
pada sore hari, Adinda bermain bersama Arkan di halaman belakang.
"Arkan anak bunda atau ayah?." kata Adinda
"yayah." jawab Arkan
"apa? Arkan maunya ayah? ga mau jadi anak bunda? hmm bunda nangis yaaa." ucap Adinda menunjukkan wajah sedih ke Arkan, lalu putra kecilnya itu tertawa dan menyandarkan kepala nya pada tubuh Adinda
"bunda sayang banget sama kamu nak." gumam Adinda mencium putra nya. disisi lain, Satria hanya melihat istri nya yang sedang asik berbincang dengan buah hati mereka.
"semuanya terasa jauh lebih tenang kalau aku melihat mu bersama dengan Arkan." ucap Satria
"sayang, betah sekali ya bicara dengan putra kecil ini." kata Satria menghampiri istri nya
"lho mas, kamu dari tadi di sini?." tanya Adinda
"yayah cini." ucap Arkan
"sini sayang sama ayah." kata Satria mengambil alih Arkan dari sang bunda
"kamu ngobrol apa sih dari tadi sama bunda? ko bunda nya sampai tidak sadar ada ayah di belakang sana." kata Satria lagi
"tu nda tu, yayah." balas Arkan
"hahaha, lihat mas wajah anak mu, lucu sekali saat menunjuk aku begitu." ucap Adinda
__ADS_1
"hei nak, sejak kapan kamu bisa menunjuk bunda mu seperti itu? sungguh menggemaskan, kalau sudah besar ayah pasti belikan semua yang kamu mau." kata Satria di balas tawa oleh Arkan
tak lama Desi datang ke halaman belakang dan tersenyum sopan kepada mereka berdua.
"maaf tuan dan nona kalau saya mengganggu kebersamaan kalian, tetapi ini sudah waktu nya jam mandi Arkan." kata Desi
"oh ya sudah Des, tolong mandikan yang bersih ya." kata Satria memberikan Arkan kepada Desi
"baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu." sahut Desi
"sayang, aku juga ke dalam dulu sebentar, mau mengecek ponsel, karena tadi seperti nya berdering." ucap Satria
"iya mas, aku akan berjalan jalan sebentar di sekitar sini, nanti aku langsung kembali ke dalam." ucap Adinda, kemudian Satria mencium kening istri nya dan segera masuk ke dalam villa
"sepertinya sudah lumayan lama aku belum menghubungi mama dan papa, mungkin sekarang mereka sedang bersantai sehingga aku bisa berbicara dengan mereka." ucap Adinda mengambil ponsel di saku nya, lalu ia tekan daftar panggilan yang bertulis mama.
tut...tut..
"halo sayang, apa kabar?." ucap Tania Anggara yang sudah lebih dulu bertanya pada menantu yang sekaligus menjadi anak tercinta nya.
"halo ma, aku baik, bagaimana kabar mama di sana?." tanya Adinda
"mama sangat baik, papa juga baik, apa cucu mama sudah pintar sekarang?." kata Tania
"hahaha, dia pintar sekali ma, kapan mama akan menemui kami di sini? atau nanti aku minta mas Satria untuk datang menemui mama ke sana, rasanya tidak sopan kalau mama yang selalu mendatangi kami, seharusnya kami yang datang ke sana, maafkan aku ma, mas Satria sangat sulit aku ajak pergi menemui mama, tapi jangan khawatir, aku akan berusaha semampu ku." ucap Adinda
__ADS_1
"itu bukan suatu masalah sayang, melihat kalian berdua bahagia pun mama sudah sangat senang, lagi pula kalian pasti sangat repot kalau harus datang ke sini, belum lagi kamu yang sedang mengandung, pasti sering sekali kelelahan." ucap Tania Anggara
"iya ma tapi mama jangan marah ya, aku benar benar minta maaf karena tidak pernah berkunjung ke sana, aku hanya menuruti saran suami ku, aku tidak bisa melawan keinginan nya." balas Adinda
"iya Adinda, mama sangat mengerti dengan putra tunggal mama, kalian baik baik ya di sana, kamu juga jangan terlalu banyak beraktivitas berat karena kasihan janin yang ada di dalam perut mu." ucap Tania
"terimakasih banyak ma, aku akan berusaha menjaga nya, mama pasti tidak sabar ya...aaagh!." Adinda yang sedang asik mengobrol tiba tiba dipukul dari belakang dan jatuh pingsan, ponsel nya pun terjatuh begitu saja, kemudian seseorang itu membawa Adinda pergi menaiki mobil.
"kerja bagus! bos pasti akan sangat senang karena kita berhasil menculik nya." ucap orang itu
"tapi pasti di setiap bagian rumah itu terdapat cctv nya." kata teman yang satu itu
"tidak masalah, yang penting wajah mu tertutup rapat saat mencoba menculik istri Satria Anggara." kata teman satu nya lagi
"derita menjadi istri pengusaha, selalu saja sial hahah menyedihkan." ucap orang itu
"sudah cepat, bawa dia ke tempat yang bos inginkan." ujar nya
setelah beberapa jam, Satria menyadari kalau istri nya tak kunjung masuk ke dalam kamar, ia segera mengecek halaman belakang tetapi tak ada tanda tanda keberadaan nya di sana.
lalu ia melanjut ke halaman depan, namun ia menemukan ponsel sang istri tergeletak di jalan.
"tidak! tidak mungkin!." Satria berlari ke dalam dan segera memasuki ruang cctv, ia melihat seseorang mencoba memasuki halaman villa dan memukul belakang Adinda sampai terjatuh pingsan
"bajingan!!!! siapa dia berani menculik istri ku!!!!!." tangan Satria mulai mengepal sampai urat urat nya terlihat jelas di sana, ia segera meminta Farel untuk mencari tahu siapa yang sudah berani menyentuh cinta dalam hidup nya.
__ADS_1