
ditempat lain..
"apa kau tidak bosan melamun sepanjang hari?! bahkan kamu sendiri bisa melihat berapa banyak nya pekerjaanmu yang tertinggal akibat lamunan itu!." ucap Tari kepada Bryan
"diam, kau tidak tau bagaimana perasaanku." kata Bryan
"tapi Bryan hal yang kau lakukan ini sudah sangat merugikan! apa kau mau perusahaan yang sudah kamu bangun selama bertahun-tahun semakin memburuk?!!!." kata Tari lagi mengeraskan suaranya
"sudah aku katakan diam!!!! kau bisa bilang begitu karena kau tidak pernah merasakan cinta kan Tari?!." ucap Bryan membuat Tari mendadak diam
"kau juga tidak tahu bagaimana sakitnya jika orang yang kita cintai pergi meninggalkan kita selamanya, dan disaat aku bisa memulai kembali rasa cinta itu dengan orang yang berbeda justru orang itu tak mampu mencintaiku." kata Bryan mengacak rambutnya
"apa maksudmu?! apa selama ini lamunan bodoh mu itu menuju kepada istri Satria Anggara?! sadar Bryan! dia sudah memiliki suami, sampai matipun kau tidak akan bisa mendapatkan nya." kata Tari kesal, Bryan segera memukul meja dihadapan nya dan lekas berdiri
"aku akan buktikan padamu, kalau aku bisa mendapatkan cintaku!." ucap Bryan dengan mata meyakinkan dan bergegas pergi
"ya tuhan, kenapa semua ini harus terjadi padanya." gumam Tari membuang nafas panjang
Bryan kini bergegas menuju kediaman Anggara dengan penuh keyakinan bahwa dia mampu mendapatkan cintanya, ia sama sekali tak perduli terhadap resiko yang akan dia terima.
ting...nong, suara bel berbunyi.
lalu keluarlah Desi diikuti oleh Arkan untuk membuka pintu rumah itu.
"maaf tuan, anda sedang mencari siapa?." tanya Desi
"saya mencari Adinda." jawab Bryan, tiba tiba ia melihat Arkan yang lucu sedang melihat kearahnya, cepat-cepat Bryan berlutut dihadapan putra kecil Adinda
"hei, siapa namamu?." tanya Bryan, Arkan hanya diam karena dia belum pandai menghadapi orang yang tidak dia kenal
"apa kau anak dari Adinda? wajahmu mirip sekali dengan nya." gumam Bryan tertawa kecil melihat wajah Arkan yang memang sangat mirip dengan bunda nya
Desi segera membawa Arkan masuk dan meminta Bryan untuk menunggu sebentar karena dia akan memanggilkan nona Adinda.
"permisi nona, maaf kalau saya mengganggu, tetapi ada tamu yang ingin bertemu dengan anda." kata Desi
__ADS_1
"tamu? siapa dia Des?." tanya Adinda bingung
"entah nona, saya tidak tahu namanya." kata Desi
"baiklah aku akan segera menemuinya." balas Adinda yang bergegas turun ke lantai bawah, sementara Satria sedang berada di ruang kerjanya.
ketika Adinda menginjakkan kakinya di ruang tunggu, ia melihat Bryan sedang duduk menunggunya disana.
"Bryan?." sebut Adinda
"Adinda?." Bryan segera berdiri dan menarik Adinda keluar rumah
"hei lepas! kamu mau apa kesini?." tanya Adinda dengan mata sinis
"Dinda dengarkan aku kali ini saja." ucap Bryan
"apa ucapan mu terlalu penting sampai kau harus menarik ku ke teras rumah?." ucap Adinda
"sangat penting." balas Bryan
"aku cinta sama kamu Din." ujar Bryan membuat Adinda terkejut setengah mati
"apa?!!!!." sahut Adinda
"aku ingin bisa memilikimu, sangat ingin." ucap Bryan
"tidak Bryan, aku pikir kau sudah gila, lebih baik kau pergi." ucap Adinda seraya ingin masuk ke dalam tetapi Bryan menariknya dan menahan Adinda ke dinding
"Bryan lepaskan! jangan cari masalah dengan suamiku!." kata Adinda memperingati
"aku tidak perduli, jika aku harus dipukuli habis-habisan oleh suamimu, aku hanya ingin bisa memilikimu Adinda." kata Bryan
"lepas Bryan! sakit!." kata Adinda memberontak
"aku tidak akan melepaskan mu sebelum kamu ingin ikut denganku." kata Bryan
__ADS_1
"jangan seperti bocah! aku sudah menikah dan mempunyai anak! jangan gila Bryan lepaskan! mas Satr..." belum sempat berteriak tiba-tiba Bryan mencium paksa, Adinda yang sangat sulit bergerak berusaha melepaskan ciuman itu dengan gigitan nya, tepat sekali saat Adinda menggigit bibir Bryan, Satria pun datang, ia diberitahu oleh Desi jika seorang laki-laki berusaha menemui Adinda
"bajingan!!!! BUGHHH!!!." tinjuan-tinjuan melayang pada Bryan
"berani sekali kamu datang menginjakkan kaki disini dan menggoda istriku!!!!." kata Satria
"pria sepertimu sangat tidak pantas menjadi suami Adinda! kau pria yang tidak bisa menjaga istri! kau bodoh!." kata Bryan, hal itu sangat membuat Satria terpancing emosi dan mengeluarkan pistol nya, ia hendak menembak Bryan terang-terangan namun Adinda berlari lalu memeluk suaminya
"sayang aku mohon jangan lakukan itu." kata Adinda dengan mata terpejam, sebenarnya Adinda sangat takut jika suaminya benar-benar menembak Bryan
"apa kau membela bajingan ini?!!." kata Satria emosi
"aku sama sekali tidak membelanya, aku hanya tidak mau kamu menjadi pembunuh terhadap orang-orang yang coba menggodaku." kata Adinda, namun Satria sudah terlanjur murka melihat istri tercintanya dicium paksa oleh laki laki lain
"bagaimana ini, aku takut sekali jika mas benar-benar nekat!." kata Adinda dalam hati.
ia berniat untuk pura-pura pingsan, karena itu satu satunya cara yang mampu menghentikan segala hal perbuatan Satria.
"mas jangan kumohon.." kata Adinda
"cepat menyingkir! jangan ganggu aku!." kata Satria, lalu Adinda melepas pelukan nya dan menjatuhkan diri dibelakang Satria, Bryan yang melihat itu segera berteriak
"Adinda!!!!!!." teriak Bryan dengan wajah panik, lalu Satria menoleh kebelakang dan melihat istrinya pingsan, karena Satria pun ikut panik ia segera menjatuhkan pistolnya dan mengangkat sang istri, sementara itu Satria meminta para penjaga rumahnya untuk tidak memperbolehkan Bryan masuk, lebih tepatnya Satria ingin mereka semua mengusir Bryan.
di kamar,
"sayang?! Adinda bangun.." kata Satria, wajahnya jelas sangat khawatir, padahal dia tidak tahu kalau hal itu hanyalah tipuan untuk menghentikan perbuatan nya.
"maafkan aku." kata Satria menyesal karena tak mendengarkan kata-kata istrinya, lalu Adinda bangun dan berpura-pura lemas
"mas minta maaf ya, mas ga dengerin apa kata kamu." kata Satria memegang tangan istrinya, dalam hati Adinda ia merasa sangat lega karena hal yang dia lakukan berhasil
"tapi mas janji ya sama aku, jangan pernah lakukan itu lagi." sahut Adinda di anggukkan oleh suaminya, lalu Satria membantu Adinda untuk duduk dan memeluknya
"mas cuma tidak mau ada laki-laki yang kurang ajar sama kamu, apalagi tadi laki-laki itu mencium kamu secara paksa, mas ga suka! mas ga mau istri mas dibagi-bagi!." kata Satria kesal namun Adinda hanya bisa mengelus lembut dadanya agar Satria sedikit lebih tenang
__ADS_1