Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Merasa senang


__ADS_3

"Jangan bersedih, aku percaya kau wanita yang kuat, bersabar sedikit lagi ya, hanya dua hari saja aku akan segera pulang, aku akan menemui mu, kita akan menghadapi semuanya bersama-sama lagi." Kata Satria meyakinkan.


"Tentu, tentu saja aku akan menunggumu kembali, kita akan menghabiskan waktu seperti biasanya." Adinda tersenyum.


"Kalau begitu aku tutup telepon nya, pekerjaanku masih banyak."


"Selamat bekerja !."


***


Lalu tiba dimana hari Farel berjanji untuk mengajak Arkan pergi.


"Apakah Tuan Farel jadi datang ?." Anak itu cemas, ia terus memperhatikan gerak jam dinding di setiap detik.


"Dia pasti datang, kau sabar dulu ya." Adinda mengusap kepala Arkan.


"Kenapa lama sekali ? apa dia lupa kalau sudah berjanji padaku, padahal aku sudah punya tempat tujuan yang paling aku inginkan saat ini." Arkan mengeluh.


"Tidak kok, mana mungkin Tuan Farel melupakan janjinya, tunggu sedikit lagi saja." Tak lama kemudian, Farel datang dan langsung menghampiri bocah bawel itu.


"Sudah lama ya menunggu nya ?." Kata Farel.


"Sangat lama, karena itu kau harus membayar waktu yang sudah terbuang tadi." Jawab Arkan sambil bertolak pinggang.


"Baiklah aku akan membayarnya, ayo masuk." Farel mengangkat Arkan untuk masuk ke dalam mobil, diikuti dengan Adinda.


"Adinda, tunggu nak !." Tania berjalan cepat untuk menemui anaknya namun mobilnya sudah pergi menjauh.


"Bagaimana ini, dia pergi tanpa ponselnya, pasti nanti kesulitan." Gumam Tania.


"Hei Ma, ada apa ? ponsel siapa itu." Tanya Jonatan.


"Mau kemana ? bisa tolong antarkan ponsel ini pada Adinda ? kejar mobilnya !." Pinta Tania.


"Akan aku usahakan, karena aku ada meeting siang ini dikantor jadi tidak boleh terlambat, berikan padaku ponselnya." Jonatan mengambil ponsel itu lalu pergi.


"Hati-hati dijalan !."


"Tuan, kau tahu tidak ? ada tempat yang bagus, dan aku sudah melihatnya di internet !." Anak kecil itu terlihat sangat gembira.


"Oh ya ? apa itu ?."


"Semalam, aku baru saja melihat kalau ternyata ada tempat penyimpanan robot-robot yang sangat besar !."


"Robot ? apa kau ingin kesana ?." Tanya Farel.


"Iya ! aku sangat ingin pergi kesana, wah rasanya senang sekali jika melihat puluhan robot berkumpul di satu tempat." Arkan girang, Adinda sampai ikutan tersenyum karena melihat anaknya senang.


"Farel, maaf jika anakku membuatmu repot, aku yakin kau terlambat karena satu alasan, yaitu pekerjaan kan ? maaf sekali lagi, kami selalu mengganggumu." Ucap Adinda.


"Jangan bicara begitu Nona, saya ini bekerja sudah lama, bahkan saya menganggap kalian seperti keluarga saya sendiri, saya bersyukur karena kalian juga saya bisa berhasil seperti sekarang, itu sebabnya saya berjanji untuk setia kepada perusahaan dan juga Tuan Satria." Jawab Farel tersenyum.


"Tidak salah suamiku memilih kau sebagai orang kepercayaan nya."


Setibanya ditempat yang Arkan inginkan, mereka semua keluar dari dalam mobil, sangat-sangat merinding karena rasanya seperti hidup diantara monster besar.


"Lihat ! semuanya sangat indah ! robot itu bagus sekali !." Arkan menunjuk ke atas, kemudian tertawa.


"Tuan, apakah dia bisa melihatku disini ? mungkin saja aku terlalu kecil, sampai dia tak menyadari keberadaan ku." Arkan berpikir untuk mencari cara bagaimana agar robot itu menoleh ke arahnya.


"Tunggu sebentar ya Bunda, aku akan kembali." Arkan berlari ke suatu tempat untuk mengambil sebatang kayu yang sudah menjadi arang.


"Arkan ! tunggu." Adinda hendak mengejarnya karena cemas.


"Tidak Nona, jangan khawatir, saya yakin anak itu baik-baik saja, saat ini anda harus melepas semua beban yang ada, kita sedang berada ditempat yang jauh, anggap saja ini liburan sementara, saya lihat sejak hari itu anda menjadi murung dan mudah cemas, jadi berbahagialah, Tuan akan segera kembali." Kata Farel sambil tersenyum lagi.


"Em ya, kau benar, tapi.." Farel memperhatikan Adinda bicara, namun wanita itu memaksa mulutnya untuk berhenti, ia justru memalingkan wajah dan menghirup banyak udara.


"Tuan ! lihat apa yang akan aku lakukan." Arkan berlari kembali dan mencoret jalanan didekatnya memakai kayu yang dia temukan tadi.


"Kau mau apa Arkan ?." Adinda bingung.


"Aku akan membuat robot itu melihat aku." Ia menulis sebuah tanda yang sering dilihatnya dalam televisi.

__ADS_1


"Hai robot !! cepat lihat kesini !." Arkan berteriak sangat kencang.


Robot itu sesekali menoleh namun belum menyadari jika ternyata yang memanggilnya adalah anak kecil, lalu robot itu melihat sebuah tanda berwarna hitam dan segera menyadari keberadaan Arkan.


Robot itu menunduk, Arkan melompat-lompat gembira, lalu mendekati nya.


Ia juga mengajak bersalaman, tapi tangan mereka berdua sangat jauh berbeda.


"Anda melihat itu kan Nona ? dia sangat cerdas." Farel senang melihat Arkan yang aktif.


"Benar, walaupun sesekali membuatku jengkel, tetap saja aku bangga karena dia anak yang pandai, kau tahu kan semarah-marahnya seorang Ibu pada anak, dia tetap menyayangi anaknya." Kata Adinda.


"Benar, lagi pula tidak ada yang lebih berharga dari sebuah keluarga, mereka itu segalanya untuk kita."


***


Di kantor Jonatan, ia baru saja selesai meeting dan mengingat kembali bahwa ponsel Adinda berada di sakunya.


"Dimana dia ya ? aku tak sempat mengejar mobilnya, karena aku akan terlambat." Jonatan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Tiba-tiba ponsel itu berdering, dengan cepat Jonatan menatap layarnya.


Sebuah pesan masuk, siapa ?.


"Bagaimana ya, dengan siapa dia pergi." Pria itu berpikir, kemudian mengingat kalau mobil yang dilihatnya tadi adalah milik Farel.


"Farel ! itu pasti dia." Jonatan menghubungi Farel.


"Ya, halo ? ada apa ?." Tanya Farel.


"Dimana kau ? apa kau sedang bersama Adinda ?." Ucap Jonatan.


"Benar, saya sedang bersama Nona Adinda, apa ada yang penting ?."


"Kirimkan lokasi kalian sekarang, aku akan segera kesana mengantarkan ponsel Adinda." Farel segera mengirimkan lokasi dan menunggu Jonatan datang.


"Nona, anda melupakan sesuatu." Katanya.


"Coba tebak apa." Farel tersenyum, lalu menampakkan ponsel miliknya sebagai tanda pengingat.


"Ponsel ? Ya ampun aku benar-benar melupakan nya !."


"Jangan khawatir Nona, Tuan Jonatan akan segera datang untuk mengantarnya."


"Jonatan ? kenapa ponselku ada padanya ?."


"Entahlah, anda bisa menanyakan itu nanti."


"Bunda ! Tuan Farel ! aku ingin eskrim !." Arkan menjerit dari kejauhan sambil berlari menghampiri Adinda.


"Kau mau apa nak ?." Tanya Adinda.


"Eskrim ! belikan aku eskrim ya." Anak itu memohon.


"Bunda akan belikan, tapi kamu diam disini dengan Tuan Farel ya, jangan kemana-mana." Pinta Adinda kepada putranya.


"Iya Bunda." Saat Adinda hendak pergi, Farel mencegahnya.


"Sebaiknya Nona tunggu saja disini, biar saya yang akan membelinya." Ucap Farel.


"T-tapi.."


"Tidak apa-apa Nona, duduklah di sana, saya akan segera kembali." Farel pergi mencari eskrim tersebut.


"Arkan, jika ingin membeli sesuatu bisikkan saja pada Bunda, jangan bicara didepan Tuan Farel ya, Bunda tidak enak kalau dia terus direpotkan seperti ini." Kata Adinda.


"Memangnya kenapa ? Tuan Farel akan merasakan hal seperti ini jika dia sudah punya anak nanti." Balas Arkan.


"Jangan membantah Bunda sayang." Arkan mengangguk sambil mengayunkan kakinya dan bernyanyi.


"Kau sangat senang ya ?."


"Sangat ! Ayah tidak pernah mengajakku pergi ke tempat seperti ini." Ucapnya.

__ADS_1


"Mungkin Ayah tidak tahu, lagi pula Tuan Farel kemari karena kau yang memberitahunya kan ? kalau Ayah sudah pulang, kau boleh minta kemana saja, dengan satu syarat!." Kata Adinda menatap sang anak.


"Syarat ? apa itu ?."


"Biarkan Ayah beristirahat dulu, lalu boleh meminta kemanapun kau mau."


"Setuju !."


"Halo anak kecil." Jonatan tiba-tiba datang.


"Kau disini ?!." Arkan terkejut.


"Aku disini, mengantar ponsel Bunda mu yang tertinggal." Ia tersenyum dan mencubit hidung Arkan.


"Aku pikir sengaja menyusul dan membawa Selina." Kata Arkan.


"Mana mungkin Selina pergi ke tempat seperti ini." Jonatan tertawa.


"Iya juga, dia kan perempuan." Sahut Arkan.


"Jonatan, terimakasih karena sudah mengantar ponselku." Adinda tersenyum.


"Sama-sama, Ini juga karena Mama yang memintaku untuk mengantarnya, dia menemukan ponselmu tertinggal dirumah, lain kali lebih teliti lagi ya, oh ya, barusan ada pesan masuk siapa tahu penting." Ucap Jonatan.


"Begitu ya, akan aku cek." Adinda membuka ponsel kemudian melihat pesan yang ternyata dari suaminya, entah kenapa wajahnya mendadak tersenyum gembira.


"Kenapa tersenyum manis begitu ? apa ada yang spesial ?." Jonatan mengintip sedikit.


"Jangan lihat ! kau tahu kenapa aku senang ?." Adinda menaikkan alisnya seperti meledek.


"Kenapa ? apa kau akan mendapatkan hadiah ? atau menang lotre ?." Jonatan memegang dagunya sambil berpikir.


"Ppfttt ! menang lotre katamu ? sejak kapan ? aku tidak pernah seberuntung itu." Adinda tertawa geli.


"Lalu apa dong ?."


"Suamiku akan segera pulang ! karena pekerjaan nya telah selesai !!!." Adinda melompat girang dan memeluk putranya.


"Yang benar ? cepat sekali." Sahut Jonatan.


"Benarkah Ayah akan pulang ?." Tanya Arkan.


"Benar sayang ! kau senang ?." Arkan mengangguk lalu berlari-lari dengan riang.


"Kau terlihat sangat bahagia hanya karena mendengar kabar suamimu yang akan segera pulang, aku harap kau akan selamanya bahagia seperti ini." Ucap Jonatan ikut senang.


"Terimakasih, aku juga berdoa agar kau dan Kak Selin selalu bahagia ! ah senangnya." Adinda berputar-putar ditempat yang sangat luas itu.


"Nona, hati-hati." Farel datang membawa tiga eskrim ditangan nya.


"Farel ! aku sangat bahagia !." Adinda mengambil eskrim itu dan memakan nya.


"Untuk siapa tiga eskrim itu ?." Tanya Arkan.


"Untuk aku, kau, dan Bunda." Balas Farel tersenyum.


"Apa-apaan ini ? kenapa aku tidak dibelikan juga ?." Tanya Jonatan.


"Maaf Tuan, tapi kau tidak berada disini tadi, segera membelinya sendiri dan kita makan bersama-sama." Arkan tertawa mendengar Farel bicara.


"Anda terlihat sangat senang, ada apa Nona ?." Tanya nya.


"Suamiku akan pulang ! karena itu aku sangat senang, rasa cemas ku akan segera hilang ketika dia sampai di rumah." Kata Adinda.


"Tuan Satria memang sangat hebat, cepat sekali dia menyelesaikan tugasnya, pasti itu demi anda Nona." Farel tersenyum.


"Benar juga, kalau aku ada diposisi nya mungkin saja bisa lebih dari tiga hari, tapi aku akui suamimu memang hebat dalam bisnis, kapan dia akan terbang kesini ?." Ucap Jonatan.


"Nanti malam !."


Farel yang tadinya terlihat bingung karena merasa Adinda sangat mudah cemas dan pikiran nya dipenuhi rasa khawatir, tiba-tiba mendadak jadi gembira dan penuh semangat.


"Kabar anda mengubah segalanya Tuan."

__ADS_1


__ADS_2