
"Hanya telat makan, mau ku ambilkan pangsitnya sekarang ?." Jeremy menawarkan dengan lembut.
"Boleh, ambilkan itu untukku." Ia keluar kamar untuk mengambil makanan tersebut.
"Kau sadar apa yang baru saja kau tanyakan ?." Sebut Arkan.
"Ada yang salah ?." Agatha menatap Kakaknya sinis.
"Mengapa kau menanyai hal gila seperti itu ? sejak kapan kau menyerahkan seluruh hidupmu padanya ?." Arkan terus mengoceh.
"Sejak aku menikah dengannya, lagi pula hal gila macam apa yang kau maksud ?." Balas Agatha.
"Kau berpikir dirimu hamil. Hei, jangan lupa kalau kau masih bocah." Mendengar itu Agatha menatap tajam.
"Bocah apanya ?! aku ini sudah dewasa, aku juga sudah menikah jadi tidak ada salahnya kalau hamil." Rain tersenyum kecil melihat Adik Kakak yang sedang bertengkar.
"Kapan kau melakukannya ? kapan dia menyentuhmu ?!." Arkan bertanya serius.
"Sebelum kau datang, kami baru saja melakukan itu." Jawaban Agatha membuat Rain tertawa geli.
"Cih ! mana mungkin baru melakukannya beberapa jam lalu sudah langsung hamil, memangnya suamimu dewa." Kata Arkan.
Jeremy masuk membawa semangkuk pangsit untuk istrinya, tiba-tiba Arkan menerjang pria itu.
"Beraninya kau menyentuh Adikku ! dasar bedebah !." Arkan menarik kerah Jeremy sampai ia terkejut.
"Arkan, jangan menyakitinya. Dia punya hak atas Adikmu." Rain menahan bahu kekasihnya.
"Lepaskan, dia harus tahu kalau aku bersusah payah menjaga kehormatan Adikku." Arkan terlihat geram ingin meninju wajah Jeremy.
"Kakak hentikan ! Jeremy itu suamiku !." Agatha bangun dari ranjang dan melepaskan tangan Arkan dari kerah Jeremy.
"Kau tidak bisa melarang apapun lagi sekarang, karena Agatha adalah milikku." Jeremy tersenyum mengejek.
"Awas kau ! sampai berani menyentuhnya lagi, habis !." Sengaja ia menyentuh dagu Adiknya, hingga membuat Arkan kembali menjerit.
"Hei !!!!." Rain hanya menepuk keningnya sendiri saat melihat Arkan seperti anak-anak.
Cup ! Jeremy mencium bibir Agatha.
"Keparat !."
"Rain, cepat bawa Kakak pulang. Dia akan gila berlama-lama disini." Pinta Agatha kepada Rain.
"Ayo pulang, jangan sibuk memarahinya, mereka sudah berumahtangga." Rain menarik Arkan keluar dari rumah besar itu.
"Dia benar-benar tidak waras." Gumam Agatha membuat Jeremy menatapnya serius.
"Kau harus memaafkannya, bagaimanapun dia Kakakmu." Kata Jeremy.
"Berhenti bicara omong kosong, kau membuat selera makanku hilang." Jawabnya.
"Minggu depan aku harus pergi." Ucap Jeremy.
"Kemana ?."
"Aku harus menyelesaikan tugas diluar negri, kau mau ikut ?." Agatha menoleh, menatapnya dalam sekali.
"Kenapa aku harus ikut ?." Ia bertanya.
"Karena aku khawatir meninggalkanmu. Sejak cincin itu terpasang, kau berhasil mengambil duniaku. Kau menjadi sangat berharga sampai aku tak rela jika ada seseorang yang mencoba menyakitimu." Jeremy memegang tangan istrinya sambil mengelus lembut.
__ADS_1
"Berapa lama kau disana ?." Kata Agatha.
"Tiga hari."
"Jeremy, jika hanya tiga hari aku bisa mengurus diriku sendiri." Jeremy memperhatikan Agatha bicara.
"Tapi aku takut." Katanya.
"Takut kenapa ?." Agatha menatap kedua bola mata Jeremy.
"Takut kau akan kembali bersama Greg saat aku tidak ada." Ia merenung.
"Aku sudah berjanji tidak akan kembali padanya, apa itu kurang meyakinkan untukmu ?." Jeremy tersenyum, lalu mencium tangan Agatha.
"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku sampai minggu depan, dengan begitu aku yakin kau tak akan kembali pada Greg sampai aku tiba disini." Jeremy meletakkan kepalanya diatas paha Agatha.
"Semoga berhasil."
6 Hari sebelum Jeremy pergi,
Pukul delapan pria itu membuka tirai jendela untuk memastikan sinar matahari menyorot tubuh istrinya.
"Hem." Terlihat Agatha mulai terusik dengan kehadiran cahaya tersebut.
"Cepat bangun, aku punya sesuatu untukmu." Bisik Jeremy.
"Jeremy, kau tidak berangkat kerja ?." Agatha mengucak matanya dan bangun.
"Aku sengaja meliburkan diri selama satu minggu." Seketika Agatha membelalakkan mata.
"Apa ?! bagaimana dengan pekerjaanmu dikantor ?!." Lagi-lagi Jeremy hanya tersenyum.
"Ada Zheng yang mampu menangani semua pekerjaanku." Berusaha meyakinkan.
"Tentu saja ini tidak gratis, aku selalu membayar setimpal dengan cara memenuhi keinginannya." Ucap Jeremy.
"Lalu kenapa membangunkanku ?." Jeremy mengajak Agatha keluar kamar menuju ruangan lain.
"Kau membuat semua ini ?." Agatha tercengang.
"Dokter bilang kalau kau tidak boleh terlalu sering telat makan, jadi aku harus memastikan kau makan teratur." Jeremy tersenyum hangat.
"Kenapa kau sangat perhatian padaku ?." Kali ini ia benar-benar terpana.
"Karena aku mencintaimu, hanya itu jawabanku." Jeremy mempersilahkan Agatha duduk dan pelayan datang mengantar makanan mereka.
"Maaf kalau masih banyak yang kurang, jujur saja sebenarnya aku tidak bisa romantis." Kata Jeremy, memang benar selama hidupnya hanya dihabiskan untuk bekerja. Bahkan Marry tidak pernah merasakan keromantisan seperti sekarang.
"Benar Nona, sejak pukul lima pagi Tuan Jeremy sibuk mencari informasi cara membahagiakan pasangan melalui internet, hingga akhirnya beliau mendekorasi semua ini." Pelayan itu tersenyum sebelum pergi.
"Benarkah ? kau sampai bangun sepagi itu hanya untuk memikirkan hal seperti ini ?." Kata Agatha tak percaya.
"Aku hanya berusaha memberikan yang terbaik." Karena senang diperhatikan, Agatha memeluk Jeremy.
"Makasih, karena kau begitu tulus memperlakukanku." Jeremy mengangguk sambil mengelus kepala wanitanya.
"Ayo makan."
...
__ADS_1
Disisi lain,
"Buka pintunya !." Leonard terus menggedor pintu kamar Greg.
"Kau belum makan sejak kemarin ! benar-benar sudah gila !." Ia terus memaki Kakaknya sendiri.
"Aku bahkan tidak lagi butuh makan." Gumam Greg.
"Cinta membuatmu buta Greg !! cepat buka atau aku akan hancurkan pintu ini." Leonard berteriak tanpa henti.
"Tuan, sebaiknya kita beritahu Nona Agatha tentang hal ini." Hampir semua pelayan tahu kalau Agatha wanita kesayangan Greg.
"Percuma memberitahunya, lebih baik lupakan nama itu sekarang." Leonard kesal.
"Hei pengecut ! aku beri kau kesempatan terakhir. Jika tak segera membuka pintunya maka aku akan..."
Ceklek...
"Akan apa ?." Melihat wajah Greg berada didepannya ia langsung terdiam.
"A-akan memberimu makan." Leonard memberikan nampan berisi piring nasi dan minum.
"Kau sekarang menjadi pembantu ? rajin sekali membawakan makanan." Kata Greg.
"Cepat makan, kau bisa sakit kalau menunda-nunda." Balas Leonard memaksa.
"Aku tidak selera, kecuali kau membawa berita menarik mungkin aku akan pikirkan." Mendengar jawaban sang Kakak ia pun langsung berpikir keras.
"Ah ya ! aku baru saja mengetahui siapa pria yang dinikahi oleh wanitamu." Greg menyeret Leonard kedalam kamarnya kemudian mengunci pintu.
"Cerita, aku akan mendengarkanmu sambil memakan makanan ini." Greg memaksa.
"Ternyata dia direktur perusahaanku, pemimpin ditempat aku bekerja." Ucapan Leonard membuat Greg tersedak.
"Uhuuukkk ! benarkah ?." Matanya membelalak.
"Aneh, padahal dia punya kekasih yang amat dicintainya, tapi kenapa menikahi Agatha." Leonard berpikir.
"Jadi pria itu memiliki kekasih ?!." Kata Greg.
"Iya, kekasihnya itu teman dekatku. Pantas saja akhir-akhir ini dia sering menceritakan hubungannya, ternyata mereka memang berpisah." Greg memukul tangan Leonard.
"Aku tidak butuh wanita itu, ceritakan saja tentang bosmu. Mengapa dia menikahi Agatha ?!." Greg menatap serius.
"Kau bilang sambil makan, tapi dari tadi hanya mendengarkan saja." Kakaknya tertawa kecil, lalu menyantap suapan pertama.
"Aku tidak tahu apa alasannya menikahi wanitamu, yang aku tahu dia dan pacarnya itu hampir menikah !." Greg memutar bola matanya dengan malas.
"Ceritamu payah ! tidak menarik." Kata Greg.
"Dengar-dengar sih Tuan Jeremy ada urusan penting diluar negri, ia berangkat minggu depan." Kata Leonard.
"Lalu apa yang menarik ?." Greg menyodorkan piringnya.
"Kau bodoh ya ? itu kesempatan emas untukmu bisa mendapatkan Agatha kembali." Terlihat mata Greg langsung berbinar.
"Ha, kau pintar ! benar-benar Adik yang baik." Greg tersenyum.
"Tapi kau harus berhati-hati, Jeremy bukan orang sembarangan." Leonard mengingatkan.
"Aku sama sekali tak perduli seberapa kuat dia, intinya aku akan mengambil Agatha dari rumah itu." kata Greg.
__ADS_1
"Habiskan makanmu."