
di dalam mobil, Satria terus menyetir seraya memegangi tangan istrinya.
"sayang, sabar ya, kita sedang menuju rumah sakit." ucap Satria
"mas, hentikan mobilnya." pinta Adinda, Satria hanya menurut dan segera berhenti
"ada apa? kau mau sesuatu?." tanya Satria, ia memegang wajah cantik itu dengan lembut dan menatapnya tanpa berkedip
"aku tidak mau ke rumah sakit, bayi kita akan baik-baik saja." kata Adinda
"hmm, oke, jadi mau kemana?." ucap Satria
"bolehkah aku ke pantai? aku ingin sekali ke sana." Satria sedikit terkejut oleh permintaan istrinya, namun dia segera menuruti kemauan itu karena pasti efek dari kehamilan nya
"tentu saja boleh, kita ke sana sekarang." Satria mengemudikan mobilnya menuju pantai, perjalanan nya lumayan jauh karena ia mengambil pantai di daerah lain agar pemandangan nya jauh lebih indah dipandang.
ketika mereka tiba di pantai, hari juga sudah mulai sore, Satria sedikit menjadi lebih tenang karena istrinya tidak akan merasa kepanasan saat keluar dari dalam mobil nanti.
"mas lihat, ada perahu!." Adinda menunjuk perahu itu dengan senang, matanya berbinar seolah dia juga ingin masuk ke dalam nya
"kau ingin naik perahu?." tanya Satria, Adinda hanya menoleh dan mengangguk dengan imut, namun Satria mengatakan hal lain
"tidak usah ya sayang, kita akan naik perahu lain kali, sekarang lebih baik kamu ikut aku." Satria memegang tangan istrinya dan segera berjalan menuju sebuah tempat es kelapa yang terbuat dari bilik
"mas, janji ya lain kali harus ajak aku naik perahu." Adinda memohon dengan tatapan sedih, kemudian Satria memeluk wanita itu dan mengelus kepalanya
"janji, aku akan bawa kamu ke sebuah pulau menaiki kapal." kata Satria, mendengar itu Adinda melepas pelukan nya dan menatap suaminya penuh harap
"aku akan menunggu sampai hari itu datang, kalau mas bohong, aku akan sangat marah." balas Adinda memalingkan wajahnya
"gadis nakal! selalu mengancam ku dengan kemarahan." Satria mencubit hidung mancung itu dengan gemas, lalu mereka berdua meminum es kelapa
"mas, kamu berharap anak kita laki-laki atau perempuan?." tanya Adinda
"aku menerimanya sebagai apa saja, mau laki-laki ataupun perempuan aku akan menyayangi dia." balas Satria
"kalau aku berharap anak kita perempuan, karena kan kalau laki-laki sudah ada, lihat saja Arkan wajahnya mirip sekali dengan mu, nah kalau aku melahirkan anak perempuan, pasti wajah nya juga akan mirip sekali dengan wajah ku." ucap Adinda senang, Satria hanya tertawa kecil mendengar ucapan itu
"iya sayang, apapun yang kau mau." kata Satria mengacak kepala istrinya
di rumah Anggara, Tania sedang beristirahat sebentar dan membiarkan Arkan bermain dengan Selina di kamar nya, namun tiba-tiba Selin datang, sepertinya ia baru pulang dari tempat tertentu.
"Arkan?! kenapa kamu ada disini?." tanya Selin sinis
"mama, Arkan sedang bermain." ucap Selina
"siapa yang mengizinkan kamu main sama anak ini?! hah?!." Selin membawa Arkan keluar dari dalam kamar
"mama jangan!!." Selina berteriak, namun Selin tetap membawanya keluar
__ADS_1
"heh! dengarkan aku ya Arkan, sampai kapanpun, aku tidak akan sudi kalau kamu bermain dengan putriku yang manis! kau adalah anak jalang yang tidak tahu diri!." Selin terus memaki Arkan
"m-maafkan aku tante, tapi aku hanya ingin bermai..." ketika Arkan berusaha menjelaskan Selin justru memukul tangan nya
"hu-hu-hu..." Arkan menangis saat tangan nya dipukul, kemudian dia pergi meninggalkan Selin
...
"uhuuuk..uhuuk." Adinda tersedak oleh air kelapa dan langsung memegang dada nya
"mas, kenapa perasaanku menjadi tidak enak? bisakah kita pulang sekarang? aku mau anakku." ucap Adinda, ia segera berbalik untuk menuju mobil tanpa menunggu jawaban Satria lagi, mereka bergegas kembali ke rumah Anggara untuk menjemput putra kecilnya
Arkan pergi ke taman belakang sendirian, dia menangis dan terus memanggil bunda nya.
"Arkan, apa yang terjadi?." suara lembut itu menyapu kesedihan Arkan
"bibi?." sebut Arkan, matanya menatap wajah Desi yang cemas dan khawatir
"tangan mu kenapa? ko bisa merah begini?." Desi langsung memeriksa tangan Arkan, ia melihatnya dengan jeli, dan yakin kalau seseorang telah mencoba memukulnya
"tangan ku baik-baik saja." Arkan menyembunyikan keburukan Selin agar Desi tidak mengadu kepada bunda nya nanti
"Arkan tidak boleh berbohong, bunda akan marah ketika tahu tangan mu terluka." ucap Desi lagi
"katakan pada bunda, kalau tangan ku akan baik-baik saja, ya bibi?." mata Akan yang bulat berkedip-kedip, permohonan nya membuat Desi menjadi tidak tega jika harus menolak
"baiklah, bibi akan mengatakan hal itu kepada bunda, jangan menangis ya, hapus dulu air matamu." Desi mengusap wajah Arkan yang basah dan tersenyum, ia menemani Arkan di taman sampai Adinda tiba
"Arkan, ini bunda nak, kamu dimana?." panggil Adinda, saat Arkan mendengar suara ibu nya yang lembut, cepat-cepat dirinya berlari mendekati suara itu
"bunda!." teriak Arkan, Adinda langsung memeluk bocah kecil tersebut dan mencium pipinya
"apa kau baik-baik saja? kenapa matamu sembab?." tanya Adinda, ia curiga Arkan habis menangis, Satria pun mencurigai hal yang sama
"apa yang terjadi Arkan?." tanya Satria berlutut dihadapan putranya dan mengelus kepala anak itu
"tidak ada apa-apa bunda, ayah. aku baik-baik saja." sahut Arkan tenang, tak lama Desi menghampiri mereka dan tersenyum hangat
"Desi, katakan padaku, apakah Arkan habis menangis?." ucap Adinda menginterogasi, namun Desi terlihat gugup saat menjawabnya, merasa ada yang tidak beres ia menatap putra kecilnya dengan amat teliti, lalu tiba-tiba Adinda melihat tangan mungil Arkan yang masih keliatan memerah
"tangan mu?! Arkan tangan mu kenapa?!." tanya Adinda khawatir
"sayang, tolong jujur pada kami, kenapa tangan mu terluka?." kata Satria lembut, namun Arkan tetap menggeleng, saat rasa penasaran muncul di hati Adinda, ia segera memasuki ruang CCTV dan melihat nya bersama Satria
mereka berdua melihat Selin memukul putranya dan memaki bocah kecil yang malang itu.
Adinda keluar dengan marah dan membanting pintu ruangan dengan keras.
"Selin!!!!! keluar kau!." ucap Adinda, Satria mengikuti nya dari belakang, ia terkejut karena istrinya kali ini benar-benar sangat marah! dia sampai memanggil Selin hanya dengan sebutan nama
__ADS_1
"Selin!!!!!." teriak Adinda lagi, lalu Selin keluar dari kamarnya seraya memegang ponsel karena sedang bermain game, dengan cepat Adinda menarik ponsel itu dan membanting nya dihadapan Selin
PRAKKKK!
"jalang! apa-apaan kau?!!!!." Selin marah dan berteriak didepan wajah Adinda
"kau sungguh keterlaluan! jika kau membenci ku maka benci saja aku! tampar aku! pukul aku! tapi jangan pernah sekali-kali kamu melampiaskan nya pada Arkan!! kau memukul putra ku dengan tangan mu! memang nya kau siapa?!! hah! aku yang bahkan ibu kandungnya tidak pernah memukul dia sekalipun!!!! dia adalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa, sementara kamu tega menyakiti dia seperti tadi!." kata Adinda, ia benar-benar marah dan terus menghajar Selin dengan kata-kata nya
karena perdebatan mereka begitu serius, Desi membawa Selina dan Arkan keluar dari ruangan yang penuh api amarah itu.
"dasar wanita tidak tahu malu! beraninya kamu menampakkan wajah didepan ku setelah apa yang kau lakukan dengan Jonatan kemarin?!." Selin membalasnya
"cukup! kau tinggal di rumah ku! tapi kau tidak bisa menghargai istriku sedikitpun!." ucap Satria marah
"apa?! menghargai? kamu pikir jalang seperti dia pantas dihargai?! oh atau jangan-jangan kau menikahi dia juga karena terpaksa kan? terpaksa karena Adinda mungkin sudah hamil sebelum kalian menikah?hh. kau hanya mainan kecil yang dirusak oleh sepupuku jadi jangan bangga menjadi nyonya muda keluarga Anggara!." kata Selin enteng
PKAKKK!!!
"tutup mulutmu! Adinda bukan wanita kotor seperti apa yang kamu pikir! aku menikahinya karena aku memang cinta dengan dia! bahkan dia hamil setelah aku menikahi nya!!! itu artinya dia tidak hamil diluar nikah!." Satria memaki-maki Selin dengan amarah yang sangat besar
"dengar ya Selin, aku tidak perduli seberapa banyak kau menghinaku! aku juga tidak perduli sejahat apa kau menginjak harga diriku! tapi jika kau berani menyentuh Arkan dengan cara memukulnya! maka aku tidak akan pernah memaafkan mu!." kata Adinda
"jalang kamu! dasar jalang!!!." teriak Selin, ia mendorong Adinda ke arah pintu dengan sangat kencang namun Jonatan yang baru saja pulang melewati pintu segera menangkap tubuh itu, ia hanya berusaha untuk menolongnya, karena kejadian itu benar-benar terjadi didepan muka nya.
Satria langsung membantu Adinda dan memeluk nya dihadapan Selin.
"kau baik-baik saja?." tanya Satria khawatir, Adinda mengangguk dan menatap Selin dengan jijik
"Adinda! berani-beraninya kamu jatuh ke pelukan suamiku?! jalang! kurang ajar! kau pelacur!." ucapan-ucapan kotor keluar dari mulut Selin, ia ingin menjambak rambut Adinda dengan kasar namun Satria memasang badan untuk istrinya
"kau sudah gila! kau melewati batas kemanusiaan! pergi dari sini Selin! pergi! jangan pernah tampakkan mukamu dihadapan keluarga Anggara lagi!." Satria berteriak dengan marah, Selin seketika bungkam, ia hanya bisa merasakan air mata yang hangat itu mengalir di pipinya, dengan murka ia langsung mengambil sebilah pisau dan mengarahkan nya ke arah Adinda
"puas kau? puas kau melihat aku dicaci maki oleh sepupuku sendiri? puas kau menghancurkan pernikahan ku dengan Jonatan? hah?!." Selin berkata dengan santai dan terus memajukan tubuhnya.
Adinda sama sekali tidak panik, melainkan Satria yang paling panik sekarang.
"sayang, tenanglah, aku akan melindungi mu!." Satria terus memeluk Adinda dan berusaha menghindari pisau itu dari tangan Selin, ketika Selin hendak menusuk Adinda tiba-tiba Satria membalikkan tubuh nya dan Selin menusuk tubuh itu.
SERRRRKKK!
"aaargh!." terdengar suara berat dari mulut seseorang, Adinda memejamkan matanya dengan tubuh yang mulai bergetar, ia yakin suaminya saat ini sudah ditusuk oleh Selin
Selin menjatuhkan pisau nya ke lantai, dan jatuh bersamaan dengan pisau itu, tubuhnya lemas, ia tak menyangka bisa kesetanan untuk melakukan hal sekeji ini.
Adinda perlahan membuka mata dan berbalik melihat wajah suaminya, rupanya Satria masih setia memeluk istrinya dengan tatapan terpejam, ia pasrah kalau-kalau harus mati demi menyelamatkan Adinda dan bayinya
"jonatan?!!!!." Adinda berteriak karena melihat Jonatan ambruk berlumuran darah di punggungnya, mendengar teriakan Adinda, Satria langsung membuka mata dan melihat Jonatan, ia sadar kalau Jonatan telah menyelamatkan nya.
"bawa Jonatan ke rumah sakit! tolong!." Adinda meminta pak Rahman membawa Jonatan
__ADS_1
"sayang, kita harus pergi membantu Jonatan!." Adinda mengajak suaminya menaiki mobil untuk mengikuti Pak Rahman, sementara Tania mematung melihat Selin lemas dilantai, ia tak percaya kalau Selin akan menjadi seganas ini, tatapan Tania kecewa, ia langsung masuk lagi ke dalam kamar dan menguncinya rapat-rapat, sepertinya ia malas berhubungan dengan Selin.