
"Bukankah Jeremy harusnya sudah sampai ? Atau dia langsung pulang kerumahnya ?." Agatha berbolak balik didepan pintu kamar sambil berpikir.
Tring..tring
"Zheng ? Tumben malam-malam." Agatha langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Saya tahu anda tidak membaca berita." Kata Zheng dengan suara berat.
"Suaramu ? Kau baik-baik saja ?." Saat Agatha bertanya, Zheng segera mematikan panggilan setelah itu mengirimkan pesan.
Ting.
"Berita pesawat jatuh"
Ketika selesai mengunduh, ia menyempatkan waktu untuk membaca. Betapa terkejutnya melihat nama Jeremy tertulis jelas disana.
"A-apa ?!." Brughhh ! Ia terjatuh lemas kemudian pingsan.
Arkan yang hendak membawakan minuman hangat justru melihat Adiknya tergeletak dilantai.
"Agatha !." Meletakkan gelas lalu menggendong Agatha keatas ranjang.
Arkan juga melihat ponsel wanita itu terjatuh, dan melihat berita kecelakaan pesawat.
"Jeremy ?! Apa ini berita benar ?!." Ia segera menghubungi semua anak buahnya untuk mencari tahu soal berita ini, takut tiba-tiba Adiknya tertipu lagi.
Juga mengirimkan beberapa orang terjun langsung kelokasi kejadian.
Pukul 03.15
"Sayang, kau sudah bangun ? Syukurlah." Suara Adinda sama sekali tak membuat Agatha tenang.
"Jeremy ! Jeremy dimana ?!." Anak itu berteriak.
"Sabar nak, kami semua juga menunggu kabar dari Kakakmu." Mendengar itu Agatha marah.
"Apa maksud Ayah Kakak datang ketempat itu ?! Kenapa tidak bangunkan aku ?!!! Aku akan pergi !." Agatha bangun dan mendorong semua orang yang menghalanginya.
"Agatha jangan ! Ini tengah malam, tempatnya sangat jauh ! Kau tak bisa pergi begitu saja. Tolong tenangkan dirimu." Adinda memeluk putrinya agar tak pergi.
"Bunda, Jeremy harus pulang ! Hatiku sakit melihat berita itu, dia sudah janji padaku untuk menemuiku dirumah !." Agatha terus memekik keras karena sangat sedih.
"Iya kami tau, Jeremy pasti pulang. Dia kan sangat mencintaimu. Mana mungkin tega membiarkan anak Bunda hidup sendiri." Adinda ikut menangis melihat anaknya terluka.
"Ayah tolong ! Tolong Jeremy Ayah ! Jeremy..." Lagi-lagi ia pingsan, namun kali ini Adinda memeluknya sehingga tak jatuh.
"Mas tolong angkat ke kasur." Pinta Adinda pada Satria.
Waktu pagi, pukul 08.25
"Jeremy, apa dia sudah pulang ?." Adinda sampai tak tidur menjaga putrinya semalaman.
"Belum sayang, mungkin nanti sore Jeremy pulang, sabar ya." Mengelus rambut Agatha selembut mungkin.
"Sayang, Ayah pergi dulu karena harus membantu Arkan disana. Jangan khawatir, kami pasti menemukan Jeremy." Satria mencium kening Agatha, ternyata anak itu memegang tangan Ayahnya keras-keras.
__ADS_1
"Ayah ! Aku mohon ajak aku kesana ! Aku mohon Ayah !." Adinda memberi kode kepada suaminya agar tak menuruti permintaan Agatha.
"Tidak usah, kau lebih baik istirahat dirumah. Lihat matamu, bengkak begitu. Kalau Jeremy pulang melihat matamu bengkak tidak bagus kan ?." Satria tersenyum kecil lalu pergi.
"Ayah !!!!." Agatha menangis melihat Ayahnya pergi.
"Sayang, jangan seperti ini. Sabarlah sedikit, Bunda tahu kau sangat sedih, tapi Bunda jauh lebih sedih melihat keadaanmu." Ia memeluk dan terus memeluk putrinya.
Pasalnya dulu Satria pernah depresi saat kehilangan Adinda, begitupun dia menjadi takut jika Agatha mengalami hal yang sama.
"Bunda, kenapa rasanya berbeda saat aku tahu Jeremy celaka ?! Kemarin aku tidak sesakit ini begitu mendengar Greg kecelakaan. Hatiku sakit Bunda !!!." Wajahnya lusuh karena banyak menangis.
"Itu artinya kau lebih mencintai suamimu tanpa disadari." Pelukan Bunda yang hangat membuat Agatha sedikit jauh lebih tenang.
"Aku ? Mencintai Jeremy ?." Ia menunduk lemah.
"Bukankah aku terlambat jika menyadarinya sekarang ? Jeremy pasti pulang kan Bunda ? Aku harus beritahu soal ini kan ?!." Agatha menangis seraya mencengkram selimut yang menutupi tubuhnya.
"Saat Jeremy pulang, kau harus cepat memberitahu soal ini. Lalu kalian berlibur bersama, pasti sangat seru." Ucap Adinda.
...
"Sial ! Sejak kemarin aku tertabrak jadi sulit melakukan apa-apa !." Marry kesal.
"Lagi pula siapa yang berani menabrakku secara sengaja itu ?! Apa dia ingin bermain-main ?!! Atau dia suruhan ****** itu ya ?!." Kata Marry.
Tak lama ia mendapati sebuah berita dari grup diponselnya tentang kecelakaan pesawat.
Waktu melihat nama Jeremy disana, ia membelalakkan mata sampai tak percaya.
"Jeremy ?!!! Apa benar ini Jeremy calon suamiku ?! Atau cuma kembar nama saja ?! Ah mana mungkin ada kembar nama ! Jelas itu Jeremy !!!!." Marry segera mencari tahu soal kecelakaan pesawat tadi malam, dan ia mendatangi lokasi kejadian.
Plakkkk ! Marry menampar Zheng seolah dia marah karena tak diberitahu.
"Apa-apaan kau ?!." Ucap Zheng terkejut.
"Bedebah ! Untuk apa diam saja ?! Kau lupa kalau aku adalah..."
"Jika kau bicara sekali lagi, aku akan merobek mulutmu." Perkataan Zheng yang dingin membuat Marry berhenti.
'Apa-apaan dia ! Sial, wajahnya membuatku kesal' gumam Marry.
"A-apa kau telah menemukan informasi mengenai..."
"Belum ada informasi apa-apa tentang Jeremy, entahlah bagaimana aku memberitahukan hal ini pada keluarganya disana." Zheng kelihatan putus asa.
"Kau tidak perlu putus asa begitu, aku bisa membantumu untuk bicara pada keluarganya, kau tau kan bahwa aku sudah dekat dengan mereka ?." Ucap Marry.
"Jeremy tidak begitu suka menyangkut pautkan hal apapun pada mereka, tapi ini tentang nyawa." Kata Zheng menghela nafas.
"Jeremy tidak ada, jangan khawatirkan hal itu, aku akan segera memberitahunya." Marry mengambil ponsel kemudian menghubungi seseorang.
'Dasar gila, sikapnya begitu antusias untuk menghubungi keluarga Wiradinata, tapi tidak terlihat kesedihan saat Jeremy hilang.' Pikir Zheng dalam hati.
"Hem, sepertinya nomor Ayah Wira tidak aktif. Apa dia sengaja mengganti nomornya ?." Kata Marry, sementara itu Zheng meninggalkannya tanpa basa basi.
__ADS_1
"Bagaimana ? Sudah berapa banyak korban ditemukan hari ini ?." Tanya Satria pada putranya.
"Baru lima puluh tiga korban jiwa, dan hanya beberapa dari mereka yang masih hidup dengan banyak luka." Arkan memijat keningnya.
"Jeremy harus segera ditemukan, kita tak mungkin membiarkan dia terombang ambing ditengah lautan luas. Nyawanya akan habis." Balas Satria.
"Aku akan mengerahkan seluruh anak buahku untuk mencari Jeremy, Ayah tidak perlu khawatir." Satria mengangguk dan menepuk bahu Arkan.
...
"Aku dengar Tuan Jeremy hilang karena kecelakaan pesawat." Kata Leonard.
"Benarkah ?! Kau serius ?!." Greg melompat dari kasur.
"Mana mungkin aku bohong, beritanya sudah tersebar, bahkan para pekerja perusahaan diliburkan karena masalah ini." Leonard membuang nafas kasar.
"Wow, sampai diliburkan ? Apa dia tidak bangkrut ?." Tanya Greg.
"Mana mungkin, pihak perusahaan berani mengganti rugi untuk orang-orang yang telah mengajak mereka bekerja sama. Dan gaji karyawan tetap dibayar full meskipun tidak bekerja." Balas Leonard.
"Jeremy hilang.." Greg sedikit berpikir.
"Apa itu jawaban yang akan aku dapat ? Agatha akan kembali padaku bukan ? itupun kalau dia tak selamat." Katanya lagi.
"Kau masih sempat berpikir begitu ya ? Tapi ya memang bisa jadi." Jawab Leonard menduduki sofa.
"Ini kesempatan bagus, aku tidak boleh sia-siakan." Greg tersenyum girang dan bergegas mandi.
"Dasar aneh."
.
.
.
.
.
Setelah informasi menyebar luas, para reporter banyak sekali berdatangan ketempat kejadian hanya untuk menanyakan soal Jeremy.
Zheng yang terlihat muak hanya bisa mengandalkan semua penjaga untuk menahan kegilaan wartawan itu.
"Aku sudah menduga kalau mereka pasti datang, tapi mau bagaimana." Zheng terdiam sambil menatap laut dari jauh.
"Jeremy, dimana kau ? Selalu saja bermain-main." Kata Zheng.
"Kalau bosan segera pulang, didalam air itu dingin. Bukankah kau benci suasana itu ? Dari dulu kau selalu minta dipenuhi kehangatan." Ia terus bicara seakan-akan Jeremy mendengarnya.
Dikediaman Anggara, Agatha membanting remote televisi karena marah melihat berita-berita jatuhnya pesawat.
"Bajingan ! Dia bilang akan pulang dalam tiga hari." Agatha mengepalkan tangan, kemudian pergi tanpa sepengetahuan Adinda.
Hanya beberapa pelayan dan satpam yang melihat hal tersebut namun mereka tak bisa mencegah tuannya.
__ADS_1
"Kau pembohong." Ia menangis sepanjang jalan sambil menyetir, padahal sangat bahaya jika tak fokus berkendara.
"Jika mereka semua tak bisa menemukannya, maka aku akan mencarimu dengan tanganku sendiri !." Agatha menancapkan pedal gas dan menuju lokasi jatuhnya pesawat itu.