Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
menjamin


__ADS_3

"Nona, selamat! anda hamil." ucapan dokter itu terngiang-ngiang ditelinga Selin.


tanpa berbicara panjang lebar, Selin segera pergi meninggalkan rumah sakit lalu masuk ke dalam mobil dengan wajah muram.


"bodoh Selin! kau bodoh!." Selin meninju setirnya lalu menangis, ia mengingat-ingat siapa laki-laki yang tidur dengan nya malam itu namun tak kunjung berhasil, dia benar-benar tidak sadar siapa laki-laki itu.


"apa yang harus ku katakan kepada Jonatan?." Selin melihat ponselnya dan langsung menuju suatu tempat.


"aku harus menggugurkan bayi ini, aku tidak mungkin membiarkan Jonatan tahu tentang kehamilan ku, jika dia mengetahui nya, aku pasti akan kehilangan dia." Selin cemas, dia memasuki apotek dan membeli beberapa pil


"hei!." suara seseorang mengejutkan Selin, namun Selin tak berani menoleh, ia langsung menyimpan pil itu dan berjalan keluar.


"tunggu!." pria tersebut menahan tangan Selin.


"lepaskan! kau tidak sepantasnya menahan ku disini!." kata Selin marah


"kau hamil?." ucap pria itu dengan serius


"bukan urusan mu!." balas Selin menepis tangan pria dihadapan nya, ia masih menunduk dan tak berani melihat wajah pria itu, takut jika pria itu teman Jonatan dan langsung memberitahukan nya bahwa Selin sedang hamil.


"kenapa kau membeli pil itu?! kau mau menggugurkan nya?!." ucapnya lagi


"diam! kau sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya ter..." sewaktu Selin mendongak, dia terkejut ternyata pria yang dia lihat adalah pria yang pernah di bawa oleh Adinda ke rumah


"kau?! kau bukan nya teman Adinda?." tanya Selin, kemudian pria itu mengangguk


"aku Bryan." katanya


"B-Bryan? aku mohon, tolong jangan katakan ini ke siapapun, termasuk teman mu Adinda, a-aku..." Bryan melihat Selin sedang memohon sambil menjatuhkan air matanya, sepertinya dia sangat takut dan tertekan.


"apa dia mengandung anak ku?." ucap Bryan dalam hati


"ikut aku jika kau ingin rahasia mu aman." Bryan mengajak Selin ke dalam mobilnya, lalu meminta Selin berkata jujur dengan apa yang terjadi.


"kenapa kau bisa takut kalau aku akan memberitahu Adinda tentang kehamilan mu? bukan kah suami mu akan bahagia ketika mendengarnya?." tanya Bryan

__ADS_1


"t-tidak, aku bisa mati jika Jonatan mengetahui kehamilanku." ucap Selin sedih


"kenapa begitu?." Bryan menatap Selin serius, lalu Selin menatap mata Bryan


"a-aku pasti hamil dengan orang lain, karena selama anak pertamaku lahir, Jonatan sama sekali tidak ku izinkan untuk menyentuh tubuhku." pengakuan Selin membuat Bryan sedikit kaget namun dia tahu kalau Selin hamil anaknya, anak Bryan.


"Bryan, tolong aku, aku sangat takut kehilangan Jonatan." Selin memegang tangan Bryan dengan air mata yang terus mengalir, lalu Bryan memeluk Selin, sedikit terkejut dengan sikap Bryan namun Selin pasrah.


"aku janji akan merahasiakan nya, asalkan kau tidak macam-macam dengan bayi itu, kalau kau berani membunuhnya dengan pil yang kau beli, aku tidak segan-segan memberitahu Jonatan kebenaran nya." Selin merasa dirinya terancam, namun dia mengikuti permintaan itu.


"k-kamu sedang apa di apotek?." Selin bertanya


"aku membeli obat untuk sepupuku, dia sakit." balas Bryan, lalu setelah mereka berbincang-bincang, masing-masing segera pulang ke rumah.


ditempat lain,


"Arkan, bunda bawa sesuatu untuk kamu." ucap Adinda memanggil putra nya, lalu Arkan berlari keluar dengan imut dan langsung menghampiri Adinda


"bunda bawa apa?." mata Arkan yang cerah berkedip


"waaah! bunda terimakasih! aku sangat menyukai kue ini, bolehkah aku memakan nya sekarang?." tanya Arkan


"boleh sayang, sama bibi ya nak, bunda akan ke kamar bersama ayah." Arkan mengangguk dan membawa kue itu ke kamar.


"jadi apa kau bisa menjamin wanita itu untuk tidak menganggu keluarga kita lagi Mas?." Adinda bertanya serius kepada suaminya


"kali ini aku akan menjamin nya." Satria menghubungi beberapa orang untuk menangkap kedua penjahat itu, mereka dikurung ditempat gelap dan menyedihkan.


"lalu, kudengar kemarin dia menginginkan saham perusahaan, apa kau benar-benar memberikan nya?." ucap Adinda


"tidak sayang, dia datang dengan wajah serupa, lalu mengklaim bahwa dirinya adalah Adinda, tentu saja sekarang saham ini atas nama mu." kata Satria


"aku benar-benar tidak menyangka sejahat itu mereka padaku, sebenarnya apa sih yang mereka mau? kenapa licik sekali menjadi manusia." Adinda mengoceh, sementara Satria hanya tertawa kecil mendengar ocehan nya.


"karena kedudukan istriku terlalu sempurna, sudah cantik, pintar, menggemaskan, lalu dimanja oleh suaminya yang tampan, jelas saja mereka iri. benar tidak?." Adinda tertegun, lalu tersenyum mengejek ke arah Satria

__ADS_1


"jadi rupanya ada yang berbangga diri menjadi pria tampan ya? huh, suamiku memang kadang narsis sekali." ucap Adinda


"hei, jujur saja, aku memang tampan kan?." Satria memangku Adinda dan menggoyangkan alisnya naik turun berulang kali


"kau memintaku jujur ya? baiklah, akan aku beritahu ya dirimu yang sesungguhnya. kamu itu nakal, suka membuat orang kesal, jail, suka meledek, pokonya tidak tampan." kata Adinda, Satria tercengang sebelum akhirnya menggendong Adinda dan berputar di dalam kamar.


"berhenti Mas!." Adinda berteriak sambil tertawa kemudian mereka mendarat di atas kasur yang besar dan empuk


"waktu kamu tidak ada, aku sama sekali tidak sebahagia ini." ucap Satria


"baguslah, aku suka kalau kau sengsara tanpa aku, itu artinya hanya aku yang bisa membahagiakan mu, sekalipun ada seseorang yang benar-benar mirip denganku. benar kan?." Adinda tersenyum pede kepada Satria


"gadis nakal! kau pintar ya menjawab ucapan ku!." Satria mencubit hidung Adinda lalu mencium pipi nya.


"bagaimana tinggal di rumah baru mu?." tanya Satria


"menyenangkan, mereka merawat ku seperti anaknya sendiri, aku senang karena bisa merasakan punya ayah lagi, oh ya ampun aku jadi mengingat betapa sakitnya kehilangan ayah Tio kala itu." wajah Adinda kembali murung


"sayang, jangan sedih, kau kan sudah punya ayah baru." Satria menenangkan istrinya


"ya, aku mengerti, tapi aku sangat merindukan ayah, dia selalu memanjakan ku, walaupun Dad juga melakukan hal yang sama tetap saja semua itu berbeda." kata Adinda


"sudahlah, ayah akan marah jika tahu dirimu bersedih, kau mau kalau ayah menjewer telingaku secara tidak terlihat karena aku membiarkan kamu menangis?." ucapan Satria membuat Adinda tertawa kecil, lalu mencubit pipinya.


"ayah tidak akan menjewer mu karena dia melihat kau tak pernah membiarkan aku menangis." Adinda segera menyetel televisi dan memakan cemilan, Satria merasa lega dengan hari ini


di kediaman Anggara, Selin memasuki kamar dan menemukan Jonatan sedang bermain dengan Selina di sana.


"sudah periksa ke dokter? apa katanya?." pertanyaan Jonatan membuat Selin menciut, namun dia memberanikan diri untuk menjawab.


"dokter bilang aku baik-baik saja, dan hanya masuk angin biasa." sahut Selin, Jonatan mengangguk puas dengan jawaban istrinya.


"baguslah, aku sempat berpikir yang macam-macam tapi ternyata kau cuma masuk angin, ya sudah beristirahatlah, jangan makan sembarangan, aku akan membuatkan mu teh hangat." Jonatan mencium kening Selin sebelum pergi meninggalkan kamar.


hati Selin hancur, ia melihat betapa manisnya Jonatan saat ini, rasanya tak mau kehilangan Jonatan sampai dia harus berbohong kepada suaminya sendiri.

__ADS_1


tapi mana mungkin semuanya akan semanis ini lagi, karena tidak ada kebohongan yang abadi, semuanya akan terungkap kemudian Jonatan mengetahui kebenaran nya.


__ADS_2