
"Tidak ! jangan katakan itu, aku benar-benar berniat untuk menyelesaikan hubungan ini, sumpah !." Jeremy memeluk Agatha.
"Aku tidak suka dibohongi." Ucap Agatha.
"Apa aku harus berlutut agar kau menarik kata-katamu ?!." Jeremy segera berlutut pada Agatha.
"Kau ini apa sih ! cepat bangun, temui dia." Pinta Agatha.
"Jangan bercerai, aku mohon." Jeremy mencium tangan Agatha, wajahnya benar-benar melas.
"Aku yakin wanita itu menyimpan banyak sekali harapan padamu, aku tidak mau kau menjadi pengecut !." Jeremy terus memohon, Agatha tak tahan dan hendak membuka kunci itu.
Lagi-lagi Jeremy menarik tangannya dan mencium bibir Agatha.
"Hmmmpftt !." Agatha mendorong Jeremy terus menerus.
Sementara pria itu menahan kuat-kuat, dan tak memberi ruang untuk Agatha berontak.
'Kau istriku, aku berhak melakukannya. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Mana ada cerai padahal baru saja menikah semalam !.'
Sudah berusaha lepas dari ciuman itu tetapi tak kunjung berhasil, akhirnya Agatha pasrah dan membiarkan Jeremy melakukan semaunya.
'Dia suamimu Agatha, kau tidak bisa melarangnya melakukan ini.'
"Tidak akan bercerai." Jeremy melihat Agatha terengah-engah.
"Kau menyebalkan !!!!." Kata Agatha, Jeremy tersenyum kemudian mengecup bagian leher istrinya, ia menyesap sampai banyak sekali bekas kemerahan.
"Ini akan menjadi kenangan dihidupmu, walau menjadi yang terburuk sekalipun." Pria itu tersenyum.
"Akan aku beritahu Kakak !." Ancam Agatha.
"Kakak ? maksudmu aku atau Arkan ? bukankah aku juga Kakakmu ?." Jeremy menggodanya lagi.
"Kau tidak mau bercerai ?." Tanya istrinya serius.
"Tidak, tidak mau." Kata Jeremy.
"Bertahun-tahun menjalani hubungan dengan wanita itu, tidak mungkin kau berhenti mencintainya sekarang." Mendengar Agatha bicara begitu, Jeremy terdiam.
"Kau masih mencintainya ? meskipun kau telah mengatakan cinta padaku ?." Agatha terkekeh.
"Ini hanya sisa yang akan habis jika kita selalu melewati waktu bersama." Ucap Jeremy.
"Jeremy, aku sudah berusaha untuk mengubur Greg dalam-dalam. Dan aku selalu berharap dikemudian hari mempunyai suami yang hanya mencintai satu wanita. Jadi aku ingin kau menyelesaikan masalalu mu." Pinta Agatha.
"Aku akan menyelesaikannya." Jeremy membuka pintu lalu mengajak Agatha keluar.
"S-sekarang ?!." Ia terkejut.
"Ya mau sampai kapan ? lebih cepat lebih baik. Aku hanya ingin membuktikan padamu kalau aku lebih mencintaimu dibandingkan dia." Kata Jeremy meyakinkan.
Mereka berdua menemui Marry diruang tamu, kemudian wanita itu bingung karena tak mengenal siapa wanita yang digenggam kekasihnya.
"Sayang, dia siapa ?." Tanya Marry memasang raut wajah tak suka.
"Marry, maaf. Aku mungkin sudah berjanji akan menikahimu, tapi sepertinya dunia tidak berpihak pada kita, takdir merubah semua yang kita rencanakan." Marry semakin bingung.
"Apa maksudmu ?." Tanyanya.
"Aku sudah menikah, dan dia sudah sah menjadi istriku." Agatha hanya diam melihat reaksi Marry.
"T-tidak mungkin ! kau sudah berjanji kita akan menikah ! siapa dia ?!!!!." Wanita itu menjerit.
"Dia Agatha, wanita yang sekarang aku cintai." Marry tercengang, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Kau bercanda Jeremy ? menikah dengan wanita gelandangan ?! haha." Marry menutup mulutnya.
__ADS_1
"Jaga bicaramu, apa kau pikir ada wanita gelandangan secantik diriku ?." Agatha kesal karena dihina.
"Apa ?! cantik katamu ? hei, kau itu tidak lebih dari seorang ****** ! merebut calon suamiku, kemudian menikahinya karena kau menginginkan harta kan ?!!! berapa yang kau mau ?!." Marry membuka tas nya lalu melemparkan amplop coklat yang sangat tebal ke wajah Agatha.
"Dasar gila ! aku tidak butuh harta apapun darinya ! sudahlah, ambil saja sana !." Agatha benar-benar kesal dan pergi keluar.
"Agatha ! Agatha tunggu !." Marry menarik Jeremy dan memeluknya.
"Hari ini kau membuat kesalahan besar, minta maaflah padaku Jeremy. Kau tak pernah ingin menyakitiku kan ? hari ini aku terluka." Jeremy mendorong Marry sampai wanita itu jatuh ke sofa, lalu mengejar Agatha.
"Tunggu, tunggu dulu. Kau tidak bisa berkata seperti tadi !." Kata Jeremy.
"Lalu kau mau aku bicara seperti apa ?! apa kau pikir aku bisa menahan marahku disaat orang lain menghina dan menginjak-injak harga diriku ?!." Agatha menekankan.
"Tolong bersabar sedikit, aku tidak mungkin diam saja." Ucap Jeremy.
"Buktinya kau diam saja ! sudah, berhenti menahanku ! aku tidak akan melanjutkan semua ini, lagi pula Greg sudah bebas ! tidak ada alasan bagi keluargaku untuk kembali memenjarakannya." Agatha menyingkirkan tangan Jeremy dari tubuhnya.
Pria itu segera mengambil ponsel untuk mengirim pesan kepada para penjaga.
"Tolong kunci semua gerbang dengan rapat ! lalu keluarkan Marry dari rumahku." Tulisnya sebagai perintah.
Jeremy berbalik dan membiarkan Agatha pergi menuju gerbang yang jauh.
Didalam, Marry dihampiri oleh beberapa orang dan diseret keluar.
"Sayang, kau tidak bisa berlaku bodoh seperti ini ! aku calon istrimu, aku cinta pertamamu ! sejak kapan kau rela melihatku disentuh orang lain ?!!!." Triak Marry.
Jeremy tak perduli sama sekali dan bergegas masuk ke kamarnya.
"Kau sudah terlalu banyak membuat kesalahan, jika saja tingkah lakumu tidak membuatku muak, aku tidak mungkin mencintai wanita lain dalam waktu dekat." Gumam Jeremy.
Dikamar, Jeremy membaringkan tubuh sambil menunggu Agatha kembali.
Sementara diluar, Agatha sudah tiba didepan gerbang.
"Kenapa digembok ?!." Anak itu mendengus kesal.
Semua penjaga sengaja sembunyi atas perintah Jeremy.
"Cepat buka ! atau aku akan manjat ya." Agatha menoleh ke atas dan melihat pagar setinggi itu.
'Aku tidak mungkin manjat, bisa-bisa aku jatuh dan terluka.' Membayangkan nya saja Agatha sudah merinding.
"Jeremy !!!! kau keterlaluan !!!." Agatha menjerit keras, akhirnya ia berbalik dengan wajah lelah.
Membuka pintu kamar Jeremy tanpa ketukan.
"Kurang ajar kau ! beraninya mengunci gerbang padahal aku sudah berjalan kaki kesana !!!." Jeremy menoleh, melihat Agatha sangat lelah.
"Aku sudah bilang jangan pergi, kau memaksa ya salah sendiri." Pria itu bangun kemudian menggendong Agatha ke atas ranjang.
"Ini minum dulu." Ucap Jeremy, Agatha langsung meminum air yang diberikan suaminya.
"Kemana wanita itu ?." Tanya Agatha.
"Sudah pergi."
"Tidur disini saja, denganku." Wanita disebelahnya segera menyorotkan mata tajam.
"Jangan macam-macam kau ya ! tidak tahu diuntung, sudah mendapatkan ciumanku masih saja meminta lebih." Kata Agatha.
"Meminta lebih apanya ? aku tidak mengatakan apapun, aku hanya bilang tidur disini saja. Kalau tidak mau ya tidak usah." Balas Jeremy.
"Benar juga, aku terlalu lelah berjalan." Bagaimana tidak lelah, dari pintu utama menuju gerbang depan sangat jauh, menaiki mobil saja masih membutuhkan waktu beberapa menit.
Tanpa sengaja Agatha terlelap dikasur besar itu, Jeremy hanya tertawa kecil melihatnya.
__ADS_1
"Tidak mau tapi tidur juga, anak ini benar-benar." Jeremy menarik selimut tebalnya dan menutupi tubuh Agatha.
Cup !
Ia mencium kening istrinya, dan membiarkan wanita itu tidur dengan nyaman.
"Aku tidak akan macam-macam padamu, kau tidak usah khawatir." Jeremy meninggalkan Agatha dikamarnya kemudian keluar menyantap makanan yang sudah mereka buat tadi.
...
"Bisa aku bertemu Agatha ?." Ucap Greg pada pelayan yang sigap berdiri didepan pintu.
"Maaf Nona Agatha tidak ada." Jawab si pelayan.
"Apa kau tahu dia kemana ?." Kata Greg.
"Agatha tinggal bersama suaminya, kau tidak perlu repot-repot lagi mencari putriku." Sahut Satria yang muncul dihadapan Greg.
"A-apa ?! bersama suami ? apa maksudnya ?." Greg sangat panik.
"Dia baru saja menikah kemarin. Hei, aku peringatkan padamu agar tidak menganggunya lagi." Satria menegaskan.
"Tuan, kau tahu kalau Agatha dan aku saling mencintai, tidak mungkin dia menikah dengan pria lain." Ucap Greg tak percaya.
"Memang benar, justru karena dia mencintaimu lalu dia memilih untuk menikah demi membebaskanmu dari penjara." Mendengar itu Greg terkejut, lalu pergi untuk mencari keberadaan Agatha.
"Agatha, kenapa kau begitu bodoh ? aku sudah menghubungi Adikku agar membantu, kenapa kau bertindak seperti ini." Greg frustasi.
Greg segera menghubungi seseorang untuk mencari tahu dimana Agatha tinggal.
***
Agatha bangun, lalu menoleh ke bantal disebelahnya.
"Jeremy ? kemana dia." Anak itu berdiri perlahan kemudian mencari Jeremy.
Dilantai bawah terlihat pemandangan yang menarik perhatian.
"Dia tidur sambil menonton televisi ?." Agatha langsung mematikan tv tersebut melalui tombol remot.
Lalu mengambil bantal dari pelukan suaminya itu.
"Kau seharusnya tidur berbaring, siapa yang mengajari tidur sambil duduk ?." Agatha tertawa kecil.
Ia meletakkan bantal diujung sofa, setelah itu membantu Jeremy membaringkan tubuhnya.
Saat hendak pergi, pria tersebut menarik Agatha hingga jatuh ke pelukannya.
"Eh !." Mereka berdua saling berhadapan tetapi mata Jeremy terpejam.
Pelayan yang melewati mereka seketika terkejut dan membanting gelasnya.
Hal itu membuat Agatha panik, sampai Jeremy terbangun.
"Kenapa ?." Kata Jeremy.
"I-itu.." Suaminya menoleh dan melihat pelayan menatap serius ke arahnya, karena satupun pelayan dirumah ini belum ada yang tahu pernikahan mereka.
Mereka semua hanya mengenal Marry sebagai pasangan Jeremy.
"Untuk apa diam disitu ? pergi, menganggu saja." Pinta Jeremy dituruti oleh pelayan.
"Kau pura-pura ya ?!." Agatha memelototi pria didepannya.
"Apanya yang pura-pura ?." Kata Jeremy.
"Tidurmu barusan ? itu pasti pura-pura kan ?!." Jeremy tertawa kecil, lalu mencium pipi Agatha.
__ADS_1
Wanita itu hanya mengusap pipinya sendiri karena belum terbiasa.
"Aku masih mengantuk, jadi aku tidur disini. Kalau aku tidur disampingmu memang boleh ?."