Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
kapal


__ADS_3

"Kenapa kamu pergi meninggalkan rumah?." Tanya Adi.


"A-aku..." Sheira menjadi gugup saat hendak menjawab suaminya.


"Kau takut padaku? hah? atau kau senang ya tinggal di jalanan? harusnya kau menurut saja, kalau kau mengerti, aku tidak akan menyakitimu." Adi mendekati Sheira dan memeluknya.


"M-maafkan aku, tapi kenapa kamu menyuruh preman-preman itu menyakitiku?." Kata Sheira.


"Ya karena kau meninggalkan rumah, aku tidak suka itu, apa uang yang aku berikan padamu kurang sehingga kau lari? kau ingin pria seperti apa sayang?." Tanya Adi.


"Adi, bisakah kamu lembut sedikit saja? tubuhku tidak akan sembuh kalau kau terus mencambuk nya, apa kau tidak mencintaiku?." Kata Sheira.


"Lembut? lembut seperti apa yang kamu inginkan? sudahlah Sheira, hidup itu harus dinikmati, kau terima saja apa yang kau dapat." Ucap Adi, ia membelai kepala Sheira pelan, lalu mencium keningnya.


...


satu minggu kemudian,


"Sayang, aku mau mengajak kamu ke sesuatu tempat." Ucap Satria.


"Suatu tempat? kemana Mas?." Adinda menatap pria dihadapan nya dengan wajah bertanya-tanya.


"Siapkan saja bajumu, jangan terlalu banyak, nanti kau tahu kemana kita akan pergi." Jawab Satria berlalu pergi meninggalkan Adinda dikamar.


"Sayang, Ayah dan Bunda akan pergi dalam beberapa hari, kamu disini baik-baik ya sama Nenek, jangan nakal." Ucap Satria.


"Iya Ayah, aku akan disini bersama Nenek, Nenek bilang kalau dia ingin membelikan ku topi dan jaket, aku sangat senang." Kata Arkan.


"Pintar! jangan lupa berterimakasih pada Nenek, nanti kalau Ayah sudah sampai kita video call ya sayang." Satria mengusap kepala bocah itu dan mencium keningnya.


"Mas, aku sudah." Kata Adinda.


"Bye Bunda!." Arkan melambaikan tangan sambil tersenyum tampan.


"Anak Bunda, maaf ya Bunda harus pergi mendadak, jangan nakal ya nak, kau harus mendengarkan kata Nenek, hanya sebentar kok, sepulang dari sana, Bunda dan Ayah akan membawakan hadiah untukmu." Kata Adinda.


"Iya Bunda, hati-hati ya jangan lupa hadiah untuk ku." Sahut Arkan.


"Cium dulu." Adinda mendekatkan pipinya, lalu Arkam mencium pipi sang Bunda, begitupun sebaliknya.


"Dah sayang!." Adinda pergi keluar rumah bersama Satria.


"Memang nya mau kemana sih Mas?." Tanya Adinda.


"Nanti kau akan tahu, sekarang ikut saja dengan Mas." Satria membawa koper itu dan memasukkan nya ke dalam mobil.


Mereka mengendarai mobil melewati jalan yang belum pernah Adinda lewati sebelumnya.

__ADS_1


karena perjalanan nya lumayan jauh, Adinda memilih untuk tidur sejenak.


setelah beberapa jam, Satria membangunkan Adinda perlahan-lahan.


"Sayang, kita sudah sampai." Bisik Satria.


"Hmm, sudah ya Mas?." Adinda membuka kedua matanya, hal pertama yang dia lihat adalah senyuman manis sang suami.


"Ayo turun." Ajak Satria, ia keluar dan membukakan pintu mobil Adinda.


"Laut?." Ucapnya.


"Aku sengaja mengajak kamu berlibur untuk melupakan masalah beberapa hari terakhir ini, sayang aku tahu kamu lelah, aku khawatir kamu terlalu pusing kalau terus menerus berdiam diri di satu titik, sekarang ikuti aku." Satria mengulurkan tangan nya, tanpa ragu-ragu Adinda pun meraih tangan itu.


"Jadi, apa kita akan menyewa tenda untuk menginap disini?." Kata Adinda.


"Ha-ha, jelas saja tidak." Mereka terus berjalan sampai tiba-tiba menaiki tangga.


"Kapal? j-jadi?." Adinda menatap pemandangan didepan nya dengan mata berbinar, lalu tersenyum gembira ke hadapan suaminya.


"Ya, ini semua untuk kamu." Sahut Satria, ia membelai rambut sang istri yang berterbangan karena tertiup angin.


"Bagaimana? mau masuk atau tidak?." Katanya lagi.


"Ah ya, aku mau masuk." Adinda senang.


"Bagus banget Mas! aku suka." Lagi-lagi wajah bahagia itu muncul.


"Aku senang kalau kamu suka, sekarang kita lihat kamarnya." Ia menggandeng tangan Adinda menuju kamar utama.



"Wah!!!! Kamar nya bagus!! apa lagi ada jendela yang bisa memandang air laut secara langsung!." Kata Adinda kegirangan.


"Senang-senang ya sayang, disini kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun, kalau ingin makan tinggal tekan tombol ini, pokonya apapun yang kamu butuhkan tekan tombol ini." Ucap Satria.


"Ini pertama kalinya aku berlibur di laut sama kamu, senang sekali rasanya." Jawab Adinda.


"Kamu istirahat disini, aku akan keluar menemui orang-orang ku agar kapal segera berjalan." Kata Satria di anggukkan oleh istrinya.


Adinda mengambil ponsel kemudian menghubungi Tania Anggara.


"Halo Ma, aku sudah sampai, dimana Arkan?." Tanya Adinda.


"Sebentar ya sayang, Mama berikan ponselnya ke Arkan dulu." Tania mengoper ponsel itu ke sang cucu sehingga Arkan mampu mengobrol dengan Bunda nya.


"Hai sayang, Bunda sama Ayah sudah sampai nih." Kata Adinda.

__ADS_1


"Oh ya? semoga Bunda dan Ayah bersenang-senang ya! hati-hati dan jangan lupa hadiah untuk ku." Arkan tertawa kecil saat menyebutkan tentang hadiah.


"Iya nak, Bunda tidak akan lupa, jangan lupakan makan ya! Bunda sayang kamu." Kata Adinda.


"Baik Bunda, aku juga sayang Bunda! dimana Ayah?." Ucap Arkan.


"Ayah disini." Satria menghampiri Adinda dan menampakkan wajah didepan kamera.


"Ayah! jangan lupa hadiah ku ya!." Sebutnya.


"Iya anak kecil, Ayah tidak mungkin lupa tentang itu, ingat ya, kamu tidak boleh nakal!." Kata Satria.


"Tidak kok, Arkan tidak nakal kan Nek?." Ucap Arkan menoleh ke arah Tania.


"Tidak dong, cucu Nenek tidak pernah nakal, ya sudah kamu makan dulu ya, biarkan Ayah dan Bunda istirahat di sana." Pinta Tania.


Setelah telepon ditutup, Satria mulai menyandarkan tubuhnya ke ranjang.


"Mas, apa kita akan menetap di kapal atau berhenti di suatu pulau?." Tanya Adinda.


"Berhenti, tapi tidak lama, kita akan mendatangi salah satu pulau di sebrang sana untuk membeli beberapa hadiah." Kata Satria.


"Baiklah, aku akan mengikuti Mas." Adinda bersandar ke sang suami dan mengambil foto selfi.


"Ayo Mas senyum!." Cekrek.


"Ha-ha, lucu fotonya, kita harus mengabadi....hoeeekkkk." Tiba-tiba Adinda mual.


"S-sayang?! kamu kenapa?!." Satria panik dan langsung memegang bahu Adinda.


"Aku mual Mas." Balas istrinya.


"Ya sudah, lebih baik kamu diam saja ya, bersandar disini, aku akan memanggil pelayan untuk menyiapkan sesuatu yang hangat untuk mu." Satria langsung menekan tombol itu dan mengambil selembar tisu untuk diusapkan ke wajah Adinda.


"Tuan, ini makanan dan minuman nya." Satria segera mengambil minuman yang hangat dan diberikan kepada sang istri, sementara pelayan itu langsung bergegas pergi.


Glek..glek


"Sudah lebih enakan." Kata Adinda.


"Syukurlah, sayang lain kali jangan buat Ayah khawatir lagi ya, kita kan sedang liburan, jangan buat Bunda mu ini mual-mual." Satria mengelus perut wanita didepan nya dengan penuh kasih dan sayang.


"Dia pasti mendengar perkataan mu." Jawab Adinda tersenyum, kemudian Satria mendekati wajah cantik istrinya, hendak mencium bibir itu.


"Hooeeekk." Sedikit lagi Satria menyatukan bibir mereka namun Adinda kembali mual, sontak Satria pun memundurkan wajahnya sambil mengerutkan alis.


"Sepertinya anak kedua kita akan lebih sulit dikendalikan dari pada Arkan." Kata Satria kesal.

__ADS_1


__ADS_2