
Agatha menyadari suara yang familiar, ia menoleh ke belakang dan melihat sosok Greg sedang berdiri disana.
"Greg !." Ia tersenyum, berdiri kemudian lari.
"Ternyata kau masih disini." Agatha memeluk Greg, erat sekali.
"Kenapa berada disini ?." Pria itu mengusap kepala Agatha.
"Kamu alasan kenapa aku disini." Agatha memegang wajah Greg kemudian memeluknya lagi.
"Agatha, aku sudah bilang lupakan semuanya. Kita memang tidak sepantasnya bersatu." Kata Greg.
"Kau terus saja berkata seperti itu, memang sebaiknya aku mati semalam. Kau sangat menyakitiku Greg, kau menghancurkan hidupku ! ini pertama kalinya aku jatuh cinta, tapi kenapa aku mencintai pria jahat seperti kamu !!!!." Agatha berteriak keras.
"Mati ?!! apa yang kau lakukan ?!." Greg memegang tangan Agatha, memeriksa semua kondisinya.
"Aku menenggelamkan diri didalam air, jika seseorang tidak berusaha menyelamatkan aku, kau tidak akan bisa melihatku lagi ! Kematianku akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupmu !." Agatha melepas tangan Greg, lalu berlari keluar bandara.
"Agatha ! Agatha berhenti !!!." Greg mengejar wanita itu.
"Agatha ! Kembali Agatha ! Berhenti !!!." Ia terus berteriak, detak jantungnya berdebar kuat dan menimbulkan rasa takut.
Punggung Agatha semakin jauh, bahkan sudah tak terlihat lagi.
Namun Greg terus mengejar.
Ditengah jalan besar, tiba-tiba sebuah truk datang dengan kencang sehingga mobil itu menabrak Agatha sampai terpental.
Duaaaaaaaaar !!!
"Yatuhan !!!!!!." Seluruh orang yang melihat kejadian itu langsung berlari ke tempat dimana Agatha tergeletak tak berdaya.
"AGATHA !!!!!!!!!." Greg menyebut nama wanita yang baru saja menangis dihadapannya.
"Agatha ! Agatha sayang, bangun.." Greg menangis, memangku Agatha penuh cinta.
"Tolong ! tolong panggilkan ambulan !!!! cepat !!!." Seseorang segera menghubungi ambulan agar datang kemari.
"Agatha jangan tinggalkan aku." Greg memeluk wanitanya, mencium keningnya, mengelus rambutnya, semua orang yang melihat itu ikut merasa sedih.
Darah mengalir di sekujur tubuhnya, bahkan dibagian mulut dan hidung juga tidak berhenti keluar.
"G-g-reg." Agatha terlihat kejang sebelum ia memejamkan mata.
"Agatha tolong bertahan ! jangan pergi ! kita bisa perbaiki semuanya dari awal." Greg tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
Setelah ambulan datang, Agatha segera dibawa masuk dan langsung menuju rumah sakit. Greg pun melewati penerbangannya akibat kecelakaan ini.
"Bapak ! ikut kami ke kantor." Beberapa polisi menangkap supir truk yang diduga mengantuk saat berkendara.
...
Jeremy yang sedang bekerja mendadak kepikiran tentang Agatha.
Ia coba menghubungi ponsel Agatha namun tidak aktif.
Ponsel cadangannya pun lenyap terlindas !
"Agatha ? kenapa tidak menjawab teleponku." Jeremy gelisah, ia bangun dari kursi lalu segera keluar kantor.
"Tuan, anda masih ada meeting dengan klien satu jam lagi." Ucap sekretaris perusahaan.
"Minta pada tangan kananku untuk menghadiri meeting itu !." Jeremy berlari memasuki mobil diparkiran.
"Jeremy ?." Marry yang baru saja datang kebingungan karena Jeremy pergi secara tiba-tiba.
Dirumah sakit, Agatha segera ditindak lanjut oleh Dokter.
"Mohon untuk mengisi data pasien terlebih dahulu." Salah satu suster mencegah Greg masuk kedalam ruangan.
"B-baik."
__ADS_1
Saat Jeremy sampai diapartemen, ia melihat selembar kertas diatas meja.
'Jeremy yang baik, aku pergi dulu ya. Hanya sebentar kok, nanti sore kita bertemu.' Begitu tulis Agatha.
Pria itu mengeluarkan ponsel dan langsung menghubungi seseorang.
"Zheng ! cepat cari keberadaan Agatha ! Berikan aku informasinya dalam waktu lima belas menit dari sekarang !." Zheng terkejut, ia mendengar suara amarah dan takut yang keluar dari mulut atasannya.
"Baik." Zheng mematikan ponsel kemudian melacak keberadaan Agatha dimulai dari kegiatan pertama yang dia lakukan.
...
"Kenapa Dokter itu lama sekali keluarnya !." Greg merasa cemas.
"Apa sebaiknya aku hubungi keluarga Agatha ? ah tidak, aku bisa menghubungi mereka nanti setelah tau bagaimana kondisi Agatha sesungguhnya." Ucap Greg.
Sudah tiga puluh menit menunggu, ia belum juga mendapatkan informasi apapun dari sang Dokter.
Hinga muncul seorang pria dihadapan Greg.
"Siapa kau ?." Kata Greg.
BUGHHHH ! Tinjuan keras melayang pada Greg.
"Dasar bajingan ! karenamu Agatha menjadi seperti ini !!!!." Ucap Jeremy marah besar.
"Jangan bicara sembarangan ! kau tidak tahu apapun !." Balas Greg.
"Pengecut ! untuk apa membuat wanita jatuh cinta kalau pada akhirnya kau tinggalkan dia begitu saja ?!!!!." Jeremy hendak meninju wajah Greg lagi namun Dokter keluar.
"Keluarga pasien." Ucap Dokter
"Saya." Mereka berdua menjawab secara bersamaan.
"Akibat dari benturan keras pada kecelakaan itu menyebabkan pembuluh darah dikepala pasien pecah." Keduanya syok ! tak menyangka akan menjadi seperti ini.
"Tidak hanya mengancam kerusakan otak, namun ini akan membahayakan nyawa pasien. Kita harus segera melakukan tindakan operasi sebelum semuanya terlambat." Jeremy mengangguk.
"Silahkan tanda tangani surat ini sebagai tanda persetujuan, kami akan berupaya semaksimal mungkin agar pasien mampu bertahan. Namun kita tak bisa berharap banyak, semua dapat teratasi apabila pasien meresponnya dengan kuat." Jeremy langsung menandatangani kertas itu kemudian mencari nomor Arkan melalui informasi perusahaan.
"Halo ?." Ucap Arkan.
"Aku Jeremy, tolong segera datang kerumah sakit ini. Agatha kecelakaan dan harus dioperasi." Ia mematikan ponsel lalu mengirim lokasi pada Arkan.
"Apa ?! Hei ?!!!." Arkan melepaskan ponsel dan menerima pesan.
Cepat-cepat ia datang ketempat lokasi yang dikirimkan Jeremy.
...
"Dimana Adikku ?!." Tanya Arkan gelisah.
"Didalam, sedang bersiap untuk menjalani operasi." Jawab Jeremy.
"K-kau ?!." Arkan menatap Greg dengan amat kesal, bahkan terlihat seperti air mendidih.
"Kenapa ada bajingan ini disini !!!!." Ucap Arkan.
"Dia penyebab kecelakaan Adikmu." Mendengar perkataan Jeremy, Arkan benar-benar kehilangan akalnya.
"Dasar brengsek !!!!!!!!!!." Ia menyeret Greg kemudian meninjunya tanpa henti, Greg hanya diam tanpa menunjukkan perlawanan.
"Kau selalu membuat Adikku terluka !!!!! pria macam apa kau ?!!!!!! sudah kubilang berulang kali jauhi Agatha ! bagaimana jika keluargaku tau tentang ini ? mereka akan sangat sedih dan tak berhenti menyalahi dirinya sendiri !!." Arkan terus memperingati Greg dengan berbagai emosi.
"Sudah, kau lihat wajahnya ? satu jam kedepan itu akan membengkak dan juga membiru." Kata Jeremy.
"Bagaimana aku menahan kemarahan ini ! Aku tidak siap kehilangan Adikku." Arkan mengacak rambutnya, dia juga menangis didepan Greg dan Jeremy.
"Aku tahu apa yang kau rasakan, tenanglah, Adikmu pasti bisa." Jeremy menepuk bahu Arkan.
Sementara itu Greg hanya merenung tanpa perduli wajahnya yang sudah dipenuhi lebam.
__ADS_1
'Aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu jadi seperti ini Agatha.'
Tring..tring
"Cepat datang, wanitamu marah dan mengacaukan seluruh isi perusahaan." Ucap Zheng.
Jeremy dengan cepat pergi menuju perusahaannya.
Arkan tak peduli pada pria itu, sekarang dia hanya memikirkan Adiknya saja.
Di kantor,
Marry berteriak histeris sehingga membuat semua karyawan diperusahaan itu ketakutan.
"Ada apa ini ?." Jeremy datang kemudian bertanya pada semua.
PLAKKKKK !
"Pengecut !." Ucap Marry.
"P-pengecut ? apanya ?." Tanya Jeremy terkejut.
"Untuk apa kau bermain gila dengan wanita lain ?!!! untuk apa ?!." Marry meneriaki calon suaminya itu.
"Marry, jangan buat aku malu dihadapan banyak orang. Kita bisa bicarakan ini baik-baik, tanpa kekerasan." Jeremy menyeret Marry untuk ikut kedalam ruangannya.
"Aku benar-benar tak menyangka kau akan melakukan hal ini." Kata Marry.
"Sejak kapan kau diizinkan mengacak seluruh perusahaanku ? kau ini siapa ?." Marry semakin nangis dibuatnya, ia menatap Jeremy dengan lesuh.
"Bahkan saat ini kau bertanya aku siapa ?." Kata Marry.
"Seharusnya kau tahu, aku tidak pernah menyukai siapapun yang datang untuk marah-marah dan merusak semua isi perusahaan. Termasuk kamu." Marry terdiam.
"Dimana kau menemukan wanita itu ? apa aku tidak lebih cantik darinya ?." Jeremy menghela nafas, ia berusaha memeluk Marry namun wanita itu terus menolak.
"Tidak ada yang lebih cantik darimu, aku hanya membantunya dan tidak memiliki perasaan apapun." Jawab Jeremy.
"Bohong ! semua orang tahu bahwa kau memiliki perasaan dengan wanita itu. Kau menolongnya, memeluknya, menyelamatkannya, bahkan rela menghabiskan waktumu untuknya." Ucap Marry.
"Kenapa diam ? kau tidak bisa menjawab kan ?! bahkan apartemen yang sudah lama mati kau berikan demi wanita tidak jelas itu Jeremy ! dimana hatimu ?." Marry berteriak amat keras.
"Dia berbeda, dia seperti ibuku." Mendengar itu Marry merasa sangat sakit.
"Ibumu sudah mati ! tidak perlu mengingatnya apalagi melalui wanita lain !." Jeremy menoleh.
"Tutup mulutmu ! kau tidak pantas berkata seperti itu !." Ia tak terima dengan perkataan Marry barusan.
"Dari caramu berbicara saja sudah jelas membuktikan betapa bedanya kamu dan Agatha !." Ucap Jeremy lagi.
"Agatha ? kau sampai menyebut namanya didepanku, hebat ! seharusnya kau cari tahu siapa dia, kenapa kau sembarangan memungut wanita ? kau tidak takut kalau dia seorang gembel jalanan yang akan merebut seluruh hartamu ?!." Kata Marry.
"Kuperingatkan sekali lagi padamu, jaga mulut itu."
"Aku tahu jelas siapa dia, sebelum kau memintaku untuk mencari tahunya, aku sudah lebih dulu tahu ! dan lagi dia tidak akan menghabiskan hartaku, melainkan kau yang akan menghabiskannya." Jeremy bergegas meninggalkan Marry.
Wanita itu mengejar Jeremy dan memeluknya erat-erat.
"Kita sebentar lagi akan menikah, bukankah kau sendiri yang bilang kalau hari itu tiba semua milikmu akan menjadi milikku juga ?! kenapa kau berkata seakan akan aku akan mengambil semua hakmu." Marry mengeluarkan jurusnya agar membuat Jeremy tak tega.
"Sekarang berentilah menangis, kalau kau tahu sebentar lagi kita akan menikah itu artinya aku tak akan pernah mencintai wanita lain ! kecuali kau yang membuat cinta kita habis." Ucap Jeremy.
"Aku minta usir wanita itu dari apartemenmu." Marry memohon.
"Dia sudah tak berada disana, kau tak perlu khawatir lagi." Jeremy memalingkan wajahnya untuk menghela nafas panjang.
"Aku akan meminta Zheng untuk terus memperhatikanmu." Kata Marry mengingatkan.
"Lakukan saja, Zheng akan tahu siapa tuannya. Aku ? atau kau." Jeremy merasa jengkel kemudian meninggalkan Marry.
"Awas kau Jeremy ! kita lihat saja, aku akan menghancurkan wanita itu. Dia salah besar jika ingin bermain denganku." Marry tersenyum kejam.
__ADS_1