
"Bunda!." Teriak Arkan berlari ke arah bundanya.
"Ya ampun sayang! jangan lari, kau bisa jatuh tau." Adinda segera memangku putra kecilnya sambil tersenyum hangat.
"Nenek bilang kalau Bunda mencari ku ya?." Tanya Arkan.
"Hmm, ayo makan sama Bunda, kau ini main terus seharian." Adinda menggendong Arkan menuju ruang makan.
"Ayah, ayo!." Bocah kecil itu melambai-lambaikan tangan nya ke arah Satria.
...
"Lain kali kau harus cari tahu kebenaran nya! jangan sampai seperti tadi! Satria bisa saja marah kalau mendengar ucapan mu." Ucap Selin.
"Tapi aku tidak mengada-ngada, mereka pasti bertengkar sebelum ini, tapi ah ya sudah lah tidak penting juga kan kita meributkan hal seperti ini." Sahut Jonatan.
"Kak, dimana Selina? apa dia sudah makan?." Tanya Adinda.
"Selina ada di kamar, aku sudah memintanya makan tadi, tapi dia tidak mau." Jawab Selin.
"Benarkah? kalau begitu biar aku yang membujuknya." Adinda memasuki kamar Selina dan melihat bocah itu sedang bermain boneka.
"Hai Selina." Suara lembut itu sedikit mengejutkan.
"Bunda? ada apa?." Tanya Selina.
"Makan dulu yuk? kau kan dari tadi belum makan." Kata Adinda.
"Tidak mau, Bunda duluan saja." Sahut nya.
"Jangan begitu dong sayang, nanti kamu sakit kalau sampai telat makan, ayo ikut Bunda keluar, atau kamu mau makan apa? biar Bunda carikan ya?." Adinda berusaha membujuk anak perempuan itu.
"Aku tidak mau." Lagi-lagi Selina menolak.
"Kamu beneran tidak mau makan? hmm Bunda sedih deh kalau Selina menolak ajakan Bunda, dede bayi juga pasti sedih karena Kak Selina tidak mau makan." Ucap Adinda seraya mengelus perutnya sendiri.
"Bunda jangan sedih, dede bayi juga tidak boleh sedih." Selina meletakkan boneka nya dan mendekati perut Adinda.
"Ayo dong, makan ya? Habis ini kita jalan-jalan deh sama Ayah Satria." Ucap Adinda.
"Benar ya? aku mau jalan-jalan ke suatu tempat." Selina tersenyum senang kemudian menggandeng tangan Adinda untuk segera keluar.
"Bye Ma! aku akan pergi jalan-jalan setelah makan!." Kata Selina lagi.
"Ya ampun, anak itu memang benar-benar luar biasa, ada saja kemauan nya." Gumam Selin.
"Arkan, kata Bunda kita akan jalan-jalan setelah makan." Ucapnya.
"Yeay! kita pergi! ayo Selina makan nya cepat!." Arkan girang.
"Sayang, jangan buru-buru begitu, nanti kamu tersedak." Adinda mengelus kepala putra nya lalu mengambilkan makanan untuk Satria.
"Ayo Mas dimakan." Pintanya.
Setelah makan selesai, mereka berempat bersiap untuk pergi.
__ADS_1
"Kita pergi kemana?." Tanya Satria.
"Entahlah Mas, Selina belum mengatakan ingin kemana, maaf ya aku jadi mengganggu kamu, habisnya Selina tidak mau makan, kasihan kalau sampai telat dia bisa sakit." Balas Adinda.
"Tidak masalah kok sayang, oh ya kamu minum vitamin dulu sebelum berangkat, Mas sudah membelikan nya kemarin." Kata Satria.
"Ya ampun, aku sampai lupa kalau vitamin nya habis, makasih ya Mas." Adinda mencium pipi suaminya lalu meminum vitamin tersebut.
Di dalam mobil, Selina dan Arkan duduk dengan senang di bagian belakang.
"Ayo Ayah jalankan mobilnya!." Kata Arkan.
"Iya, aku akan beritahu kemana kita pergi." Ucap Selina.
Satria langsung menyalakan mesin mobil dan melajukan nya perlahan-lahan.
Selina meminta Satria mendatangi sebuah Taman Bermain yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah mereka.
Di dalam Taman itu, banyak sekali macam-macam permainan, terlebih tujuan utama Selina datang kemari adalah untuk memasuki istana boneka."
"Bunda, aku mau ke sana!." Kata Selina tak sabar.
"Jadi kau kemari untuk memasuki istana itu?." Tanya Adinda.
"Ya, aku ingin mengelilingi istana itu, ayo Bunda!." Selina menarik tangan Adinda dengan pelan.
"Bunda, aku tidak mau masuk ke sana, itu kan tempat Selina! aku tidak mau!." Ucap Arkan menarik bunda nya.
"Ayo Bunda! tadi kan sudah janji kalau kita akan jalan-jalan, ayo!." Selina menarik lagi tangan Adinda.
"Duh Mas, bagaimana nih?." Tanya Adinda bingung.
"No! i don't like that place!." Arkan menggelengkan kepalanya.
"Sayang..." Satria mencoba merayu Arkan tetapi Arkan tetap tidak mau, ia malah berlari dan duduk di kursi taman dengan wajah murung.
"Selina, tunggu sebentar ya, Bunda harus bicara sama Arkan." Kata Adinda.
"Arkan.." Satria mendekati putranya.
"Mas, biarkan aku yang bicara pada nya." Pinta Adinda.
"Sayang, jangan sedih dong." Ucap Adinda.
"Tapi Bunda, aku tidak mau masuk ke sana, itu tempat Selina Bunda, aku tidak mau." Arkan mengulang kata-katanya lagi.
"Oke kalau kamu tidak mau tidak masalah, nanti Bunda temani Selina, dan Ayah akan menemani kamu, setuju?." Kata Adinda.
"Setuju." Jawab Arkan.
"Senyum dulu dong nak? masa anak Bunda dan Ayah yang paling tampan ini sedih." Mendengar itu Arkan pun segera tersenyum lalu mencium pipi sang Bunda.
"Terimakasih Bunda! kau memang yang paling baik." Kata Arkan.
"Sama-sama sayang, ya sudah ajak Ayahmu kemanapun yang kau mau ya? tapi ingat, jangan nakal, oke?." Arkan mengangguk kemudian berlari ke arah Satria.
__ADS_1
"Ayah, Ayo!." Satria hanya bingung dan menerima ajakan putranya.
"Ayo Selina kita masuk ke sana, maaf ya kamu jadi lama menunggu." Ucap Adinda.
"Tidak apa-apa Bunda, ayo." Mereka berdua masuk ke dalam istana boneka.
...
Waktu Selina sudah puas mengelilingi istana itu, ia pun mengajak Adinda keluar dari sana.
"Boneka nya lucu-lucu ya Bunda, rasanya Selina ingin membawa salah satu dari mereka." Kata Selina berharap.
"Nanti Selina bisa membeli boneka seperti itu dengan Mama dan Papa." Kata Adinda tersenyum hangat.
"Tapi...Mama dan Papa jarang sekali mengajak Selina pergi seperti ini, Papa sibuk dengan pekerjaan nya, sementara Mama sibuk bermain ponsel saat di rumah." Selina mengungkapkan kesedihan nya pada Adinda.
"Sayang, Papa bekerja untuk mencari uang, kalau uang Papa sudah banyak pastikan apapun yang Selina mau akan terwujud, benarkan?." Adinda berlutut didepan bocah itu, berusaha menenangkan nya.
"Tapi Mama? aku iri melihat Arkan selalu diperhatikan oleh Bunda dan Ayah, sedangkan aku selalu mengandalkan Nenek." Ucap Selina sedih.
"Tidak boleh gitu nak, Arkan juga sering mengandalkan Nenek karena Bunda dan Ayah tinggal di rumah yang berbeda, jadi kamu jangan merasa sedih ya, Mama bersikap seperti itu mungkin saja bawaan bayi, Selina kan sebentar lagi punya adik kecil, sama seperti Arkan." Adinda mengusap wajah cantik Selina yang murung itu.
"Aku mau jadi anak Bunda dan Ayah saja." Selina mulai menangis.
"Kalian semua anak Bunda kok, Bunda sama sekali tidak membedakan antara kamu dan Arkan, sepulang dari sini, kita membeli boneka ya? Selina mau kan?." Tanya Adinda.
"Mau Bunda, terimakasih ya." Selina memeluk Adinda.
"Bunda!." Jeritan Arkan terdengar dari kejauhan.
"Duh duh, kamu ini lari-lari terus, ada apa sih?." Tanya Adinda kepada Arkan.
"Bunda tahu tidak? tadi aku dan Ayah melihat beberapa robot, besar sekali! kami berfoto bersama." Kata Arkan.
"Wah, anak Bunda foto bersama robot ya? keren! kita harus cetak foto itu dan panjang di kamar." Kata Adinda.
"Yeay!." Arkan mendekati Bunda nya dan bersandar manja.
"Kamu dan Selina bagaimana? sudah melihat boneka-boneka di dalam sana?." Tanya Satria.
"Sudah Mas, Selina sangat menyukai boneka nya, sepulang ini bisakah kita mampir ke toko boneka?." Sahut Adinda.
"Untuk apa? kau mau boneka?." Ucap Satria.
"Bukan aku, tapi Selina, dia ingin sekali boneka seperti yang ada didalam sana." Balas nya.
"Ayah, aku juga mau robot seperti itu ya? boleh kan?." Kata Arkan.
"Boleh dong, nanti Ayah belikan ya." Kata Satria.
Mereka menaiki mobil menuju toko boneka, setibanya di sana Selina melihat-lihat semua Boneka yang terpajang kemudian memilih nya.
"Kamu boleh ambil berapapun yang kamu mau." Ucap Adinda.
"Benarkah? Tapi kalau Ayah marah bagaimana?." Tanya Selina.
__ADS_1
"Ayah tidak akan marah sayang, ya sudah pilih dulu saja, Bunda tunggu kamu di sana." Adinda berjalan menuju kursi yang tak jauh dari Selina, tetapi ia tak sengaja menginjak lantai yang basah, sebelum itu ada petugas toko yang sedang mengepel namun ia tidak sadar kalau air di ember nya sempat mengoyak sehingga tumpah keluar.
"Adinda?!." Satria dengan cepat berlari dan berusaha menangkap tubuh itu.