Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Apa aku hamil ?


__ADS_3

Mereka berdua menuju kamar Jeremy, meletakkan Agatha diatas ranjang dan langsung melihat wajahnya.


"Maafkan aku." Walaupun dalam keadaan marah, Jeremy tetap merasa bersalah karena tak sengaja telah memukul istrinya sendiri.


"Ini tidak sesakit apa yang kau lihat." Agatha mendekati Jeremy lalu memeluk pria itu.


"Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semua ini." Kata Agatha.


"Kau mau bercerai ?." Pertanyaan Jeremy membuat Agatha sedikit tak tenang.


"B-bukan begitu, aku mau kau tahu kalau tadi..."


"Aku akan mengurus perceraian kita kalau kau bilang ya." Jeremy menatap mata Agatha.


"Kenapa diam ? baru saja kau mengatakan padaku kalau tidak akan mengulanginya, lalu tadi apa ?." Jeremy sangat kecewa.


"Jeremy aku tidak bermaksud untuk membuatmu marah, itu hanya..."


"Tidak perlu jelaskan apapun, besok pagi aku akan mengantarmu pulang, dan aku akan bicara pada mereka bahwa kita memang tidak semestinya menikah." Jeremy hendak berdiri lalu Agatha menarik tangannya. Ia mencium mulut Jeremy sampai pria itu membisu.


Agatha membuka pakaiannya kemudian mengajak suaminya memulai awal percintaan mereka.


.


.


.


.


.


Dua jam sudah berlalu, Jeremy menyadari wajah istrinya yang merah merona seperti tomat matang.


Ditambah selimut tebal masih mengikat tubuh indahnya, ia tersenyum.


"Mau aku berikan cermin ?." Agatha bingung dengan pertanyaan Jeremy.


"Kau cantik." Wanita itu diam sebelum akhirnya menjawab.


"Dasar gombal ! kau pikir dari awal kita bertemu aku ini jelek ?." Kata Agatha.


"Kau cantik, dari pertama kita bertemu sampai sekarang." Jeremy tersenyum manis.


"A-aku mau mandi !." Agatha hendak berdiri namun tidak sanggup karena terlalu sakit untuk pertama kalinya.


"Tidak bisa berjalan ? biar aku bantu." Jeremy ingin menggendong Agatha tetapi ia menolak.


"Aku bisa sendiri, aku bisa kok." Agatha bersikeras tak mau menerima bantuan suaminya.


"Pelan-pelan, aku disampingmu." Sudah maju dua langkah akhirnya ia memegang bahu Jeremy.


"Sakit." Ucapnya pelan, tanpa bicara apapun lagi Jeremy segera mengangkat tubuh Agatha untuk menuju kamar mandi.


"Sekarang kamu keluar." Pinta Agatha, sementara itu Jeremy menolak.


"Kenapa harus keluar ? aku disini saja." Kata Jeremy.


"Aku malu ! kenapa bertanya segala sih." Agatha mendengus kesal.


"Malu ? dari tadi kau terlihat biasa saja tuh, kenapa sekarang malu ?." Ucap Jeremy menggodanya.


"Jeremy." Agatha memelototi pria itu.


"Cium aku tidak malu, pegang badanku tidak malu, menggodaku tidak malu, lalu me..."


"Kau benar-benar gila." Agatha bangun dari bathtub nya dan menyumpal mulut Jeremy memakai handuk kecil.


"Aku atau kamu ?." Kata Jeremy lagi sambil menertawakan.


"Masih berani bicara." Agatha mencubit perut Jeremy lalu tertawa geli, tanpa sadar kepalanya hampir saja terbentur ujung tatakan kaca yang terletak dibawah cermin besar.


Jeremy dengan sigap melindungi kepala itu dari benturan, Agatha menyadari kalau tangan suaminya menghalangi benda tajam tersebut.


"Aku takut." Ucap Agatha sambil memandangi Jeremy tak berkedip.


"Takut apa ?." Ia merapihkan rambut Agatha yang berantakan.


Benar-benar sangat romantis.


"Aku takut jatuh cinta padamu." Kata Agatha, Jeremy hanya tersenyum lembut.


"Hari itu akan tiba, dan kau tak bisa mengurungkan perasaanmu lagi." Balas Jeremy.


"Tinjuanmu sakit." Mendengar perkataan Agatha, segera saja Jeremy mengingat apa yang telah dilakukannya sebelum ini.


"Aku hampir lupa, bagian mana yang sakit ?." Pria itu mengelus wajah istrinya.


"Ini, kau meninjuku sebelah sini." Jeremy memperhatikan wajahnya dan justru mencubit keras-keras.


"Aaaaaaaaaaa sakit tau !!!." Agatha spontan memukul Jeremy, pria itu tertawa geli.


"Itu hukuman ringan karena kau berusaha melindungi Greg." Ucap Jeremy.

__ADS_1


"Tapi kau tidak bisa seenaknya seperti tadi !." Agatha memelototi pria didepannya.


"Ini rumahku, jadi apapun yang ingin ku lakukan tidak perlu menunggu persetujuan." Jeremy tersenyum sinis.


"Dia bicara apa ?." Kata Jeremy.


"Greg ingin aku bercerai darimu, dia ingin menikahiku." Agatha memasang wajah bingung, sementara Jeremy tertawa kecil.


"Aku sudah beri pertanyaan padamu beberapa waktu lalu, tapi kau tidak menjawab. Jadi mulai hari ini aku tak akan melepaskanmu bahkan sampai mati." Jeremy mengusap wajah Agatha.


"Bagiku pernikahan hanya dilakukan satu kali seumur hidup, meskipun kau bukan pria yang aku cintai tapi waktu pasti akan menunjukkan kehebatannya." Jawab Agatha.


"Aku tidak mau kau bertemu lagi dengan Greg." Terlihat wajah Jeremy amat sangat memohon.


"Tapi Greg yang berusaha menemuiku." Balas Agatha.


"Aku bisa pastikan dia tak akan kembali kerumah ini memakai cara konyolnya, tapi kalau kau diam-diam bertemu pria itu diluar, aku pastikan juga untuk memberinya pelajaran." Kata Jeremy membuat Agatha takut.


"Jangan berbuat sesukamu." Ia kembali memasuki bathtub.


"Aku hanya memberikan reaksi yang normal sebagai seorang suami, jika kau melarangku untuk marah apa kau akan diam jika Marry berusaha menganggu hidupku ?." Jeremy terus melontarkan pertanyaan yang membuat Agatha bingung.


"Atau bagaimana kalau kami berciuman sama halnya seperti kau dan Greg ?." Agatha geram sampai berbalik memelototi Jeremy.


"Hentikan omong kosong mu itu." Jeremy tertawa.


"Kesal ? baru mendengarnya saja sudah kesal kan ? apalagi melihat secara langsung, kau pasti sudah menarik rambut Marry sampai kelantai."


"Awas saja kalau kau berani melakukan itu, aku tak segan-segan mencabik-cabik kulitnya." Agatha segera menyabuni seluruh tubuhnya.


"Memang tidak salah menikahi anak kecil, dia begitu lucu dan menggemaskan." Jeremy tertawa geli dan keluar dari kamar mandi.


...


"Aku tahu kalau mencintai istri orang lain adalah sebuah kesalahan, tapi Agatha seharusnya menjadi istriku !." Greg marah.


"Sejak pulang dari penjara kau terlihat murung, ada apa ?." Tanya Leonard.


BUGHHHH !!! Tinjuan amat keras mendarat diwajah Adiknya.


"Kenapa kau meninjuku ?!." Kata Leonard.


"Kau pantas mendapatkannya !." Greg sangat kesal.


"Atas dasar apa sampai kau menyebutnya pantas ??!." Leonard tidak terima karena ditinju tanpa alasan.


"Kebebasanku bukan karena kau, tapi Agatha !." Kata Greg meneriaki wajah Leonard penuh emosi.


"Bukankah itu bagus ? lalu kenapa kau marah-marah ?." Ia benar-benar tidak mengerti.


"K-kau serius ??! aku sama sekali tidak tahu tentang hal ini." Balas Leonard.


"Kau menyiksanya ! Karena ancamanmu dia rela menikahi pria yang sama sekali tidak dicintainya !!! Brengsek kau Leonard !." Ucap Greg frustasi.


"Lalu apa yang harus aku lakukan ?." Leonard berusaha membantu Kakaknya.


"Terlambat !." Greg sangat marah sampai ia tak ingin bicara lagi pada Leonard.


...


"Kenapa terus melamun ? kalau rindu katakan saja." Rain bicara dengan Arkan.


"Bagaimana caranya ? dia tidak memberikan kesempatan untukku bicara." Arkan menghela nafas.


"Jangan menyerah dong, ayo kunjungi rumahnya." Mendengar ucapan Rain ia pun menoleh.


"Rumahnya ? maksudmu rumah pria itu ?." Rain mengangguk.


"Bukankah itu bagus ? jika kita sudah mengetahui dimana Agatha tinggal, kau jadi bisa lebih sering datang kesana. Kau juga bisa mengetahui bagaimana keadaan Adikmu bersama pria itu, bahagia atau tidak." Arkan tersenyum, mengelus kepala Rain.


"Kau pintar, aku akan mencari tahu dimana tempat tinggal mereka."


...


"Mau makan apa ?." Tanya Jeremy.


"Aku mau pangsit rebus." Jawab Agatha, pria itu segera meminta koki memasak pangsit yang enak.


"Hmphhh." Jeremy melihat Agatha mual.


"Hei, kenapa ?." Jeremy berlutut dihadapan istrinya.


"Entah, aku tiba-tiba merasa pusing dan mual." Agatha segera menutup mulutnya karena hampir muntah lagi.


"Mual ? apa jangan-jangan kau hamil ?." Tatapan polos Jeremy membuat Agatha mencubit perutnya.


"Kau gila ! bagaimana bisa aku hamil ? kita baru saja melakukan..."


"Melakukan apa ?." Pria itu tersenyum.


"Jeremy, kau selalu menggodaku." Agatha memalingkan wajahnya karena malas.


"Melakukan apa ? permainan ranja..."

__ADS_1


"Sssttttt ! kalau masih berani bicara aku akan melakban mulutmu." Agatha meletakkan tangannya dimulut Jeremy agar pria itu berhenti bicara.


Tok..tok


"Tuan maaf menganggu, ada tamu yang datang." Ucap Pelayan.


"Jangan turun ! aku tahu dia pasti Marry." Agatha memegang tangan Jeremy.


"Kalau iya kenapa ? kau cemburu sehingga melarangku ?." Wanita itu dengan cepat melepas tangan suaminya dan berbalik badan.


"Biar aku yang temui." Agatha langsung menuju lift untuk menemui siapa tamu tersebut.


"Dasar anak kecil." Jeremy menggelengkan kepala dan tertawa.


Dibawah, Agatha melihat seorang wanita membelakangi tubuhnya, rambut yang panjang terurai membuat hatinya berdebar.


'Dia bukan Marry, lalu siapa ?.' Sempat berpikir bahwa Jeremy terlalu gatal sampai ada wanita lain yang datang kemari.


"Siapa kamu ?." Saat menoleh, Agatha terkejut.


"Rain ??!!."


"Agatha, bagaimana kabarmu ?." Rain memeluk Agatha.


"Kabarku baik, bagaimana kau bisa datang kemari ?." Agatha bertanya-tanya.


"Dia datang bersamaku." Arkan bangun dari duduknya dan melihat wajah Agatha.


".."


"Aku tahu kau mungkin masih marah, tapi sikap dinginmu tak menutupi kenyataan kalau kita adalah saudara. Aku benar-benar tidak bisa berhenti memikirkanmu walau hanya sedetik, kepergian mu membuat aku banyak sekali menyimpan kerinduan. Hari ini aku datang untuk melepasnya. Kau apa kabar ?." Ucap Arkan mendekati Agatha.


"Aku baik, seperti yang kau lihat." Jawabnya dingin.


"Pukul aku, kalau kau marah cepat pukul aku." Arkan memegang tangan Adiknya namun Agatha segera menarik kembali tangan itu.


"Kenapa datang ? bukankah jauh lebih baik kalau kita tidak bertemu lagi ? ya anggap saja kita bukan saudara. Lagi pula mana mungkin ada seorang Kakak yang tega membiarkan Adiknya sengsara." Kata Agatha.


"Kau benar-benar membuatku semakin merasa bersalah, aku minta maaf. Aku sangat tidak menyangka kalau akhirnya akan seperti ini." Arkan terus bicara, sementara Jeremy hanya memperhatikan pertemuan mereka dari kejauhan.


"Percuma merasa bersalah sekarang, tidak ada yang berubah. Sama seperti aku yang akan tetap membencimu." Perkataan Agatha semakin membuat Arkan putus asa.


"Aku harus menebusnya dengan apa ? dengan nyawaku ?." Agatha terdiam.


"Apa kau baru memaafkanku jika aku mati ?!." Arkan menatap mata Agatha.


"Agatha, pikirkan baik-baik. Arkan hanya ingin melihatmu hidup dengan nyaman." Ucap Rain.


"Tutup mulutmu, apa kau tau arti kenyamanan ? jika dia menginginkannya, lalu kenapa melarangku hidup bersama Greg ??!! kenapa ?! apa salah Greg padanya ?!!! sampai dia membencinya begitu dalam." Agatha meneriaki wajah Rain.


"Karena Greg telah melakukan banyak kesalahan, dia membiarkanmu terus terluka." Jawab Arkan.


"Berhenti menyalahkan Greg, aku terluka bukan karenanya." Agatha menunjuk wajah Arkan.


"Greg tidak bisa melindungimu, aku mati-matian memasang badan hanya agar tak ada goresan sedikitpun ditubuh..." Belum selesai bicara, ia justru menyaksikan Agatha jatuh.


"Agatha !." Jeremy bergumam dan segera berlari menghampiri mereka.


"Agatha ? kau kenapa ?." Arkan segera menggendong wanita itu dan dibantu Jeremy untuk masuk kedalam kamar utama, karena itulah yang terdekat.


"Apa dia sakit ?." Arkan segera menghubungi dokter.


"Dia sempat pusing dan mual beberapa waktu lalu." Jeremy menyelimuti Agatha dan mengusap kepalanya.


Tak lama dokter pun tiba, ia langsung memeriksa kondisi Agatha.


"Bagaimana dok ? apa dia baik-baik saja ?." Kata Arkan.


"Tidak perlu khawatir Tuan, keadaan pasien baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan telat makan." Dokter tersebut segera menyediakan resep vitamin untuk kesehatan Agatha dan pamit pergi.


"Kau tidak memberinya makan ?!!." Arkan menarik kerah Jeremy.


"Hei apanya tidak memberi ! dia baru saja meminta pangsit tapi kau datang." Balas Jeremy.


"Kenapa tidak menyuruhnya makan sebelum aku datang ! dari tadi kemana saja ! tidak becus." Arkan kesal.


"Kami bermain." Jeremy membuat Arkan semakin kesal.


"Bermain apa ?!! jangan macam-macam pada Adikku ! satu kali saja kau menyentuhnya aku akan memberi perhitungan yang setimpal." Jeremy tertawa kecil.


"Kau ini bagaimana ? aku dan Adikmu sekarang adalah suami istri, sudah selayaknya melakukan permainan itu." Arkan kembali menarik kerah Jeremy.


"Kau pasti memaksanya kan ?! dasar bedebah ! aku akan membawa Agatha pulang malam ini." Jeremy tersenyum mendengar ucapan Arkan.


"Hei, kau harus cepat meminta pernikahan padanya." Kata Jeremy menatap Rain.


"Akan ada banyak waktu untuk memintanya." Rain tersenyum.


"Jeremy." Agatha membuka mata dan langsung mencari Jeremy.


"Aku disini. Jangan khawatir, kata dokter kau baik-baik saja." Jeremy merapihkan rambut istrinya, lalu Agatha memeluk Jeremy untuk bersandar.


"Apa aku hamil ?."

__ADS_1


"B-bagaimana bisa ?." Arkan menatap keduanya tak percaya.


__ADS_2