
saat mereka sedang asik bercanda, ponsel Satria tiba-tiba saja berdering. ketika Satria melihat layar ponsel itu, terlihat jelas nama seseorang yang ia kenali di sana.
"bagaimana? apa kamu menemukan sesuatu?." tanya Satria
"wajah wanita itu tidak tergambar sama sekali dalam CCTV tuan, tetapi saya melihat bahwa dia memiliki tato di lengan kanan nya, dan tato tersebut bergambar mawar hitam." ucap seseorang dibalik telepon
"baik, cari terus wanita yang memiliki tato mawar hitam itu, dan bawa dia kehadapan ku." kata Satria sebelum ia mematikan ponselnya
"siapa mas?." tanya Adinda
"biasa, oh ya sayang, kamu tadi belum sempat membeli tas, kemana kamu saat aku mengobrol? ceritakan semuanya." kata Satria, lalu Adinda menceritakan kejadian yang dia alami
"aku rasa wanita itu sudah gila, tapi siapa dia sampai berkata bahwa dia menginginkan aku merasakan pasangan hidupku mati, dan dia juga menyebut mertua, siapa yang dia maksud? tidak mungkin kalau mama menyuruh seseorang untuk membunuh, atau semua itu permintaan papa? dan kematian papa?! ya! aku baru saja menyadari bahwa ada kejanggalan atas kepergian papa! tidak mungkin papa terkena serangan jantung! aku akan cari tahu siapa yang sudah berani menggali lubang kuburnya sendiri!!." kata Satria mengepalkan tangan nya dengan sangat emosi, matanya menggelap, Adinda melihat suaminya dikuasai oleh amarah yang seolah akan meledak
"sayang..." panggil Adinda mendekati suaminya dan mengelus dada itu dengan kasih, sesaat emosi Satria pun mereda
"mas yakin ada yang tidak beres dengan semua ini." kata Satria melirik istrinya
"jangan terburu-buru mas, kita masih memiliki banyak waktu untuk mengusut tuntas semua hal ini, aku tidak mau mas celaka jika melakukan sesuatu yang tidak dipikirkan dari awal secara matang-matang." kata Adinda membuat suaminya kembali berpikir jernih dan mulai menyusun strategi untuk membongkar kebusukan seseorang yang mencoba bermain api dengan keluarganya
"terimakasih ya sayang, kamu selalu mengingatkan mas." kata Satria mencium kening istrinya
"sudah kewajiban ku sebagai istri untuk selalu mengingatkan mu dalam hal-hal yang akan kau lakukan." jawab Adinda memeluk suaminya dengan hangat
Malam hari, hujan datang sangat deras dan tiba-tiba saja tubuh Adinda mengalami demam, mungkin akibat perlakuan wanita bertato mawar hitam itu tadi siang.
"Adinda? badan mu panas sekali." kata Satria, cepat-cepat ia mengambil handuk kecil untuk mengompres kening Adinda
"mas akan mencarikan obat untukmu." Satria mencari kotak obat namun tak mendapati obat yang dibutuhkan Adinda, kemudian ia menghubungi dokter kepercayaan nya namun tak kunjung dijawab.
"bagaimana bisa dia tak mengangkat teleponku?!." ucap Satria, ia khawatir keadaan 7 istrinya kian memburuk.
Satria segera meminta supir untuk membeli obat diluar, lalu setelah supir kembali ia segera meminta Adinda untuk menelan obat tersebut.
"lebih baik kamu beristirahat saja ya Din, supaya besok badan mu terasa jauh lebih baik, mas janji akan temukan wanita itu." kata Satria mencium kening istrinya dan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Adinda
Besok nya, Satria pergi menuju kantor untuk meng-interview seseorang, sebelumnya ia sudah meminta izin untuk pergi meninggalkan Adinda sebentar.
di kantor Satria langsung saja memasuki ruang interview dan menemukan seorang wanita dengan rambut panjang berwarna pirang dan sedikit ikal dibawah nya.
"halo tuan Satria." ucap wanita tersebut
"baik, langsung saja kita mulai." Satria segera menanyakan segala hal yang semestinya ditanyakan, lalu wanita itu menjawab semua pertanyaan Satria dengan lihai.
"berapa lama pengalaman kamu menjadi sekretaris?." tanya Satria memperhatikan wanita dihadapan nya
__ADS_1
"pengalaman saya menjadi sekretaris sudah 5tahun tuan." balasnya
"wah lama juga ya, kalau begitu karena kamu cukup pandai menjawab pertanyaan saya dan memiliki pengalaman yang cukup, saya menerima kamu sebagai sekretaris di kantor ini, selamat ya." ucap Satria, lalu keduanya saling berjabat tangan, dan Satria bergegas pergi meninggalkan perusahaan
"bagus, rencana awal ku untuk masuk ke dalam perusahaan ini sudah berhasil." gumam wanita itu dengan senyum menyeringai, namun ia harus berhati-hati karena jika tidak, Satria bisa saja mengetahui rencana busuknya.
di rumah, Satria melihat istrinya sedang duduk ditepi ranjang, ia mendekatinya perlahan dan memegang bahu itu lembut.
"sudah mendingan kah badanmu sekarang?." tanya Satria mengejutkan
"eh mas, sudah, bagaimana urusan mu? lancar?." ucap Adinda
"sangat lancar sayang, orang itu sangat pandai menjawab semua pertanyaan ku, bahkan dia berpengalaman lama diberbagai perusahaan." kata Satria
"semoga dia bisa membantu pekerjaan mu dengan sangat baik ya mas." kata Adinda memegang tangan suaminya, ketika keduanya saling beradu tatap, Arkan tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan menghampiri mereka
"bunda." ucap Arkan mengejutkan Adinda dan Satria.
"hei nak, kamu disini sayang..." ucap Adinda mengangkat Arkan ke dalam pangkuan nya
"ayah, ku abis mam." ujar Arkan pada ayah nya
"wah anak ayah habis makan ya, bagaimana? kenyang tidak?." tanya Satria mengelus pipi Arkan
"ya, bunda dah mam? bunda sakit ya?." tanya Arkan memegang tangan Adinda dan menatap matanya
"Arkan, jika Arkan sudah besar nanti, kamu harus menjadi kebanggaan bunda dan ayah." ucap Satria
"ya, ku janji." balas Arkan
"nanti Arkan tidur disini ya nak sama bunda dan ayah." pinta Adinda pada putra nya
"ku akan bobo disini." ucap Arkan senang
"mas, tidak masalah kan kalau aku ingin anak kita tidur disini nanti malam?." ucap Adinda menatap suaminya
"tentu saja sayang, lagi pula sudah lama Arkan belum tidur disini semenjak terakhir kali, untung saja kita sudah melakukan nya kemarin, kalau belum mungkin aku tidak akan mengizinkan Arkan tidur bersama kita malam ini, karena aku takut Arkan akan melihat kita saat aku meminta hak ku padamu nanti, aku sangat merindukan kehebatan mu dalam melayani suami tampan yang penuh nafsu ini sayang." ucap Satria menggoda istrinya
"mas! jangan bicarakan hal itu didepan Arkan! aku tidak mau ya Arkan mengerti hal-hal seperti itu saat belum waktunya." kata Adinda memarahi suaminya
"hahaha, maafkan aku, Arkan jangan dengarkan ucapan ayah yang bodoh ini ya." kata Satria mencium Arkan
"ayah..." sebut Arkan
"nak, jangan dengarkan ayahmu, mari kita pergi dari sini." kata Adinda ingin membawa Arkan keluar, namun Satria lebih dulu meneriaki Desi untuk membawa Arkan pergi dari kamarnya.
__ADS_1
"hei, kau tidak boleh kemana-mana." kata Satria menghalangi Adinda yang ingin keluar ruangan, lalu Satria mengunci pintu kamarnya dan meletakkan kunci itu di dalam laci
"mas?! kenapa dikunci?!." tanya Adinda terkejut
"kau pasti tahu jawaban nya." balas Satria mendekati Adinda, namun Adinda memundurkan diri kebelakang sampai ia hampir menabrak ranjang dan akhirnya jatuh ke ranjang itu.
saat Satria ingin membuka kancing pakaian yang sedang dikenakan istrinya secara satu persatu tiba-tiba Adinda menahan tangan suaminya.
"apa kau kurang puas dengan yang kemarin kita lakukan?." tanya Adinda
"aku hanya ingin memberi tanda kepemilikan ku di sana." jawab Satria, matanya tertuju tepat dimana belahan dada itu terlihat sehingga membuat Satria lebih semangat untuk kembali membukanya.
ia mulai menelusuri setiap bagian ditubuh istrinya, sesekali ia menyesap hingga tanda merah itu tergambar indah di sana, setelah puas membuat tanda kepemilikan, Satria beralih menuju kedua tonjolan kecil berwarna merah muda itu dengan penuh gairah. ia segera menjilat dan menghisap tonjolan kecil tersebut sehingga membuat Adinda melenguh dengan suara lembutnya dan merasakan nikmat yang sungguh luar biasa.
"aaaah."
"jelas aku sangat merindukan suara merdu mu sayang." gumam Satria dalam hati.
ia terus melakukan aksinya tanpa henti, namun kali ini dirinya memilih untuk tidak menerobos masuk ke dalam rumah terhangat milik istrinya. dia hanya ingin menciptakan hiasan tubuh itu dan mendengar lenguhan lembut istrinya.
ketika sedang asik membuat istrinya mabuk dibawah kendali nya, tiba-tiba pintu terketuk.
tok..tok..
Adinda merasa dirinya sedang melayang keatas sebelum akhirnya jatuh karena suara ketukan yang mengejutkan.
"mas!." kata Adinda, lalu ia memundurkan diri lagi dan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh telanjang nya.
"sial! siapa yang berani mengganggu kesenangan ku." ucap Satria dalam hati
Satria membuka kunci pintu dengan kancing pakaian yang setengah terbuka, lalu ketika pintu tersebut dibuka ia melihat sosok Selin berdiri dihadapan nya.
Selin terkejut, ia melongok ke dalam kamar dan melihat Adinda hanya dibalut selimut dengan wajah malunya.
"oh ya ampun, maafkan aku mengganggu kalian." ucap Selin dengan rasa bersalah
"cepat katakan apa yang kau inginkan?." kata Satria
"aku cuma ingin memberitahu bahwa Arkan sedang bermain bersama putriku di dalam kamarnya dengan tenang." kata Selin, ia tahu pasti Satria akan marah dengan kata-katanya barusan
"hanya itu?!." ucap Satria membelalakkan matanya
"ya, hanya itu, m-maaf ya aku permisi." pamit Selin gugup
"dasar kau!, aku hampir saja berhasil menguasai tubuh harum istriku, aku akan membuatnya mabuk untuk beberapa jam ke depan, tapi kau menggagalkan nya!." gumam Satria kesal, lalu ia kembali masuk dan membanting pintu itu seraya dikunci nya kembali
__ADS_1
"mas?! kamu kenapa?." tanya Adinda panik dengan perubahan sikap suaminya yang secara tiba-tiba