Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Rumah sakit Xx


__ADS_3

"A-apa ??!!." Agatha terkejut.


"Cepat datang kerumah sakit Xx sekarang." Tiba-tiba panggilan pun terputus.


"Siapa dia ?! Apa Greg benar-benar kecelakaan ?!." Agatha melihat ke arah jam dinding.


Pukul 20.30


"Tapi Jeremy melarangku untuk bertemu dengannya, aku harus bagaimana." Agatha sangat bingung, disatu sisi ia tak mau membohongi suaminya, disisi lain ia ingin memastikan keadaan Greg.


"Apa aku harus mengecek sendiri kerumah sakit itu ?." Tanpa persiapan lagi, Agatha langsung bergegas menuju parkiran mobil.


Setibanya dipintu depan, ia menabrak seseorang.


"Anda mau kemana ?." Tanya Zheng.


"Aku harus pergi, ada hal darurat." Mendengar itu Zheng pun segera menahan Agatha dipintu.


"Jeremy tidak memberikan izin untuk anda pergi, apalagi ditengah malam seperti ini." Kata Zheng.


"Hei kau tak tau seberapa pentingnya hal ini untukku !." Agatha kesal.


"Dan anda tidak tahu seberapa pentingnya diri anda bagi Jeremy." Wanita didepannya terdiam, namun tetap memaksa keluar.


"Minggir kau." Agatha pergi menaiki mobil, disusul oleh Zheng dari belakang.


"Semoga Greg baik-baik saja." Segala bentuk kenangan manis kini melekat dipikiran Agatha, rupanya ia masih begitu takut kehilangan Greg.


"Ayo Agatha, kau bisa lebih cepat." Ia menancapkan pedal gas sampai Zheng merasa khawatir.


"Wanita ini benar-benar keras kepala." Ucap Zheng.


Saat tiba dirumah sakit tersebut, rupanya keadaan sangat sepi seperti tidak berpenghuni.


"Apa ada rumah sakit sehening ini ?." Agatha keluar dari dalam mobil sambil berjalan perlahan menuju pintu masuk utama rumah sakit tersebut.


BUGHHH !


"Aaaah." Agatha merasa punggungnya dipukul dengan sebuah benda keras sampai ia jatuh pingsan.


"Bajingan !." Zheng berlari dan langsung menendang pria bertopeng yang memukul Agatha barusan.


"Brengsek !." Ucap pria bertopeng.


Mereka berkelahi didepan rumah sakit itu, sementara Agatha tergeletak dijalan.


Zheng berhasil mengalahkan pria bertopeng, namun datang tiga orang lagi dari arah yang berbeda.


"Sialan !." Zheng melanjutkan perkelahiannya.


Tak lama beberapa mobil datang untuk membantu Zheng, sebelum ia sampai dirumah sakit, dirinya sempat memberi kabar kepada anak buah Jeremy untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi, karena ia yakin Agatha akan mendapati bahaya setelah Jeremy pergi.


"Pergilah, biar aku yang mengurus mereka." Kata yang lain.


"Baik, saya pergi dulu." Zheng menggendong Agatha dan masuk kedalam mobil wanita itu.


"Jeremy pasti akan marah jika mengetahui hal ini, sebaiknya tidak usah diberitahu dulu." Zheng mengendarai mobil dengan cepat.


Dikediaman Jeremy, semua pelayan terkejut melihat Agatha pingsan.


"Nona ?!." Kinan tercengang.


"Aku minta kalian semua diam dan jangan sampai Jeremy tahu soal ini." Perintah Zheng.


"Baik Tuan !."


Kinan membawakan teh hangat dan juga kotak obat ke kamar Agatha, seakan dia tahu betul apa yang dibutuhkan.


"Kau bekerja dengan baik Kinan, cepat ganti pakaian wanita ini dan obati lukanya." Kinan mengangguk setuju.


Besok pagi, Agatha terbangun dan merasakan sakit dipunggungnya.


"Aaaghk." Ia melihat pakaian yang sudah diganti.


"Jeremy ? Apa dia sudah pulang ?." Agatha berdiri hendak keluar kamar, namun bertemu kembali dengan Zheng.


"Sudah bangun ? Sebaiknya duduk dan menurut." Agatha diam memperhatikan Zheng.


"Dimana Jeremy ?." Kata Agatha.


"Tidak ada Jeremy, hanya ada saya dan pelayan rumah ini." Balas Zheng.


"S-siapa yang mengganti pakaianku ?!." Agatha menatap tajam pada pria didepannya.

__ADS_1


"Tentu saja pelayan, mana mungkin saya yang menggantikan." Mendengarnya Agatha bernafas lega.


"Anda beruntung karena saya mengikuti dari belakang semalam." Agatha diam tak berani bicara.


"Kenapa anda begitu percaya pada orang lain ? Bagaimana kalau saya tidak ada ? Hari ini anda tidak akan tidur dikasur yang empuk dan nyaman." Zheng memarahi Agatha layaknya Jeremy.


"Aku tidak suka pria bernada keras, kau lupa aku siapa ?." Kata Agatha.


"Tidak, sama sekali tidak. Tapi ini perintah, saya hanya menjalankan apa yang Jeremy katakan." Ucap Zheng.


"Memang dia memberimu perintah apa ?." Tanya Agatha.


"Saya pikir anda harus dengar, bahwa sejauh ini pertama kalinya bagi saya mengurus wanitanya sendiri, padahal masih ada banyak sekali tugas perusahaan yang harus saya kerjakan. Tapi beliau memilih anda sebagai tugas utama bagi saya." Kata Zheng.


"..."


"Tahu apa itu artinya ? Anda sangat penting bagi Jeremy, sehingga dia membiarkan tugas perusahaan terlantar demi anda." Zheng meletakkan bubur diatas meja.


"Jangan main-main pada Jeremy, anda harus tahu betapa sulitnya dia hidup dari awal sampai hari ini." Kata Zheng lagi.


"Jeremy tidak tahu kan soal semalam ?." Agatha bertanya.


"Perlu saya beritahu sekarang ?." Ucapan Zheng membuat mata Agatha melotot.


"Sampai kau berani memberitahu tentang ini padanya, awas kau." Agatha menatap sinis.


"Tentu saja beliau akan tau dalam waktu cepat, Jeremy itu cerdas, bahkan anda akan sulit berbohong didepannya. Jadi berhati-hatilah." Zheng pergi dari kamar Agatha.


"Sial, dia sedang berusaha menasihatiku ?!." Kata Agatha, ia melihat panggilan tak terjawab diponselnya sebanyak sepuluh kali.


"Jeremy menghubungiku sebanyak ini ?." Agatha berusaha menghubungi Jeremy kembali.


"Halo Jeremy ?."


"Apa kau baik-baik saja ? Kenapa sulit sekali dihubungi ?." Tanya Jeremy.


"A-aku baik-baik saja, kau bagaimana ? Sudah makan ?." Agatha justru mengalihkan pembicaraan.


"Sudah, kau bangun pagi sekali, apa istirahatmu cukup ?." Katanya.


"Sangat cukup, aku ingin pergi kerumah Ayah." Ucap Agatha.


"Pintalah Zheng agar menemanimu pergi, aku khawatir jika kau pergi sendirian." Balas Jeremy.


"Tubuhku masih sakit, apa sebaiknya aku bicara dengan Kakak soal ini." Ia sempat berpikir.


Kurang lebih dua puluh menit, Agatha pun keluar menuju mobilnya.


Namun ia melihat Zheng sudah duduk didalam sana.


"Kau ?."


"Saya akan mengantar anda, masuklah." Tanpa banyak bicara lagi, wanita itu masuk kedalam.


"Rumah sakit Xx sudah lama tidak beroperasi, anda bisa baca semua ini." Zheng memberikan ponselnya pada Agatha.


"..."


Dan benar, bahwa rumah sakit Xx sudah lama berhenti beroperasi dikarenakan bangkrut.


"Zheng, apa aku terlalu ceroboh ?." Agatha menatap pria disebelahnya.


"Anda lebih dari ceroboh." Zheng menjawab begitu dingin.


"Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana, jika Jeremy mengetahui hal ini, maka dia akan mencari pelakunya kan ? Aku tidak mau dia dalam bahaya." Kata Agatha.


"Saya yakin anda lebih pandai menguasai Jeremy. Saat dia mengetahui hal tersebut, tugas anda hanya meredamkan amarahnya." Saran Zheng.


"Terimakasih karena semalam kau membantuku." Pria itu hanya mengangguk.


.


.


.


Kediaman Anggara,


"Selamat datang Nona !." Ucap Para pelayan.


"Cucuku." Tania menghampiri Agatha penuh kegembiraan.


"Nenek !." Agatha memeluk Tania.

__ADS_1


"Apa ini suamimu ?." Tanya Tania yang tak hafal dengan wajah Jeremy.


"Bukan Nek, ini orang kepercayaan suamiku, namanya Zheng." Agatha mengenalkan Zheng pada keluarganya.


"Lain kali ajak suamimu kesini ya, apa dia bekerja ?." Tania terus bertanya pada cucu kesayangannya ini.


"Jeremy sedang bertugas keluar negri, aku akan mengajaknya lain kali." Agatha melihat-lihat seisi rumah yang sepertinya sedang kosong.


"Dimana semua orang ?." Ia bertanya pada Tania.


"Bunda dan Ayahmu sedang pergi mengecek perusahaan." Kata Nenek.


"Begitu ya, lalu Kakak ?." Ucap Agatha.


"Kamu lupa ya kalau Kakakmu itu sudah menjadi bagian perusahaan, pastinya dia bekerja hari ini." Tania tersenyum.


"Huh, kenapa disaat aku datang semua orang tidak ada untuk menyambutku ?." Agatha terlihat sedih.


"Menginaplah disini, Bunda pasti senang." Agatha menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.


"Kalau begitu saya pergi dulu, kabari saja jika anda butuh apapun." Zheng menunduk hormat ke arah Agatha dan juga Tania.


"Nyonya, saya izin pulang." Ucap Zheng.


"Apa tidak mau meminum secangkir teh lebih dulu ? Kau pasti lelah." Kata Tania.


"Terimakasih nyonya, tapi tugas saya masih sangat banyak. Semoga lain kali bisa meminum secangkir teh disini." Zheng pun pergi meninggalkan kediaman tersebut.


"Apa suamimu baik ? Nenek khawatir kau tidak bahagia." Tania membelai rambut Agatha sambil menduduki sofa.


"Dia sangat baik Nek, hanya aja aku sedang belajar mengumpulkan banyak cinta untuknya." Kata Agatha.


"Kalau kau merasa kesulitan hidup seperti ini, bercerailah tidak apa. Nenek sangat takut ketika melihat hidupmu berantakan." Mendengar kekhawatiran Tania, Agatha memegang tangannya.


"Aku sama sekali tidak kesulitan, Nenek tahu kan kalau aku sangat menyukai sebuah perhatian. Pria itu memberikan segalanya untukku, bahkan dia memperlakukan aku seperti ratu." Agatha bercerita panjang lebar.


"Syukurlah, Nenek senang sekali mendengarnya. Meskipun kau tidak menikah dengan pria yang kau cintai, setidaknya pria yang bersamamu sekarang sangat mencintaimu."


Sore hari, dimana semua anggota keluarga berkumpul pulang.


"Sayang ! Anakku." Adinda berteriak memeluk putrinya.


"Ah Bunda, aku begitu rindu padamu." Agatha memeluk Adinda dengan riang.


"Agatha." Satria memeluk putrinya juga.


"Ayah minta maaf karena memberimu pilihan yang sulit." Kata Satria.


"Ayah, aku sudah memaafkanmu, kau tahu ? Aku rindu sekali." Agatha bersandar pada Ayahnya itu.


"Bagaimana hari-harimu ? Apakah semuanya baik ?." Agatha mengangguk.


"Yah meskipun semuanya tidak berjalan baik, aku tetap bersyukur. Bukankah itu yang Bunda ajarkan ?." Satria tersenyum dan menepuk kepala Agatha.


"Anak pintar, kau semakin pandai setelah menikah." Sementara itu Arkan menunggu pelukan berikutnya dari sang Adik.


"Kakak." Agatha memeluk pria tinggi didepannya penuh kasih sayang.


"Apa kau baik-baik saja tanpa Jeremy ?." Kata Arkan.


"Bagaimana Kakak tahu ?." Arkan hanya tersenyum mendengar pertanyaan lucu itu.


"Tentu saja aku tahu, apa dia menyakitimu sebelum pergi ? kalau iya aku akan memukulnya seribu kali setelah dia pulang nanti." Agatha tertawa kecil.


"Dia tidak menyakitiku, mungkin aku yang berusaha menyakitinya." Arkan menyadari ada sesuatu dibalik ucapan itu, ia pun segera membawa Agatha kedalam kamar untuk bercerita empat mata.


"Ada apa ?." Arkan memegang bahu Agatha.


"Kakak !." Agatha menangis dalam pelukan Kakaknya tersebut.


"Kenapa menangis ? Ayo cerita padaku." Arkan berusaha menenangkan Agatha.


"Apa aku salah karena masih mengkhawatirkan Greg ?! Apa aku salah karena begitu takut kehilangannya ?!!." Arkan menghela nafas sambil mengusap kepala Agatha dengan lembut.


"Aku tahu ini akan terjadi, kau pasti akan kesulitan untuk menyembunyikan rasa itu. Semuanya salahku, maafkan aku Agatha." Ucapannya membuat Agatha semakin menangis.


"Jeremy sangat baik padaku, tapi aku selalu tega menyakitinya." Kata Agatha.


"Kau hanya perlu belajar mencintai suamimu kan ? Kau tidak bisa terus berharap pada seseorang dimasalalu, itu tidak akan berhasil baik." Arkan menasihati Adik satu-satunya.


"Aku dipukul semalam."


"APAAAAAAA ?!!!!!.

__ADS_1


__ADS_2