
"Jeremy ?." Pria itu mendekati Agatha dan mengecek keadaannya.
"Apa kau terluka ? ada yang sakit ?." Tanyanya.
"Tidak ada, aku sama sekali tidak mengenali mobilmu." Agatha menghela nafas.
"Aku sengaja berada disini karena memiliki janji." Ucap Jeremy.
"Lalu bagaimana dengan mobilmu ? berapa supir taksi harus menggantinya ?." Tanya Agatha khawatir.
"Pak, kau keluarkan barang wanita ini lalu pulanglah untuk beristirahat, kalau kau masih memaksa bekerja dalam kondisi mengantuk, aku pastikan kau dipecat oleh atasanmu." Mendengar ucapan Jeremy, supir taksi tersebut segera menurunkan barang bawaan Agatha, kemudian mengucapkan terimakasih karena tak perlu mengganti rugi.
"Jeremy untuk apa semua ini ?." Agatha bingung.
"Ada apa ? kenapa kau pergi selarut ini ? membawa koper pula." Jeremy bertanya dengan penuh kelembutan.
"Aku sudah memutuskan untuk keluar dari rumah itu." Jeremy memasuki koper Agatha kedalam mobilnya, kemudian menggandeng tangan Agatha.
"Pergi bersamaku, aku akan menjamin semua kehidupanmu." Agatha melepas tangan Jeremy.
"Tidak perlu, aku masih punya uang untuk menjalani hidupku selama satu minggu kedepan." Agatha menatap mata pria didepannya.
"Kau terlalu mencolok ditengah ramainya kota ini, aku hanya tidak ingin kau dalam bahaya." Kata Jeremy lagi.
"Jangan khawatirkan aku." Agatha memalingkan wajah karena merasa sedih.
"Sini." Jeremy memeluknya, mengelus kepalanya sampai wanita itu benar-benar menangis.
"Hatiku sakit." Kata Agatha.
"Tidak apa-apa, sakitnya hanya sebentar kok." Jeremy berusaha menenangkan wanita dipelukannya.
"Hilangkan aku, hilangkan aku dari sini." Jeremy menyadari kalau Agatha benar-benar merasa lemah sekarang.
"Ayo masuk ke dalam mobil, dan untuk sementara ini menetaplah di apartemenku, kebetulan aku tidak pernah memakainya." Baru saja ingin mengajak Agatha melangkah, wanita itu langsung jatuh pingsan.
"Agatha ! hei, Agatha bangun." Jeremy menepuk pipi Agatha perlahan-lahan.
Ia menggendongnya dan dimasukkan kedalam mobil.
"Kau benar-benar kelelahan." Jeremy mengantar Agatha menuju apartemennya.
Disana ia menggendong Agatha masuk sampai diperhatikan orang banyak.
"Malam-malam segar sekali melihat pasangan yang sangat romantis." Ucap para manusia.
"Beristirahatlah disini, maaf aku tidak bisa menunggumu sampai sadar. Masih ada pekerjaan yang harus aku urus, aku harap kau tidak pergi dari tempatku." Jeremy tersenyum sambil menatap wajah Agatha dari dekat.
...
"Ceritakan apapun yang kau ingat." Ucap Arkan.
"Aku belum bisa mengingat jelas, tapi disana aku berdua dengan Rubby." Ucap Rain.
"Rubby ? lalu kemana dia saat kau mabuk ?." Tanya Arkan.
"Entahlah, sepertinya dia pergi. Aku tidak ingat apapun setelah mabuk." Rain menghela nafas.
"Jangan datang lagi ketempat itu." Arkan berlutut didepannya.
"Kau dengar aku ? jangan datang lagi ketempat itu." Kata Arkan sekali lagi.
"Aku dengar, maafkan aku." Rain menoleh kemudian memeluk Arkan.
"Sudah ku katakan pasti Rubby ini tidak benar." Arkan memijat keningnya.
"Terimakasih." Rain tersenyum.
"Untuk apa ?." Jawab Arkan.
"Kau menyelamatkan aku." Ucap Rain.
"Bukan aku."
"Lalu ?."
"Agatha, dia yang membawamu pulang kesini." Kata Arkan.
"Benarkah ? dia sudah tidak marah lagi padaku ya ?." Mata Rain berbinar.
__ADS_1
"Tadinya begitu, tapi mungkin sekarang beda, karena kami baru saja bertengkar." Arkan sedih.
"Bertengkar ? kenapa ?." Rain terkejut.
"Greg, aku memarahinya karena Greg. Lalu malam ini dia pergi membawa semua bajunya." Ucap Arkan.
"Astaga, apa kau diam saja ?! kejar Adikmu, cari dia." Pinta Rain.
"Tapi aku tidak mungkin meninggalkanmu." Arkan menatap Rain.
"Apa ada yang lebih menakutkan dari pada kehilangan Agatha ?." Mendengar kata-kata itu Arkan pun segera bergegas untuk mencari Agatha diluar.
"Jaga dirimu baik-baik." Rain mengangguk.
"Pergilah dan temukan dia, aku pasti aman berada disini." Sahut Rain.
Seorang satpam membukakan gerbang agar mobil Arkan dapat keluar.
ia terus melajukannya tanpa tahu harus kemana.
"Agatha, kenapa kau sangat keras kepala sih ?! pergi selarut ini." Arkan merasa cemas sekali, ia menoleh kanan dan kiri untuk memastikan apakah Adiknya berada disalah satu jalan.
"Atau mungkin dia pergi kerumah Greg ?! aku harus mendatangi rumah itu." Ketika Arkan hendak memutar mobil, ia melihat seorang nenek tua kesulitan menyebrang.
Ia segera turun dan ingin membantunya, tetapi seseorang berlari dari arah yang beda kemudian langsung menggandeng tangan nenek tua tersebut.
"Biar aku bantu." Ucap seseorang tadi.
"Pria ini, aku mengingatnya." Arkan menarik lengan orang tersebut yang tak lain adalah Jeremy.
"Hei." Ucap Arkan.
"Oh sebentar, aku akan kembali." Jeremy memberikan kode agar Arkan menunggunya.
Setelah nenek itu menyebrang dengan selamat, ia pun kembali pada Arkan.
"Kau pria yang membawa Adikku tadi." Ucapnya.
"Benar, aku tahu pasti kau berada dijalan seperti ini karena sedang mencarinya kan ?." Apa yang Jeremy katakan benar, namun Arkan mendadak marah karena khawatir pria yang kini berada didepannya macam-macam pada Agatha.
"Kau bawa kemana Adikku ?!." Arkan menarik kerah Jeremy.
"Jauhkan tanganmu." Kata Zheng.
"Zheng berhenti, aku perlu bicara padanya." Perintah Jeremy.
"Aku sempat menemukan Agatha didalam taksi, taksi itu tak sengaja menabrak mobilku karena mengantuk, lalu aku meminta supir taksi pergi untuk beristirahat, bukankah itu bahaya untuk Adikmu ?." Ucap Jeremy.
"Jelaskan ! aku tak butuh banyak basa basi." Pinta Arkan.
"Aku membawanya pulang ke apartemenku." Arkan sangat kesal, dia meninju Jeremy seperti sedang memukul maling.
"Sudah kukatakan jangan menyentuhnya !." Zheng menarik kerah Arkan, pria itu melawan dan mendorong Zheng.
"Aku tahu betul bahwa semua pria yang mendekati Adikku hanyalah seorang bajingan !." Kata Arkan marah.
"Zheng cukup, kau tak perlu marah padanya." Ucap Jeremy lagi.
"Kembalikan Adikku !!." Arkan menatap Jeremy dengan penuh amarah.
"Karena urusanku disini sudah selesai, sekarang pergilah bersamaku. Kau ingin tahu dimana Adikmu kan ?." Tanya Jeremy.
"Jangan main-main ! katakan saja dimana tempatnya." Jawab Arkan.
"Baik, kalau kau tak mau ikut aku akan pergi." Arkan segera mengikuti Jeremy masuk kedalam mobilnya, tak lupa ia melempar kunci mobil pada Zheng.
"Bawa mobilku !." Melihat Jeremy mengangguk, Zheng pun menuruti perintah Arkan.
Setibanya mereka di apartemen, Arkan segera turun dan mengikuti Jeremy lagi.
"Kalau sampai Adikku dalam bahaya, kau harus tau akibatnya." Peringatan dari Arkan membuat Jeremy terkekeh.
"Tanpa aku, Adikmu pasti jauh lebih dalam bahaya." Ia membuka pintu apartemennya dan melihat Agatha yang berbaring ditempat tidur.
"Agatha !." Arkan berlari menghampirinya.
"Dia pingsan saat aku ingin membawanya kemari, dia menangis, kau lihat matanya." Arkan memperhatikan mata Agatha yang sedikit membengkak, lalu wajahnya yang kusut.
"Anak yang manis, kau pasti sangat sedih saat aku membentakmu." Arkan mencium kening Agatha dan memegang tangannya.
__ADS_1
"Agatha sangat lemah, kau tak bisa terus menerus menekannya, dia bukan pria yang kuat seperti kita." Ucap Jeremy.
"Jangan coba-coba menasihatiku." Arkan berkata sinis.
"Atas dasar apa kau selalu membentaknya ? kau tahu apa yang dia bilang ? dia tidak mau tinggal dirumahmu lagi karena hatinya terlalu sakit. Tidak kasihan ?." Pertanyaan Jeremy membuat ia berpikir.
"Aku tidak bermaksud menyakiti hatinya, bertahun-tahun aku menjaganya dengan baik, melindunginya penuh kasih sayang, apa kau pikir saat dia dewasa aku mampu menyakitinya ? tidak. Aku lemah." Arkan mencurahkan isi hatinya pada Jeremy.
"Lalu apa maksudmu ? aku lihat kalau dia bukan wanita yang sulit diatur, meskipun kelakuannya sedikit menyebalkan." Jeremy menopang dagunya dengan santai.
"Dia mencintai seorang pria yang sudah jelas selalu membuatnya dalam bahaya." Kata Arkan, Jeremy melihat betapa marahnya Arkan saat mengatakan hal itu.
"Kau yakin ?." Tanya Jeremy.
"Aku yakin ! setiap kali pria itu membawa Adikku, pasti hal buruk selalu saja terjadi. Jika kau menjadi seorang Kakak, apa kau akan membiarkan Adikmu diiringi banyak bahaya ?." Jeremy menggeleng.
"Aku mengerti, tapi kali ini jangan paksa dia untuk tetap bersamamu. Biarkan dia tenang dalam beberapa waktu, setelah itu kau bisa membujuknya kembali." Arkan menyipitkan mata.
"Membiarkannya tinggal satu kamar denganmu ?!." Kata Arkan.
"Kau pikir aku akan melakukan itu ? astaga, aku masih punya rumah untuk ditinggali, apartemen ini memang tak pernah aku datangi selama satu tahun." Ucap Jeremy menjelaskan.
"Hem." Suara Agatha membuat Arkan menoleh.
"Cepat pergi ! dia hampir sadar." Jeremy mendorong Arkan untuk sembunyi dibalik dinding.
"K-kau masih disini ?." Tanya Agatha, ia mendudukkan tubuhnya diatas ranjang.
"Aku baru saja datang, kau lihat jarum jam itu." Agatha menoleh dan melihat bahwa malam ini sudah pukul satu.
"Apa aku tertidur selama itu ?." Kata Agatha.
"Tertidur ? hei, kau ini pingsan." Jeremy tertawa.
"P-pingsan ?." Agatha semakin kebingungan.
"Aku datang untuk memeriksa kondisimu, apa sudah lebih tenang ?." Jeremy berlutut dihadapannya.
"Sudah, maaf aku merepotkan." Ucap Agatha.
"Kau merasa begitu ?." Tanya Jeremy.
"Iya, kau sudah berulang kali menyelamatkan aku. Rasanya aku menjadi berhutang." Agatha menunduk.
"Bagaimana kalau kau membayar hutang itu dengan cara menetap di apartemen ini ?." Agatha tersenyum.
"Jika membayar hutang seenak ini, aku yakin semua orang diseluruh dunia pasti berlomba-lomba memiliki hutang." Jeremy tertawa.
"Aku hanya khawatir, biarkan aku menjagamu disini. Kau tenang saja, kita tidak akan tinggal ditempat yang sama, aku akan sering datang kemari untuk memastikan keadaanmu." Jeremy mengusap kepala Agatha dan tersenyum manis.
"Apa aku tidak terlalu merepotkan ya ? aku masih punya uang kok." Kata Agatha.
"Simpan saja uangmu untuk memasak kalau kau lapar, sekarang tidurlah dan jangan lupa bangun pagi. Mencari udara segar dibawah itu sangat enak." Agatha tersenyum, dan memeluk Jeremy.
Arkan yang melihatnya dari jauh merasa gondok, ia mengepalkan tinjunya sambil melotot ke arah Jeremy.
"Makasih atas semua bantuan yang kau berikan untukku, aku janji akan membayarnya suatu hari nanti." Jeremy juga melingkarkan kedua tangan tersebut dipinggang Agatha.
"Sampai jumpa besok." Agatha mengangguk.
"Hati-hati dijalan ya." Jeremy tersenyum senang melihat wanita yang dia anggap sangat menyebalkan mendadak lembut dan manis.
"Em, tunggu !." Agatha berlari mengejar Jeremy, Arkan terkejut dan langsung kembali bersembunyi.
"Ini nomorku, tolong beri kabar kalau sudah sampai." Pria didepannya terpaku, ia tak menyangka akan diberikan nomor telepon secepat ini.
"Jaga dirimu."
Setelah Agatha menutup pintu apartemen, Arkan pun keluar dari tempat persembunyiannya, ia segera menarik lengan Jeremy.
"Beraninya kau menyentuh Adikku !." Katanya marah.
"Kau lihat kan ? dia yang memelukku duluan, tidak ada salahnya aku membalas pelukan itu." Jawaban Jeremy membuat Arkan semakin kesal.
"Kau kan bisa mencegah dia untuk tidak melakukan hal itu !."
"Dengan cara apa ? kau ini aneh, sudah sana pulang. Mobilmu sudah berada dibawah. Berterimakasihlah padaku dan Zheng." Kata Jeremy.
"Tidak mau ! awas kalau kau berani macam-macam dengan Agatha, akan ku hancurkan seluruh apartemen disini." Cepat-cepat Arkan mendahulukan jalan, lalu masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Bukankah itu Tuan Jeremy ? sedang apa dia tengah malam begini, aku harus memberitahu Marry." Ucap seorang wanita yang tak sengaja melihatnya dikejauhan.