
Jeremy langsung mengangkat tubuh Agatha dan meletakkannya dilantai.
"Agatha ! Agatha hei ! apa yang kau lakukan !!!!!." Ucap Jeremy menampar pipi wanita itu keras-keras agar terbangun.
Jeremy sangat panik sampai harus memberinya nafas buatan.
"Agatha bangun, kenapa kau seperti ini ?!." Jantung Jeremy berdebar-debar, dia sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada wanita didepannya.
"Uhuuuk..uhukk."
"Agatha ?!." Jeremy memeluk Agatha lalu bersyukur.
"Jangan selamatkan aku Jeremy, biarkan aku mati ditempat itu." Kata Agatha.
"Bicara seperti itu lagi akan ku tampar mulutmu." Jeremy kesal.
"Biarkan aku mat...." Tak rela mendengar perkataan bodoh tadi, Jeremy segera membungkam mulut Agatha dengan cara menciumnya.
Agatha hanya diam, tak bergerak sedikitpun.
Ia justru menatap wajah Jeremy yang terus menciumnya penuh kehangatan.
"Apa yang lebih berharga dari pada nyawamu ?!." Jeremy melepaskan ciumannya dan mengguncangkan tubuh Agatha.
"Cinta." Jawab Agatha tanpa ekspresi.
"Cinta kau bilang ?! hah ?! cinta dari mana ?! didunia ini tidak ada cinta yang menyakiti ! apa lagi sampai ingin membuatmu bunuh diri !." Jeremy begitu emosi sampai tak tahu harus meluapkannya bagaimana.
"Dia meninggalkanku, disaat aku benar-benar jatuh cinta padanya." Jeremy menggendong Agatha keatas kasur.
"Pria seperti itu memang tidak pantas kau cintai !." Ucap Jeremy.
"Jeremy, katakan kalau ini hanya mimpi buruk ! katakan !." Tak ada hal lain yang bisa Jeremy lakukan selain memeluk dan menenangkan Agatha.
"Sssstt, sudah hentikan ! kau wanita yang kuat, buktikan kalau kau bisa menjalani hidup tanpanya." Agatha menangis dipelukan Jeremy.
"Mati-matian aku membelanya didepan keluargaku, tapi ini yang dia lakukan hiiikksss...hikss." Ia membantu menghapus air mata Agatha.
"Sekarang kau pergi ganti pakaian, lalu mencari udara segar bersamaku." Agatha menoleh sesaat sebelum akhirnya menurut.
Sambil menunggu Agatha berganti pakaian, Jeremy merapihkan semua barang yang pecah dilantai.
__ADS_1
"Sudah ?." Agatha mengangguk.
"J-jeremy." Agatha gugup bicara pada pria didepannya.
"Apa ? kau mau bicara apa ? katakan saja." Jeremy mengajak Agatha duduk lebih dulu.
"Maafkan aku, aku benar-benar kehilangan kendali sehingga merusak semua isi kama..."
"Ssttt, tidak masalah. Semua barang yang ada disini tidak ada harganya dibandingkan perasaanmu." Agatha tersenyum, sedikit tenang karena merasa Jeremy bisa memahaminya walau sedikit.
"Janji padaku untuk bersenang-senang malam hari ini ? beli balon ? gulali ? coklat ? apapun yang kau inginkan pasti kuberi." Keduanya tertawa.
"Makasih ya, kau selalu datang pada waktu yang tepat." Ia tersenyum.
"Jangan lakukan hal itu lagi, kau harus tahu bahwa mengakhiri hidup bukan jalan keluarnya." Agatha mengangguk.
"Mulai besok aku akan mencari kesibukan dengan cara menjual kue dan roti." Jeremy tersenyum lembut, dia senang karena Agatha tidak berlarut-larut menghadapi kesedihan itu.
"Aku bantu kamu, sekaligus mencicipi seperti apa kuenya, enak atau tidak." Agatha mengacungkan jempol.
"Kue buatanku enak tau ! kau harus coba." Mereka berdua jalan bergandengan tangan menuju lobby apartemen.
Berkeliling menaiki mobil seraya melihat lampu-lampu gedung yang menyala dengan indah.
"Lalu ?."
"Aku minta jangan lakukan.."
"Jeremy, kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku." Ucap Agatha.
"Kita bertemu besok sore, setelah pekerjaanku selesai. Tunggu aku untuk membuat kue itu bersama." Kata Jeremy.
"Baik." Jeremy mengendarai mobil penuh hati-hati, lalu mengarahkan mobil tersebut pada sebuah taman.
"Ayo turun." Mereka berdua keluar dari dalam, kemudian melihat sekelilingnya.
"Taman ??." Agatha melamun dan teringat pada waktu pertama kali dia bertemu Greg.
"Kau suka ?." Jeremy memandangi wajah Agatha yang diam tanpa jawaban.
"Agatha ?."
__ADS_1
"Agatha, kau dengar aku ?." Pria itu melambaikan tangannya.
"Ah ya, aku dengar." Agatha tersenyum canggung.
"Kau menyukai tempat ini ?." Agatha memegang tangan Jeremy.
"Boleh kita pulang sekarang ? hawanya dingin." Ucap Agatha.
"Oh, baik." Jeremy membuka jaketnya untuk dipakaikan ke tubuh Agatha.
Padahal Agatha tidak merasa dingin sekalipun, hanya saja dia tak mau mengingat semua kenangan bersama Greg.
'Aku harus temui Greg sebelum dia berangkat.' Pikir Agatha.
Hari berikutnya, Agatha menaiki taksi pukul delapan.
Ketika sampai dikediaman Greg, ia berlari lalu menggedor pintu itu.
"Greg !!! Greg buka pintunya !!!." Agatha berteriak memanggil nama Greg.
"Nona, Tuan Greg sudah berangkat." Mendengar hal itu Agatha cepat-cepat pergi menuju bandara.
Kurang lebih dua puluh menit taksinya sampai, dia segera berlari menelusuri bandara tersebut.
berharap masih sempat mendapatkan pelukan terakhir.
"Greg, ku mohon." Agatha menoleh kesana kemari sambil menjatuhkan banyak sekali air mata.
"Greg !." Agatha memegang bahu pria yang sedang berdiri didekat kursi.
"Maaf, anda siapa ?." Saat pria itu menoleh, Agatha meminta maaf.
"Maaf Tuan, saya salah orang." Ia pergi dan kembali mencari keberadaan Greg.
"Aku yakin kau pasti masih disini, aku yakin Greg." Agatha jatuh terduduk, menutup telinganya sambil berteriak.
"Aku tidak bisa kehilanganmu !!!!!!!." Mendadak dirinya menjadi pusat perhatian semua orang.
"Sepertinya wanita itu gila." Bisik para manusia.
"Kasihan, dia mungkin habis putus cinta."
__ADS_1
"Greg, beri aku kesempatan untuk bisa melihat wajahmu meskipun ini yang terakhir." Kata Agatha.
"Agatha."