Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
jatuh ke jurang


__ADS_3

"ada apa? kenapa kau datang kemari?." tanya Satria mencemaskan istrinya


"aku ingin sekali mangga muda, bisakah kau membeli nya untuk ku?." mata Adinda penuh harap, kemudian dengan mantap Satria menganggukkan kepala


"aku akan membelikan nya untuk mu, berapapun yang kau mau." ucap Satria kemudian ia mengelus perut Adinda dengan sangat lembut


"kalau begitu aku akan pulang sekarang." Adinda mengambil tas nya dan beranjak untuk pergi, namun tangan Satria menahan pinggang ramping itu.


"ingin kemana? kenapa buru-buru sekali? tidak kah kau ingin pulang bersamaku?." Satria mengerutkan alis seraya menatap istrinya


"hmm, baiklah aku akan pulang bersama mu." Adinda kembali duduk menemani suaminya.


sore hari, Satria dan Adinda keluar dari dalam ruangan sambil berpegangan tangan, semua mata karyawan tertuju pada pemandangan itu, mereka tak henti-henti tersenyum melihat keromantisan sepasang suami istri ini.


"ingin pulang nona?." tanya karyawan ramah


"iya, aku akan segera pulang, kalian juga jangan lupa siapkan barang-barang lalu kembali ke rumah, keluarga kalian pasti sedang menunggu." balas Adinda ramah, karyawan itu mengangguk dan langsung membereskan barang nya


diperjalanan, Satria membelikan Adinda beberapa mangga muda yang dia inginkan.


Adinda segera mengambil mangga itu dari kantung plastik dan menjilat bibirnya sendiri.


"sayang, apakah kau sangat menginginkan buah ini?." tanya Satria melirik istrinya yang sedang ngidam mangga muda


"iya Mas, bisakah kau lebih cepat? aku tidak sabar untuk memakan nya." Satria mempercepat laju mobil tersebut dan tibalah mereka di apartemen


"bunda.." Arkan berlari memeluk bunda nya


"halo sayang, sudah mandi ya? harum sekali." kata Adinda


"aku sudah mandi, bunda dari mana? apakah bunda habis menjemput ayah?." tanya Arkan polos kemudian Satria menjawab lembut.


"bunda keluar membeli buah ini untuk dede bayi." Satria menunjukan sekantung mangga


"apa adik bisa memakan nya ayah? dimana mulutnya? aku mau lihat mulutnya." ucap Arkan, Adinda tertawa geli melihat pertanyaan anak nya, lalu Satria menunjuk bibir istrinya


"disini mulutnya." sahut Satria membuat Arkan bingung, tak lama setelah Satria berganti pakaian ia langsung mengupas buah mangga tersebut.


Adinda yang semakin tak sabar langsung melahap nya tanpa menunggu Satria selesai memotong.


"pelan-pelan, nanti kau tersedak." gumam Satria


"Mas, makasih ya sudah membelikan buah ini untuk ku, sudah jangan banyak-banyak memotong nya, aku tidak mau lagi." kata Adinda, ia mengambil segelas air dan meminum nya


"ya sudah, kalau kau tidak mau makan lagi, aku akan menyimpan nya di kulkas." Satria meletakkan buah itu di dalam lemari es, lalu menggendong Adinda dengan mesra menuju kamar mereka.

__ADS_1


"kau semakin berat ya." gumam Satria membuat Adinda melotot


"Mas! jangan ngada-ngada, aku ini sudah jarang makan." ucap Adinda, Satria tertawa kecil mendengar istrinya marah


"tapi kau kan sedang hamil, jadi wajar saja semakin berat." Satria menurunkan Adinda tepat di atas ranjang dan menyetel televisi


di tempat lain,


"Jack, aku akan terbang ke Negara C untuk mengubah wajahku." gumam Emily


"jadi kau akan benar-benar melakukan nya? kau akan membuat wajahmu mirip seperti Adinda?." tanya Jack


"tidak ada pilihan lain, selain memusnahkan Adinda lalu memalsukan wajahku agar mirip dengan wanita itu." ucap Emily, ia yakin kalau dirinya telah berhasil meniru wajah Adinda, pasti dia akan mendapatkan banyak keuntungan, ia akan menguasai seluruh harta keluarga Anggara.


"kapan kau akan berangkat?." tanya Jack, lalu Emily menjawab "malam ini juga, aku telah menyiapkan semuanya, tolong jalankan rencana yang sudah kita susun bersama, aku yakin kau bisa melakukan itu." gumam Emily, sejenak Jack berpikir sebelum akhirnya membiarkan Emily pergi


dua hari berlalu, Satria sedang berada di kantor karena harus bertemu dengan klien penting, ia juga sangat marah karena Emily tiba-tiba menghilang, ia tak tahu kemana wanita itu pergi, hampir semua pekerjaan nya berantakan karena Emily tak becus bekerja.


sementara itu, di sisi lain Adinda sedang mengajak Arkan bermain di taman yang tak jauh dari apartemen nya.


"sayang, jangan berlari, nanti kau bisa jatuh." ucap Adinda, Desi pun segera mengejar Arkan yang sedang bersenang-senang itu, kemudian belum lama Adinda berbicara, Arkan pun terjatuh.


"Arkan?!." Adinda menyusul dengan cemas lalu menggendong putra nya, ia melihat kaki Arkan yang terluka, ada darah mengalir di sana.


saat sedang menyebrang jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna hitam yang berhenti tepat dihadapan Adinda, seseorang keluar dari dalam mobil dan berusaha menarik Adinda untuk masuk, namun Adinda terkejut dan langsung menendang nya.


"bajingan kau!." ucap Adinda, ia berlari ke lain arah untuk menghindar dari pria itu, namun pria itu sangat kuat sehingga bisa menangkap tubuh mungilnya.


"lepaskan aku! siapa kamu! hah!." Adinda terus berteriak tetapi tak ada satu pun orang yang mendengar nya


Adinda menggigit tangan pria itu dengan kencang lalu kembali berlari, tiba-tiba seorang pria lain datang dan langsung memukul punggung Adinda memakai kayu, lalu wanita itu pun jatuh dan pingsan.


"bawa dia ke mobil! cepat! jangan khawatir, aku akan mengurus semua cctv dijalan ini, tak akan ada satupun orang yang lihat." ucap pria itu


di dalam mobil, pria itu menelepon seseorang.


"aku berhasil membawanya." kata pria tersebut


"bagus Jack! aku sudah di bandara, dan akan langsung mendatangi rumah itu." kata Emily, wajahnya menampakkan suatu kesenangan, namun tetap saja ada kebencian di matanya.


"setelah ini, tidak akan ada alasan lagi untuk Satria menolak ku." Emily tersenyum melihat wajah nya yang sangat cantik


"kita buang kemana dia?." ucap teman Jack


"ke sungai, dia akan mati terbawa arus seiring berjalan nya waktu." Jack tersenyum sinis, ia menoleh ke wajah Adinda.

__ADS_1


"ini akibat nya, penyebab kematian Anderson memang tak bisa termaafkan! kalian pantas mati!." gumam Jack


"apa dia benar-benar mempunyai kesalahan besar? sehingga kau sangat sekejam ini Jack? kau tidak melihat betapa cantiknya dia bahkan disaat sedang tertidur?." kata teman nya


"aku tak perduli seberapa cantik nya dia! aku hanya ingin membalaskan dendam Anderson! kenapa? kau suka dengan wajahnya? kalau iya ambil lah, terserah apa saja yang ingin kau lakukan, tapi ingat? setelah kau puas, buang wanita itu ke sungai!." ucap Jack, teman nya tersenyum senang, ia meminta Jack membawa Adinda ke dalam markas yang letak nya ditengah-tengah hutan.


teman nya itu membaringkan tubuh Adinda di atas ranjang, kemudian membelai rambut indahnya.


"kau sangat cantik, aku tak mungkin melewatkan kesempatan emas seperti ini, hahaha." pria itu tertawa, lalu menyentuh kaki Adinda, ia terus mengelus tubuh itu dari bawah sampai atas.


tubuh nya sangat mulus dan putih, tentu saja hal itu membuat pria dihadapan nya bertingkah penuh nafsu.


ketika ia mulai membuka kancing itu satu persatu, Adinda tersadar dan langsung menendang teman Jack sekuat tenaga.


"jangan sentuh aku!." kata Adinda, kepalanya terasa berat namun dia tetap berjuang untuk menyelamatkan diri.


"diam! kau tak bisa kemana-mana sekarang!." ucap teman Jack, lalu Adinda mengambil sebuah asbak dan melemparkan nya ke pria itu, tepat sekali asbak tersebut mengenai kening teman Jack.


Adinda menggunakan kesempatan ini untuk berlari keluar rumah, namun betapa kaget nya dia saat melihat sekeliling nya hanya ada hutan, ia tak perduli kemana kaki itu berlari, yang terpenting adalah selamat dari kejaran bajingan itu.


"hei! tunggu!." teman Jack mengejar Adinda dengan susah payah, ia menangkap Adinda ke dalam pelukan nya dan mencium bibir itu.


Adinda menangis sambil berontak, ia menendang pria dihadapan nya lagi dan lagi, lalu teman Jack kembali menangkap Adinda dan menarik bajunya hingga sobek.


Adinda sangat malu, ia menutup bahu yang terlihat sempurna itu agar tidak membuat pria gila ini semakin bertambah nafsu.


"pergi kau bajingan!." Adinda berlari terus menerus sampai tiba dimana ia berhenti.


wajahnya panik, ia kebingungan harus kemana dirinya saat ini, di hadapan nya sekarang adalah jurang, sepertinya ada air sungai mengalir dibawah jurang itu. ketika ia hendak berbalik, tiba-tiba teman Jack muncul dan menghalang nya.


"mau kemana kau gadis cantik?." ucap teman Jack melangkahkan kakinya mendekati Adinda.


"jangan, jangan mendekat." Adinda bergumam, air matanya mengalir deras di wajah yang cantik itu, ia memohon kepada tuhan agar dirinya selamat.


tapi, saat pria itu ingin menangkap Adinda, tiba-tiba saja Adinda jatuh terpeleset lalu masuk ke dalam jurang itu.


"aaaaahhhh!!!." teriak Adinda sebelum akhirnya suasana menjadi hening, teman Jack sempat mengintip ke arah jurang tersebut, ia tak melihat keberadaan Adinda sama sekali, jadi ia pikir wanita itu sudah mati di dalam sana.


"huh, belum apa-apa kau sudah mati." gumam teman Jack, ia kembali menuju rumah ditengah hutan itu sambil memberitahukan apa yang terjadi, Jack hanya tersenyum puas karena Adinda mati sendiri tanpa harus mengotori tangan nya.


di perusahaan, foto Adinda tiba-tiba terjatuh, perasaan Satria menjadi khawatir, kemudian ia menelepon Desi dan Desi menjawab kalau Adinda sedang pulang ke apartemen untuk mengambil betadine, namun ia juga berkata bahwa sudah terlalu lama menunggu Adinda.


"cepat ke apartemen sekarang! lihat keberadaan istriku." pinta Adinda, Desi setuju kemudian menggendong Arkan kembali ke apartemen


"Tuan, Nona Adinda tidak ada!." ucap Desi, Satria langsung menutup telepon dan bergegas pulang.

__ADS_1


__ADS_2