Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
ketakutan Satria


__ADS_3

Adinda mengira jantungnya akan melompat, tetapi ketika dia sadar sentuhan hangat telah menopangnya, dirinya merasa sedikit lega.


"Ah ya ampun Mas, terimakasih." Kata Adinda membuang nafas sedikit kasar.


"Duduk dulu." Satria memerintahkan istrinya duduk, kemudian ia berjalan ke arah petugas dan langsung memarahi nya habis-habisan.


"Kamu ini yang benar dong kalau bertugas! matamu dimana?! apa tidak bisa melihat kalau air menggenang di sebelah sana?! kau sengaja ya ingin mencelakai pelanggan toko ini?!." Kata Satria membentak-bentak sang petugas.


"M-maafkan saya Tuan! maafkan saya!." Petugas itu menunduk sambil memohon agar di maafkan.


"Saya bisa minta atasan kamu untuk menghentikan pekerjaan ini, kamu mau?!." Satria memelototinya dengan kejam.


"Mas! sudah Mas, ini tidak sepenuhnya kesalahan dia kok, aku yang salah Mas." Ucap Adinda berusaha menenangkan suaminya.


"Apanya kamu yang salah?! jelas-jelas dia buta! dia tidak melihat air tumpah disini! hei! mana atasan kamu?! panggil dan temui saya sekarang!." Ucap Satria.


"Mas, ya ampun kenapa kamu bisa marah sekali seperti ini? dia tidak sengaja melakukan nya, ayolah Mas, orang itu sangat ketakutan denganmu." Adinda menarik Satria kedalam dekapan nya, namun Satria terus menolak dan ingin bertemu atasan petugas itu.


"Saya disini Tuan, apa ada yang bisa kami bantu?." Ucap pemilik toko.


"Kau ini kenapa bisa memperkerjakan orang seperti dia?! kau tahu?! istriku hampir terjatuh atas kesalahan nya!." Ucap Satria menunjuk ke petugas tersebut.


"Maafkan kami Tuan, maafkan atas ketidak nyamanan anda dan istri anda, kami akan membayar ganti rugi nya." Kata pemilik toko.


"Apa?! bayar kamu bilang? ha-ha! kamu pikir saya butuh uang kamu?! tidak sama sekali! saya butuh orang yang bertanggung jawab disini! jika itu terjadi pada orang lain juga bagaimana?! apa kalian bisa membayangkan betapa mereka sangat merasa dirugikan atas kejadian ini?!." Balas Satria.


"Mas, sudah Mas, ayo pulang saja, jangan berdebat seperti anak kecil." Adinda memegang kuat lengan suaminya dan terus memaksa pergi.


"Apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan karyawan saya Tuan?." Tanya pemilik toko.


"Pecat dia!." Ucap Satria, petugas itu tercengang, kemudian pemilik toko menunduk dengan tak percaya.


"Bos! tolong jangan pecat saya! saya sangat butuh pekerjaan ini Bos!." Mohon pria itu.


"Tuan, tolong jangan dengarkan perintah suami saya, lihat ini, saya baik-baik saja, dia hanya terlalu khawatir karena saya sedang hamil, jadi jangan merubah apapun, maafkan atas sikap suami saya yang sedikit kasar." Adinda mengatakan itu dengan tulus kepada pemilik toko, lalu menarik Satria pergi.

__ADS_1


"Mas, tolong jangan buat masalah, perutku sangat sakit." Keluh Adinda.


"Perutmu sakit?! itu semua karena pria itu kan?! iya kan!." Kata Satria.


"Mas cukup! kamu senang kalau aku pingsan disini karena terlalu pusing mendengar keributan kalian?." Jawab Adinda, suaranya sudah terdengar kelelahan, sehingga Satria berusaha mengendalikan dirinya sendiri untuk berhenti marah kepada petugas yang dia anggap bodoh itu.


"Tunggu disini! biar aku yang membayar boneka Selina!." Adinda bergegas membayar boneka tersebut lalu mengajak kedua anaknya masuk kedalam mobil.


Satria sepanjang perjalanan hanya diam tanpa mengatakan hal apapun, dia juga menyetir dengan cepat sehingga kami sudah tiba di rumah.


"Anak-anak, kalian masuk ya, langsung pergi ke kamar." Pinta Adinda.


"Baik Bunda." Sahut keduanya bersamaan.


"Mas, kamu kenapa sih? aku belum pernah lihat kamu seperti ini sebelumnya." Kata Adinda.


"..."


"Mas, kamu dengarkan? kalau kamu ada masalah, kita bicarakan bersama, kau tidak perlu menanggung semuanya sendiri, aku istrimu, aku berhak tahu apa yang terjadi denganmu sekarang." Ucap Adinda lagi, namun nampak nya Satria tetap diam.


"Jangan pergi." Suara rendah tersebut terdengar sangat jelas ditelinga Adinda, ia sedikit terkejut karena melihat ada ketakutan besar di wajah suaminya, ia benar-benar tidak pernah melihat sisi seperti ini dari Satria.


"Kita ke kamar sekarang." Adinda memegang lengan kekar sang suami dan pergi menuju kamar, di kamar mereka langsung duduk bersebelahan.


"Jadi? apa kamu sudah ingin bicara tentang apa yang terjadi?." Tanya Adinda lembut.


"A-aku..." Satria berkata gugup.


"Bicaralah, jika itu masalah kecil kita bisa melupakan nya, tapi jika itu masalah besar, aku akan membantumu untuk menyelesaikan semua itu." Sahut Adinda.


"Aku tidak tahu, kenapa diriku bertindak demikian, a-aku, aku hanya takut kehilanganmu dan bayi kita." Ucap Satria lemah.


"Mas, apa yang kamu pikirkan? kenapa tiba-tiba kamu jadi begini?." Kata Adinda.


"Entah, tapi aku benar-benar tak bisa kehilangan kamu dan bayi kita." Jawaban itu terdengar tenang namun letih.

__ADS_1


"Apa kau bermimpi buruk beberapa hari ini sehingga bisa berpikir akan kehilanganku?." Tanya Adinda, dengan cepat Satria menggeleng.


"Baiklah, aku mengerti keadaanmu sekarang, kau pasti lelah, jadi jangan pikirkan itu lagi, oke?." Ucap Adinda, tiba-tiba Satria menempelkan kepalanya didepan dada sang istri, hal itu lagi-lagi membuat Adinda sedikit terkejut.


"Apa kamu benar-benar ketakutan Mas? tapi kenapa?." Gumam Adinda didalam hati.


"Jangan tinggalkan aku." Satria berkata dengan sangat rendah sehingga sangat kecil kemungkinan untuk Adinda bisa mendengarnya, tetapi dia tetap mendengarnya!


"Sayang, aku benar-benar tidak paham dengan semua ini, tapi kenapa kau menanyakan hal yang sudah jelas? aku pasti tidak akan meninggalkanmu, jangan sedih." Adinda membelai kepala itu dengan lembut, lalu mendekapnya.


"Aku ingin kamu sedikit lebih tenang, buang semua pikiran buruk mu, kau disisi ku sekarang, tidak akan ada yang bisa menggeser posisi itu." Kata Adinda lagi.


...


Sudah lama Adinda mengelus kepala suaminya, namun sepertinya Satria tertidur dengan cepat.


"Tidurlah yang lelap, aku janji akan menemanimu sampai kamu terbangun nanti." Adinda berusaha membaringkan suaminya ke tempat tidur, namun ia menerima penolakan dari sikap Satria yang tiba-tiba mengeratkan pelukan nya.


"Oh ya ampun, rupanya suamiku tidak ingin pindah tempat, baiklah, aku memelukmu." Adinda memejamkan mata dan tersenyum hangat, ia terus membelai kepala itu lagi dan lagi tanpa bosan.


Sudah beberapa jam Adinda duduk sambil memeluk suaminya yang tidur, rasanya sangat pegal, tetapi dia senang karena melakukan ini untuk orang yang paling dia sayang dalam hidupnya.


"Jauhi dia, jauhi pria itu, aku tidak mau kamu mendekatinya." Satria berbicara dengan mata terpejam.


"Ah, kau mengigau ya Mas?." Gumam Adinda terkejut.


"Jauhi dia sayang, jauhi." Satria terus berkata demikian, Adinda berpikir apakah suaminya seburuk ini sampai membawa kejadian di toko boneka tadi siang masuk ke dalam mimpinya.


"Siapa yang harus aku jauhi Mas?." Adinda membisikkan suara lembutnya ke telinga Satria, awalnya dia hanya main-main tetapi Satria menjawab.


"Dia! dia yang harus kamu jauhi, Bryan." Sebutnya.


"A-apa?! Bryan? mengapa Mas Satria mimpi seperti itu?." Adinda melihat wajah Satria yang lelah dan menyadari bahwa setetes air mata mengalir dipipinya.


"Kamu menangis Mas?." Adinda semakin gelisah.

__ADS_1


__ADS_2