Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Club


__ADS_3

"Jeremy, semuanya sudah siap." Marry menghampiri pria itu dan duduk disampingnya.


"Sebaiknya kau segera pergi mandi, kopi itu sudah aku letakkan didalam." Ucap Marry lagi.


"Terimakasih, kau tunggu disini. Aku tidak akan lama." Jeremy mencium kening Marry kemudian pergi mandi.


"Leonard benar, aku tidak seharusnya berpikir macam-macam tentang Jeremy, mungkin saja dia punya urusan lain sampai tidak bisa datang ke kantor. Buktinya dia bicara padaku kalau tadi baru saja menabrak seseorang." Marry membaringkan tubuhnya diatas ranjang.


Ia berniat menghubungi Leonard.


"Halo, Marry." Ucap Leonard.


"Hai, kau sudah tiba dirumah ?." Tanya nya.


"Sudah, ada apa menghubungiku ?." Leonard menjawab.


"Tidak ada, hanya saja aku merasa senang karena sudah bertemu Jeremy barusan. Kau ada waktu tidak ? besok kita pergi bersama." Marry tersenyum.


"Senang mendengarnya, tapi maaf aku punya urusan penting besok, jadi lain kali saja ya." Balas Leonard.


"Ah payah, baiklah lain kali harus jadi ya." Marry kegirangan kemudian mematikan telepon.


Seusai Jeremy mandi, ia pun keluar kemudian mendapati wajah Marry yang teramat hangat.


"Ada apa ? kau terlihat bahagia hari ini." Kata Jeremy.


"Tidak, sebenarnya aku ingin meminta maaf karena sempat mengiramu macam-macam." Ucap Marry.


"Ah begitu, ku pikir ada apa." Jeremy mengelus kepala Marry kemudian meletakkan handuk bekas kepalanya diatas ranjang.


"Ibu sudah menanyakan tanggal pernikahan kita, kapan kau akan menentukan itu ?." Marry bertanya dengan gugup.


"Secepatnya." Seperti biasa jawaban Jeremy selalu seperti itu.


"Apa kau tidak bisa memberiku kepastian tentang kapan pernikahan kita dilaksanakan ? aku sangat jenga mendengar pertanyaan ibu." Marry menunduk.


"Marry, ini bukan yang pertama kalinya aku memberimu peringatan. Aku sudah bilang kalau pernikahan kita akan dilakukan sesegera mungkin." Jeremy sedikit kesal lalu menghela nafas.


"A-aku minta maaf, kalau begitu aku pulang dulu." Marry mengambil tasnya dan bergegas pergi.


Jeremy menyadari bahwa kata-katanya barusan mungkin saja menyakiti Marry, ia segera mengejar wanita itu lalu memeluknya.


"Hei." Marry terdiam, tak berani berkata apapun.


"Akan aku tentukan tanggalnya, katakan pada ibumu bahwa bulan depan kita menikah." Jeremy tak tahu lagi harus berbuat apa, mendengar ucapan itu Marry segera mengangkat kepalanya dan tersenyum amat senang.


"Benarkah ?! terimakasih Jeremy ! kau benar-benar pria yang baik." Ucap Marry.


"Pulanglah, bawa kabar baik ini, Zheng akan mengantarmu." Wanita itu mengangguk dan pergi.


"Aku pamit dulu." Zheng menunduk sopan pada Jeremy.


"Hati-hati dijalan." Katanya.


Besoknya, sore hari Agatha keluar mengendarai mobil. Ia tak perduli berapa keras larangan kedua orang tuanya.


Diam-diam dia mendatangi rumah Greg.


setibanya disana ia langsung disambut hangat oleh beberapa pelayan.


"Apakah Nona mencari Tuan Greg ?." Tanya para pelayan tersebut.


"Dia ada didalam ?." Kata Agatha.


"Baru saja Tuan Greg pergi mengendarai mobil." Balas pelayan.


"Apa kalian tau kemana dia pergi ? dan berapa lama ?." Pelayan menggeleng.


"Seorang wanita cantik datang mencari Kakakku." Suara Leonard mengejutkan Agatha.


"Mau masuk kedalam ? kita bisa mengobrol sambil menunggu Kakak pulang." Agatha sedikit takut kemudian ia tersenyum dan menolak secara halus.


"Maaf, tapi aku masih ada urusan lain. Salam untuk Kakakmu ya, terimakasih." Agatha berbalik dan pergi.


"Greg ! kau ini bodoh atau gimana sih, aku tidak punya banyak waktu untuk bertemu denganmu tapi kau malah pergi begitu saja." Agatha memukul keningnya.


...

__ADS_1


"Kau cari mati ya ? sudah aku katakan jangan pernah datang lagi." Arkan mengingatkan.


"Beri aku waktu lima menit untuk bicara pada Adikmu, atau perlu aku bersujud demi bisa bertemu dengannya ?." Arkan kesal melihat Greg yang memaksa.


"Agatha pergi, lebih baik kau pulang dan jangan kembali lagi." Arkan berkata dengan lantang.


"Agatha ! ini aku Greg." Panggilnya.


"Dasar brengsek ! pergi kau !." Arkan mendorong Greg hingga ingin meninjunya.


Namun Selina datang untuk menghentikan perkelahian itu.


"Arkan sudah ! kau terlalu banyak emosi." Selina menatap wajah Greg.


"Pergi, dan jangan pernah datang untuk memancing emosi saudaraku. Agatha tidak ada, kau bisa cek sendiri mobilnya !." Selina menggandeng Arkan masuk.


"Pergi kemana anak itu." Greg mengacak rambutnya sendiri.


...


"Bukankah Hana pernah bilang kalau otakmu merasa stres maka tenangkanlah dengan cara mendatangi club." Pikir Agatha.


"Walaupun aku tidak bisa minum setidaknya disana aku bisa mengosongkan pikiran." Agatha menancapkan gas menuju club.


Sesampainya di club, Agatha mencari ponselnya.


"Sial ! aku lupa membawanya." Agatha hanya duduk didalam tanpa memesan apapun.


Ia hanya melamun sampai langit gelap, hatinya merasa sedih.


"Aku harus bisa mengembangkan usahaku, setelah itu aku bebas bisa pulang dan pergi kapanpun. Karena aku tidak akan tinggal disana lagi." Gumam Agatha.


"Rubby, ini benar tempatnya ?." Tanya Rain.


Samar-samar Agatha mendengar suara Rain ditengah kencangnya musik.


"Benar Rain, kita harus bersenang-senang disini." Rubby menarik Rain untuk duduk dan memesan minuman.


"A-aku tidak pandai minum." Ucap Rain.


"Sepertinya aku dengar suara Rain didekat sini, tapi mau apa dia datang kemari ?!." Agatha penasaran.


"Ekheem, malam Nona." Mendengar suara itu Agatha berbalik dan melihat pria yang sudah berumur sekitar empat puluh tahunan.


"Apa kau sendirian disini ? boleh aku temani ?." Tanya pria ganjen tersebut.


"Tidak, aku ingin sendiri." Jawab Agatha.


"Lebih enak kalau berdua Nona, sendiri itu sepi." Pria didepannya mendekati Agatha dan hendak merangkul.


"Hei menjauh ! kau mabuk !!." Agatha mendorongnya.


"Dasar pel*cur ! sok jual mahal ! kalau tidak mau didatangi jangan pergi kesini !." Pria tua itu marah dan menarik Agatha.


"Lepaskan ! kau itu sudah tua ! tidak sepantasnya mengasari wanita seperti aku !!." Mendengar Agatha bicara begitu justru ia tertawa.


"Apanya yang tua ? umurku masih dua puluh tahun." Katanya ngelantur.


"Lepaskan tanganku ! lepaskan !." Agatha menyikut perut si bapa tua.


"Kurang ajar kau ! tangkap dia." Ia menyuruh beberapa bawahannya untuk menangkap Agatha.


"Aku harus lari dari sini." Dari jauh Zheng melihat wanita yang sedang dikejar oleh beberapa pria.


"Jeremy, coba lihat wanita itu." Zheng menunjuk ke arah Agatha, biasanya Jeremy akan tertawa melihat pertunjukan ini. Karena tak sekali dua kali melihat hal yang sama.


Tapi setelah mengamati wajahnya ia tersadar kalau wanita itu Agatha.


"Zheng sebaiknya kau tunggu disini." Jeremy berlari untuk membantu Agatha.


"Aaaaahk !." Agatha tersandung oleh para tamu yang lain sampai kakinya terkilir.


"Sakit sekali." Ia meringis sambil memegangi kakinya.


"Itu balasan karena kau berusaha lari dari bos kami !." Keduanya memegangi tangan Agatha.


"Lepaskan aku, kakiku ini sedang sakit ! apa kalian tidak berpikir ?!." Agatha mengoceh membuat keduanya bingung sebelum akhirnya kembali menarik Agatha.

__ADS_1


"Lepas ! tolong, ada orang tak waras disini." Beberapa tamu yang menoleh hanya tertawa kecil sambil menonton Agatha yang diseret paksa oleh pria tua.


"Cantik-cantik seleranya buruk." Ucap salah satu tamu.


"Lepaskan wanita itu." Jeremy menarik Agatha kedalam pelukannya.


"Berikan dia padaku ! kau tidak berhak mengambilnya." Kata si tua.


"Kau ulangi sekali lagi, aku belum dengar." Ucap Jeremy.


"Kau tidak berhak mengambilnya !! kembalikan !!." Pria tua didepannya marah.


BUGHHHHH ! Sebuah tinjuan keras melayang ke wajah si tua.


"Bajingan kau !." Ia hendak membalas namun dihadang oleh Zheng.


"Bawa dia, biar aku yang mengurus masalah ini." Jeremy segera pergi menggendong Agatha.


"Turunkan aku disini !." Kata Agatha.


"Dengan siapa kau datang kemari ?." Tanya Jeremy.


"Bukan urusanmu." Agatha meminta tubuhnya diturunkan.


"Jawab atau aku akan melemparmu pada si tua bangka itu." Agatha memukul bahu Jeremy.


"Jangan lakukan itu ! pria bodoh ! Aku datang sendiri." Jeremy menurunkan Agatha lalu menjitak keningnya.


"Kau yang bodoh ! sudah tau wanita, lalu dengan percaya diri datang kemari. Ingin menyerahkan badan ?." Agatha melotot.


"Gila kamu !."


"Ada yang sakit ? kemarin kau ini kan baru saja sembuh, kenapa sudah main-main sih ??!." Jeremy memarahi wanita didepannya seperti anak kecil.


"Aku tidak suka kalau kau banyak bicara." Agatha mendengus kesal.


"Lebih baik begitu, tanpa aku kau tak akan selamat. Mungkin sudah dipaksa buka pakaian dengan pria tua tadi kan ?." Agatha merinding mendengarnya.


"Jangan bicara sembarangan !." Jawab Agatha.


"Aku bilang mana yang sakit ?." Tegas Jeremy.


"Tidak ada, aku mau pulang." Jeremy diam.


"Kau noleh kebelakang, pria tua itu berada tepat dibelakangmu." Mendengarnya, Agatha langsung melompat kepelukan Jeremy.


"A-aku takut !." Ia memejamkan mata.


"Ayo ikut denganku." Jeremy membawa Agatha masuk kedalam ruangan VIP.


"Apa kau sangat sering datang kemari ?." Tanya Agatha.


"Hampir disetiap aku merasa pusing, ini tempatku." Balas Jeremy.


"Kau tidak mabuk ?." Jeremy menggeleng.


"Aku mabuk jika ingin." Ia memegang kaki Agatha sambil bicara.


"Aawh, sakit tau !." Agatha menjerit.


"Tahan sebentar, aku pijat sedikit kakimu." Jeremy memberi minyak dan menekannya.


"Aaaaaaawh ! sudah, aku tidak tahan lagi ! berhenti !." Agatha menangis.


"Tahan sedikit lagi." Dari luar Zheng mendengar jeritan Agatha, ia berpikir bahwa Jeremy sedang melakukan hal yang intim dengan wanita lain.


"Aaagh, sakit. Hentikan !." Jeremy melepas kaki Agatha dan menghapus tangisnya.


"Baru begitu saja cengeng." Jeremy membantu Agatha berdiri.


"Masih sakit ?." Agatha mencoba melangkahkan kaki kedepan, hingga tiba-tiba dia terjatuh dan ditangkap oleh Jeremy.


Krek...


Zheng masuk kedalam kemudian melihat keduanya berpelukan dengan sangat mesra.


"Jeremy." Suara Zheng mengejutkan Agatha.

__ADS_1


__ADS_2