
Arkan belum lama lulus dari universitas ternama diluar negri, kurang lebih ia menjalankan pendidikan nya selama 4 tahun.
sementara Agatha baru saja tamat sekolah.
"Sayang, apa kau ingin melanjutkan kuliah seperti Kakakmu ?." Tanya Adinda kepada Agatha.
"Akan aku pikirkan, tapi untuk saat ini keinginanku hanya satu." Agatha menduduki sofa dengan santai.
"Katakan." Satria membalas.
"Artha Bakery."
"Maksudmu ? kau ingin berbisnis kue ?." Mata Adinda membulat.
"Tidak mau ikut berbisnis dengan Ayah ?." Tanya Satria.
"Tidak perlu, cukup aku saja." Arkan tiba-tiba datang membuat mereka terkejut.
"Jadi apa menurutmu wanita sepertiku pantas untuk masuk ke dalam bisnis Ayah ?." Ia menaikkan salah satu alisnya.
"Adikku akan lebih baik jika melakukan apa yang dia inginkan, dari pada kita harus memaksanya melakukan apa yang dia tak suka." Arkan mendekati Agatha lalu merangkul pundaknya.
"Benar ! Kakak memang yang terbaik." Wanita itu tersenyum bahagia.
"Bunda akan mengizinkan kamu melakukan apapun yang kau suka, tapi dengan satu syarat." Ucap Adinda.
"Apa ?." Agatha menatap kedua orang tuanya dengan serius.
"Jangan membuat Ayah dan Bunda kecewa." Sahut Satria sambil bersandar disofa.
"Aku janji ! terimakasih telah mengizinkanku." Agatha mencium pipi Adinda dan Satria.
"Percayakan Agatha padaku, aku pasti selalu menjaganya." Kata Arkan memegang tangan sang Ayah juga Bundanya.
"Kami percaya padamu." Adinda membalas lalu pergi memasuki kamar.
"Kak, aku akan pergi." Ucap Agatha.
"Kemana ? dengan siapa ?."
"Aku akan bertemu dengan temanku di Arion Cafe."
"Perempuan ?." Arkan memastikan.
"Apa kau pikir aku pernah membuat janji dengan pria ?." Mata Agatha menyipit, seakan dia sebal.
"Pergilah, jangan pulang terlalu larut atau aku akan memaki semua temanmu tanpa terkecuali." Arkan pun berlalu pergi menemui Neneknya di kamar.
"Terimakasih, byee Kak !." Agatha berlari kecil menuju halaman rumah sambil menekan tombol alarm mobilnya.
"Dimana Agatha ?." Tanya Tania.
"Sedang pergi Nek, kau tak perlu mengkhawatirkannya." Putra pertama dari keluarga Anggara itu mengusap tangan Neneknya.
__ADS_1
"Kau tumbuh dengan sangat baik Arkan." Kata sang Nenek.
"Benar, ini semua karena orang tuaku, dan juga Nenek." Pria itu tersenyum, hangat sekali.
"Kalau saja Kakekmu masih hidup, dia pasti sangat bangga atas keberhasilan cucu nya sekarang." Tania kembali mengingat masa lalu yang kelam itu.
"Kenapa sedih ? bukan kah Kakek seharusnya bisa melihatku dari atas sana ? dia sudah bahagia Nek, kau mau aku mengantarkanmu mengunjungi makam nya ?." Kata Arkan.
"Tidak perlu, kita bisa kesana lain kali." Tania mengusap kepala cucunya lalu tersenyum.
"Kalau begitu aku keluar ya, Nenek istirahat saja, jangan banyak bergerak." Arkan mencium tangan Tania kemudian pergi.
"Cucuku memang yang terbaik." Tanpa disadari, ia mengucap begitu sambil mengeluarkan air mata.
***
"Sudah menunggu lama ya ?." Suara Agatha membuat teman nya sedikit terkejut.
"Tidak, aku baru saja sampai." Hana, teman Agatha.
"Aku pesan ya, kamu mau apa ?." Ucap Agatha.
"Minum saja deh, aku kenyang." Hana.
"Oke ! jadi gimana ? kamu sudah tau mau melanjutkan kuliah atau tidak ?." Agatha bertanya sambil memanggil pelayan dengan satu tangan nya.
"Aku ingin lanjut, tapi.." Teman nya terdiam.
"Tapi kenapa ? orang tuamu setuju kan ? menurutku tidak mungkin kalau mereka menolak, secara ini adalah kesempatanmu untuk meraih masa depan, benar kan ?." Wanita itu melipat kedua tangan nya didepan dada.
"Nenekmu itu terlalu ikut campur, sebenarnya juga kenapa kalau cucunya ingin melanjutkan kuliah ? justru bagus dong, bisa menambah ilmu, tidak ada yang tahu nasib akan berubah." Kata Agatha.
Tak lama pelayan datang membawakan dua gelas minuman.
"Silahkan minumnya." Ucap si pelayan.
"Mungkin Nenekmu mau kalau kau jadi pelayan seperti itu ya ?." Agatha memijat kepalanya perlahan.
"Mungkin, Nenek itu takut kalau aku melanjutkan kuliah, siapa yang akan mengurusnya nanti ? setiap hari saja aku melakukan semua yang dia mau, termasuk merapihkan tempat tidurnya." Hana memasang wajah malas.
"Hahaha ! sepertinya Nenekku memang yang paling baik deh, dia sama sekali tidak pernah meminta cucu-cucunya untuk melakukan hal-hal seperti itu." Agatha tertawa kecil.
"Kita beda tau !." Hana memelototi Agatha.
"Dari pada kau sibuk mengurus Nenekmu itu, bagaimana kalau kita shopping ? sudah lama kan tidak melakukan itu bersama ?." Ia menarik tangan Hana, lalu pergi dari cafe tersebut.
"Minum saja belum habis sudah mau belanja." Hana menepuk jidatnya.
Di Mall, Agatha melihat-lihat pakaian yang cocok dengan nya.
"Hana, lihat ! cocok bukan ?." Kata Agatha seraya memutari tempat yang dia injak.
"Aku rasa pakaian apapun selalu cocok denganmu, kecuali karung sih." Hana tertawa lebar.
__ADS_1
"Wah kau ini ya, ayo sana cari pakaian untukmu, kali ini aku yang traktir deh !." Agatha mendorong Hana untuk mencari pakaian juga.
Saat Agatha hendak mencoba pakaian yang ia dapat, tiba-tiba telepon nya berbunyi.
"Halo, ada apa ?." Tanya Agatha.
"Kau dimana ? kenapa tidak berada ditempat yang kau sebutkan tadi." Ucap seorang pria, tak lain adalah Kakaknya, Arkan.
"Aku sedang pergi belanja, tak usah cemas, pulang saja sana." Ucap Agatha meminta Kakaknya pulang.
"Yakin menyuruhku pulang ?." Pria itu memastikan, dibalik telepon ia tersenyum kecil karena Agatha melupakan sesuatu yang penting.
"Yakin, aku bawa mobil kok, nanti bisa pulang sendiri." Kemudian Arkan menutup panggilan telepon.
setelah mencoba di ruang ganti, Agatha dan Hana hendak ke kasir untuk membayar.
"Tunggu ya Han." Agatha membuka tas untuk mengambil kartu disana, namun dalam waktu beberapa menit tidak ketemu juga.
"Ada ?." Hana cemas, lalu dia berbisik.
"Kalau tidak ada lebih baik aku pulangkan saja milikku ke tempatnya." Kata Hana.
"Sssttt, ada kok !." Ia terus mencari, sampai akhirnya teringat akan ucapan Arkan barusan.
"Jangan berikan baju ini pada siapapun, aku akan kembali." Kata Agatha pada sang kasir.
"Kau mau apa ?." Hana.
"Aku harus menghubungi Kakakku." Agatha mengambil ponsel lalu menghubungi Arkan.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan Putri ?." Kata Arkan meledek.
"Hehe, tolong antarkan kartuku ya Kak, maaf merepotkan." Ucap Agatha.
"Share lokasimu, aku kesana sekarang." Dengan cepat ia menerima pesan lokasi dari Adiknya, tak menunggu lama roda mobil pun melaju cepat.
"Bungkus saja, nanti akan aku bayar." Pinta Agatha pada pelayan kasir.
"Maaf Nona, kami mengutamakan yang bayar terlebih dahulu." Mendengar perkataan kasir, Agatha pun mengerutkan alis.
"Apa-apaan, memangnya harus begitu ya ? kartuku kan hanya tertinggal dirumah, bukan tidak mau bayar !." Keluh Agatha dalam hati.
"Tolong bungkus untuk Nona ini, aku yang bayar." Kata seorang pria, Agatha segera menoleh dan melihat tubuh yang tinggi dan berisi tersebut.
"Tuan tidak perlu, saya bisa membayarnya sendiri." Kata Agatha, Hana hanya terdiam memperhatikan pria didepan nya.
"Jangan sungkan, ambillah." Pria itu menyodorkan bungkusan pakaian yang sangat Agatha inginkan.
"Ambil saja, lumayan." Bisik Hana.
"Tidak perlu." Mendadak terkejut mendengar suara yang begitu dingin dari belakang.
"Kembalikan uangnya, ini kartuku." Arkan memberikan kartu Adiknya pada pelayan kasir, lalu pelayan itu mengembalikan uang yang baru saja diberikan oleh pria dihadapan nya.
__ADS_1
"Baik, akan saya proses." Pelayan kasir memproses kartu tersebut, lalu dengan cepat ia kembalikan pada Arkan.
"Terimakasih, tapi kami tidak butuh bantuan mu." Arkan mengambil alih bungkusan dari tangan si pria, lalu merangkul Adiknya untuk pergi, begitu juga dengan Hana yang mengikuti Kakak beradik itu dari belakang.