Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Bicara dengan Mama


__ADS_3

"Bunda, Ayah ? kalian sedang apa ?." Suara Arkan mengejutkan orang tua nya.


Adinda segera menatap wajah kecil itu dan melihat putranya terbangun dengan mata terpejam.


"Sayang, kau mengigau ? ayo tidur lagi, nanti kita akan pergi." Adinda mengusap-usap kepala itu.


Tanpa menjawab apapun, anak kecil itu kembali tertidur, Satria segera tersenyum geli dan meledek Adinda.


"Dia hanya mengigau kok, tidak melihat kita." Ucapnya.


"Lihat, putraku terbangun karena kau ya." Istrinya segera memelototi Satria, pria tersebut hanya tertawa kecil dan mendekatinya.


"Ssst, tidak boleh galak, sekarang kau buatkan makanan aku ya ? aku lapar." Kata Satria.


"Baiklah, karena aku adalah istrimu, aku akan membuatkan nya." Adinda berdiri dari kasur kemudian mencubit pipi Satria kencang.


"Aku bantu." Ia langsung mengikuti Adinda menuju dapur dan menyiapkan bahan-bahan makanan.


"Aku kupas kentang dulu ya, nanti tugasmu hanya mencuci kentang saja, setelah itu aku akan kembali memotongnya." Ucap Adinda.


"Hanya mencuci ? tidak ada yang lain ?." Satria bertanya.


"Ya, kau hanya boleh mencuci, selebihnya biar aku yang kerjakan, aku ingin masak sambal kentang, tapi untuk Arkan apa ya ?." Karena melihat istrinya bingung, Satria cepat-cepat mengambil potongan ayam mentah dari kulkas.


"Ini ! kau bisa masak ayam goreng untuk Arkan, dia pasti suka kan ?." Tetapi Adinda menggeleng, dia pikir Arkan akan bosan saat memakan ayam goreng, jadi dia memiliki inisiatif untuk membuatnya menjadi ayam kecap.


"Bagaimana kalau kita buatkan dia ayam kecap ? aku takut anakku bosan makan ayam goreng." Satria mengangguk setuju.


"Kalau begitu kau siapkan kecapnya, bawang, dan yang lain ya, aku buat kentangnya dulu." Perintah Adinda.


"Baik Ratuku." Satria segera menyibukkan diri dengan membantu semua yang dibutuhkan Adinda, namun ia tak lupa sesekali mengambil kesempatan untuk memeluk istri mungilnya.


"Apa sih Mas, katanya lapar tapi menggangguku terus." Kata Adinda.


"Baru sekali saja kok, memang tidak boleh ?." Ia semakin mengeratkan pelukan tersebut, hingga tiba-tiba..


"Permisi Nona, apa ada yang bisa saya ban...." Saat pelayan itu mengangkat kepalanya, kedua bola matanya langsung tertuju pada wajah tampan milik Satria, ditambah lengan nya yang melingkar di pinggang Adinda.

__ADS_1


"M-maafkan saya Tuan, saya pikir Nona mungkin saja kesulitan." Dirinya tergagap-gagap saat bicara.


"Tidak apa-apa kok, aku tidak kesulitan, terimakasih ya sudah perhatian padaku." Balas Adinda tersenyum.


"Apanya yang tidak apa-apa ? kau sangat mengganggu, tau ? cepat pergi sebelum aku ingin memarahi mu." Pinta Satria tegas.


"B-baik Nona, Tuan, kalau begitu saya permisi."


"Kamu jangan galak-galak dong Mas, semua orang akan takut kalau kamu seperti itu." Adinda melepas pelukan suaminya dan bertolak pinggang.


"Apa aku terlihat galak?." Satria mendekatkan wajahnya.


"Ya, coba ulangi kata-kata yang kamu ucapkan barusan kepadaku." Pinta Adinda.


"Yang mana?."


"Yang tadi Mas, yang kamu katakan pada pelayan itu." Adinda mengerucutkan bibirnya.


"Apanya yang tidak apa-apa ? kau sangat mengganggu, tau ? cepat pergi sebelum aku ingin memarahi mu." Kata Satria mengulanginya lagi.


"Jadi aku menganggu mu ? baik, kalau begitu aku akan pergi angkat kaki dari sini, kau tidak akan melihat wajahku lagi dimana pun." Adinda melangkah pergi, lalu Satria menariknya.


"Tapi baru saja kau mengatakan bahwa aku..." Pria itu segera mencium istrinya, dan memeluknya lagi.


"Wah ternyata kau sangat pandai berakting ya, kenapa tidak mengatakan hal yang sama pada pelayan ?." Adinda tertawa kecil.


"Apa kau rela melihatku mencium dan memeluk pelayan itu ?." Tanya suami.


"Tidak, hehe, kau kan suamiku yang baik." Adinda tersenyum malu kemudian mencubit hidung suaminya.


"Ayo cepat masak, atau kau akan mati kelaparan." Ucap Adinda.


"Aku tidak akan mati walaupun tidak makan, melihat senyum mu saja aku sudah sangat kenyang." Jawab pria itu.


"Aku harap kau sedang tidak sakit, menggombal pada wanita itu tidak baik loh."


__ADS_1


Setelah makanan itu sudah siap semua, Adinda segera menemani suaminya makan, ia juga memisahkan masakan nya untuk Tania Anggara.


"Oh ya Mas, bolehkah aku pergi besok ?." Tanya Adinda.


"Pergi ? kemana ?." Pria itu meletakkan sendoknya.


"Menemani Mama ke makam, aku sangat khawatir karena Mama menangis sejak tadi, dia bilang bahwa dirinya sangat rindu sosok Papa." Kata Adinda lagi.


"Mama menangis ?!." Satria terkejut.


"Iya Mas, bahkan Mama sempat merasa pusing karena terlalu memikirkan banyak hal, aku takut Mama sakit." Adinda murung.


"Setelah makan, aku akan bicara dengan Mama, kau jaga Arkan saja ya." Adinda segera mengangguk.


Di kamar Tania Anggara.


"Satria, ada apa kemari ?." Tanya Mama.


"Aku tahu, ada banyak sekali hal-hal yang mungkin Mama tutupi, tapi aku mohon Ma, tolong jangan banyak memikirkan itu semua, aku dan Adinda sangat khawatir dengan keadaan Mama." Kata Satria memegang tangan Tania.


"Satria, Mama benar-benar tidak apa-apa, Mama tidak memikirkan banyak hal, kau dan istrimu tidak perlu khawatir, kalian sudah cukup lelah dengan urusan keluarga selama ini." Balas Tania.


"Aku ini putramu atau bukan ? Papa sudah tidak ada, dan aku yang akan bertanggung jawab untuk semua hal yang ada di rumah ini, termasuk Mama. Aku sangat takut jika Mama sakit, Adinda pun sama halnya seperti aku, wajahnya sangat murung saat tadi bercerita tentang Mama, kita semua sangat mencintaimu." Ucap Satria.


"Maafkan Mama sudah membuat kalian cemas, Mama hanya..." Tania diam dan tak melanjutkan ucapan nya.


"Aku tahu, Mama merindukan Papa ? aku sangat mengerti bagaimana rasanya disaat orang yang paling kita cintai telah meninggalkan kita, akan sakit, akan hancur, akan merusak semua kebahagiaan kita, tapi itu sudah takdir Ma, jika Mama sedih, Papa akan lebih sedih melihatnya, Papa ingin Mama bahagia, Papa ingin Mama senang, Papa percaya kalau Mama seorang wanita yang kuat." Satria memeluk Tania Anggara dan mengusap punggungnya.


"Ada Satria disini Ma, Satria anak Mama, Putra Mama, Satria siap untuk menanggung segala hal yang ada disini, bahkan Satria sudah siap menggantikan Papa." Melihat putranya berkata demikian, Tania justru semakin menangis, dia menyadari betapa hebatnya sosok laki-laki yang dia lahir kan dari rahimnya.


"Maafkan Mama Satria, maafkan Mama." Wanita itu mengencangkan pelukan nya.


"Jangan sedih lagi ya Ma, Mama juga tidak perlu meminta maaf, mungkin Satria yang salah karena kurang memperhatikan Mama belakangan ini, sehingga Mama merasa sendirian ditempat yang ramai." Satria mencium punggung tangan Tania Anggara, dan menghapus air matanya.


"Apapun yang membuat Mama sakit, katakan padaku." Pria itu tersenyum.


"Iya nak, Mama akan beritahu apapun yang membuat Mama sakit, terimakasih sudah memberi rasa perhatianmu." Tania tersenyum.

__ADS_1


"Besok Mama akan pergi bersama Adinda ke tempat Papa beristirahat, maaf aku belum bisa mengantar, karena aku harus bekerja besok, Satria akan meminta supir mengantar kalian, karena Satria tidak mau membiarkan Adinda yang menyetir." Katanya.


"Kau sudah tumbuh menjadi laki-laki yang baik, kau bahkan jauh lebih baik dari yang dulu Satria, Mama bangga padamu."


__ADS_2