
Selin keluar dari ruangan Satria sambil menangis, ia masuk ke kamar nya dan membereskan semua barang barang miliknya
"aku ga tahan lagi dengan Satria." gumam nya disela sela tangis itu
beberapa menit kemudian Selin keluar membawa sebuah koper besar.
Adinda melihat Selin yang mulai melangkah pergi
"tunggu." ucap Adinda
Selin menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah Adinda
"kak Selin mau kemana?." tanya Adinda
"aku mau pulang." jawab Selin seraya menghapus air mata nya
"ada apa? ceritakan pada ku, hal apa yang membuat ka Selin ingin pulang kerumah?." kata Adinda
"kamu tanya sama suami kamu." sahut Selin menuju pintu dan menaiki mobil
Adinda ingin sekali menahan Selin tapi ia sedang menggendong putra nya, jadi ia milih kembali dan berbicara pada Satria.
"Desi? jaga Arkan sebentar ya, saya mau bicara sama suami saya." pinta Adinda
__ADS_1
"iya nona." Desi mengambil alih Arkan dari bunda nya
dengan cepat Adinda menemui Satria
"Satria?!." ucap Adinda
"sayang? ada apa?." tanya Satria
"jangan tanya ada apa, kenapa kak Selin pergi? lalu kenapa dia menangis?." ucap Adinda
"Selin pergi?!." kata Satria kaget
"iya dan itu ulah kamu." jawab Adinda
Satria hanya mendengus kesal, tak tahu harus berkata apa dengan istrinya.
"apa? jadi maksudnya Jonatan ingin kak Selin menikah dengan nya? tapi kamu melarang itu? iya Satria?." sahut Adinda
"ya."
"aku sudah bilang pada mu berulang kali, coba kamu terima mereka, biarkan kak Selin mempertahankan cinta nya, aku yakin jika Jonatan benar benar mencintai kak Selin, dia tidak akan pernah menyakiti nya." kata Adinda lagi
"tapi untuk sekarang aku belum bisa terima itu, dia sudah hampir merusak kebahagiaan kita sayang." balas Satria kekeh
"jangan ingat itu lagi, apa kamu lupa pada akhir nya kamu lah yang menghancurkan kebahagiaan kita saat itu? kamu yang mendadak dilema akibat adanya nona Sheira? sudah lah Satria, Jonatan sudah mengakui kesalahan nya, ikhlaskan saja." ucap Adinda tak kalah kuat
__ADS_1
"huh, aku bingung harus apa jika sudah berdebat seperti ini pada mu." jawab Satria seraya menggaruk kepala nya yang tak gatal
"pikirkan lagi, jangan sampai kau menyesal, karena aku percaya kak Selin bisa saja marah pada mu bahkan enggan untuk bertemu lagi dengan mu akibat kau melarang nya." kata Adinda berlalu pergi meninggalkan Satria dengan pikiran yang kacau
"arghhh sial! aku tidak bisa berkutik jika istriku sudah berbicara, jika saja aku tidak sayang pada mu mungkin ini bukan hal yang sulit aku hadapi, tapi kenyataan nya aku sangat menyayangi mu Adinda, maka dari itu aku tak mampu berbuat apapun jika yang aku lakukan terlihat salah di mata mu." gumam Satria
....
disisi lain Selin bertemu dengan Jonatan di cafe tempat nya biasa bertemu, Jonatan terkejut melihat Selin membawa sebuah koper besar
"ada apa Selin? apa yang kau lakukan?." tanya Jonatan terlihat khawatir
"aku pergi dari rumah itu." jawab Selin muram
"mengapa? mengapa kamu melakukan itu?." kata Jonatan
"aku sungguh tidak tahan dengan aoa yang Satria pikirkan tentang diri mu, dia dengan mudah nya melarang ku untuk menerima tawaran mu padahal dia tidak tahu ini adalah pertama kalinya aku bisa mencintai seseorang." Selin mulai menangis, air mata nya terus keluar membanjiri wajah cantik nya
"Selin? sabar, jangan menangis, kau bisa ikuti dulu perkataan nya agar semua baik baik saja." sahut Jonatan
"kau tidak memikirkan perasaan ku sama sekali Jonatan? hah?." jawab Selin
"bukan begitu, tapi aku pun merasakan hal yang sama seperti mu, aku sangat mencintai mu Selin." Jonatan mendekati tubuhnya ke arah Selin dan memeluknya lembut
"jadi kau akan pergi kemana?." kata Jonatan lagi seraya mengusap ngusap pelan rambut Selin
__ADS_1
"entah lah, aku mungkin akan pulang ke kediaman ku." jawab Selin