
"Apa-apan kau ?!." Agatha menatap wajah Marry penuh rasa marah.
"Itu sebuah pelajaran untukmu karena berani menyentuh Jeremy." Ucap Marry.
"Kau sudah gila ya rupanya ?!." Agatha mendorong Marry agar keluar.
"Sekarang dimana Jeremy ?! Beritahu aku, jangan sembunyikan dia." Marry mendorong Agatha dan masuk kedalam.
"Kenapa diam saja ?! Usir dia ! Beraninya masuk tanpa izinku." Perintah Agatha yang segera dijalankan oleh para pelayan.
"Maaf Nona, sebaiknya anda pergi." Kata pelayan.
"Hei diam kau ! Aku ini wanita kesayangan Jeremy ! Aku calon istrinya !!! Jangan berani menyentuhku." Marry mengobrak abrik isi rumah karena tak menemukan Jeremy.
"Rasanya kepalaku sakit setiap melihat wanita gila ini masuk." Agatha memijit kepalanya sendiri.
"Panggil security." Kata Agatha lagi.
"Hei Bu, cepat keluar !." Security mengusir Marry secara paksa, lalu Agatha mendekatinya saat wanita itu dipegangi erat.
"Ingat Marry, aku adalah istri Jeremy. Saat dia mengucapkan janji pernikahan, semua miliknya adalah milikku. Itu artinya untuk masuk kedalam sini butuh persetujuan dariku ! Jadi jangan lancang !." Agatha menekankan peringatan.
"Dasar ****** ! Kau hanya ingin menguasai rumah ini dan juga harta Jeremy ! Lihat saja kau, aku pasti akan memberitahunya." Marry bersikeras ingin menarik rambut Agatha.
"Latar belakangku sangat baik, aku rasa kau bisa menilai apakah orang sepertiku datang pada Jeremy hanya untuk menguasai hartanya ?? Ha-ha, aku tak butuh sepeserpun. Bukankah justru kau yang ingin mengambil alih semua ini ? Sayang sekali Marry, sudah terlambat." Agatha masuk kedalam tanpa mendengarkan amarah wanita dibelakangnya itu.
"Beritahu penjaga kalau semua orang yang datang tidak boleh diberi masuk sembarangan." Pinta Agatha segera dianggukkan oleh pelayan.
....
"Leonard, kau harus bantu aku." Pinta Marry.
"Bantu apa ?." Pria itu bertanya.
"Hancurkan ****** yang bersama dengan Jeremy." Saat mendengar itu, Leonard reflek menyemburkan air minum dari mulutnya.
"Bedebah ! Kau mengotori bajuku !." Kata Marry.
"Kau menyebutnya apa tadi ?!." Ucap Leonard.
"****** ! Apa kurang jelas ?!." Marry kesal.
"Aku tidak mau ikut campur dalam urusan ini, pekerjaanku bisa menjadi taruhannya." Balas Leonard.
"Kau lebih mementingkan pekerjaanmu dibanding aku ?! Kita berteman sudah lama ! Teganya kau." Marry menangis sehingga membuat Leonard bingung.
"Marry, wanita itu tidak bisa disentuh sembarangan ! selain keluarganya pengusaha kelas atas, dia juga dilatar belakangi oleh Tuan Jeremy ! Bagaimana mungkin aku menyakiti wanita itu ?!!." Ucap Leonard khawatir.
"Kau menyukainya ? Baru kali ini kau menolak permintaanku, apa aku perlu membayar mahal ?." Marry menarik Leonard kemudian menciumnya, pria itu bukan bergairah justru marah.
"Hentikan kekonyolanmu !." Kata Leonard.
"K-kau membentakku ?!." Marry terkejut.
"Bukan begitu, sebenarnya Agatha adalah..."
"Kau jahat ! Aku benci padamu !." Marry keluar dari cafe tersebut dan segera menaiki mobilnya untuk pulang.
"Anak ini benar-benar." Leonard berusaha mengejar Marry.
Dikediaman Marry, ia masuk tanpa memperdulikan Leonard dibelakangnya.
"Ayolah, kau harus tau kalau aku..."
"Kalau kau menyukai ****** itu ?! Secantik apa dia sampai semua pria jatuh hati padanya ?!!! Hah ? Kau gila ya ? Kau tidak waras ?!." Marry memelototi Leonard.
__ADS_1
"Aku tidak menyukainya ! Mana mungkin aku menyukai wanita yang dicintai kakakku." Mendengar itu kaki Marry pun terhenti.
"Dicintai Kakakmu ?." Kata Marry.
"Benar, mereka pernah saling jatuh cinta sebelum Agatha menikah dengan Tuan Jeremy." Sekilas Marry tersenyum.
"Kalau begitu mari bertemu dengan Kakakmu." Pintanya.
"Untuk apa ?." Leonard penasaran.
"Untuk mengajaknya bekerja sama, aku yakin Agatha masih mencintai Kakakmu, tidak semudah itu kan melupakan masalalu ? Aku yakin mereka punya kenangan baik." Jawab Marry.
"Aku tidak tahu Kakak akan setuju atau tidak." Karena tak puas mendapat jawaban seperti tadi, Marry segera mengambil satu botol wine untuk diminum bersama.
"Ayo minum denganku." Mereka berdua menenggak minuman tersebut sampai mabuk tenggelam.
Tanpa sadar kalau ternyata Marry memberikan tubuhnya untuk menjadi makanan empuk bagi Leonard.
Mereka tidur bersama tanpa ada yang melihat.
***
Ting nong.
"Tuan Zheng, selamat datang." Ucap Pelayan.
"Apa nyonya kalian berada didalam ?." Pelayan mengangguk.
"Oke saya masuk." Zheng mencari Agatha sampai kedepan kamarnya.
Tok..tok
"Ya tunggu sebentar." Agatha membuka pintu sambil bicara seolah olah orang itu adalah Kinan.
"Ada apa Kina...Kau ?." Agatha terkejut.
"Apa maksudmu ?." Pertanyaan Agatha membuat Zheng bingung.
"Anda belum tahu ya ? Baiklah, ambil ini." Zheng memberikan kotak yang cukup besar kepada Agatha.
"Ini apa ?." Agatha mengambil kotak dari tangan Zheng.
Sewaktu membukanya, ia begitu terkejut karena melihat gaun yang sangat cantik.
"Gaun ?!." Agatha menatap Zheng.
"Benar, ini gaun yang telah Jeremy persiapkan untuk anda." Ucap Zheng.
"Kau serius ? Untuk apa gaun seindah ini ?." Agatha bingung.
"Untuk anda pakai, tepatnya pukul tujuh malam nanti. Karena sekarang sudah sore, saya akan segera pulang." Zheng menunduk hormat lalu pergi.
"Pukul tujuh malam ? Bukankah Jeremy sudah pergi ? lalu kenapa ia memintaku memakainya nanti malam ?." Dari pada tambah bingung, Agatha memilih mandi agar dirinya merasa segar.
Saat malam tiba, pukul tujuh.
"Gaunnya cantik sekali, seperti orang yang akan menikah." Agatha tertawa kecil.
Tring..tring , ponsel Agatha berdering.
"Halo, Jeremy ?." Ucapnya.
"Sudah pakai yang aku minta ?." tanyanya disebrang telepon.
__ADS_1
"Sudah, kenapa aku harus memakai ini ? Kau dimana ? Kau tidak berbohong kan soal pergi keluar negri." Agatha bertanya terus menerus.
"Aku tidak bohong, sekarang dengarkan aku." Jeremy memberitahukan instruksi kepada istrinya agar pergi ke suatu tempat.
.
.
.
.
.
"Jeremy ! Kau sungguh membuat ini semua untukku ?! Sejak kapan ?! Siang tadi aku melihat tempat ini masih kosong." Agatha tak percaya.
"Kinan akan membawakan laptop ketempat mu." Benar saja, detik itupun Kinan datang membawah sebuah laptop.
"Laptop ? Untuk apa ?." Ketika dibuka, Jeremy segera menghubungi melalui laptop tersebut, kali ini dia menggunakan panggilan video.
"Malam sayang." Agatha tersenyum melihat wajah Jeremy didepan layar.
"Kau sengaja ya membuatku rindu begini ?!." Agatha hampir menangis.
"Belum satu hari kok, maaf ya aku tidak bisa menemanimu disana, aku cuma mau kau makan tepat waktu karena khawatir kau telat makan lagi." Kata Jeremy.
"Kau sungguh memperhatikanku sampai seperti ini." Agatha benar-benar menjatuhkan air matanya.
"Hei jangan menangis, aku jadi ingin memelukmu." Jeremy tertawa.
"Bagaimana pekerjaanmu ? Berjalan lancar ?." Tanya Agatha.
"Tentu saja, tapi alangkah lebih baiknya kalau kau tidak menanyakan itu sekarang. Malam ini milik kita, jadi kau makan sekarang." Koki handal menuju meja Agatha untuk memberikan makanan.
"Apa kau hanya makan itu ?." Agatha melihat Jeremy hanya memakan sepiring nasi memakai sayur dan ayam.
"Tidak masalah, ini juga enak kok." Jeremy tersenyum.
"Sayang maaf, seharusnya aku ikut denganmu. Bagaimana mungkin disini aku makan makanan lezat sementara kau hanya sayur dan ayam saja." Agatha semakin menangis.
"Agatha, berhenti menangis dan makan sekarang." Pinta Jeremy.
"Kau pasti menyesal karena tidak melihatku secara langsung." Agatha menghapus air matanya.
"Benar, aku sangat menyesal. Padahal aku ingin sekali melihatmu memakai gaun itu. Memelukmu, menciummu, ah senangnya." Jeremy tertawa kecil.
"Cepat pulang ya." Pinta Agatha.
"Jangan khawatir, pasti cepat kok." Jeremy memberi ciuman online, hal itu membuat Agatha tertawa senang dan segera membalasnya.
"Muach." Para pelayan yang menjaga dari jarak jauh tersenyum karena melihat tingkah lucu tuan mereka.
"Tuan tidak pernah sebahagia ini saat bersama masalalunya." Kata Kinan.
"Benar, aku juga merasakan hal yang sama. Senang sekali melihat beliau bahagia sekarang." Balas temannya.
Setelah mereka selesai dinner online, Agatha pun kembali ke kamar sambil memikirkan suaminya itu.
"Jeremy benar-benar menyebalkan, dia membuatku rindu begini." Belum sempat mengganti pakaian, ponsel Agatha kembali berdering.
"Nomor tidak dikenal ? Siapa ?." Ia mengangkat panggilan tersebut.
"Halo ?."
__ADS_1
"Agatha, Greg mengalami kecelakaan."