
tengah malam Satria tertidur memeluk istrinya, sementara Adinda membuka mata karena merasa haus dan melihat tangan itu melingkar ditubuh nya dengan indah.
"aku senang kau tidur pulas mas." gumam Adinda mengusap kepala suaminya, ia menuju lemari es yang tak jauh dari ranjang tetapi isinya kosong.
ia berniat untuk mengambil segelas air dibawah, karena tidak akan bisa tidur jika tenggorokan terasa kering.
sebelum mengambil air, Adinda mengintip kamar putra nya dan melihat Arkan sedang tertidur pulas bersama Selina, ia menyunggingkan sebuah senyuman karena merasa tenang.
ketika ia menutup pintu kamar Arkan dan berbalik ingin menuju dapur, seseorang sedang menggedor-gedor pintu rumah, melihat tak ada orang satu pun yang membukakan pintu, akhirnya Adinda membuka pintu tersebut.
saat dilihatnya ia merasa sangat terkejut, Jonatan berdiri di hadapan pintu dengan wajah lesu dan aroma alkohol yang begitu menyengat pada dirinya.
"Jonatan?! kau baik-baik saja?!." tanya Adinda memegang lengan Jonatan berusaha ingin membantu untuk masuk ke dalam rumah, tetapi tiba-tiba Jonatan justru memajukan langkahnya dan mendorong Adinda hingga terjatuh di sofa, ia menindih tubuh mungil itu dengan penuh gairah.
"Selin..." gumam Jonatan
"Jonatan!!! lepaskan! aku bukan Selin!." kata Adinda berteriak, namun Jonatan tak menghiraukan suara itu, ia malah menekan bahu Adinda dan mencium paksa
"tolong!!! Jonatan lepas!." Adinda meronta-ronta, Jonatan segera menarik gelas yang dipegang oleh Adinda dan melemparkan nya ke lantai dengan kasar hingga pecah
PRAKKKKK!
suara pecahan itu terdengar sampai ke kamar Selin, buru-buru ia bangun dan melihat ke sumber suara, takut jika para maling masuk untuk merampok.
tapi saat Selin keluar, ia sangat syok melihat pemandangan didepan matanya yang begitu membuat dia marah dan cemburu.
"keterlaluan!." Selin menarik Jonatan dan mendorong nya hingga jatuh tersungkur
__ADS_1
"k-kak Selin?! tolong ak...." belum sempat menyelesaikan perkataan nya, Selin sudah lebih dulu menampar Adinda dengan kencang.
"aaah!." Adinda memegang wajah nya sambil menangis kesakitan
"dasar jalang! bisa-bisanya kau bercumbu dengan suami orang di rumah suamimu sendiri!!!!!!!!!." teriak Selin menunjuk wajah Adinda dengan arogan
"kak, ini semua tidak seperti yang kau pi..." Plakkkk! tamparan keras itu melayang lagi, sampai-sampai sudut bibir Adinda kini berdarah
"jangan coba-coba mempermainkan aku! kau adalah istri sepupuku! nyonya muda keluarga Anggara! kenapa bisa-bisanya kau berbuat hal sehina ini?!." kata Selin, Adinda hanya menangis dan berusaha menjelaskan tetapi Selin tak perduli, ia juga menampar wajah Jonatan.
"laki-laki tidak berguna! kamu selalu membuatku marah dan jijik! kau belum selesai menjelaskan siapa wanita yang jalan bersamamu kemarin tapi malam ini kau mulai gila lagi dengan menyikat istri sepupuku!!!." kata Selin
"kak Selin, aku bisa jelaskan semuanya, aku sama sekali tidak menggoda suamimu, aku hanya ingin memban...."
"diam! sampai kapanpun seorang jalang tak akan mengakui kesalahan nya!." kata Selin, ia menjambak rambut Adinda dan menyeret nya keluar.
"Tuan! Tuan!!!." teriak Desi panik, di dalam Satria mulai menggerakkan tangan dan mengucak matanya, ia berdiri dan membuka pintu itu
"kenapa tengah malam menggangguku?." tanya Satria
"a-anu Tuan, Nona Adinda di seret keluar oleh Nona Selin." kata Desi, tanpa bertanya apapun lagi Satria segera berlari ke bawah dan melihat istri tercintanya diperlakukan dengan buruk oleh sepupunya sendiri
"Selin hentikan!!." suara arogan Satria menghentikan pergerakkan Selin untuk menyeret Adinda keluar
"apa yang kamu lakukan pada istriku?!!!." tanya Satria dengan mata berapi-api
"kau lah yang harusnya bertanya pada istrimu! apa yang telah dia lakukan bersama suamiku!!!!." jawab Selin lantang, Adinda mendekati suaminya dengan mata yang sudah sedikit sembab karena banyak mengeluarkan air mata
__ADS_1
"aku sama sekali tidak melakukan apapun mas, aku hanya sedang mengambil minum di dapur karena di kamar sudah tidak tersisa air sedikitpun, lalu aku mendengar pintu terketuk keras, begitu aku membukanya Jonatan mendorongku sampai aku jatuh dan dia menindih aku, dia menyebut nama kak Selin dihadapan ku, beberapa kali aku bilang padanya kalau aku bukan kak Selin, tapi dia masih saja menekan tubuhku." jelas Adinda, air matanya mengalir, darah disudut bibirnya pun sama.
"bohong! tidak mungkin Jonatan memanggil namaku! kau pasti sengaja kan agar satria mempercayai mu! sudah! jangan pernah percaya lagi pada jalang ini!." ucap Selin, mendengar kata jalang yang keluar dari mulutnya, Satria sangat marah besar hingga menampar Selin tanpa basa-basi.
"aaaah!." Selin meringis kesakitan
"jaga ucapan mu! jangan pernah menilai istriku seperti itu!!!!! sebelum kau bertindak sejauh ini, harusnya kau mencari tahu kebenaran nya! istriku sedang hamil! kalau sampai ada apa-apa dengan dia ataupun bayinya, aku tidak akan pernah memaafkan mu!." ucap Satria, ada selapis bunga es di wajahnya yang membuat Selin mendadak takut, Satria segera menggendong Adinda untuk kembali menuju kamar.
"kamu baik-baik saja?." tanya Satria, ia menyeka air mata Adinda yang masih mengalir tanpa batas, lalu mengobati sudut bibir istrinya yang terluka.
"aku takut mas." gumam Adinda, tubuhnya bergetar saat mengatakan itu, bahkan Satria menyadari ketakutan istrinya
"dengar, selama kamu di samping aku, tidak akan ada satupun orang yang aku biarkan untuk menyakitimu." balas Satria memeluk istrinya
"tapi kamu percaya kan kalau aku sama sekali tidak melakukan apa-apa bersama dengan Jonatan? aku tidak mungkin mengkhianatimu dalam keadaan apapun." ucap Adinda menunduk, ia kembali menangis dan memohon rasa percaya dari suaminya, tanpa harus mengemis pun sebenarnya Satria sangat percaya kalau Adinda tidak mungkin melakukan hal bodoh bersama laki-laki lain, apa lagi dia sedang mengandung anaknya.
"aku selalu percaya padamu." kata Satria mengusap wajah cantik itu lagi
"lalu bagaimana dengan kak Selin? aku tidak mau hubungan ku dengan dia menjadi rusak akibat kesalahpahaman tadi." ucap Adinda
"aku yakin Selin bukan orang bodoh, dia mengenalmu sudah puluhan tahun, mungkin dia terbakar oleh api cemburu, hingga dia buta dan menyalahkan dirimu begitu saja, tapi nanti dia pasti akan meminta maaf padamu karena sudah melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan." ucap Satria
"maafin aku mas." gumam Adinda memeluk suaminya erat-erat
"sudah, sudah sayang. kau tidak bersalah, jadi kau tak perlu mengatakan maaf padaku, sekarang kau tidur, aku akan menemanimu sampai kau terbangun nanti." ucap Satria meminta istrinya membaringkan tubuh, lalu ia menyelimuti tubuh Adinda dan mengelus kepalanya sampai Adinda memejamkan mata.
"selamat tidur sayang." gumam Satria pelan, ia mengecup kening istrinya dengan sangat lembut, sejenak ia tersenyum dan ikut tertidur di samping Adinda
__ADS_1