Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
kabar duka


__ADS_3

"kita obati tanganmu." kata Satria memasuki kamar dan segera mengobati tangan istrinya


"bagaimana? sudah lebih baik?." tanya Satria yang masih menampakkan kekhawatiran nya


"sudah mas, lain kali kamu jangan marah gitu dong, aku tidak bermaksud membelanya kok, kedatangan dia kemari benar benar hanya untuk menggantikan teman nya kan, tidak lebih dari pada itu." balas Adinda


"iya sayang, tapi mas tetap saja tidak suka kalau dia ada disini." ucap Satria


"kita keluar ya, temani lagi tamu-tamu yang datang, atau mas mau aku saja yang menyambut tamu-tamu itu sendirian? mas tidak cemburu kalau Bryan tiba-tiba menghampiriku?." ucap Adinda menakut-nakuti


"kamu ini bicara apa sih, sudah, ayo kita keluar." ajak Satria menggandeng istrinya, sementara Adinda hanya tersenyum-senyum melihat tingkah laku suaminya


"dasar suamiku yang sangat posesif." ucap Adinda tertawa kecil


setelah pesta selesai, merekapun kembali ke dalam rumah dan mengganti pakaian bersiap untuk tidur.


"sayaaang, sebelum tidur aku mau bilang terimakasih." ucap Adinda


"sama sama istriku yang cantik, mas sangat senang kalau liat kamu bahagia seperti ini." balas Satria


"mas memang paling bisa membahagiakan aku." sahut Adinda lagi


"ya sudah, kamu tidur ya sayang, besok mas harus pergi ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang harus di urus." kata Satria


"iya mas."


...


esoknya, pagi-pagi sekali Satria bangun dan merasa bingung.


"kenapa seperti ada yang aneh dengan perasaanku?." tanya Satria, sesekali ia melihat wajah istrinya yang masih terlelap dibalut selimut tebal


"tidak biasa nya aku seperti ini." gumam Satria, lalu ia menuruni tangga untuk menuju lantai bawah, Satria melihat Tania Anggara sedang duduk di sofa.


"pagi ma." ucap Satria


"pagi sayang, sudah bangun nak?." tanya Tania Anggara


"sudah, ada apa denganmu ma? mama sakit?." tanya Satria


"tidak Satria, mama cuma sedang memikirkan papa mu, entah kenapa mama menjadi sangat khawatir padanya." kata Tania Anggara


"kalau begitu Satria akan coba hubungi papa." ucap Satria segera menghubungi Tio Anggara


"pagi pa, bagaimana kabarmu?." tanya Satria


"papa baik-baik saja nak, bagaimana? apakah Adinda sudah membuka hadiah dari papa?." tanya Tio


"sudah pa, istriku sangat menyukai pemberianmu, bahkan dia langsung memakai jam nya dan dibawa tidur semalam." ujar Satria


"syukurlah kalau Adinda menyukainya, papa ingin bicara dengan Adinda nak." ucap Tio


"hmm, istriku masih tidur pa, mungkin dia kelelahan semalam karena menyambut para tamu yang tak kunjung selesai." balas Satria


"kalau gitu papa ingin bicara dengan mama." pinta Tio kemudian Satria memberikan ponselnya kepada Tania Anggara


"halo sayang." ucap Tio

__ADS_1


"halo pa, mama sangat mengkhawatirkan mu, apa kamu baik-baik saja?." tanya Tania


"aku baik-baik saja, jangan khawatir. ma, aku ingin kamu tinggal di sana bersama Satria dan Adinda, aku ingin kamu memastikan mereka hidup dengan penuh kebahagiaan." ucap Tio


"lho pa, ada apa? mama akan segera kembali ke sana secepatnya, kita akan selalu tinggal bersama." kata Tania


"tidak Tania, kamu dengarkan aku ya, sampai kapan pun Satria tidak boleh berpisah dengan istrinya, mereka harus selalu bersatu, jika ada kesalahpahaman segera diselesaikan baik-baik." ucap Tio


"aku akan selalu memastikan keluarga kecil anak kita, kamu baik-baik ya pa di sana." kata Tania


"iya ma, kamu juga baik-baik di sana, jaga dirimu, dan jangan sampai bersedih." jawab Tio lalu Satria kembali bicara


"pa, jika Adinda sudah bangun, aku akan segera meminta nya menghubungimu." ucap Satria


"iya nak, jaga istrimu ya, jangan sakiti dia, dia adalah sumber kebahagiaan dan rezeki untukmu." kata Tio, setelah banyak berbincang-bincang, akhirnya panggilan pun terputus.


"ma kalau begitu aku ingin mandi dan berangkat ke kantor." ucap Satria


"baiklah nak, jangan lupa sarapan." pinta Tania di anggukan oleh putra nya, kemudian ketika Satria sudah selesai merapihkan diri ia langsung mencium kening sang istri dan bergegas pergi


beberapa jam kemudian, Adinda yang sedang meminum jus buah dimeja makan terkejut saat mendengar pecahan gelas dari arah dapur


"suara apa itu?!." kata Adinda berlari ke dapur, lalu menemukan mama di sana dengan wajah memucat serta ponsel dan pecahan beling yang berserakan


"ma? mama kenapa?! mama sakit?!." kata Adinda panik mengecek suhu tubuh mama Tania, tetapi suhu badannya tidak terasa panas sedikitpun melainkan sekujur tubuhnya menjadi dingin


"astaga mama, ada apa denganmu? ayo ma, aku antar mama ke kamar." ujar Adinda membawa Tania Anggara ke kamar, dikamar Tania Anggara menangis dengan wajah syok dan mengirim pesan pada Satria


disisi lain, Satria pun sangat terkejut dengan pesan yang ia baca, sampai sampai ia menganggap itu hanyalah sebuah candaan


"tidak mungkin!." kata Satria bergegas pulang, di rumah Selin dan Jonatan menenangkan sang mama, sementara Adinda hanya bingung apa yang terjadi sebenarnya.


"sabar ya Adinda, kita tunggu sampai suami kamu pulang." ucap Selin membawa Adinda ke sofa agar tenang


tak lama Satria pun pulang dengan perasaan gusar, lalu Adinda berlari ke arahnya dan memeluk suaminya.


"mas..." sebut Adinda


"sayang." gumam Satria mencium kening istri dan mengelus kepalanya lembut


"mas, sebenarnya ada apa? kenapa mama menangis dan wajahnya memucat seketika? apa mama sakit? kenapa kalian tidak ada yang bicara padaku." ucap Adinda sedih karena tak ada seorang pun yang memberitahu kepadanya


"kamu tunggu sebentar disini, mas akan bicara sama mama." kata Satria yang dituruti oleh istrinya, sewaktu Satria masuk ke dalam kamar Tania, dengan cepat Tania memeluk putranya dan menangis di pelukan Satria


"jadi apakah semua itu benar ma?." tanya Satria meyakinkan


"benar nak, semua itu benar, sebentar lagi jenazah papamu akan dipulangkan kemari." kata Tania masih dalam keadaan menangis


"ya tuhan, kenapa semuanya begitu cepat." gumam Satria menjatuhkan air matanya


"sabar Satria, aku pun sangat sedih saat mendengar kabar buruk ini." kata Selin


"apakah benar-benar tidak ada kesalahan? tadi pagi aku masih bicara dengan papa, dan sekarang?." kata Satria


"nak, sebaiknya jangan beritahu Adinda dulu, mama sangat takut dia syok dan tak bisa menerima semua ini." kata Tania melepas pelukan putranya dan menghapus air mata diwajahnya


"baik ma, aku tidak akan memberitahu Adinda sekarang." balas Satria, lalu Satria keluar dan menemui istrinya

__ADS_1


"sayang, kamu sudah sarapan kan?." tanya Satria


"mas, tolong jangan alihkan pembicaraan kita tadi, aku mau mas beritahu aku, ada apa sebenarnya?." tanya Adinda penasaran


"tidak ada apa apa sayang, sekarang kita ke kamar ya, temani mas ganti pakaian." kata Satria mengajak istrinya ke kamar


"baiklah kalau begitu." jawab Adinda


"aku rasa ada yang tidak beres, pasti mereka menutupi sesuatu dari aku." ucap Adinda dalam hati.


"sayang, sebenarnya mas mau bicara." ucap Satria


"bicara? tentang apa mas?." tanya Adinda


"mas mau bicara tentang..." belum sempat menyelesaikan kalimat nya, suara keras ambulan sudah lebih dulu terdengar ditelinga Adinda.


"mas! suara ambulan itu?." Adinda segera pergi dari kamar dan ingin melihat keluar rumah


"sayang?! Adinda?!!!." panggil Satria, ketika Adinda melihat sebuah peti mati yang dibawa masuk ke dalam ruang tamu, begitu juga mama yang menangis kencang serta Selin yang mencoba menguatkan mama, Adinda benar-benar terkejut setengah mati.


"apa semua ini?!!!!." teriak Adinda membuat semua orang yang berada di ruangan itu tambah menangis


"sayang, hei, Adinda dengarkan mas." kata Satria yang berlari kemudian memeluk istrinya kencang


"ini maksudnya apa?! kenapa ada peti mati dikirim ke rumah ini?!!!! jawab!!!." teriak Adinda


"Adinda, maafin mas, dengerin mas dulu." kata Satria ikut bersedih melihat istrinya, ketika peti itu dibuka oleh perawat yang menaiki ambulan tersebut, Tania Anggara pun mulai melihat wajah tampan suaminya yang sudah tak berdaya di dalam sana.


"papa!!!!!!." teriak Adinda berlari menuju peti mati Tio Anggara, semua tamu-tamu bahkan kerabat dari kota manapun hadir untuk mengantarkan sahabat terhebat mereka ke hadapan tuhan.


"papa!!! bangun pa!!!." ucap Adinda menangis kencang


"kenapa kalian semua tidak memberitahuku tentang hal ini?!!!! kenapa!!!!." ucap Adinda lagi, ia menangis dihadapan Tio Anggara, sementara Satria berusaha menenangkan istrinya dengan cara apapun.


"sayang, jangan menangis, papa pasti bersedih jika melihat kamu seperti ini." kata Satria


"mas jahat!!! mas tega!! kenapa hal sepenting ini justru disembunyikan dariku!!!!." teriak Adinda memukul-mukul suaminya dengan wajah yang penuh dibanjiri air mata.


karena tubuhnya mulai melemah, Adinda pun terjatuh pingsan dihadapan semua orang, cepat-cepat Satria menangkap istrinya dan menggendong nya ke kamar.


jelas sekali terlihat kekhawatiran mendalam di wajah Satria, ia terus menggenggam erat tangan istrinya.


"bangun Adinda, jangan membuat mas semakin khawatir padamu." ucap Satria merasa sangat frustasi.


"Satria?." gumam seseorang


"Sheira?! mau apa kamu kemari?." tanya Satria terkejut


"tenanglah, aku tidak akan mengganggumu, aku hanya ingin tahu kondisi istrimu, itu saja." kata Sheira


"aku sangat khawatir dengan nya." kata Satria, sudut matanya mulai basah karena memikirkan istrinya dan juga papa nya.


"aku turut berduka cita atas kepergian papa mu, semoga kamu selalu kuat menerima segala ujian yang datang." kata Sheira seraya memegang bahu Satria dengan lembut


"terimakasih." jawab Satria


"aku juga berharap Adinda akan baik-baik saja." gumam Sheira lagi

__ADS_1


"ya, aku harap juga begitu, sebaiknya kamu segera keluar, aku tidak mau istriku semakin syok dengan melihat keberadaan mu disini." kata Satria mencegah hal yang tidak diinginkan


"baiklah, aku permisi." Sheira segera keluar dari kamar Adinda


__ADS_2