Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Tercekik


__ADS_3

"F-farel ? k-kau disini ?." Ucap Adinda gugup.


"Iya Nona, saya disini, tadi saat makan siang saya tidak sengaja melihat kecelakaan di jalan, dan tidak ada kendaraan yang ingin berhenti untuk menolongnya, lalu saya membantu membawanya kemari." Jelas Farel.


"Begitu ya, lalu bagaimana keadaan orang itu ? apa dia baik-baik saja ?." Farel mengangguk, kemudian bertanya lagi.


"Nona kenapa disini ? apa Nona Adinda sakit ?." Tanya pria tersebut.


"Aku baik-baik saja, hanya anakku sempat sakit perut karena telat makan." Jawab Adinda.


"Ya ampun, lalu apa putra anda sudah membaik ? wajah anda terlihat pucat, saya pikir anda juga sedang kurang baik." Farel mengajak Adinda duduk sebentar sebelum melanjutkan jalan nya ke ruang Dokter.


"Aku hanya sedikit khawatir dengan Arkan, anak itu benar-benar tidak mengerti padaku hari ini, tidak tahu bagaimana caranya agar dia menurut." Adinda menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu memejamkan mata sebentar.


"Ada apa ? apa sesuatu terjadi sampai Arkan tidak menurut pada anda ?." Mendengar pertanyaan Farel, Adinda segera menjelaskan keinginan putranya untuk menginap dirumah Monic.


"Seperti itu ceritanya." Kata Adinda.


"Bolehkah saya menemui Arkan, Nona ?." Tanya Farel.


"Boleh, sebelum itu aku ingin bertemu Dokter lebih dulu, tunggu ya." Adinda masuk ke dalam ruangan Dokter dan kembali setelah beberapa menit.


"Ayo." Mereka berdua pergi menuju ruangan Arkan, dan masuk bersamaan.


"Farel ? kau disini ?." Ucap Selin, pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Maaf Nona, saya akan coba membujuk Arkan dengan baik." Farel mendekati Arkan kemudian mengajaknya bicara.


"Halo anak kecil, kenapa kau ada disini ?." Ucap Farel.


"Tuan Farel, kapan kau datang ?." Arkan kembali bertanya.


"Tidak penting kapan aku datang, sekarang apakah kau ingin mendengarkan aku sebentar ?." Kata Farel.


"Ya."


"Kenapa hari ini Arkan membantah Bunda ? bukan kah Ayahmu sudah mengajarkan kalau anak kecil harus patuh pada orang tuanya, kau tahu ? Bunda sangat sedih karena kau tidak bisa memahaminya, ini semua demi dirimu." Farel mencoba menasihati.


"Tuan, apa aku tidak boleh menginap satu hari saja ?! aku tidak membuat kesalahan, tapi Bunda yang membuat aku seperti ini." Arkan terdengar marah.


"Sebelum Ayahmu pergi, dia memintaku untuk menjagamu dan Bunda, jadi kau harus mendengarkan ucapan ku, kalau tidak, aku akan memberitahu Ayah tentang apa yang kau lakukan." Farel memegang jari-jari kecil putra bosnya.


"Kalian sama saja !." Bocah itu lagi-lagi menarik selimutnya dan menutupi wajah.


"Bagaimana ini Farel ? dia sama sekali tidak mau mendengarkan kita." Adinda merasa cemas.


"Nona jangan khawatir, aku masih punya cara lain agar dia menurut." Ia tersenyum penuh percaya diri.


"Enak sekali jadi dirimu, suami tidak ada, asisten pun jadi." Monic tertawa meledek.


"Monic ! kau ini bicara apa, dia sudah mempunyai calon istri, hati-hati dengan ucapan mu." Sahut Selin memelototi wanita disebelahnya.


"Tidak begitu Monic, Farel hanya menjalankan tugasnya dengan baik." Kata Adinda.


"Aku hanya bercanda, maaf." Monic segera diam.


"Arkan, kalau kau menurut pada Bunda mu hari ini, aku berjanji kalau kita akan pergi besok ! kau boleh beli apapun yang kau inginkan." Ujar Farel yang terus berusaha.


"Memangnya Tuan Farel punya banyak uang ?." Arkan segera bangun dan memandangi wajah Farel, semua orang didalam ruangan itu tertawa melihat wajah polos Arkan.

__ADS_1


"Jangan salah, uang Tuan Farel itu banyak loh, memangnya cuma Ayahmu saja yang punya banyak uang." Sahut Selin.


"Kalau begitu boleh meminta apapun yang aku inginkan, benar ?." Mata anak itu berbinar.


"Benar, apapun itu." Arkan mengangguk setuju, kemudian menoleh ke arah Bundanya.


"Oke, aku tidak akan pergi menginap, tapi kalau bohong lihat saja !." Ucap Arkan.


"Dokter bilang, kau sudah boleh pulang, ayo bersiap." Adinda membantu putranya bersiap untuk pergi, begitu juga dengan Farel yang langsung tersenyum melihat anak bosnya kembali patuh.


"Setelah itu jangan pernah telat makan lagi ya." Kata Monic mengusap kepala Arkan.


"Oke Tante ! lain kali kau juga harus membawaku pulang kerumah mu." Ucap bocah kecil itu.


"Iya sayang, Tante berjanji padamu." Ia mengulurkan jari kelingkingnya, kemudian Arkan segera mengaitkan jari yang sama.


"Ayo pulang." Mereka semua keluar dari dalam ruangan tersebut, lalu berjalan menuju parkiran, sementara Arkan berada dalam gendongan Farel.


"Dimana mobil anda Nona ?." Tanya nya.


"Mobilnya ada di sana." Adinda menunjuk dengan sopan, setelah tiba didekat mobil Arkan menolak masuk.


"Bunda ! kita pulang bersama Tuan Farel saja ya." Pinta sang anak.


"Lho sayang, kasihan dong Tante Selin sendirian, kita naik mobil ini saja ya, yu masuk." Adinda mengulurkan tangan untuk mengambil alih putranya.


"Tidak, aku ingin naik mobil Tuan Farel." Ucap Arkan.


"Kita akan naik mobil Tuan Farel lain kali, lagi pula bukan kah Tuan Farel sudah berjanji padamu untuk pergi ? ayo sekarang masuk kedalam mobil dan kita pulang." Kata Adinda.


"Bunda kenapa sih tidak pernah memberiku izin tentang apa yang selalu aku inginkan ? Bunda tidak sayang padaku lagi ?." Ucapan Arkan sontak membuat Adinda sedikit terkejut.


"Apa yang kau bicarakan ? Bunda hanya ingin kau menurut, itu saja kok. Kau tahu tidak kalau Bunda ini cukup lelah, Bunda mengkhawatirkan mu, bahkan Bunda juga mengkhawatirkan Ayahmu !." Selin dan Farel menyaksikan orang yang terlihat begitu kuat seketika sangat rapuh dan kacau.


"Apa yang kau katakan Kak ? Arkan akan pulang bersama kita, kali ini kau tidak boleh membiarkan anak itu mendapatkan apa yang dia mau, dia harus mengerti atas apa yang aku katakan, bukan sebaliknya." Ucap Adinda marah.


"Adinda, kau harus tenang. Biarkan Arkan mendapatkan apa yang dia inginkan sekarang, jika hatimu sudah tenang, maka kau bisa bicara lagi dengan anakmu." Kata Monic.


"Anda tidak terlihat begitu baik Nona, saya akan mengantar anda pulang." Farel memasukkan Arkan ke dalam mobil, kemudian membantu Adinda masuk juga kedalamnya.


"Hati-hati ya Farel, jaga Adinda dengan baik." Kata Selin, kini mereka hanya tinggal berdua saja.


"Kenapa melihatku seperti itu ?." Tanya Monic sinis.


"Hei, jangan terlalu percaya diri, aku ini punya mata ! dan aku berhak untuk melihat siapapun, kau mengerti." Kata Selin kesal.


"Oh ya bukan nya kau memiliki seorang anak ? kemana dia ?." Tanya Monic.


"Dia ada dirumah, kalau kau mau bertemu anakku jangan lupa bawakan hadiah." Selin tersenyum mengejek.


"Apa ? jangan-jangan kau tidak mampu ya memberikan anak sendiri hadiah, sampai sampai menyuruh orang yang memberikan nya." Jawab Monic tertawa geli.


"Tutup mulutmu, aku memang jarang memberikan hadiah, tapi tetap saja aku memberikan yang terbaik untuk kehidupan anakku." Selin memutar bola matanya.


"Kurasa semua orang ingin yang terbaik untuk anak, bukan hanya dirimu saja, sudah lah aku cukup malas bicara denganmu, kau itu tidak pandai diajak berbicara, sampai ketemu lagi ya !." Monic pergi meninggalkan Selin yang sedikit kesal.


"Dasar kau payah !." Selin pun masuk ke dalam mobil dan menuju pulang.


Didalam mobil Farel, ia melihat Adinda dan Arkan yang duduk berjauhan.

__ADS_1


"Nona, kalau anda lelah tidur saja, saya akan membangunkan anda ketika kita sampai dirumah nanti." Ucap Farel, sementara Adinda hanya mengangguk.


"Tuan Farel, kenapa kau tidak ikut bersama Ayahku ?." Tanya anak kecil dibelakangnya.


"Anak manis, jika aku ikut bersama Ayahmu, maka siapa yang akan menjaga perusahaan ? terlebih lagi, Ayahmu memintaku untuk menjaga kalian berdua selama dirinya tidak disini." Jawab Farel.


"Lalu, kenapa tidak Tuan saja yang pergi, bukan Ayah." Arkan memangku dagunya dengan telapak tangan.


"Sebenarnya bisa saja aku yang pergi, tapi kinerjaku tidak sesempurna Ayahmu, jika aku tidak berhasil memenangkan bisnis itu, maka perusahaan kita akan menjadi taruhan nya. Ah ya, maafkan aku, kau ini masih terlalu kecil untuk mengerti semua situasi kami." Farel tersenyum kecil.


"Apa itu artinya Ayahku lebih hebat darimu Tuan ?." Lagi-lagi pertanyaan itu membuat Farel tersenyum.


"Itu sudah jelas Arkan, Ayahmu memang lebih dari segalanya dari pada aku, karena itu aku berada dibawahnya, tapi Ayahmu juga membuat aku mengerti betapa sulitnya sampai aku bisa berada di posisi sekarang, Ayahmu banyak sekali membantuku, tanpanya aku bukan apa-apa." Sedikit demi sedikit Arkan mulai mengerti, kemudian ia tidak bertanya lagi, melainkan membuka jendela mobil sambil memejamkan mata untuk merasakan hembusan angin yang masuk kedalam rongga hidungnya.


Sampai dirumah, Farel membukakan pintu mobil Arkan, dan membantu anak kecil itu turun.


"Untunglah kita cepat sampai." Ucap Farel tersenyum senang.


"Tuan, apa kau akan mampir ke rumahku ?." Tanya Arkan.


"Tidak, aku harus pergi karena masih ada pekerjaan lain." Jawabnya.


"Kenapa ? kenapa tidak mau masuk dulu ? kita bisa bermain, iya kan ?." Bocah itu merengek.


"Lebih baik kau kembali saja, jangan dengarkan apa kata anakku, dia sudah banyak mendapatkan apapun yang dia inginkan hari ini, selamat bekerja." Kata Adinda.


"Bunda ! Bunda selalu saja meminta orang lain untuk tidak mengiyakan permintaanku." Arkan menangis.


"Sayang, Bunda sangat lelah kalau kau terus seperti ini, Bunda juga sudah kehilangan kekuatan untuk berdebat denganmu." Siapapun akan menyadari suara Adinda memang terdengar berat, ekspresi wajahnya yang juga tak bisa ditebak.


"Nona, sebaiknya anda masuk dan beristirahat, jangan lupa untuk makan siang." Farel melihat wajah Adinda sedikit pucat.


"Arkan, kita akan bertemu lagi saat pergi nanti. Sekarang masuklah kedalam, apa kau tega jika terus membuat Bunda mu lelah ? apa kau mau Bunda mu dalam bahaya ?." Arkan menggeleng, lalu masuk tanpa berkata apapun.


"Farel, aku punya satu pertanyaan." Kata Adinda.


"Apa itu Nona ?." Farel memperhatikan wajah Adinda yang mulai serius.


"Sebelum suamiku pergi, apa dia sempat mengatakan sesuatu padamu ?." Dengan cepat Farel mengangguk dan memberitahu apa saja yang dikatakan oleh Satria.


"Tuan Satria meminta saya untuk menjaga perusahaan, beliau juga ingin saya selalu menemani anda dan juga putra putri anda." Jawab Farel.


"Hanya itu ?." Adinda menatap Farel tidak percaya.


"Saya bersumpah, hanya itu yang Tuan katakan." Farel menunduk.


"Pergilah, dan kerjakan semua tugasmu dengan baik, aku masuk dulu." Adinda masuk kedalam lalu menuju kamar.


"Permisi Nona, apa anda ingin makan sesuatu ? atau minum yang hangat ? Tuan memerintahkan saya untuk terus memperhatikan anda." Ucap pelayan.


"Tidak perlu, aku akan panggil jika butuh." Kata Adinda, ia berbaring sambil memegang dadanya, entah apa yang sedang dia rasakan.


Perlahan ia memejamkan mata, lalu tak lama suara petir terdengar menggelegar diluar.


"Suara nya sangat menakutkan, sebaiknya aku hubungi Mas Satria agar aku merasa sedikit lebih tenang." Adinda membuka ponsel dan menghubungi suaminya, tanpa menunggu lama Satria pun menjawab.


"Halo sayang, ada apa ?." Tanya Satria.


"Mas, cepat kembali, aku tak bisa menjalani hari dengan baik tanpamu." Ucap Adinda.

__ADS_1


"Aku akan segera kembali Adinda, dua hari lagi, jika belum sampai dua hari namun pekerjaan ku sudah selesai, maka aku akan pulang." Sahut Satria.


"Rasanya seperti tercekik Mas, aku tak bisa menghadapinya." Satria mendengar keluhan sang istri, suaranya sangat lemah, bahkan terdengar pula sedikit tangisan.


__ADS_2