Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Ditinggalkan


__ADS_3

*Cekrek*


"Sedang apa calon suamimu disini malam-malam ?." Ketik seorang wanita tadi.


Tring...


Pesan masuk dari Lidya.


"Jeremy ? malam-malam begini berada di apartemen ?." Marry mengucak matanya.


Pagi-pagi sekali Marry mendatangi kediaman Jeremy.


"Pagi Nona." Marry tersenyum mendengar sapaan para pelayan.


"Jeremy, kau dimana ?." Panggil Marry.


"Kecilkan suara anda." Pinta Zheng.


"Zheng, dimana Jeremy ?." Tanya Marry.


"Masih tertidur." Marry menunjukkan sebuah foto diponselnya kehadapan Zheng.


"Hampir pukul dua malam, untuk apa Jeremy datang kemari ?! bersamamu !." Marry mengintrogasi Zheng.


"Dia mendadak ada urusan dan harus beristirahat ditempat itu karena jaraknya yang paling dekat dibanding rumah ini." Jelas Zheng, dia tau betul kenapa Marry datang.


"Tidak masuk akal, sudah satu tahun Zheng ! satu tahun Jeremy tidak mau mendatangi apartemen ini, karena apartemen inilah yang membuatnya sedih berlarut-larut karena mendiang ibunya !." Marry berteriak tegas.


"Lalu apa yang harus saya katakan ?." Zheng bingung.


"Apa yang kau tutupi ? katakan padaku, tidak mungkin Jeremy masuk ketempat ini ! ratusan kali aku mengajaknya untuk datang berkunjung melihat keadaan isi apartemen itu, dia menolak ! lantas apa yang membuatnya datang bahkan ditengah gelapnya malam ?." Marry terus berteriak marah.


"Nona, anda akan menganggu waktu tidur Tuan." Ucap pelayan mencegah Marry bicara keras-keras.


"Tutup mulutmu ! kau hanya pelayan disini ! aku yang akan menjadi Nyonya kalian bulan depan ! jadi jangan lancang !." Marry pergi menuju kamar Jeremy.


"Berhenti !." Kata Zheng.


PLAKKKK !


"Dasar pembohong !." Zheng merasa dirinya sangat direndahkan saat ini, ia langsung memegang tangan Marry kuat-kuat dan segera menatapnya.


"Dengar Marry ! wanita sepertimu tidak akan bisa memenangkan hati Jeremy !." Marry kesakitan dan berteriak.


"Aaaaah sakit !." Detik itu juga Jeremy keluar dan melihat tangan Marry yang digenggam kuat oleh Zheng.


"Zheng lepaskan." Ucap Jeremy dingin, buru-buru Zheng menjatuhkan tangan Marry. Wanita itu merintih kesakitan dan memeluk Jeremy.


"Jeremy, dia begitu kasar memperlakukanku. Padahal aku hanya ingin membangunkanmu." Ucap Marry.


Jeremy segera menarik tangan Marry dan melewati Zheng tanpa bicara apapun.


"Marry, hari ini aku mengenali siapa dirimu." Gumam Zheng.


"Lihat tangannya." Pinta Jeremy.


"Kenapa kau tidak memecat Zheng saja ? dia sudah berani menyakitiku seperti ini." Jeremy memeluk Marry lalu mencium punggung tangannya.


"Tidak boleh bicara begitu, Zheng adalah orang kepercayaanku satu-satunya." Balas Jeremy.


"Lidya melihatmu berada di apartemen semalam." Jeremy terkejut, ia tak menyangka ada seseorang yang melihat keberadaannya dan memberitahukan pada Marry.


"Kenapa diam ? ratusan kali kau menolak ajakanku untuk pergi kesana, tapi kenapa malam ini kau datang ? ini aneh." Marry menatap Jeremy.


"Aku datang karena mempunyai urusan penting, tak perlu kau bahas pagi-pagi buta seperti ini." Jeremy melepaskan pelukannya dan memalingkan wajah.


"Jelaskan padaku, beri aku satu alasan yang masuk akal." Marry memaksa.


"Tidak semua hal harus kau ketahui tentang aku, kita ini belum sah menjadi suami istri." Jeremy meninggalkan Marry yang terdiam.


"Tapi bulan depan aku akan menjadi istrimu ! tolong jangan sembunyikan apapun." Kata Marry.


"Semoga itu benar." Marry kaget, ia segera menghampiri Jeremy.


"Kau bilang apa barusan ?! semoga ? tolong jelaskan padaku, ada apa Jeremy ? kenapa kau begini ?! kau mencintai aku kan ?! aku sudah bilang pada keluargaku tentang pernikahan kita." Marry memohon pada Jeremy.


"Pulanglah, tenangkan dirimu." Jeremy tak mau bicara banyak kali ini pada Marry karena tak tahu harus membeli alasan seperti apa.


Sejujurnya memang dia tak pernah ingin menginjakkan kaki lagi di apartemen tersebut, namun demi menyelamatkan Agatha dia rela datang bahkan masuk untuk melihatnya kedalam.


Apartemen itu adalah tempat terakhir dimana Ibunya meninggal dulu, dan hal itu membuat Jeremy sakit sehingga tak ingin datang lagi.


Sore-sore Greg datang ke tempat yang sudah ia sepakati dengan Agatha.


Kemudian membawa sebuket bunga untuk diberikan pada wanita pujaannya.


"Agatha pasti menyukai bunga ini." Greg lagi lagi mencium aroma bunga tersebut.


...


"Aku pasti terlambat, untung saja Kakak menghancurkan ponsel itu setelah aku membuat janji dengan Greg." Agatha bersiap setelah ia memasak makanan untuk Greg.


Ia memakai dress berwarna pink muda, dilengkapi dengan bandana dikepalanya.


"Greg, tunggu aku ya." Agatha tersenyum, manis sekali.


Dicafe, Arkan sedang mengajak Rain makan bersama, saat Rain sedang pamit ke toilet tiba-tiba pria itu tak sengaja melihat Greg duduk santai dengan bunga indah ditangannya.

__ADS_1


"Sedang menunggu siapa ?." Suara Arkan membuat Greg terpaku.


"Jawab, apa kau punya wanita lain selain Agatha ?!." Kata Arkan.


"Hanya Agatha ! aku sedang menunggunya." Mendengar itu Arkan pun tertawa.


"Menunggu Agatha ? Ha-ha, dia tidak akan datang." Greg berdiri dari duduknya.


"Agatha sudah berjanji padaku, dia tak akan mengingkarinya." Jawab Greg.


"Memang benar, Agatha selalu menepati janjinya. Tapi kali ini dia pasti berbohong, karena apa ? karena semalam aku melihat anak itu memeluk pria lain." Arkan tertawa geli, kemudian menunjukkan sebuah foto dari ponselnya.


"Tidak ! aku yakin kau hanya berpura-pura agar aku cemburu." Greg tersenyum tenang.


"Mau bukti yang lain ?." Arkan menyalakan rekaman suara didepan Greg.


'Aku hanya khawatir, biarkan aku menjagamu disini.' Greg terdiam.


"Hanya sebuah rekaman, itu tak merubah kenyataan kalau Agatha benar-benar mencintaiku." Pria itu mencoba bersabar.


'Tolong beri kabar kalau sudah sampai ya.'


'Jaga dirimu.'


Rekaman kali ini benar-benar sudah jelas, Greg pun yakin kalau itu adalah suara Agatha.


"Kau yakin dia akan datang ? jangan bermimpi." Arkan pergi meninggalkan Greg.


"Agatha, apa kau hanya bermain-main ? aku akan merasa bodoh jika kau memperlakukanku seperti ini." Greg membanting bunganya dan pergi.


30 menit kemudian Agatha datang, membawa rantang makanan yang sudah disusun rapih.


"Sepertinya Greg belum datang." Ucap Agatha, ia mencari tempat duduk dan menemukan bunga yang tergeletak di lantai.


"Siapa yang menjatuhkan bunga disini ?." Agatha menanyakan orang satu persatu, untuk memastikan siapa pemilik bunga tersebut.


"Sepertinya bunga ini punya Mas yang tadi, tapi saya lihat dia pergi begitu saja." Ucap salah satu pengunjung Cafe.


Waktu Agatha menghirup wanginya, ia langsung bersin-bersin. Namun dibalik itu dia menemukan sebuah kertas yang bertulis ;


'I Love You Agathaku.'


"Greg ??!." Apa ini punyamu ?." Agatha tersenyum senang, namun dia tak menemukan keberadaan Greg disana, dipikirnya Greg akan memberikan surprise.


Tetapi sudah dua jam menunggu tidak ada seorang pun yang datang.


"Aku harus temui kamu." Agatha keluar dari dalam Cafe dan mendatangi rumah Greg menggunakan Taksi.


Beberapa menit kemudian,


"Malam Nona." Ucap Pelayan.


"Beritahu Greg kalau aku ada disini." Pinta Agatha.


"Sebentar ya Nona, akan saya sampaikan." Pelayan itu masuk kedalam dan memberitahu Greg.


"Usir dia pergi dari sini, katakan kalau aku tidak ingin bertemu lagi dengannya." Ucap Greg dingin.


"Baik Tuan."


"Apa sekarang aku boleh masuk ?." Agatha tersenyum.


"Maaf Nona, Tuan meminta anda untuk pergi dari sini, dan jangan pernah menemuinya lagi." Agatha syok, dia tak percaya dengan apa yang telinganya dengar.


"Greg ! ini aku ! kenapa kau berkata begitu ?!." Agatha berteriak.


"Nona, tolong jangan membuat keributan." Kata Pelayan tersebut.


"Greg ! jelaskan padaku ! kau tak bisa seperti ini !! keluar kamu !." Agatha terus menggedor pintunya berharap mendapatkan jawaban dari pria yang dia cintai.


Sebuah mobil datang dari luar, lalu seseorang keluar dari dalamnya.


"Sedang apa berteriak didepan pintu rumahku ?." Ucap Leonard.


"K-kau ?." Agatha memundurkan diri, dia sangat takut melihat wajah Leonard.


Sering kali dirinya disentuh secara tiba-tiba oleh pria nakal ini.


"Masuklah, jangan menunggu diluar." Agatha menggeleng.


"A-aku permisi." Agatha berbalik.


"Kalian semua, masuk kedalam." Para pelayan menuruti perintah Leonard.


"Hap ! dapat." Leonard mengangkat tubuh Agatha.


"Lepaskan ! Tolong ! Greg !!!!! Tolong !! lepaskan aku ! lepaskan !." Leonard ingin membawa Agatha ke tempat yang sama dimana dia menyiksa Rain saat itu.


"Jika Kakakmu tak bisa diberi pelajaran, maka kamu pun cukup untuk mendapatkannya." Leonard tertawa kecil.


"Lepaskan aku ! apa hubungannya dengan Kakak ! tolong !!!." Agatha berteriak terus menerus.


"Agatha ?!." Itu suara Agatha." Greg berlari kencang keluar, lalu melihat Leonard menuju halaman belakang sambil menggendong Agatha.


"Leonard !!!!!." Suara yang amat keras terdengar dari belakang.


"Sial !." Leonard berhenti dan terdiam.

__ADS_1


"Turunkan wanitaku !." Greg berlari kemudian mengambil Agatha dari Adiknya.


"Greg, a-aku, a-ku sangat takut." Greg menyadari tubuh Agatha gemetar kuat.


"Bajingan kau !." BUGHHHHH !


Greg meninju Leonard sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Jangan pernah menyentuh Agatha ! dia wanitaku ! WANITAKU !." Greg sangat marah lalu meninju Leonard lagi.


"Ampun Kak ! ampun ! a-aku tidak akan mengulanginya." Leonard memohon kepada Greg, namun sorotan mata yang tajam tertuju pada Agatha.


"Pergi kau ! jangan perlihatkan mukamu lagi padaku !!!!." Leonard pun berlari kedalam rumah.


"Kau baik-baik saja ? dia tak menyakitimu kan ?." Greg mengecek semua tubuh Agatha.


Wanita itu diam dan menangis, ia memeluk Greg begitu erat.


"Kumohon, jangan acuhkan aku seperti tadi." Ucap Agatha.


"Aku punya satu permintaan." Kata Greg.


"Apa ?."


"Jangan pernah datang lagi kerumahku, ini terlalu bahaya." Greg menatap Agatha serius.


"Greg ? apa kau serius ? bukankah dulu kau sangat ingin membawaku masuk kedalam rumah ini ? lalu kenapa kau melarangku datang lagi ?." Agatha sedih.


"Adikku bukan pria yang baik, kau harus tau itu." Greg memegang tangan Agatha.


"Pulanglah, lupakan aku." Seperti ditusuk ribuan panah, malam ini hati Agatha benar-benar hancur.


"Kita tidak seharusnya bersama, kau memang pantas bahagia bersama pria lain." Agatha menangis, menarik baju Greg.


"Tampar aku Greg, tampar ! aku berharap setelah aku bangun bisa melihat senyummu." Agatha sangat lemas, dia tak mengira Greg akan mengatakan hal yang membuatnya begitu sakit.


"Besok aku akan terbang keluar negri, aku akan menjalankan bisnisku disana dalam beberapa waktu. Semoga kau baik-baik disini." Agatha menggeleng, ia bersujud dikaki Greg.


"Apa aku harus menjatuhkan harga diriku didepanmu agar kau tahu kalau aku tidak main-main ?!." Ia menangis kencang.


"Taksimu sudah datang, aku antar kamu sampai gerbang." Greg membantu Agatha bangun dan mengantarnya masuk kedalam taksi.


"Aku benci kamu Greg ! aku benci kamu !!!!!!!!!." Hati Greg sakit melihat Agatha menangis tanpa henti.


"Lekas membaik bidadariku, semoga kamu barada ditangan pria yang tepat." Gumam Greg dalam hatinya.


Saat tiba diapartemen, Agatha masuk kedalam dan membanting semua barang yang ada disana.


"Aaaaaaaaaargh ! apa salahku !!!!! kenapa sulit sekali untuk menemukan dimana kebahagiaan ini ?!!." Agatha melempar hak tingginya ke cermin sampai cermin itu hancur lebur.


PRANGGGGGGGGGG ! PRAKKK !


"Kenapa disaat aku benar-benar jatuh cinta padamu, kemudian kau tinggalkan aku begitu saja ?!!!! aku menyesal ! aku menyesal Greg !!!!!!!." Agatha berteriak histeris.


Ia memasuki kamar mandi dan menenggelamkan dirinya kedalam bathtub.


'Lebih baik mati dari pada hidup diambang kehancuran.' Pikirnya.


"Halo ?."


"Saya mendengar keributan dikamar sebelah, bisakah anda memeriksanya ?."


"Baik, kalau begitu terimakasih."


Seseorang melapor tentang betapa rusuhnya suara dari kamar Agatha.


Kemudian resepsionis menghubungi pemilik apartemen tersebut, Jeremy.


"Halo Tuan ?." Ucapnya.


"Saya baru saja mendapat kabar tentang kerusuhan yang terjadi didalam kamar anda, tolong segera datang, kami akan segera mengurus hal ini." Jeremy terkejut, ia sadar kalau hanya ada Agatha yang berada di apartemen itu.


"Saya kesana sekarang." Jeremy lagi-lagi menunda pekerjaannya demi melihat apa yang terjadi.


Saat sampai, Jeremy melihat sudah banyak security berkumpul didepan kamar tersebut.


"Tuan, sebaiknya anda segera membuka pintu kamar ini." Pinta resepsionis.


Setelah dibuka, semua orang terkejut karena melihat pecahan cermin terpecah belah, kemudian guci yang hancur juga kasur yang berantakan.


"Apa ada maling didalam ? cepat periksa." Ucap Security.


"Bukan bukan ! aku tahu siapa orangnya, kalian tidak perlu khawatir. Ini bukan maling. Kembalilah bekerja." Jeremy pun masuk dan menutup pintunya.


"Agatha ?." Panggil Jeremy pelan.


"Kau disini ?." Jeremy melihat ke segala arah namun tak menemukan Agatha.


"Agatha ? ini aku Jeremy." Ia hendak membuka pintu toilet namun pintu itu terkunci.


"Agatha ?! kau berada didalam ?." Tanyanya lagi.


"Agatha jawab aku !!!!!! Agatha !!!!." Jeremy mulai panik dan langsung mendobrak pintu kamar mandi tersebut.


Ia melihat Agatha berbaring menenggelamkan dirinya didalam bathtub.


"Agatha !!!!!!!!."

__ADS_1


__ADS_2