Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
pesta tunangan


__ADS_3

Satria bingung harus bagaimana, dia ingin menggendong istrinya namun tak mungkin bila membiarkan Arkan berjalan.


tiba-tiba muncul kaki seseorang didepan pandangan Satria, ketika dia mendongak, ia melihat Bryan berdiri di sana.


"mau apa kau?!." tanya Satria emosi


"apa yang terjadi pada Adinda?! cepat angkat! aku akan membantumu menggendong Arkan." kata Bryan


"tidak perlu! aku tidak butuh bantuan mu!." balas Satria meninggikan nada nya


"Satria! tidak ada waktu lagi! kau mau istrimu dalam bahaya?! kau mau bayi yang dikandungnya kenapa-napa?! atau kau mau kalau aku yang akan menggendong istrimu?!." ucap Bryan emosi, ia sebenarnya ingin sekali membopong Adinda dalam pelukan nya ke rumah sakit, namun ia tak bisa berbuat apapun selain membantu untuk menjaga Arkan.


"cepat lakukan!." kata Bryan lagi, ia segera menggendong anak dari wanita yang dia cintai lalu bergegas mengikuti Satria dari belakang, Satria menggendong Adinda dengan terburu-buru dan sangat khawatir padanya.


"sayang bertahan ya, kita akan ke rumah sakit." gumam Satria, ia menginjak pedal gas tersebut dan tanpa sadar beberapa kali dirinya mengebut karena cemas.


sesampainya di rumah sakit, Satria menggendong Adinda masuk, sebelum itu ia sempat mengatakan sesuatu pada Bryan.


"titip anak ku, kalau sampai kau melukainya, aku akan menghabisi nyawamu!." ucap Satria segera pergi


dalam ruangan, dokter memeriksa Adinda dengan teliti, beberapa kali ia bertanya tentang apa yang terjadi sebelum nya kemudian ketika dia selesai memeriksa, ia berbicara pada Satria.


"Tuan, istri anda baik-baik saja, bayinya juga tidak bermasalah, beliau hanya syok, dan dibolehkan pulang setelah dia sadar." ucap dokter kemudian pergi


"Adinda, bangun sayang, kau sangat membuat ku khawatir." kata Satria mencium punggung tangan istrinya


"hmm?." jari-jari Adinda bergerak, ia membuka mata dan menemukan sepasang mata suaminya yang cemas, ia menatap ke sisi lain tetapi tidak menemukan putranya


"dimana dia?! dimana Arkan?!." tanya Adinda, ekspresinya benar-benar menampakkan ketakutan terbesar, Satria memahami kondisi istrinya dan langsung berusaha menenangkan


"sssh, tenang lah, Arkan sudah aman, dia ada disini." kata Satria, kemudian Bryan masuk tanpa menunggu persetujuan dari Satria lagi, ia menggendong Arkan dan membawanya dengan mantap ke arah Adinda


"anakku!." Adinda mengambil Arkan dan memeluknya lagi dan lagi


"kamu baik-baik saja kan nak? tidak ada yang terluka kan?." tanya Adinda, Arkan hanya menggelengkan kepala dan kembali mengatakan maaf


"maafkan aku bunda, aku membuatmu cemas dan khawatir." ucap Arkan, Adinda tidak perduli seberapa banyak Arkan meminta maaf, saat ini baginya yang terpenting adalah Arkan baik-baik saja.


"tolong nak, tolong jangan ulangi itu lagi, bunda sangat menyayangimu." gumam Adinda memejamkan mata seraya menangis


"sayang, sudah, jangan menangis lagi, sekarang Arkan sudah baik-baik saja, kau tidak boleh terlalu stres memikirkan sesuatu." kata Satria membelai rambut istrinya lembut


"bisa-bisanya kau membuatku panas di dalam ruangan AC seperti ini." gumam Bryan pelan, namun Satria tetap dapat mendengarnya, dan sengaja memeluk Adinda dihadapan Bryan


"jangan sedih ya, kita akan segera pulang setelah ini." ucap Satria menatap mata Bryan


"dasar konyol!." balas Bryan mengepalkan tinjunya


"anak kecil, bisakah kau menghibur ibumu agar dia mau tersenyum?." ucap Bryan lembut pada Arkan, Satria menatapnya sinis


"bunda, kalau bunda tersenyum padaku, aku akan membuatkan bunda kue bersama ayah nanti ketika kita sampai di rumah." Arkan berkata dengan polos, senyuman nya terbentang, membuat hati Adinda tenang

__ADS_1


"janji?." Adinda tersenyum kemudian mengulurkan jari kelingking nya


"aku janji, ayo ayah kita ajak bunda pulang, kita harus membuatkan dia kue karena bunda sudah tersenyum padaku." kata Arkan


"ayo nak, kita pulang." Satria menggendong putra kecilnya dan menggandeng istrinya sambil berjalan, sementara keberadaan Bryan tak dihiraukan oleh Adinda sama sekali


"andai saja ada kesempatan untuk bisa bersama mu walaupun hanya sehari saja, tapi tidak, aku ingin selamanya bersamamu, memiliki dua anak dan hidup bahagia, arghhh! aku cemburu!." gumam Bryan dalam hati


sesampainya di apartemen Satria menurunkan Arkan dari gendongan nya, dan langsung membantu Adinda duduk di sofa


"kalau kau lelah, kau boleh beristirahat." ucap Satria memegang tangan istrinya


"wajahmu dan wajah Arkan adalah obat lelahku." balas Adinda tersenyum, ia mengusap pipi suaminya dengan jari-jari mungil itu


"Arkan, kau sudah berjanji kan pada bunda kalau kau akan membuatkan kue dengan ayah." ucap Adinda mengingatkan


"aku ingat bunda, mari ayah kita pergi membuat kue, bunda tunggu kita ya." kata Arkan mengajak ayah nya


satu jam kemudian kue itupun jadi, bisa dibilang bentukan nya sangat aneh, tetapi Adinda menghargai usaha mereka untuk membuatnya tersenyum.


"bunda akan memakan kue yang dibuat oleh kalian." ucap Adinda menatap Arkan senang, ia memotong kue itu dan memakan nya perlahan-lahan


"bagaimana? enak atau tidak?." tanya Satria khawatir, sejenak Adinda terdiam tanpa menjawab, lalu ia menaikkan dua jempol nya kepada Satria dan Arkan


"hebat! kuenya lezat!." Adinda tersenyum, ia mencium kening Arkan dan memeluknya


"kau putraku yang paling pintar." kata Adinda mengencangkan pelukan nya, Satria tersenyum lega melihat istrinya sekarang merasa sedikit lebih tenang.


"urusan? urusan apa mas?." tanya Adinda bingung


"Farel membuat pesta di rumah nya, kau ingat Sofie? dia sedang ada acara lamaran, dan mereka menginginkan kita hadir, tidak enak kalau tidak datang, Farel sudah banyak berusaha untuk perusahaan ku." ucap Satria


"hmm, baiklah. sayang, ingat ya besok kamu tidak boleh nakal, harus nurut kata nenek, ok?." ucap Adinda


"ok bunda."


keesokan nya, ditengah pesta Sofie menyambut para tamu undangan dengan sebaik-baiknya, ketika mereka melihat Satria dan Adinda datang, segera saja ia berjalan cepat untuk menghampiri kedua pasangan serasi itu


"sungguh kehormatan bagi saya atas kehadiran anda Tuan Satria, dan Nyonya Adinda." gumam Sofie


"kau semakin cantik Sofie, aku ingin berterimakasih padamu karena sudah menolong suamiku dari para preman itu dulu." ucap Adinda tersenyum hangat, Sofie hanya mengangguk dan membalas senyuman itu


"ayo silahkan diminum." kata Sofie, Adinda dan Satria segera menuju ke tempat minuman dan meminum minuman itu


"dekorasinya bagus, aku suka." kata Adinda, ia melihat-lihat ke segala arah, hingga tiba-tiba matanya tertuju pada seorang wanita dengan gaun hitam berkilau


"mas, tunggu disini sebentar, aku ingin ke toilet." ucap Adinda, setelah Satria mengangguk setuju ia pun pergi menyusul wanita itu


"kau!." kata wanita itu kesal, wajahnya berubah menjadi gelap saat melihat Adinda berdiri tegak dihadapan nya


"kau pasti masih ingat wajah ku kan? jangan pikir kau akan lolos setelah mengancam dan menyakitiku kala itu!." ucap Adinda menarik wanita itu ke dalam toilet

__ADS_1


"mau apa kau?!." tanya wanita tersebut dengan wajah panik


"aku mau kau merasakan jadi aku, jatuh tersungkur serta kedinginan di dalam tempat seperti ini!." Adinda mendorong lawan nya sampai terjatuh dan menyemprot wanita itu


"Adinda! hentikan! jangan lakukan itu! Adinda!!!." teriak wanita tersebut


"kau sudah berhasil menipu suamiku! tapi kau tidak akan bisa menipuku sedikitpun! aku tahu niat busuk mu masuk ke dalam perusahaan Anggara! karena itu aku tidak akan pernah membiarkan kau berhasil melakukan nya!." kata Adinda, ia menginjak tangan Emily hingga wanita dihadapan nya menjerit kesakitan


"aaaah! wanita sialan! berani-beraninya kau melakukan hal ini padaku?! dasar jalang!." sebut Emily, mendengar kata jalang, Adinda merasa tidak senang dan segera menampar wajah cantik itu


"kau yang jalang!." ucap Adinda


"aargh!." sekali lagi Emily merasa kesakitan, ia berusaha bangkit dan ingin menjambak rambut indah milik Adinda


"kau tak akan bisa menyakitiku!." Adinda menepis tangan nya dan mencengkram dagu Emily kuat-kuat


"jika kau masih ingin bermain-main dengan suamiku, maka jangan salahkan aku jika kau akan menanggung kemurkaan nya." nada Adinda mengancam, tepat ketika Satria berteriak memanggil namanya untuk memastikan istrinya baik-baik saja, Adinda memaksa Emily untuk berdiri kemudian ia sengaja memegang tangan wanita itu dan menjatuhkan dirinya sendiri agar seolah-olah Emily telah mendorongnya


"aaaah!!!!." teriak Adinda keras, wajahnya menampakkan rasa sakit yang teramat, mendengar suara jeritan Adinda, Satria langsung masuk dan melihat Emily mendorong istrinya


"brengsek!." Satria memajukan tubuhnya ke arah Emily dan menekan bahunya sampai Emily kesakitan


"s-sakit Tuan! tolong lepaskan!." kata Emily


"ahh perutku sakit sekali, dia mendorongku terlalu keras, aku tidak mau bayiku dalam bahaya." ucap Adinda, sebenarnya dia tak pandai berakting tapi demi membalas perbuatan Emily saat itu, ia berusaha untuk membohongi suaminya, Satria dengan cepat berbalik menatap Adinda yang meringis kesakitan.


PLAKKK! Tamparan keras itu mendarat tepat di wajah Emily.


"kau sangat kurang ajar! beraninya kau melukai istriku! jika ada apa-apa dengan dia dan bayinya, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup!." ucap Satria, kata-katanya sangat dingin dan hampir membuat Emily sulit bernafas


"d-dia berbohong! aku sama sekali tidak mendorongnya!." teriak Emily


"diam! kalau kau tidak mau mendapat masalah, maka jangan pernah menyakiti istriku!." Satria menggendong Adinda dengan cemas, tatapan nya melembut, namun lebih banyak kekhawatiran di sana, sementara Adinda menatap ke arah Emily dengan penuh kemenangan.


"awas kalian! bukan aku yang menyesal! tapi kamu Satria! kamu yang akan menyesal seumur hidup!!!!." gumam Emily mengepalkan tinjunya


"andai saja kau masih hidup, mungkin kau akan melindungi ku seperti dia yang melindungi istrinya, aku hamil Anderson! aku hamil anak mu! hu-hu-hu.." Emily berlutut di pintu toilet, air mata nya mengalir menjatuhi pipinya, ia bercermin dan menatap dirinya sendiri dengan konyol


"kenapa aku sangat menyedihkan?! kenapa?! kenapa aku mengandung anakmu setelah kau mati?!." Emily frustasi


"jika aku tak mendapatkan secuil perhatian pun dari pasanganku, maka aku tak akan pernah membiarkan Adinda mendapatkan perhatian itu dari suaminya! aku akan pastikan istrimu sama menyedihkan nya denganku sekarang! pembunuh!." gumam Emily, ia menghapus tangisnya dan melempar sebuah tinjuan ke arah dinding dengan marah, seketika pintu toilet terbuka, Jack berdiri di sana dengan tatapan khawatir


"Emily!." panggil Jack cemas, Emily langsung berlari ke arah Jack saat mendengar suara kecemasan itu, ia memeluk Jack erat-erat dan menangis di bahunya


"Jack, kenapa aku begitu menyedihkan?! kenapa Jack?! apa aku tidak boleh merasakan kebahagiaan sedikit saja?! hah?!." Emily menangis tersedu-sedu


"jangan khawatir Emily, aku akan selalu menjagamu demi Anderson." gumam Jack


"bunuh aku sekarang Jack, bunuh! aku tidak mau hamil tanpa sosok Anderson di samping ku! tidak mau." ucap Emily, Anderson segera mengencangkan pelukan nya


"aku, aku yang akan menjadi ayah dari anakmu, kau tidak akan sendirian melewati kehidupan ini." balas Jack, kehangatan nya membuat Emily sedikit luluh, tetapi tetap saja dia sedih karena saat ini yang dia mau adalah Anderson.

__ADS_1


__ADS_2