
Keesokan harinya, pagi-pagi hujan turun sangat deras, ketika Adinda terbangun, ia menyadari kalau Satria tidak ada lagi disebelahnya.
"Mas?." Panggil Adinda.
"Mas.. kamu dimana?." Adinda melihat ke arah jendela kemudian mendapati keberadaan Satria yang sedang berada diluar.
cepat-cepat Adinda pergi membawa payung ditangan nya.
"Mas! kamu ngapain sih??." Kata Adinda.
"Hei, ibu hamil tidak boleh keluar disaat hujan deras begini." Satria melihat ke arah istrinya.
"Kamu basah kuyup Mas, ayo cepat masuk, nanti kau sakit." Adinda memegang tangan Satria dan memakai payung itu berdua.
"Sayang, lepas saja tanganku, nanti kamu jadi ikutan basah, mau?." Balas Satria.
"Sudah diam, aku mau kamu mandi sekarang juga, ngapain sih pagi-pagi berdiri ditengah hujan? kamu lihat apa?!." Wanita cantik itu memarahi suaminya tanpa henti, sesaat Satria tersenyum karena mendapat perhatian dari sang istri tapi seketika senyuman itu berubah menjadi bingung.
"Aku jelas melihat seseorang memperhatikan jendela kamar kita dari sebelah sana, tapi kenapa hilang?." gumam Satria dalam hati.
Di dalam kamar Adinda membantu Satria membuka bajunya dan menyiapkan air hangat.
"Ingat ya mas, pakai shampo, agar kepalamu tidak pusing, aku tuh bingung deh sama kamu, ko bisa berdiri di sana, menikmati hujan?! kau kan gampang sakit kalau kena air hujan." Satria mencubit hidung Adinda karena merasa pagi ini istrinya begitu rewel.
"Kau ini kenapa sayang? tumben sih rewel begini?." Kata Satria, kemudian Adinda mendekatkan tubuh mungil tersebut ke hadapan sang suami untuk memeluknya.
"Aku ikut mandi boleh Mas?." Suara bisikan lembut Adinda meninggalkan sebuah senyuman cerah di wajah suaminya.
"Boleh sayang, ayo." Satria mengangkat Adinda dengan semangat menuju kamar mandi.
setengah jam berlalu, Adinda keluar dari kamar mandi memakai handuk ditubuhnya, kemudian Satria menyusul dan segera memeluk Adinda dari belakang.
__ADS_1
"Cepat lahir ya bayinya, Mas kangen." Mendengar ucapan seperti itu Adinda tertawa geli lalu menjewer telinga Satria.
"Nakal kamu ya Mas, sudah sana kamu pakai baju, aku juga mau pakai baju dulu, setelah itu aku siapin teh hangat." Satria mengangguk setuju.
..
"Des, diperhatikan sepertinya dari kemarin kamu melamun terus, ada masalah apa?." Tanya Adinda.
"Ah maafkan saya Nona, saya tidak ada masalah apa-apa kok." Desi menjawab dengan canggung.
"Desi, jujur saja padaku, kalau kau ada masalah mungkin aku bisa membantunya." Adinda menduduki sofa persis disebelah Desi.
"S-sebenarnya saya..." Adinda menyadari kegugupan Desi.
"Hayo ada apa? ceritakan padaku." Kata Adinda.
"Adik saya mengalami kecelakaan, kata dokter kakinya patah sehingga dia tak mampu berjalan normal lagi." Ucap Desi, air matanya jatuh begitu saja dihadapan Adinda.
"Adikmu? ya ampun kenapa bisa kecelakaan? lalu apa sudah di operasi?." Kata Adinda.
"Sabar ya Des, aku yakin adikmu itu anak yang kuat, tapi mengapa tega sekali orang yang menabraknya, tunggu sebentar ya." Adinda mengambil sebuah cek dari laci kecil, dan menuliskan beberapa angka di sana.
"Ini Des, pakai uang ini untuk operasi adikmu ya, kau boleh pulang kok selama adikmu sakit." Desi terkejut melihat Adinda menyodorkan selembar cek yang nilainya sangat dahsyat.
"N-nona? ini benar-benar untuk operasi adik saya? terimakasih banyak Nona! saya janji akan mengganti uangnya, saya rela bekerja disini tanpa dibayar sampai hutang saya lunas." Desi memegang tangan Adinda dengan sopan.
"Hei, jangan khawatir, aku tidak akan memotong gaji mu sepersen pun, jaga adikmu dengan baik ya, aku ikhlas membantunya." Adinda tersenyum lalu kembali membuatkan teh hangat.
"Tumben buat teh nya lama." Kata Satria.
"Iya Mas, habis ngobrol sama Desi, kasian dia Mas melamun terus dari kemarin, ternyata adiknya mengalami kecelakaan." Kata Adinda.
__ADS_1
"Pantas kemarin sampai lalai membersihkan lantai, istriku hampir saja terjatuh." Satria mengangkat salah satu alisnya sambil menyeruput teh.
"Jangan gitu dong Mas, aku tahu kok kemarin Mas marahin Desi kan? dia itu tidak salah, memang aku nya saja yang kurang hati-hati." Jelas Adinda.
"Kamu salah? sejak kapan istri Satria Anggara membuat kesalahan?." Kata Satria.
"Mas, tadi aku berikan uang ke Desi untuk biaya operasi adiknya, tidak apa-apa kan kalau aku memberikan dia dengan uang yang Mas kasih? aku kan jarang belanja, jadi lebih baik digunakan untuk membantu nya terlebih dahulu, aku cuma kasih Desi uang bulanan aku kok Mas." Adinda menyandarkan kepalanya di bahu Satria.
"Mas salut sayang sama kamu, tidak masalah kok kalau kamu berikan uang bulanan dari Mas untuk Desi, Mas seneng deh punya istri yang baik, tidak pernah menyusahkan, apa lagi menghambur-hambur kan uang." Satria mengelus kepala istrinya.
"Lagi pula ya Mas, aku kan sedang hamil, ya walaupun uang Mas banyak tapi tetap saja aku ingin nabung sendiri, siapa tau kalau anak kita lahir aku bisa membelikan nya baju-baju tanpa memakai uang Mas lagi, Mas cukup membayar biaya persalinan aku." Kata Adinda.
"Persoalan anak itu urusan Mas sayang, tabungan kamu itu ya uang kamu pribadi, Mas akan belikan apapun untuk bayi kita nanti, sama seperti dulu Mas membelikan semua keperluan Arkan." Ucap Satria.
"Kalau dulu aku tidak menikah sama kamu, mungkin atau tidak ya hidupku akan sebahagia sekarang?." Adinda menoleh ke arah suaminya dan mendapati senyuman hangat.
"Mas tidak akan membiarkan kamu menikah dengan orang lain, cuma Mas yang boleh menjaga kamu seumur hidup." Kata Satria.
"Yakin? kalau dulu Sheira tidak pergi juga pasti Mas akan menikahi...." Mendengar perkataan Adinda yang lagi lagi membahas Sheira, Satria pun menutup bibir itu dengan cara mencium dan memagutnya.
"Hmmphh."
...
"Hei! kalian tuli atau apa?! lepaskan aku!." Suara Emily masih terdengar keras walaupun dia jarang diberi makan oleh orang-orang suruhan Satria, sudah beberapa minggu Emily tak lepas dari kurungan tersebut, terlebih kali ini Jack sedang sakit.
"Kau tega ya membiarkan kami menderita! bagaimana kalau keluarga kalian yang mengalami hal ini! hah?!." Emily menjerit-jerit seperti orang gila.
"Diam! sejak kapan kau berani menjerit-jerit tanpa berpikir bahwa semua itu hanya membuang-buang tenaga mu saja! kalau kau menilai diriku sebagai orang yang tega lantas dirimu itu apa? dasar wanita tidak tahu malu, merencanakan hal jahat untuk membunuh istri bos ku agar bisa menggantikan posisinya, kau dengar ya? wanita rendahan sepertimu tidak selevel dengan Tuan Satria." Gumam pria tersebut.
"Bajingan kau! keluarkan aku dari sini!." Emily memukul-mukul pembatas besi yang menghalangi tubuhnya.
__ADS_1
"Teriak lah sampai besok, hentikan jika kau lelah, hari ini tidak ada makanan untuk kalian." Pria itu pergi.
"Jack, kau harus bertahan oke? aku pasti akan membawamu keluar dari tempat menjijikan ini." Emily memegangi wajah Jack yang pucat.