Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Musibah


__ADS_3

"Baru pulang ?." Agatha melirik Kakaknya.


"Iya, aku lelah ingin beristirahat." Arkan melewati Agatha begitu saja.


"Tunggu !." Dihentikan secara paksa.


"Bajumu kenapa beda ? seingat aku, Kakak tidak memakai ini, dan ini punya siapa ?." Agatha.


"Kau menanyakan yang tidak penting, tolong jangan ganggu aku." Arkan menuju kamarnya dan tidur sampai besok.


Di pagi harinya lagi, ia bergegas mandi lalu pergi ke kantor.


"Hati-hati dijalan nak." Kata Adinda.


"Jangan khawatir Bunda, aku pasti akan berhati-hati."


Mobilnya melaju secepat kilat sampai tiba-tiba sudah berhenti didepan kantor.


"Tuan Arkan tiba !." Ucap seluruh pegawai.


"Selamat pagi Tuan !." Semuanya menunduk sopan.


"Pagi, silahkan bertugas." Perintah Arkan.


"Permisi Tuan, belakangan ini ada beberapa berkas yang belum sempat ditanda tangani oleh Tuan Satria, beliau meminta saya untuk menyerahkan semuanya pada anda." Sekretaris kantor.


"Baik, letakkan saja dimeja kerjaku." Arkan menuju ruangan barunya dan duduk sebagai atasan disana.


"Kalau begitu saya permisi Tuan."


Di jam istirahat, Arkan memanfaatkan waktunya untuk makan siang diluar.


Ia juga memakai kacamata hitam untuk menutupi sinar dari cahaya matahari.


Di restoran, semua mata tertuju pada pria satu ini.


"Tampan nya !." Kata para wanita.


"Sungguh ? aku tahu siapa dia !." Ucap yang lain.


"Dia sangat masuk dalam tipeku ! ya tuhan, jadikan aku pacarnya, tak perduli yang ke berapa ratus sekalipun."


Arkan melepaskan kacamata yang dia pakai lalu duduk dengan tenang dikursi pilihan nya.


"Ingin memesan apa Tuan ?." Tanya pelayan.


"Apa saja yang membuatku kenyang." Jawab Arkan.


"Baik, kami siapkan secepatnya." Pelayan itu pergi tanpa mengoceh apapun lagi.


...


Disisi lain, Rain terbangun dari tidurnya dan terkejut karena ternyata Leonard sudah berada disampingnya.


"Leonard !." Katanya.


"Sudah bangun ?." Leonard tersenyum sumringah.


"S-sejak kapan kau disini ?! mau apa kau ?!." Rain segera bangkit dari kasur dan menjauhi pria gila itu.


"Aku disini sejak malam tadi, kau tidur sangat pulas ya ?." Perkataan Leonard membuat Rain berpikir, ia yakin seusai mendatangi acara semalam dia tidur sendiri, tidak ada siapapun disini.


"Pembohong ! pria licik ! dari mana kau masuk ?!." Teriak Rain.


"Sssttt, jangan keras-keras. Semua orang bisa mendengar kita." Leonard memajukan langkahnya, sementara Rain terus memundurkan diri sampai ia terbentur dinding lagi dan lagi.


"Leonard cukup ! kau tak bisa terus menganggu hidupku, kau bisa mendapatkan wanita manapun selain aku !." Tak disangka perkataan Rain membuat emosi Leonard memuncak, ia memegang dagu Rain sampai wanita itu gemetar ketakutan.


"Aku cuma mau kamu Rain ! kamu !." Leonard tertawa.


"Pergi Leonard, hatiku sudah sangat hancur kau permainkan seperti ini, aku bukan bonekamu." Rain menangis.


"Boneka ? sayang, sejak kapan aku menganggapmu boneka ?." Leonard melepaskan wanita itu secara perlahan kemudian menunduk lemah dihadapan Rain.


"Aku tidak pernah memandangmu sebagai boneka Rain, aku cinta padamu." Leonard menangis dan memeluk Rain.


"Tolong, beri aku kesempatan satu kali lagi." Kata Leonard memohon.


"Hiiikss..hiksss !." Dada Rain terasa sesak ketika mendengar ucapan Leonard yang begitu lemah.


'Aku memang pernah mencintaimu, sangat mencintaimu. Tapi sekarang tidak lagi. ****Aku benci kamu**** !' Batin Rain.

__ADS_1


"Bisakah kita mengulang semuanya ? maafkan tindakan bodohku." Ucap Leonard.


"Aku tidak bisa mengulangnya, sampai kapanpun itu." Rain melepaskan pelukan Leonard.


"Kau pasti masih mencintaiku kan ?." Leonard mencium tangan Rain, ia bahkan menghapus air mata wanita didepan nya sekarang.


"Tidak Leonard, cintaku untukmu sudah habis." Jawaban Rain sama sekali tidak bisa diterima dengan baik oleh Leonard.


Pria itu segera memegang kedua tangan Rain dan ditekan ke arah dinding.


Ia memaksa bibir Rain agar berciuman dengannya.


Rain tak terima, cepat cepat menggigit lidah Leonard.


Pria tersebut terlihat sangat kesakitan, tetapi tidak berhenti sampai disitu. Leonard langsung menarik Rain dan melemparkan nya ke atas ranjang.


"Kau menyia-nyiakan ketulusanku Rain !." Ia merobek pakaian Rain secara kasar, sementara Rain berusaha melarikan diri dari pria gila itu.


"Lepaskan Leonard ! Tolong !!!!!! tolonggggggg !!." Teriak Rain.


"Teriaklah semampu mu, sampai suaramu habis pun tak akan ada yang muncul." Leonard memaksa Rain untuk memuaskan nafsunya, kemudian Rain memukul Leonard dengan benda pajangan diatas meja kamar.


Murka, Leonard mendorong Rain sampai kepalanya terbentur dinding ranjang.


"Aaaaah." Suara tak berdaya itu terdengar sebelum Rain jatuh pingsan.


"Rain ! Rain bangun !." Leonard merasa panik.


"Rain ! bangun sayang !." Ia menggendong Rain dan membaringkan nya diatas ranjang.


"Maafkan aku Rain, aku- aku benar-benar tak bisa mengendalikan diri." Kata Leonard menyesal.


Tok..tok


"Rain, kamu didalam ?." Suara tamu diluar membuat Leonard bergidik ketakutan.


"Rain, kamu masih tidur ya ?." Ucapnya lagi.


Leonard segera melarikan diri lewat pintu belakang, bersamaan dengan pintu yang terbuka dari luar.


"Rain, aku masuk ya." Ia berjalan ke dalam dan menemukan Rain dalam keadaan buruk.


"Rain !!!!!!." Jerit si wanita yang tak lain adalah Rubby.


Rubby segera memanggil Dokter kerumah Rain, tak menunggu lama Dokter pun datang.


"Bagaimana bisa sampai terjadi seperti ini ?." Tanya Dokter.


"Entah Dok, saya tidak tahu bagaimana kejadiannya, rumah ini sama sekali tidak memiliki CCTV, sangat sulit untuk mencaritahu penyebabnya." Jelas Rubby.


"Untungnya pendarahan di bagian kepala tidak terlalu parah, tapi kali ini sepertinya Nona Rain mengalami syok yang lumayan berat, saya jadi khawatir jika kejadian seperti ini terulang kembali maka Nona Rain bisa mengalami trauma yang berkepanjangan." Kata Dokter menjelaskan.


"Tapi teman saya baik-baik saja kan Dok ?." Rubby khawatir.


"Sebaiknya anda memberitahu keluarga Nona Rain agar tidak meninggalkan nya sendiri terus menerus seperti ini." Dokter itu memberikan resep obat sebelum akhirnya pergi.


"Keluarga ? hanya aku yang Rain punya." Gumam Rubby sedih.


"Rain, sebenarnya ada apa." Rubby memegangi tangan Rain penuh rasa cemas.


"Kau bisa ceritakan semuanya padaku, aku sudah katakan sejak lama." Kata Rubby lagi.


*


*


*


"Tidak lama lagi Agatha ulang tahun, aku masih bingung memilihkan hadiah yang pas untuknya." Arkan memijit kepalanya sedikit dan bersandar dengan lelah.


"Huh, tidak mudah menjadi sehebat Ayah." Kata Arkan.


Ia membuka laci meja kemudian menemukan foto Ayah dan Bundanya sewaktu dulu.


"Hahaha, mereka ternyata sering berpacaran dalam kantor ini." Arkan tertawa geli.


"Aku jadi ingin tahu bagaimana mereka bertemu dulu." Tak berhenti memandangi kecantikan Adinda, Bundanya.


"Bunda sama sekali tidak terlihat tua sampai sekarang, Ayah juga." Arkan kembali tersenyum.


"Bukan kah orang yang awet muda adalah orang yang tak pernah mempersulit hidupnya dari berbagai masalah ?." Arkan.

__ADS_1


Tring..tring


"Ya halo ?." Jawab Arkan.


"Tuan, ada tamu yang datang. Beliau mencari anda." Kata sekretaris kantor.


"Baik, pinta mereka untuk menunggu saya sebentar." Kata Arkan.


Arkan segera memutuskan telepon dan bergegas keluar.


"Tuan Arkan."


"Tuan Laos ? tidak disangka tamu itu adalah kau." Arkan tersenyum dan duduk bersama Laos.


"Benar, aku tidak menganggumu kan ?." Tanya Laos.


"Tidak sama sekali, apa yang membuatmu sampai datang kemari ? bahkan hanya sendiri." Laos tertawa kecil lalu mengeluarkan bingkisan untuk Arkan.


"Aku membawakan hadiah ini untukmu, tidak seberapa, tapi aku ingin kau menerimanya." Laos menyodorkan hadiah tersebut.


"Dalam rangka apa ini ?." Arkan sedikit terkejut.


"Aku sangat berterimakasih padamu, karena tadi malam kau menyelamatkan saudaraku, dia wanita satu-satunya dalam keluarga kami, jika kami kehilangan dia, itu pasti sangat menyakitkan." Ucap Laos.


"Sudah sepantasnya aku menolong Rubby, terimakasih hadiah nya, aku terima." Mereka berdua sama-sama meminum segelas teh hangat yang dibawakan oleh OB.


"Tidak lama lagi adikku ulang tahun, aku juga berharap kau dan Rubby bisa datang, supaya hubungan pertemanan kita semakin erat." Keduanya tersenyum.


"Aku pasti datang bersama Rubby." Balas Laos.


"Kenapa dia tidak ikut datang kemari ?." Arkan.


"Dia izin padaku, katanya ingin bertemu dengan teman dekatnya." Laos.


"Begitu ya." Mereka terus berbicara dengan formal sampai akhirnya telepon Laos berbunyi.


"Rubby menghubungiku, sebentar ya." Laos mengangkatnya dan bicara pada Rubby.


"Ada apa ?." Tanya Laos, ia mendengar suara Rubby yang bergetar.


"B-bisakah kau datang kemari ?." Ucap Rubby.


"Ada apa Rubby ? kau baik-baik saja ?." Laos khawatir.


"Temanku, temanku mengalami musibah, kita harus bicara sekarang." Kata Rubby terbata-bata.


"Temanmu siapa ?." Laos.


"Rain ! Namanya Rain !." Balas Rubby.


"Rain ?! siapa dia." Rubby memutuskan telepon dan mengirim lokasi terkini.


"Tuan Arkan maaf, tapi aku harus segera pergi." Kata Laos.


"Tunggu, maaf kalau aku sedikit lancang, tapi baru saja aku mendengar kau menyebutkan nama Rain ?." Tanya Arkan sedikit cemas.


"Benar, Rain teman saudaraku, dia sedang mengalami musibah dan aku harus segera kesana." Perkataan itu mengingatkan Arkan pada perjumpaan semalam, bahwa Rain berkata kalau dia berteman baik dengan Rubby.


"Tuan Laos, izinkan aku ikut bersamamu." Laos mengangguk, kemudian Arkan meninggalkan kantor sementara.


Menaiki mobil Laos, Arkan mengendarai secara cepat, sampai Laos berpegangan karena takut.


"Kau mengenal wanita itu ?." Tanya Laos.


"Ya."


Setibanya di lokasi, Arkan melihat sebuah rumah sederhana yang sedikit kotor dan rapuh.


terpampang jelas wajah Rubby didepan pintu, Arkan berjalan cepat dan menghampiri Rubby.


"Tuan Arkan, kau disini juga ?." Katanya.


"Rain, dimana Rain ?." Tanya Arkan.


"Di-dal..." Belum menjawab, Arkan lebih dulu memasuki rumah itu dan mencari keberadaan Rain.


"Tuan Arkan terlihat sangat cemas, apa temanmu punya hubungan khusus dengan nya ?." Tanya Laos, Rubby menggeleng.


"Rain !." Dibuat terkejut, Arkan melihat Rain yang amat sangat berantakan.


bahkan ia melihat perban mengelilingi kepala itu.

__ADS_1


__ADS_2