
Beberapa menit pun sudah berlalu, begitu pula dengan Arkan yang sudah bangun dari tidurnya, Adinda menyuapi bocah kecil itu makan.
"Bunda, apakah kita jadi pergi setelah ini ?." Tanya nya.
"Jadi sayang, kau tidak perlu khawatir, Bunda dan Ayah tidak mungkin berbohong kan ?." Kata Adinda tersenyum.
"Memang benar, Ayah dan Bundaku pasti tidak akan berbohong, kalian berdua sangat baik." Anak itu membalas senyum Adinda dengan sebuah tawa kecil.
"Sudah selesai belum makan nya ?." Ucap Satria yang baru saja datang menghampiri anak dan istrinya.
"Belum Ayah, sedikit lagi selesai." Jawab Arkan.
"Makan yang banyak agar kau cepat tumbuh besar." Satria mengusap kepala itu dan duduk disebelah nya.
"Ayah, kemana kita akan pergi ?." Arkan menatap Satria dengan bola mata berbinar.
"Bagaimana kalau kita pergi ke taman bermain saja ?." Ajak sang Ayah.
"Hem, baiklah." Adinda menyadari bahwa putranya merasa kecewa, mungkin tempat yang ditawarkan Satria tidak sesuai dengan ekspektasi sang anak.
"Arkan, kalau Bunda boleh bertanya, memangnya kau mau pergi kemana ?." Kata Adinda.
"Aku pikir Ayah akan mengajakku pergi ke mall, bermain timezone misalnya." Ia menunduk.
"Baiklah, bagaimana kalau kita jadinya pergi ke sana ?." Arkan segera mendongak dan menatap wajah Bundanya.
"Bunda serius ? tidak bohong ?." Tanya Arkan.
"Apa wajah Bunda terlihat sedang berbohong ? sepertinya tidak ya." Adinda tertawa kecil.
"Ayah, apa kau setuju ?." Arkan melihat Ayahnya dengan rasa khawatir.
"Aku setuju, tapi ingat, kita hanya sebentar bermain di sana." Kata Satria mengingatkan.
"Yeay! oke Ayah." Arkan berjingkrak-jingkrak karena sangat senang.
Tak lama mereka pun hendak berangkat pergi, sebelum itu Adinda menemui Desi terlebih dahulu.
"Desi, aki titip Agatha sebentar ya, tolong jaga dia dengan baik." Pinta Adinda.
"Baik Nona, saya akan menjaganya."
"Ayo kita berangkat." Adinda menggandeng Arkan dan menaiki mobil dihalaman parkir.
"Hati-hati kepalamu." Satria membantu membukakan pintu mobil tersebut dan mempersilahkan istrinya masuk.
"Arkan senang ?." Tanya Adinda.
"Sangat senang Bunda, terimakasih ya kau sangat baik padaku." Ucap Arkan mencium pipi Adinda.
__ADS_1
"Tidak mengucapkan terimakasih pada Ayah ?." Sahut Satria.
"Terimakasih Ayah, kau juga sangat baik." Kata Arkan.
Mereka bertiga segera menuju mall yang diinginkan oleh Arkan, selama diperjalanan pria kecil itu terus bernyanyi seraya menggoyangkan kepalanya.
"Suaramu bagus, apa kau mau menjadi penyanyi ?." Satria menawarkan putranya.
"Tidak Ayah, aku tidak mau menjadi penyanyi." Ia menggelengkan kepala.
"Lalu, anak Bunda ini mau jadi apa ?." Ucap Adinda.
"Aku mau menjadi seperti Ayah yang keren !." Arkan memperagakan gaya Ayahnya didepan Adinda.
"Hahaha, kau sangat mirip dengan Ayah mu." Adinda tertawa kencang melihat anak laki-lakinya yang lucu.
"Kau ingin menjadi seperti Ayah ?." Tanya Satria.
"Ya."
"Belajarlah yang giat, kau pasti bisa lebih baik dari pada Ayah." Setelah mereka berbincang-bincang, tibalah akhirnya di mall tersebut.
"Sudah sampai." Kata Adinda.
"Wah Ayah cepat sekali melajukan mobilnya, kalau aku sudah dewasa, aku mau juga mobil seperti Ayah." Mereka bertiga keluar dari mobil dan menuju pintu kecil yang terletak di lobby.
"Mau main apa ?." Kata Satria.
"Boleh, apa saja boleh asalkan kau senang." Sahut Adinda tersenyum.
"Ayo Ayah, Bunda." Satria dan Adinda menemani anak nya bermain motor, kemudian bermain balap mobil, lalu bermain tembak-tembakan.
"Hahaha, lihat Ayah! aku berhasil menembak penjahat itu !." Arkan teriak kegirangan.
"Ayo tembak lagi ! tembak lagi !." Ia terus tertawa sampai memegangi perutnya karena sakit.
"Jangan tertawa terus kalau perutmu sakit, fokus saja bermain ya." Perintah Adinda.
"Setelah ini aku mau bermain bola basket !." Keluarga kecil itupun pergi menghampiri permainan bola basket yang tak begitu jauh dari permainan tembakan tadi.
"Bunda, coba lempar bola itu, aku ingin lihat apakah Bunda bisa melakukan nya ?." Kata Arkan.
"Kau menantang Bunda ya sayang ? tentu saja Bunda bisa." Adinda melempar bola tersebut dan dengan cepat lolos memasuki ring basket.
"Wah ! Bunda hebat ! Prok..prok..prok." Arkan bertepuk tangan.
"Ayah, apa kau bisa ?." Satria tertawa kecil lalu mengambil bola basket untuk dilemparnya ke dalam ring.
"Ayahmu sangat pandai memainkan permainan apapun." Ucap Adinda kepada Arkan.
__ADS_1
"Benarkah ? Ayahku bisa melakukan semuanya ?." Kata Arkan.
"Tentu saja sayang, Ayah adalah laki-laki yang hebat, kau harus bisa melebihi kehebatan Ayah, tunjukkan kehebatan mu pada Bunda." Arkan segera mengambil bola dan melemparnya ke dalam ring untuk menunjukkan bahwa dia juga bisa melakukan hal itu.
"Aku akan menjadi hebat seperti Ayah." Ucap Arkan menepuk dadanya sendiri.
"Anak Ayah memang hebat ! hidup Arkan." Ucap Satria tertawa kecil.
"Mas, aku pergi ke toilet dulu ya ? sebaiknya kau dan Arkan tunggu saja disini." Ucap Adinda.
"Toilet ? aku rasa tidak ada toilet dekat sini, lebih baik aku antar ya." Kata Satria.
"Ah Ayah, biarkan Bunda ke toilet saja, Ayah temani aku bermain, ayo Ayah lanjutkan lagi permainan nya, waktunya masih panjang." Rengek Arkan.
"Iya Mas, kau temani Arkan bermain saja, aku hanya sebentar, jangan kemana-mana, aku akan kembali kesini." Adinda pun pergi mencari toilet.
"Permisi, bolehkah saya bertanya ?." Kata Adinda.
"Ya nyonya ? ada yang bisa saya bantu ?." Tanya karyawan di sana.
"Toilet yang paling dekat dengan tempat ini dimana ya ?." Ucap Adinda.
"Dari sini, Nyonya lurus saja sampai ujung, kemudian ambil kiri sedikit lalu belok kanan, itu letaknya." Balas karyawan tersebut.
"Terimakasih ya." Adinda segera berjalan lurus sampai ujung, lalu ke kiri dan belok kanan.
"Lumayan jauh juga ya, aku sering datang kemari namun tidak pernah memakai toilet sebelah sini, karena aku selalu pakai dilantai bawah." Gumam nya.
Adinda memasuki pintu toilet wanita dan mencari ruang yang kosong, setelah mendapatkan ia pun masuk kedalam dan mengunci pintu tersebut.
Dari luar terdengar sedikit suara keributan, kemudian terdengar pula suara seorang laki-laki yang memerintah, namun tiba-tiba menjadi hening seketika.
"Ada apa ya diluar ? berisik sekali." Saat Adinda hendak merapihkan baju nya dan ingin membuka kunci pintu, lampu dikamar mandi tersebut mati total.
"Ah! mati lampu, bagaimana ini ? aku harus memakai senter dari ponselku." Ia mencari ponselnya dan menyalakan senter.
Kemudian, ia membuka kunci pintu nya dan keluar dengan hati-hati agar tidak tersandung suatu benda yang akan membuatnya terjatuh.
"Tetap diam ditempat !." Adinda terkejut, ia melihat wajah laki-laki tua, dengan beberapa orang dibelakangnya, kakinya berhenti, tak berani bergerak sama sekali, di dalam toilet itu kurang lebih ada lima orang.
"Siapa kau ?! kenapa berani sekali masuk ke dalam toilet wanita ?!." Ucap wanita lain.
"Iya ! cepat keluar!." Kata yang lain nya lagi.
"Jangan berani menentang perintahku ! aku suruh kalian diam ! kenapa banyak bicara ? kau lihat ? kunci ini adalah kunci pintu utama toilet wanita, jadi artinya kalian tak akan bisa keluar tanpa kunci ini.
"Apa tujuan kalian menyuruh kita untuk diam ?." Adinda mulai membuka suara.
"Oh, halo Nyonya, aku tidak mengira ada wanita yang anggun di sini, maaf ya sampai tidak bisa terlihat karena gelap, tapi tolong matikan senter mu, aku sangat silau." Kata pria tua tersebut.
__ADS_1
"Jangan mendekat ! aku bukan wanita yang bisa didekati sembarangan." Kata Adinda menegaskan.
"Wah, wah, rupanya kau menilai dirimu sendiri seperti itu ya ? bagaimana kalau kau mengizinkan aku untuk menilai dirimu juga ? tangkap mereka semua ! termasuk wanita yang anggun ini, kemudian rampas semua benda apapun yang berharga ditubuhnya.