
"apa?! tutup mulut mu! apa untung nya kau berkata begitu!!." ucap Satria
"tuan? lihat akuu!!! kau belum buta kan?! lihat aku! aku wanita yang jauh lebih sempurna dari pada Adinda, bahkan sejauh ini tuan bersikap baik pada ku karena tuan mulai mencintai ku kan?!! jawab tuan!." ucap Wina
"bicara apa sih kau ini? aku bahkan tidak berkata kalau aku mencintai mu! aku baik pada mu karena kau bawahan ku, atau jangan jangan kau terlalu baper menghadapi sikap ku?." ucap Satria
"kau tidak bisa begini tuan!! aku sudah jatuh cinta pada mu!." teriak Wina seraya memukul mukul kencang bahu Satria
"hei lepas! jangan bersikap kurang ajar pada atasan mu atau kau akan aku pecat!." kata Satria membuat Wina mendadak diam tanpa berkutik apapun lagi
kreeek..
"harus nya kau sadar, diri mu begitu menyedihkan! merusak rumah tangga bos mu sendiri dan berusaha merebut hati nya dari ku, tidak malu?." kata Adinda yang datang tiba tiba mengenakan kursi roda dibantu oleh teman nya
"kurang ajar! kau berani sekali memalukan ku!!." Wina mendekati Adinda seperti ingin mencabik cabik wajah nya
"jangan sentuh istriku! silahkan pergi sebelum aku benar benar muak dengan mu." pinta Satria
"awas kamu!." gumam Wina seraya pergi meninggalkan rumah sakit itu
seminggu kemudian, kini Adinda sudah berada di rumah sejak beberapa hari yg lalu
"apa kau sudah baikan?." tanya Satria
"sudah." jawab Adinda
"istirahat lah yang cukup agar kau segera pulih." kata Satria mengelus kepala istri nya
"tentu saja, aku akan segera pulih, dan itu secepat nya." ucap Adinda
"ya sudah, aku pergi dulu ke kantor, jaga diri mu ya sayang." ucap Satria
"hati hati ya dijalan, jangan lupakan makan siang mu." kata Adinda mengingat kan
"iloveyou😘." Satria mengecup kening Adinda lalu pergi
....
tringgg...tringg
__ADS_1
"halo Sya? ada apa?." tanya Adinda
"aduh, Dindaaaa!!!! bisa tolongin aku gak ya?." tanya teman nya
"lho? kamu kenapa? tolongin apa?." kata Adinda
"ini lho, jadi tadi tuh sebenarnya aku ada meeting di kantor, tapi yg jemput aku lama banget sampe sekarang belum dateng, kamu mau ya tolongin aku, anterin aku ke kantor sebentar ajaa." ucap teman Adinda memohon
"hmm gimana ya, bisa sih tapi.."
"please Din, aku gatau harus minta tolong sama siapa sepagi ini, cuma kamu yang bisa angkat telfon aku." kata Sasya
"yaudah deh, kirim lokasi kamu ya, aku kesana sekarang." Adinda mematikan ponsel nya lalu bergegas memakai pakaian dan mengambil kunci mobil di laci kamar nya
di luar,,
"nona? mau kemana?." tanya Desi
"mau keluar sebentar, temen aku ada yg butuh bantuan." ucap Adinda
"tapikan nona belum sembuh betul." kata Desi, ia hanya bisa melihat punggung Adinda yg semakin menjauh
15menit kemudian,
"astaga Din, lama banget ih, aku telat." kata Sasya
"habisnya gimana ga lama sampe disini, kamu liat deh dari rumah aku ke sini tuh jauh tau, kalau suami aku tau dia bisa marah." kata Adinda
"ya udah ga penting suami mu itu, sekarang ayo kita ke kantor aku sekarang, aku ga mau dipecat, tanggungan ku masih banyak hmmm." ucap Sasya
"ya udah ayo masuk." Adinda pun menyuruh teman nya memasuki mobil dan menuju kantor tempat dimana Sasya bekerja
.....
"dah sampai." kata Adinda
"oke deh, doain semoga aku ga telat ya Din." kata Sasya
"amin, aku doain ko tenang aja." sahut Adinda
__ADS_1
"thanks ya, muach." Sasya mencium pipi Adinda sebagai tanda terimakasih kepada sahabat nya itu
"hati hati." kata Adinda, sebelum ia melajukan mobil nya untuk kembali ke rumah, ia sempat merasakan haus dan coba memarkirkan mobil lalu keluar untuk membeli sebuah minuman
"kalau kantor nya segede ini, aku yakin pasti ada kantin sih, bukti nya di kantor suami ku aja ada." ucap Adinda
perlahan lahan Adinda menyusuri jalan samping kantor untuk mencari dimana letak kantin tersebut, hingga tiba tiba saat matahari menyorot ke arah nya kepala Adinda terasa begitu pusing, ia berharap agar pusing nya itu segera hilang, namun kenyataan nya tidak.
saat Adinda hampir saja kehilangan keseimbangan nya, seorang laki laki berlari menangkap tubuh Adinda
"nona?! anda tidak papa nona?." tanya laki laki tersebut khawatir kemudian mata Adinda tak sanggup lagi terbuka, hal itu menyebabkan Adinda pingsan
"nona?!!!." teriak laki laki itu, ia segera membawa Adinda ke dalam kantor dan ia baringkan wanita cantik itu di ranjang ruangan nya, setelah itu ia mendekat kan minyak angin agar Adinda dapat tersadar ketika mencium aroma nya
"hmm." kata Adinda
"nona? anda baik baik saja?." tanya laki laki itu ditemani oleh salah satu asisten nya
"ka-kamu siapa?." tanya Adinda
"oh maaf, perkenalkan saya Bryan pemilik perusahaan ini, saya tidak bermaksud membuat anda takut tapi seperti nya anda sedang lemah." kata Bryan
"hanya sedikit, kebetulan aku memang baru membaik dari sakit ku." kata Adinda
"nona maaf, tapi luka ini? kenapa masih terlihat baru?." tanya Bryan
"oh tidak, ini hanya luka kecil, sempat sobek seminggu yg lalu karena kebodohan ku sendiri, terimakasih sudah menolong ku tapi aku harus pergi." ucap Adinda yg ingin beranjak dan melangkah dari ranjang tersebut namun kaki nya tersandung oleh kaki asisten Bryan
"aawh."
Adinda terjatuh namun secara mendadak Bryan menolong nya sehingga mereka berdua jatuh bersama dengan posisi berhadap hadapan.
sesaat Bryan tersenyum, hal itu membuat Adinda kembali ke kesadaran nya dan segera bangkit dari pelukan Bryan
"maaf, maafkan aku." kata Adinda menunduk
"tidak masalah, saya antar kamu pulang ya?." ucap Bryan
__ADS_1