
"Jonatan tolong bersabar, dokter akan segera menangani mu." ucap Adinda, setelah Jonatan dibawa ke dalam ruang UGD oleh dokter, Adinda langsung memeluk suaminya
"sayang, kenapa kau menangis?." tanya Satria khawatir
"aku takut, aku takut kalau pisau itu akan menancap di tubuhmu, aku bersyukur karena kamu sekarang baik-baik saja." gumam Adinda, sudut matanya basah
"aku senang kau sangat perduli padaku, tapi sudah ya jangan menangis, aku baik-baik saja." balas Satria
berjam-jam Adinda menunggu dokter untuk memberitahu perkembangan Jonatan, sampai-sampai ia tertidur di bahu suaminya.
sementara disisi lain, tengah malam Selin pergi dari rumah Anggara tanpa memperdulikan putri nya yang manis.
ia mengendarai mobil menuju bar, setau keluarganya dia sama sekali bukan tipe wanita yang peminum, tapi entah kenapa saat ini dia melakukan nya.
dia membayar seorang bartender dengan uang nya yang sangat banyak, wanita cantik itu menuang anggur dari botol, sekali dua kali, bahkan sampai seterusnya.
ketika dia merasa dirinya sudah mabuk berat, ia melihat Jonatan berdiri dihadapan nya.
"Jonatan.." gumam Selin, ia memegang tangan laki-laki itu dengan lembut lalu memeluknya kencang
"maafkan aku, maafkan aku Jonatan! aku sangat menyesal telah melukaimu! seharusnya pisau itu mengenai si jalang Adinda! tetapi kenapa kamu malah menyelamatkan nya." ucap Selin, pria itu hanya diam sambil mendengarkan
"aku tahu, kenapa kau sangat tertarik pada Adinda, karena mungkin dia bisa memuaskan dirimu saat itu, dan aku? aku hanya terus menolak dan menolak keinginan mu, sekarang aku akan menerima semua perbuatan mu, apapun yang akan kau lakukan, aku pasti menerimanya." ucap Selin, ketika pria dihadapan nya mendengar perkataan Selin, ia langsung mencium bibir manis itu dan memagut nya dengan penuh nafsu.
pria itu juga menggendong Selin memasuki kamar yang tersedia di dalam bar tersebut, kemudian ia melemparkan tubuh Selin ke atas ranjang.
"Adinda.." sebut pria itu, suaranya terdengar berat, tetapi ia tetap melangsungkan perbuatan nya untuk membuka pakaian Selin dengan kasar dan membuang nya ke segala arah.
tubuh Selin memang harum, namun sepertinya ada yang beda dari harum biasanya.
Selin segera menarik pria itu untuk melahap nya, kemudian dengan cepat pria tersebut menciumi bibir Selin dan mulai turun ke leher.
ia menyesapnya sampai berbekas, lalu perlahan-lahan menyatukan milik mereka.
Selin awalnya terlihat biasa saja, sampai akhirnya mendesah kenikmatan, walaupun sakit ia tak perduli, selagi Jonatan bahagia maka ia akan merelakan rasa sakitnya.
Besok pagi, pria itu bangun dan melihat mereka saling berpelukan dengan mesra di atas kasur yang empuk, belum lagi di tambah tubuh mereka yang tak memakai sehelai benangpun.
"..." pria itu tak bisa berkata-kata, ia hanya menatap Selin yang masih tidur telanjang bulat dengan jijik dan memukul dirinya sendiri karena bodoh sudah melakukan nya.
__ADS_1
"tidak! aku tidak mungkin melakukan nya dengan wanita ini!!!." ia bergumam dan mengingat-ingat wajah Selin, sepertinya mereka pernah bertemu dulu ketika ia mengantar Adinda pulang, ya pria itu adalah Bryan, semalam dirinya mabuk karena terus mengingat Adinda, sampai-sampai mereka bertemu disaat yang bersamaan ditempat neraka seperti ini.
"aku harus pergi." Bryan memakai bajunya dan bergegas pergi meninggalkan Selin tanpa mengatakan apapun
ketika Selin terbangun, ia melihat kalau Jonatan sudah tidak ada di samping nya, seketika ia bersedih namun kembali bahagia.
"tidak masalah kalaupun kau pergi tanpa memberitahuku, aku senang kau melakukan nya semalam." gumam Selin tersenyum seraya melihat tubuhnya yang penuh dengan bekas kemerahan
di apartemen, rupanya Satria sudah membawa Adinda pulang semalam, dia tidak mau istrinya kelelahan menunggu, ia khawatir bayinya akan kenapa-napa.
"aku tidak akan membiarkan mu terluka." gumam Satria lembut kemudian mengecup kening istrinya, Adinda sama sekali tidak terganggu oleh cahaya matahari yang masuk dari celah-celah jendela kamarnya, mungkin dia sangat lelah, Satria memaklumi hal itu.
Satria memasakkan makanan yang dia bisa untuk istrinya lalu dia menyeduh segelas teh untuk diminum.
sejam berlalu, Adinda bangun dan mencari keberadaan suaminya, kepalanya pusing serta terasa sangat berat.
"mas.." sebut Adinda, walaupun suara itu terdengar kecil, Satria tetap bisa mendengarnya
"sayang, kau sudah bangun?." tanya Satria memegang bahu istrinya, lalu Adinda bersandar di sana dengan tenang
"kepalaku pusing mas, berat sekali." kata Adinda, mendengar hal itu Satria menggendong istrinya dengan mantap dan bergegas ke ruang makan.
"kamu harus makan, aku sudah masak untuk mu." ucap Satria, Adinda menatap nya dengan tertunduk
"tidak masalah sayang, aku akan melakukan semuanya untukmu, aku tidak mau kau terlalu lelah, itu akan bahaya dengan bayi kita." ucap Satria
"terimakasih, kau selalu menjadi suami yang paling baik untuk ku." ucap Adinda tersenyum kemudian mencium pipi suaminya
"habiskan makanan nya ya, atau kamu mau aku menyuapi mu lagi?." Satria bertanya tetapi Adinda menolak
"bagaimana dengan keadaan Jonatan ya? apakah semalam dokter sudah datang menemui mu?." ucap Adinda, ia merasa sangat berhutang karena bagaimanapun Jonatan sudah menyelamatkan suaminya yang paling dia cintai
"dokter belum mengatakan apapun padaku, jangan khawatir, aku pasti akan mencari tahu nya nanti, yang terpenting sekarang adalah dirimu." ucap Satria
"setelah aku makan, bisakah kita menjemput Arkan?." tanya Adinda menatap suaminya
"sayang, aku bukan nya mau melarang mu untuk terus bersama Arkan, tapi aku mohon kali ini saja, biarkan Arkan bersama Desi di sana, kau jangan mengkhawatirkan Selin, dia pasti sudah pergi dari rumah itu karena aku juga telah mengusirnya." ucap Satria, wajah Adinda sedih namun dia mengerti maksud suaminya, pasti Satria tidak ingin dia kelelahan jika menjaga Arkan setiap hari
"baiklah, aku akan setuju kalau Arkan tinggal di sana, tapi kau harus pastikan bahwa Selin tidak akan menyakiti putraku lagi." pinta Adinda, segera saja Satria mengangguk
__ADS_1
setelah mereka makan, ponsel Satria langsung berbunyi, sepertinya itu adalah dokter yang menangani Jonatan, karena semalam Satria meminta dia agar menghubunginya.
"selamat siang tuan." ucap dokter
"siang, bagaimana keadaan Jonatan? apakah kondisinya membaik? atau justru memburuk?." tanya Satria
"tuan Jonatan sempat mengalami kritis karena beliau banyak sekali kekurangan darah, namun untungnya stok darah yg dibutuhkan tuan Jonatan masih tersedia pada rumah sakit kami, jadi ia bisa tertolong, saat ini kondisinya sudah sedikit jauh lebih baik, namun harus tetap tinggal disini untuk beberapa hari ke depan." kata dokter
"lakukan apa saja yang terbaik untuk dia." pinta Satria kemudian menutup telepon
"bagaimana mas? apa yang dikatakan dokter?." Adinda bertanya-tanya
"dokter bilang kondisi Jonatan sudah jauh lebih baik." mendengar hal itu Adinda sedikit merasa lega, ia tak bisa bayangkan jika itu semua terjadi pada suaminya
"baguslah, oh ya, bagaimana dengan Selin? apakah dia benar-benar tidak perduli pada suaminya? aku sungguh tak menduga dia akan melakukan hal ini." kata Adinda, ia merasa jijik dengan sikap Selin belakangan ini
"entah lah, mungkin aku akan meminta nya datang menemani Jonatan di rumah sakit." ucap Satria mengeluarkan ponsel kemudian mengirim sebuah pesan ke Selin
ting.
ponsel Selin berbunyi, ia segera membuka nya lalu membaca pesan itu.
"cepat temani suamimu di rumah sakit, dia hampir mati karena kemarin kau menusuknya!."
Selin tercengang, ia diminta untuk menemani Jonatan di rumah sakit. bagaimana bisa? semalam dia jelas melihat Jonatan baik-baik saja, tidak terluka sedikitpun, bahkan mereka saling bertemu ditempat itu.
"apakah..." Selin berpikir sejenak kemudian memukul wajahnya sendiri
"tidak mungkin kan kalau semalam aku bersama orang lain!." ucap Selin, ia mulai pusing memikirkan hal itu dan segera pergi menemui Jonatan di rumah sakit
selain itu, Bryan saat ini sedang mengamuk frustasi dikediaman nya.
"brengsek!."
"bagaimana bisa aku melakukan itu kepada orang lain?! harusnya Adinda yang ada diposisi itu semalam!." nada tinggi itu terdengar sampai ke telinga Tari
"bisa kah kau diam?! berisik!." ucap Tari
"kau yang diam! tidak usah melarang ku untuk berteriak, ini semua salahku!!! salahku!!!." ucap Bryan lagi, ia membanting semua barang-barang yang ada di dekat nya terkecuali foto Adinda yang terpajang jelas di atas meja itu.
__ADS_1
"kenapa kau membodohi ku semalam? kau membuatku sangat marah dengan diriku sendiri." ucap Bryan mengusap foto bingkai tersebut
"kalau aku tahu itu bukan dirimu, maka aku bersumpah untuk tidak pernah melakukan nya!." ucap Bryan lagi, Tari sangat bingung dengan perkataan Bryan, ia berpikir kalau pria dihadapan nya pasti habis membuat kesalahan sampai-sampai ia marah sekali dengan dirinya sendiri.