Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Bercerai ?


__ADS_3

Sementara itu Zheng sedang menikmati segelas kopi, namun ponselnya berdering.


"Halo Jeremy, ada apa ?." Ia bertanya.


"Sampai mana kau mengantar Agatha ?." Zheng terkejut mendengar suara dingin bosnya tersebut.


"Sampai kediaman Ayahnya, ah lebih tepat lagi aku bahkan mengantarnya masuk kedalam ruang tamu." Balas Zheng.


"Cepat cari tahu dimana wanita itu sekarang, aku mendengar suara pria bersamanya. Pastikan kalau dia bukan Greg." Jeremy memberi perintah.


"Baik, segera aku beri informasi." Zheng mematikan telepon dan bergegas mencari Agatha dikediaman Anggara.


"Greg, karena kau sudah sadar sebaiknya langsung kembali kerumahmu." Pinta Agatha.


"Kenapa kau ingin aku segera pergi ? Bukankah Jeremy tidak ada ? Kita bisa bersama sampai dia kembali." Kata Greg membuat Agatha mengernyit.


"Aku tidak mungkin menyembunyikanmu disini lama-lama, keluargaku akan tahu ! Dan lagi aku tak ingin bersamamu sampai Jeremy datang." Tak puas mendengar jawaban Agatha, Greg mendorong wanita itu ke tembok kemudian menciumnya lagi dan lagi.


"Hmmmpft !." Agatha berusaha keras melepaskan dekapan Greg tapi tenaganya tak jauh lebih kuat dari pria didepannya sekarang.


"Kau tahu bahwa orang jahat lahir karena dibentuk ?." Greg bertanya serius, wanita didepannya hanya mampu terdiam karena tak berani menjawab apapun.


"Aku akan menghancurkan Jeremy berkali-kali lipat dari yang aku rasakan, itu semua karena dia telah merebutmu dariku." Kata Greg membuat Agatha takut.


"Greg, aku mohon jangan lakukan itu. Jeremy benar-benar tidak bersalah atas semua ini, aku yang memilihnya sebagai teman hidup ! Bukan dia yang merebut, tapi aku yang pergi." Perkataan Agatha sontak membuat Greg sangat marah namun dia tak bisa berbuat apapun selain memeluk wanitanya penuh kelembutan.


"Bisakah kalian bercerai ? Aku bisa memberi segalanya untukmu lebih dari apapun yang Jeremy berikan." Greg memohon sambil memegangi tangan Agatha.


"Aku harus apa agar kau berhenti Greg ?." Agatha menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Agatha.." Greg memeluknya dari belakang seolah mengingatkan pada wanita ini atas semua kenangan yang mereka jalani.


"Kau ingat aku pernah melatihmu menembak ?." Mendengarnya saja bisa membuat Agatha menangis, rasanya sakit sekali.


KREKKK, pintu paviliun terbuka. Hal itu membuat Agatha dan Greg menoleh secara bersamaan.


"Apa anda memang punya sifat yang buruk seperti ini Nona ?." Zheng berkata tanpa perasaan.


"Zheng a-aku.."


"Anda sangat keterlaluan karena bermesraan dengan pria lain." Greg mendengar itu langsung merasa kesal dan menarik kerah Zheng.


"Jangan katakan hal buruk pada wanitaku !." Zheng terkekeh.

__ADS_1


"Wanitamu kau bilang ? Dia ini istri direktur dari perusahaan champion." Greg merasa ditertawai oleh Zheng, hingga ia marah dan hendak memukul.


"Greg, stop !! Kau tidak bisa melakukan kekerasan disini." Agatha menjerit.


Sementara itu didalam,


"Apa kau melihat Agatha ?." Tanya Arkan pada pelayan.


"Nona menemui Tuan Jeremy diluar." Jawaban yang aneh.


"Jeremy apanya ? Dia kan sedang diluar negri." Ia bergegas keluar mencari Agatha, lalu tak sengaja mendengar suara keributan dari arah paviliun.


"Sebaiknya anda ikut saya, ini perintah." Zheng menggandeng tangan Agatha agar menjauh dari Greg.


"Lepaskan tanganmu." Suara Arkan membuat semuanya diam, Zheng reflek melepaskan tangan Agatha kemudian menunduk hormat.


"Greg ? Bagaimana kau masuk ?." Tanya Arkan.


"Tanyakan saja pada satpam rumahmu, sebaiknya lain waktu kau harus mengganti mereka." Balas Greg.


"Kau mengatas namakan Jeremy agar bisa masuk dengan bebas ?!." Arkan menarik kerah Greg.


"Kak sudah cukup, sebaiknya kau meminta dia pulang, bukan hendak memukul." Kata Agatha.


Greg menuruti permintaan Arkan tanpa mencari permasalahan lagi, namun tetap saja dia terang-terangan mencium kening Agatha begitu cepat dan lari.


"Bajingan kau sialan !." Arkan ingin mengejar, tetapi Agatha menarik tangannya.


"Kak, sudah !." Tegasnya.


"Lalu apa tugasmu disini ?." Arkan beralih pada Zheng.


"Saya akan membawa Nona Agatha pulang, karena Tuan Jeremy tidak mengizinkannya menginap." Ucap Zheng.


"Apa untuk menginap disini membutuhkan izin dari bosmu ? Kami keluarganya, dan tak perlu mendapatkan izin." Jawab Arkan menegaskan.


"Maaf Tuan, saya hanya menjalankan perintah. Tuan Jeremy khawatir dengan adanya Nona Agatha disini akan semakin mudah ditemui oleh Greg." Zheng menjelaskan secara hormat.


"Jadi Jeremy bicara seolah-olah rumahku sangat mudah dimasuki orang lain ?." Arkan kesal.


"Tidak bukan begitu." Zheng menghela nafas karena merasa sulit menghadapi Arkan ini.


"Zheng, aku akan pulang. Tunggulah dimobil, aku harus mengambil tas dan ponselku." Zheng mengangguk.

__ADS_1


"Hei Agatha ! Kenapa pulang ? Kau kan sudah bilang mau menginap disini." Ucap Arkan.


"Aku pulang demi suamiku, dia pasti sangat marah karena tau Greg menemuiku disini." Jawabnya khawatir.


"Apa aku perlu membunuh Greg agar kau aman dimanapun berada ?." Sahut Arkan asal.


"Kau gila ya ?! Aku tidak suka punya keluarga pembunuh." Agatha segera mengambil tas dan ponselnya lalu kembali menemui Zheng diluar.


"Huh baiklah, katakan pada Jeremy besok bahwa aku ingin bertanding dengannya." Kata Arkan.


"Ya, ya baiklah akan kuberitahu." Ia memasuki mobil dan pergi.


"Berapa kali anda ingin mengecewakan Jeremy ?." Tanya Zheng yang tiba-tiba.


"Apa maksudmu bicara begitu ?." Agatha merasa tak nyaman.


"Jika tak suka bercerailah, apa yang anda lakukan akan membuat Jeremy merasa sakit." Zheng terdengar menasihati.


"Apa kau pantas bicara seperti ini pada istri majikanmu ?." Agatha menatap Zheng sedikit marah.


"Dan apa kau pantas menyakiti seseorang yang sangat mencintaimu ?." Zheng menghentikan mobilnya sambil menoleh ke arah Agatha.


"..."


"Saya mengenal Jeremy dari dulu, kami tumbuh bersama, mendiang ibunya sangat baik kepada keluargaku meskipun sikap Ayahnya terlalu sulit dijelaskan. Banyak sekali masalah yang Jeremy hadapi, tapi dia diam tanpa bicara apapun mengenai hidupnya. Dia menelan semuanya sendiri, hingga dia tumbuh dewasa seperti sekarang. Aku bersumpah untuk mengabdi padanya seumur hidup ! Dan tak akan membiarkan siapapun melukai dirinya lagi, termasuk anda." Lagi-lagi Zheng membuat Agatha menelan ludah.


"A-aku, aku sedang berusaha untuk semua ini, kau tahu kalau itu tidak mudah ? Bahkan untuk melakukannya aku butuh waktu yang tidak sebeta...."


"Sebaiknya anda bercerai dengan Jeremy, karena itu satu-satunya cara yang bisa membuat Jeremy kembali sibuk pada pekerjaannya dan melupakan semua masalah. Tentunya akan mudah pula untuk melupakan anda." Ucapan Zheng benar-benar membuat Agatha sakit.


Bagaimana mungkin seseorang ikut campur dalam rumah tangganya, sampai menyarankan untuk bercerai !


"Baik, kalau menurutmu Jeremy kesulitan karena keberadaanku, maka aku akan pergi. Tunggulah sampai besok, akanku buktikan ucapanku." Agatha meminta Zheng menghentikan lagi mobilnya, ia pun segera turun tanpa diperdulikan.


"Aku harus keras pada siapapun yang ingin merusak hidup Jeremy." Gumam Zheng melaju dengan cepat.


Karena mereka menempuh jarak yang belum terlalu jauh dari kediaman sang Ayah, akhirnya Agatha memilih untuk kembali kedalam rumah itu.


Tring..tring, terlihat nama Jeremy diatas layar.


Tak segan Agatha menolak panggilan itu, bahkan sampai puluhan kali.


"Maafkan aku."

__ADS_1


__ADS_2