
ketika Satria berhasil membawa Adinda keluar dari hutan itu, ia segera memasuki mobil dan menanyakan hal yg baru saja terjadi ke Adinda
"sayang? mengapa bisa kau kemari sendirian? apa kau tidak takut masuk ke dalam hutan sepi tanpa dampingan siapa pun?." kata Satria
"ma-maaf, tapi aku rasa ada yg tidak beres dari sikap nya, entah lah padahal itu bukan urusan ku tapi aku ingin sekali mengikuti nya." balas Adinda
"kau tau kan itu bahaya? lain kali aku tidak akan pernah membiarkan mu pergi sendirian ke luar." kata Satria
"oh ya, tadi aku melihat sebuah rumah ditengah tengah hutan itu, aku hampir saja bisa mengetahui apa yg sedang Reno lakukan tapi dia melihat ku lebih dulu." ucap Adinda
"rumah? ditengah tengah hutan???." tanya Satria seraya berfikir
"iya Satria, aku melihat nya, aku ingin sekali mengetahui apa yg ada di dalam rumah itu, sikap Reno terlihat sangat mencurigakan ketika berjalan memasuki hutan tersebut, bagaimana jika ada yg dia sembunyikan???." kata Adinda
"oh ya ampun sayang, itu bukan urusan kita, saat ini kita harus fokus mencari keberadaan mama ku, karena itu jauh lebih penting dari apa yang tadi kau lihat." balas Satria
"hu, baik lah kalau begitu kita pulang sekarang." ucap istri nya
"jangan di ulangi ya, aku sangat takut jika terjadi sesuatu pada diri mu." kata Satria seraya mengelus kepala sang istri
Adinda hanya mengangguk kemudian memakai sabuk pengaman nya
saat sudah sampai di rumah Adinda masuk ke dalam dan mengecek keadaan Arkan
__ADS_1
"Des, Arkan dimana??." tanya Adinda
"Arkan sedang bersama tuan besar nona, beliau tadi yg meminta Arkan kepada saya." jawab Desi
"oh begitu ya sudah." Adinda pun berjalan menuju tempat papa mertua nya menggendong Arkan
"pah?." kata Adinda
"eh kamu nak, sudah pulang?." tanya Tio
"sudah pa, papa sudah makan?." tanya Adinda
"papa nanti saja gampang, papa ingin bermain sebentar dengan cucu papa yg tampan ini." kata Tio
"bagaimana kalau kita makan sama sama dulu, habis itu papa main lagi sama Arkan?." ucap Adinda
"sini Arkan nya aku bawa dulu ke Desi." kata Adinda mengambil alih Arkan dari papa mertua nya
"Arkan sama mba Desi dulu ya nak, nanti main lagi sama kakek." ucap Tio menyerahkan Arkan
Adinda beranjak pergi menemui Desi di belakang
"Des, tolong pegang dulu ya sebentar, aku mau makan dulu sama papa sama Satria." ucap Adinda
__ADS_1
"iya nona."
saat di ruang makan Adinda memanggil Satria untuk ikut makan bersama
"Sat, makan dulu yuk bareng papa." kata Adinda
"aku ingin ke kantor sayang, sudah lama aku tidak ke sana." ucap Satria
"lho Sat, temenin aku sama papa makan dulu, habis itu baru kamu ke kantor." kata Adinda
"aku bisa makan di sana sayang." balas Satria
"ayo lah Sat, temani papa dulu, dia sudah menunggu di meja makan, jangan buat dia semakin sedih." kata Adinda
"ya baik lah kalau begitu ayo." Satria merangkul istrinya menuju meja makan
"papa senang sekali bisa melihat kalian saling menyayangi." ucap Tio tersenyum
"aku selalu menyayangi istriku pa." jawab Satria yg kemudian duduk
"bagus, jangan sakiti istri mu, karena jika itu terjadi maka kau akan menyesal seumur hidup." ucap Tio dibalas senyuman oleh Adinda
"aku tidak akan pernah menyakiti istri ku lagi, waktu itu pun aku sangat menyesal." kata Satria
__ADS_1
"oh, rupa nya kau pernah menyakiti ku ya?." tanya Adinda
"tidak sayang, lupakan, kita makan sekarang." balas Satria