Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Hadiah spesial


__ADS_3

Keduanya menoleh ke arah Agatha.


"Hai, kau disini ?." Tanya Rain.


"Kalian berdua kenapa bisa bersama disini ?." Tanyanya.


"Hanya sedang menikmati kue." Sahut Arkan.


"Menikmati kue ? dengan cara saling menyuapi ? begitu ?." Arkan tahu, Agatha tak akan suka jika mengetahui bahwa Rain sudah menjadi pasangan nya.


"K-kami hanya sedang.." Ponsel Rain mendapati pesan, layarnya menyala dan menampakkan sebuah foto.


"Foto ini ?!." Agatha merebut ponsel Rain yang berada diatas meja.


"Hanya sedang berpacaran ?!." Agatha menegaskan ke wajah Rain.


"Agatha, a-aku bisa menjelaskan semua ini.." Rain segera mendapat tamparan keras dari Agatha, sehingga membuat aksi tersebut dikerumuni banyak orang.


"Agatha !." Arkan membentak Adiknya, lalu ia membawa Rain pergi dari kerumunan tersebut.


sementara Agatha juga pergi mamasuki rumah.


"Ada apa ini ramai-ramai ?." Satria dari jauh melihat sebuah keramaian yang membuatnya datang menghampiri.


"Putra dan putrimu baru saja bertengkar." Satria melihat Arkan yang sedang menyingkiri seorang wanita dari kerumunan.


Dengan cepat Adinda dan Satria menyusul Agatha.


"Agatha ! apa yang kau lakukan ?." Tanya Adinda.


"Kenapa Bunda tidak tanyakan hal ini pada Kakak ?! kenapa harus bertanya padaku ?." Agatha menangis.


"Ini acara penting bagimu, Bunda tidak mau kau menyia-nyiakan nya." Balas Adinda.


"Acara penting ? bagiku atau bagi Kakak ? Bunda lihat ? sekarang Kakak sudah memiliki seorang wanita, dia bahkan tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya !." Adinda memeluk Agatha dan mengelus kepalanya.


"Sayang, Kakakmu sudah dewasa, dia berhak memilih siapa yang pantas menjadi pendampingnya." Ucap Adinda.


"Tapi apa yang Kakak lakukan padaku ? dia menyakiti pria yang aku sukai, dan di hari yang penting ini, pria itu tidak datang ! padahal aku sudah membuat janji dengan nya !." Agatha menjerit sambil menangis.


"Agatha sudah, hentikan tangisanmu." Satria berusaha menenangkan putrinya.


"Sebaiknya kau berganti pakaian dan istirahat, biarlah acara ini berjalan sampai selesai." Satria meminta Adinda untuk mengantar anak perempuan nya ke kamar.


"Kau menyukai seorang pria ?." Agatha terdiam, menghapus air matanya.


"Apa hanya Kakak yang boleh menyukai wanita ?." Tanya Agatha pada Adinda.


"Bukan begitu sayang, Bunda hanya ingin kau memilih laki-laki yang pantas untuk bisa berada disampingmu, kau wanita yang cantik, Bunda hanya takut kau dikecewakan." Adinda menghela nafas.


"Aku yakin dia pria yang baik." Jawab Agatha meyakinkan.


"Kalau begitu beristirahatlah, jangan pikirkan apapun yang membuatmu stres." Adinda keluar.


...


"Sebaiknya kita obati dulu wajahmu." Arkan berusaha memegang pipi Rain.


"Tidak, tidak usah. Aku baik-baik saja." Rain tersenyum, lalu Selina datang membantu untuk mengobati wajah itu.


"Jangan menolak, kau ini tamu." Selina mengobati wajah Rain dengan penuh hati-hati.


"T-terimakasih." Arkan melihat Rain yang kebingungan.


"Namanya Selina, dia juga keluargaku." Mendengar ucapan Arkan, Rain tersenyum.


"Aku harap kau mengerti kenapa Agatha bersikap seperti itu." Ia mengangguk.


"Arkan sudah menceritakan tentang ini padaku, tapi melihat kenyataannya aku tetap terkejut." Jawab Rain.


"Tak perlu terkejut, kau pasti akan terbiasa, dan semakin lama dia pasti akan menerimamu." Selina meyakinkan Rain dengan senyuman yang hangat.


"Tapi bagaimana bisa Agatha tiba-tiba menjadi seperti ini ? sebelumnya kan kita melihat dia berada dikejauhan ?." Rain menoleh ke arah Arkan.


"Aku sama sekali tidak tau kenapa Agatha bisa sampai kesini." Arkan pun bingung.

__ADS_1


Ketika hari semakin malam, semua para tamu pulang secara bergilir.


begitu pula dengan Arkan yang bersedia mengantarkan Rain pulang.


keadaan mulai sepi, hanya tersisa beberapa pelayan sedang merapihkan piring-piring kotor.


"Aku seperti melihat bayangan." Gumam salah satu pelayan.


"Itu hanya halusinasi saja, ini sudah malam cepat bereskan." Pinta pelayan satunya.


'Tok..tok'


'Tok..tok'


"Apa tidak tahu waktu ? datang malam-malam begini." Agatha mengucak matanya lalu melihat ke arah pintu, ia menyadari kalau ternyata suara itu berasal dari jendela.


"Siapa sih ?!." Agatha merasa sedikit ketakutan, ia berjalan pelan untuk mengintip siapa orang dibalik jendela tersebut.


'Tok..tok'


Dengan penuh keberanian, Agatha menggeser tirai besar yang menutupi jendela.


Dirinya terkejut saat melihat sosok hitam tepat didepan wajahnya.


"Aaaaaaaaaa !." Sosok hitam itu membuka paksa jendela dan menutup mulut Agatha kuat-kuat.


"Ehmmmm !." Agatha sangat ketakutan.


"Sssssttt ! hei, jangan takut." Mendengar suara yang familiar itu, Agatha mendadak diam.


Ia menarik jubah hitam didepannya.


"Brengsek !." Agatha mendorong seseorang yang baru saja dia lihat.


"Masih takut ?." Greg tertawa.


"Aku hampir mati ketakutan !." Kata Agatha.


"Aku dengar acara ini tidak berjalan dengan baik, ada apa ?." Greg memegang tangan Agatha.


"Kenapa kau baru datang ?? aku mencarimu." Agatha merengek seperti bocah.


"Kau baik-baik saja ? apa Kakak melukaimu ?." Tanyanya.


"Aku sangat baik, kau sungguh khawatir ?." Sekali lagi Agatha mendorong Greg.


"Aku malas bicara denganmu." Agatha menduduki kasur dan memalingkan wajah.


"Selamat ulang tahun wanita yang paling cantik." Greg mencium punggung tangan Agatha, sangat mesra.


"Aku punya banyak hadiah, maukah ikut denganku ?." Tanya Greg.


"Greg aku takut, kalau Kakak mengetahui hal ini dia akan menyakitimu lagi." Ucap Agatha, Greg tertawa kecil, lalu memegang pipi wanita didepannya.


"Gadis lucu, jangan takut." Greg menarik Agatha keluar dari jendela, wanita itu syok.


"A-aku harus lompat kebawah ?!." Tanyanya.


"Melewati tali ini, tidak sulit." Greg turun kebawah menggunakan tali tersebut.


"Aku bisa keluar lewat pintu, tanpa tali ini." Agatha hendak berbalik lalu mengingat Kakaknya yang mungkin saja akan melarang dia untuk pergi keluar.


"Oke, aku akan turun kebawah." Memberanikan diri, Agatha memegang tali itu dan merosot kebawah.


"Pintar ! ayo cepat sebelum ada yang melihat." Greg mengajak Agatha berlari ke arah yang jauh dari rumah besar itu.


"Kenapa kau bersikap seperti maling sih ?." Ucap Agatha.


"Jika aku datang sebagai tamu, apa kau yakin kehadiranku diterima ?." Balas Greg.


"Ini pestaku, tentu saja aku yakin." Wanita itu melihat telapak tangan nya memerah akibat memegang tali kuat-kuat.


"Kenapa ? tanganmu terluka ? kita obati nanti, sekarang masuk dulu ke mobilku." Greg mempersilahkan Agatha masuk dan mengendarai mobil sesuai tujuannya.


"Kita mau kemana sih ? ini sudah sangat malam, bahaya Greg." Ketus Agatha.

__ADS_1


"Tidak bahaya, aku menjamin keselamatanmu malam ini." Greg tersenyum, manis sekali.


Tak lama kemudian, tibalah mereka disuatu tempat yang terlihat asing.


"Tempat apa ini ?." Agatha keluar dari dalam mobil dan melihat ke berbagai arah.


"Tempat ini akan menjadi saksi."


"Kau tidak ingin membunuhku kan ?!." Pria itu tertawa, melihat betapa konyolnya tingkah Agatha.


"Apa wajahku terlihat seperti pembunuh ?." Greg memajukan langkahnya mendekati Agatha, wanita itu bergidik ketakutan dan segera memundurkan diri.


"Greg, jangan macam-macam !." Agatha panik, ia tak tahu harus lari kemana.


"Apa yang kau takuti ? aku sama sekali tidak berniat menyakitimu." Greg menangkap tubuh wanita itu dan mencium keningnya.


"Ou." Agatha terdiam.


Semua yang dilakukan pria itu selalu membuatnya tak percaya, jantungnya benar-benar berdebar.


"Agatha, sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku merasa kagum. Kau benar-benar wanita yang cantik, aku sangat ingin mengetahui tentangmu dan ya ! aku tau sekarang, kau bukan cuma cantik, tapi baik juga menarik." Wajah Agatha memerah.


"A-aku tidak bisa berkata-kata." Wanita itu hanya memandang wajah Greg.


"Tidak perduli seberapa besar rasa benci Kakakmu padaku, tapi aku akan berusaha untuk membuktikan padanya bahwa aku pantas berada disamping Adik kesayangannya." Greg mencium punggung tangan Agatha lagi dan lagi.


"Mau kah kau menerima cintaku, Agatha ?." Sebuah tamparan mengejutkan bagi Agatha. Dia ditembak oleh pria yang memang disukainya.


"Greg, apa kau serius dengan semua ini ?." Tanya Agatha.


"Aku tidak pernah main-main dengan perkataan ku." Greg melihat wanita didepannya masih gugup tak percaya.


"Apa aku terlihat seperti sedang membacakan puisi ?." Agatha menggeleng.


"A-aku hanya merasa bukankah ini terlalu cepat ?." Ia melepaskan genggaman Greg, lalu memalingkan wajah.


"Apakah ini artinya sebuah penolakan ?." Greg memasang wajah sedih, lalu mendekati Agatha sekali lagi.


"Greg aku tahu kau orang yang baik, tapi.."


"Tapi apa ? kau takut aku melukaimu ?." Agatha mengangguk.


"Aku tidak pernah jatuh cinta, tapi hanya padamu rasa suka itu tumbuh." Agatha menatap wajah Greg yang kembali tersenyum senang.


"Itu artinya aku yang pertama ?." Wanita didepannya mengangguk lagi, kemudian Greg memeluknya.


"Greg, aku belum menjawab." Ucap Agatha.


"A-maaf, aku terlalu bahagia."


"Aku mau menerima cintamu." Seketika terdengar suara ledakan diatas langit, hal itu membuat Agatha terkejut dan takjub.


"Indahnya.." Ia tersenyum sambil menyaksikan petasan yang terus meluncur ke atas.


"Aku tidak menyangka kau punya sikap seromantis ini." Kata Agatha.


"Semua yang aku lakukan hanya untukmu, cuma kamu yang merasakannya." Greg tertawa kecil lalu menggendong Agatha memutari tempat tersebut.


"Hahahahaha." Keduanya tertawa bersama.


"Ini belum selesai, aku belum menunjukkan hadiah ulang tahunmu." Greg menarik Agatha ke dalam ruangan.


"Wah bagus sekali, semua ini sambutan untukku ?." Agatha sangat senang.


"Hadiahnya." Greg memperlihatkan kotak kecil pada Agatha.



"Sungguh ?! kau memberikan ini untukku ?!." Agatha menutup mulutnya.


"Kau akan menjadi bagian yang paling berharga dihidupku." Greg memasangkan cincin tersebut dijari Agatha.


"Aku wanita paling bahagia malam hari ini." Agatha berputar-putar sambil tertawa.


Greg menghampiri Agatha dan memeluknya dari arah belakang, lalu menghembuskan nafas hangat yang langsung menjalar diseluruh tubuh wanita itu.

__ADS_1


"Greg, aku bahagia." Agatha tersenyum, ia memegang tangan Greg yang melingkar di pinggangnya.


"Aku senang melihatmu bahagia." Greg membalikkan tubuh Agatha kemudian mencium bibir wanita itu.


__ADS_2