
Besoknya, Agatha bangun disiang hari masih dalam kondisi memeluk Greg.
"Aaaaaaaah !." Jeritnya keras, pria itu terbangun dan segera menutup mulut Agatha.
"Jangan berteriak !." Kata Greg.
"K-kau, kau macam-macam padaku !." Agatha sangat gugup hingga menjauhi Greg.
"Macam-macam apanya ? aku tak berbuat apapun." Ucap Greg.
"Lalu ?! kenapa pembatasnya hilang ?! kau sengaja ya ?." Agatha memasang ekspresi marah.
"Kau sendiri yang menjatuhkan pembatasnya, jangan salahkan aku, kau juga yang memelukku." Agatha terkejut, ia tak percaya dengan ucapan Greg.
"Bohong ! kau pasti mengambil kesempatan kan ?!." Ucap Agatha lagi.
"Huh, terserah katamu." Greg keluar dari kamar dan menuju kamarnya."
Agatha menghela nafas lalu melihat ada CCTV disudut dinding.
ia segera mengecek CCTV itu, dan melihat bahwa apa yang dikatakan Greg adalah benar.
"T-tapi, dia juga menciumku." Agatha mengigit jarinya.
"Sedang mencari bukti ?." Suara Greg membuat Agatha kaget.
"Ka-kamu ! kamu cium aku semalam !." Agatha menunjuk wajah Greg.
"Memangnya kenapa ? hanya mencium kok, tidak macam-macam." Greg tersenyum.
"Tetap saja kau memanfaatkan keadaan ini ! untuk apa melakukannya ?!." Agatha memelototi Greg.
"Karena aku mencintaimu." Mendengar kalimat tersebut, Agatha semakin melotot dan sulit berkata-kata.
"Kenapa diam ? mau aku cium lagi ?." Tanya Greg.
"K-kamu gila !." Agatha pergi meninggalkan Greg yang merasa senang.
"Aku sulit bernafas, sebaiknya aku keluar sebentar untuk mencari udara segar." Agatha keluar dari Villa dan melihat pemandangan yang luar biasa indah.
"Bagus ! bagus sekali !." Ia tersenyum.
"Ayo Agatha, bernafaslah dengan baik, kau bisa mati jika kehabisan oksigen." Wanita itu menarik dan membuang nafas dalam-dalam.
Ia berjalan menjauhi Villa, karena ada banyak pemandangan yang lebih indah.
"Ya ampun, ponselku tertinggal dikamar, padahal aku ingin mengambil foto disini." Agatha hendak berbalik menuju Villa, namun seketika mulutnya dibekap kain yang telah dibius.
"Emmmhhh !." Teriaknya sebelum pingsan.
Disebuah rumah besar, dengan suasana yang jauh berbeda Agatha pun terbangun.
Rambutnya sudah terurai, tanpa memakai sandal dan hanya memakai pakaian tidur.
"Selamat datang Nona." Ucap pria memakai topeng.
"Siapa kamu ! mau apa kau ?!!!!!." Teriak Agatha.
"Bicara pelan-pelan saja, berteriak disini pun percuma tidak akan ada yang mendengar." Kata pria bertopeng.
"Lepaskan aku ! jangan main-main ya ! kau tidak tahu siapa Kakakku ?!." Ucap Agatha.
"Hahaha, aku tahu, sungguh. Tapi aku tidak perduli, dia tidak akan mengetahui keberadaanmu." Pria bertopeng itu tertawa.
"Kau siapa sih ! lepas topengmu ! kau terlihat lebih buruk !." Agatha mengatai pria tersebut.
"Kau lupa ya dengan apa yang kau lakukan ?." Pria topeng itu mendekati Agatha yang masih terikat dibangku.
__ADS_1
"Hei pergi ! jangan berani mendekat !! sekali saja kau sentuh aku, nyawamu taruhannya." Lagi-lagi pria topeng tertawa, ia menutup mata Agatha dengan kain, lalu memegang rambutnya.
"Kau wanita yang cantik, pasti banyak pria yang tertarik padamu." Ia mengambil botol-botol minuman alkohol lalu dituang paksa ke dalam mulut Agatha, tanpa memberinya nafas sekalipun.
Glek..Glek
Agatha berusaha menendang tetapi tak kena, ia juga seringkali memuntahkan minuman alkohol itu sehingga pria bertopeng merasa kesal dan mengangkat dagu Agatha supaya wanita itu tak mampu membuang airnya.
PRAKKKK ! botol-botol tersebut dibanting, sementara Agatha merasa kembung karena banyak sekali minum.
"Enak bukan ?." Kata pria bertopeng.
"Kau penjahat." Ucap Agatha.
"Aku hanya perlu menunggu efek dari alkohol itu, dan kau tau apa yang akan terjadi setelahnya ?." Agatha menggelengkan kepala, ia berusaha sekuat mungkin agar tidak mabuk.
Tapi bagaimana bisa ? kemarin saja dia mabuk saat menenggak alkohol terlalu banyak.
bahkan ini melebihi kemarin.
"Greg tolong aku, kamu dimana ?." Batin Agatha.
...
"Agatha ! kau dimana ?." Greg mencari Agatha keluar.
"Anak ini kalau pergi tidak pernah bilang padaku." Greg terus mencari ke setiap tempat, menyusuri jalan, lalu kakinya menginjak batu tajam.
saat menunduk, ia melihat ikat rambut yang semalam dipakai oleh Agatha.
"Aku ingat ! ini punya Agatha, tapi kenapa bisa jatuh disini ?." Greg curiga kalau sebenarnya ada yang tidak beres.
Kemudian ia mengecek CCTV dan melihat Agatha diculik oleh pria bertopeng.
"Brengsek !." Greg segera pergi menaiki mobil untuk mencari keberadaan mereka.
"Aku harus tau dimana Agatha berada sekarang, dia selalu membuatku takut ! diluar itu bahaya, sulit sekali untuk mengerti." Arkan pergi mengecek sebuah lokasi yang saling tersambung dengan ponsel Adiknya.
"Jauh sekali ! sedang apa anak itu ?!." Arkan menancapkan gas sekencang mungkin lalu menyusul titik lokasi yang tersambung dalam ponselnya.
"Tapi kenapa ponsel itu berpindah-pindah ? apa dia sedang dijalan ? tapi jalanan itu bukan jalur kemari." Arkan semakin takut Adiknya pergi lebih jauh, dia mengencangkan mobilnya agar cepat sampai.
.
.
.
"CCTV disepanjang jalan menunjukkan bahwa mobilnya mengarah kesini, tapi dimana ?!." Greg sangat khawatir.
Pria bertopeng itu sedang tertawa melihat Agatha sudah mulai kehilangan kesadarannya, dia semakin mabuk.
"Saat mabuk pun kau sangat cantik." Pria bertopeng memainkan rambut Agatha, ia bahkan memegang bahu wanita itu, mengelusnya dengan sangat lembut.
"Dunia sangat gelap." Agatha bicara mabuk.
"Kau memakai kacamata hitam sayang, aku lepaskan ya." Agatha mengangguk, setelah kain itu dilepas, pria bertopeng semakin gila karena melihat wajah Agatha sepenuhnya dalam keadaan mabuk total.
"Kau mau menikah denganku ?." Tanya pria bertopeng.
"Menikah ? pacaran saja belum." Agatha meringis kesakitan karena tangan nya terikat.
"Bolehkah aku mencium mu ?." Agatha mengangguk, dan mengeluarkan suara manjanya.
"Semalam kau juga mencium keningku, sangat romantis." Pria bertopeng membuka topengnya dan mencium pipi Agatha sekali, lalu ia memakainya lagi.
"Hanya sekali ? aku ingin yang banyak, cium aku." Pria bertopeng memegang leher Agatha.
__ADS_1
"Cium aku Greg." Terlihat kalau Agatha semakin mabuk, sampai dia merengek minta dicium lebih banyak.
"Cium aku disini, disini, ini dan ini." Katanya.
"Aku akan mencium mu, tapi setelah kita berada dikamar, kau pasti inginkan dikamar bersamaku." Agatha mengangguk, pria topeng tersebut membuka ikatan ditangan Agatha dan menggendongnya ke dalam kamar.
Dikamar, Agatha dibaringkan diatas ranjang, tak lupa pria itu menarik tali pakaian Agatha secara perlahan-lahan.
"Sedang apa ?." Agatha memegangi bahu pria didepannya.
"Ingin membuka bajumu, mau kan ?." Agatha mengangguk, ia meraba semua tubuh pria topeng tersebut, dan kini meraba wajahnya.
"Ini apa ? kenapa wajahmu keras, aku tak bisa mencium mu." Agatha melepaskan topengnya, tanpa ada penolakan sedikitpun dari pria bertopeng.
"Greg, kau tahu tidak ? semalam aku terus memikirkan mu." Agatha mengoceh.
"Tahu, aku melihatnya." Agatha tersenyum, ia duduk dan menarik kerah pria bertopeng.
"Sepertinya aku jatuh cinta padamu Greg." Pria bertopeng sudah melepaskan tali pakaian Agatha, tinggal membukanya sedikit lagi hingga memperlihatkan tubuh cantik bak gitar spanyol itu.
Saat sudah hampir terbuka, pintu diluar pun didobrak paksa.
Pria bertopeng sangat terkejut, sehingga dia mengambil topengnya dari tangan Agatha dan pergi melompat ke jendela.
"Agatha ! kau dimana ?!." Suara Greg terdengar panik, ia melihat bahwa seisi rumah ini kosong, hanya ada beberapa sofa dan satu kamar dipojok.
Greg pergi menuju kamar, dan melihat pakaian Agatha yang hampir terbuka.
"Agatha ! kenapa begini ?!." Greg mencium bau alkohol yang melekat kuat, menyadari jendela terbuka ia melihat ada seseorang lari diujung sana.
"Aku akan bongkar topengmu !." Greg hendak pergi melompat juga, namun ditahan Agatha.
"Jangan pergi, kita belum selesai." Agatha melingkarkan kedua tangannya dileher Greg dan hendak mencium pria itu.
BRAKKKK !
"Bajingan !." Arkan mendorong Greg dan meninju wajahnya berkali-kali.
Bughhh ! bughh ! bughh !
"D-dengarkan dulu penjelasan ku, kau salah paham !." Kata Greg.
Bughh !!!! Bughhh !
Entah berapa banyak luka diwajah Greg saat ini. Arkan benar-benar meninjunya dengan sadis.
"Hei ! siapa kau ?! jangan sakiti priaku." Agatha berdiri dan menghalangi Kakaknya agar tidak memukul Greg lagi.
"Minggir !!!!." Arkan benar-benar marah.
"Sudah kubilang jangan sakiti dia ! kau tuli ya ?." Arkan terkejut, ia melihat wajah Agatha lalu menyadari wanita itu mabuk parah.
"Dasar bedebah ! kau sengaja memberinya banyak alkohol seperti ini supaya kau bisa menyentuh tubuh Adikku ?!!!!." Arkan menarik kerah Greg, lalu Agatha terhuyung-huyung hampir terjatuh.
Greg kewalahan dan pingsan disana.
Agatha menjatuhkan diri ke kasur, cepat-cepat digendong oleh Arkan agar keluar dari rumah busuk itu.
"Lihat saja, urusan kita belum selesai." Arkan memandangi Greg yang terbaring dilantai.
Didalam mobil, Agatha memegangi tangan Kakaknya dan bersandar disana.
"Greg kau bilang ingin menciumku, disini, disini, dan ini." Agatha menunjuk wajahnya, bibirnya serta lehernya memakai telunjuk.
Arkan muak ! ia sangat marah lalu menampar Agatha sangat keras !
PLAAAAKKKKKK !!!! Pipi yang bening mulus itu mendadak merah dan matang seperti kepiting rebus.
__ADS_1