"Kau juga berjanji padaku untuk hidup bersama, kenapa justru menikahi pria lain ?." Melihat Greg frustasi, Agatha menenggak sebotol minuman kemulutnya sendiri.


"Hei ! kau tidak boleh mabuk juga." Kata Greg melarang Agatha.


"Agatha, lepaskan minumnya." Greg terus berusaha menyingkirkan minuman itu dari tangan wanita yang dia cintai.


"Kau tidak bisa minum alkohol, ayo lepaskan." Ucap Greg.


Agatha tetap meminumnya sampai habis, Greg marah dan membanting botol itu.


PRAKKKK !


"Sudah ku bilang jangan mabuk !!!." Agatha diam, merasakan mual.


"Kau tidak bisa meminum alkohol !! kenapa nekat begini ?! ayo kita keluar." Saat Greg hendak mengangkat tubuh Agatha, Jeremy sudah lebih dulu datang dan mendorong pria itu.


"Jauhkan tanganmu, jangan menyentuhnya." Greg terkejut, melihat Jeremy begitu mudah membawa Agatha.


"Siapa dia ?." Kata Greg, ia benar-benar mabuk.


Diluar, Gerry melihat Tuannya menggendong Agatha.


"Kau pulang saja, biar Agatha bersamaku." Perintah Jeremy.


"Baik Tuan." Gerry menaiki mobil dan pulang.


Didalam mobil Jeremy, ia memandangi Agatha dan meninju setirnya.


"Kau tidak bisa begini, aku sudah katakan padamu untuk lupakan Greg. Kenapa malah rela menenggak minuman demi dirinya ?!." Jeremy kesal karena istrinya nekat mabuk.


Agatha hanya mendengar tanpa menjawab, karena perutnya mual dan memilih untuk memejamkan mata.


Jeremy menancapkan gas agar cepat tiba dirumah, lalu saat baru saja turun dari mobil Agatha sudah memuntahkan rasa mualnya ke tubuh Jeremy sehingga mengenai pakaiannya.


"Tuan !." Para pelayan gusar.


"Tidak, tidak masalah, aku akan mengatasinya." Jeremy menggendong Agatha lagi untuk langsung menuju kamar.


"Jeremy."

__ADS_1


__ADS_2