Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Bedebah


__ADS_3

"Tolong ! tolong ! ada perampokan disini !." Teriak wanita lain.


Ponsel Adinda mendapati telepon dari suaminya, namun dengan keji pria tua yang baru saja berbicara dengan nya mengambil ponsel tersebut untuk dibanting ke lantai.


PRAKKKK.


"Bedebah ! apa yang kalian lakukan padaku !!!!!." Adinda berteriak.


"Jangan khawatir, aku tidak akan melukaimu sedikitpun, aku hanya membutuhkan semua benda-benda berharga yang kau miliki." Ucap si tua.


"Kau bahkan masih mampu bekerja kenapa harus mencuri ?!." Kata Adinda.


PLAK!


"Ahhh." Wajah Adinda terlempar karena ditampar.


"Orang kaya memang tidak pernah mengerti betapa menderitanya kaum-kaum miskin ! dia hanya mengatakan bahwa bekerja itu terasa gampang, padahal tidak segampang apa yang kau bicarakan ! Wanita sialan !." Adinda sangat takut, ia diam-diam ingin menekan tombol darurat di belakangnya agar semua orang didepan mengetahui bahwa ada beberapa wanita yang minta diselamatkan dalam toilet ini.


"Beraninya kau melawan !." Pria yang lain itu menarik Adinda agar menjauh dari tombol tersebut, sambil memegang tangan Adinda agar tidak berontak, ia pun menggeledah seluruh tubuhnya hanya untuk mencari benda-benda yang berharga.


"Kurang ajar ! aku bisa melaporkan hal ini sebagai tindakan pelecehan seksual !." Ia berteriak kesal didepan wajah penjahat itu, namun mereka tak perduli, ia tetap mencari barang-barang berharga, kemudian ia menemukan anting, kalung, dan cincin ditubuh Adinda.


"Jangan ! jangan ambil yang itu ! aku mohon ! kau boleh ambil apapun yang kau suka, asal jangan ambil cincin pernikahan ku, aku mohon." Wanita itu hampir menangis karena cincin nya dirampas.


"Aku sudah menduga, kau bukan wanita sembarangan, bawa dia." Perintah si tua.


"Baik bos."


"Haaa lepaskan ! lepaskan aku ! ambil saja semua yang kau inginkan tapi lepaskan aku dan jangan ambil cincin itu !." Adinda berteriak.


"Semua yang aku inginkan ? tentu saja, aku sangat menginginkan Nyonya." Mereka semua tertawa dan meninggalkan tempat tersebut.


Wanita lain sudah menangis karena barang-barang berharga nya diambil, namun dia tak kalah terkejut ketika melihat para penjahat keluar membawa Adinda dengan cara membuka keramik yang ada dilantai.


Di tempat bermain, Satria merasa cemas karena telepon nya tak diangkat, lalu dia meminta Arkan keluar dari tempat ini untuk mencari Adinda.


tanpa disengaja, seseorang menabrak Satria hingga cincin pernikahan dijari manisnya terlepas dan menggelinding ke arah lain.


"Astaga, cincinku." Satria mencari cincin nya, lalu meminta bantuan Arkan.


"Nak, cincin Ayah terjatuh, tolong bantu carikan, Ayah melihat nya disekitar sini." Pinta Satria.


"Baik Ayah, aku akan mencarinya sampai dapat." Arkan mengintip ke setiap kolong, lalu menemukan nya disudut kanan dekat patung badut.


"Ayah, ketemu !." Pria kecil itu memberikan cincin nya ke sang Ayah.


"Terimakasih nak, tapi kita harus segera mencari Bunda." Satria menggendong Arkan dan bertanya kepada setiap orang tentang Adinda.


"Bunda dimana Yah ? kenapa belum ketemu juga." Ucap Arkan.


"Sebaiknya kita ke ruang informasi, kita cari Bunda lewat sana." Kata Satria.


"Taun, ada apa?." Tanya pegawai informasi.


"Tolong infokan kepada seluruh pengunjung disini, bahwa wanita yang bernama Adinda Chelsea Renata saya tunggu diruang informasi, segera!." Kata Satria lagi.


"Baik Tuan."

__ADS_1


"Selamat malam semua, untuk Nona yang bernama Adinda Chelsea Renata, ditunggu ke ruang informasi segera, sekali lagi untuk Nona yang bernama Adinda Chelsea Renata, ditunggu ke ruang informasi segera, terimakasih." Pegawai tersebut menutup panggilan, lalu menghadap Satria.


"Sudah Tuan, mungkin orang yang anda cari sebentar lagi akan datang." Ucap Pegawai.


Sepuluh menit mereka menunggu, namun tidak menemukan apa-apa, Satria juga sudah mencoba untuk menghubungi istrinya berkali-kali namun tidak aktif.


"Kamu dimana sih ?!." Pria itu terus berpikir, lalu teringat bahwa dia pasti mencari toilet terdekat dari tempat Arkan bermain.


Ia segera kembali ke tempat timezone dan bertanya pada karyawan, letak toilet yang paling dekat.


Karyawan itupun menunjukkan arah jalan yang sama seperti dia menunjukkan pada Adinda tadi.


"Kenapa didalam gelap sekali ? tidak terdengar suara apapun." Satria menempelkan telinga nya ke pintu, kemudian mendengar suara pintu yang sedang dipukul berkali-kali.


"Aku yakin, ada orang di dalam, mungkin istriku ada di sana." Satria segera membuka pintu itu, tetapi terkunci, kemudian ia meminta Arkan tunggu sebentar karena dia akan mendobrak pintu tersebut.


"T-terimakasih ! Tuan sudah menyelamatkan kami !." Satria tak menggubris apapun yang dia dengar, tapi matanya membulat karena melihat toilet ini sangat berantakan, terlebih ia melihat ponsel Adinda yang pecah dilantai.


"Ponsel ini ?! apa kalian melihat istriku ?!." Tanya Satria gemetar.


"A-apakah istri anda memakai dress berwarna mocca ?." Para wanita itu bertanya dengan gugup.


"Ya ! benar ! kau melihatnya ?!." Ucap Satria.


"Tuan, sebaiknya anda cepat menyelamatkan istri anda, tempat ini sangat mengerikan !!!." Semua orang pergi keluar setelah menjawab pertanyaan Satria seperti itu, lalu Satria menghubungi Farel untuk mengambil putranya sesuai titik lokasi.


"Sayang, maaf kali ini kau harus pulang bersama Tuan Farel ya, Ayah harus pergi mencari Bunda mu, kita keluar sekarang." Saat Satria hendak keluar, ia melihat beberapa lantai yang terbuka, dirinya menjadi curiga sehingga cepat-cepat mengangkat lantai itu, alangkah terkejutnya Satria melihat pintu kecil dan segera menggendong Arkan untuk turun kebawah sana.


"Lobby ?! apa-apaan ini ?!." Satria cemas, ia mencari mobilnya dan menunggu sampai Farel tiba.


Tak lama kemudian, Farel tiba dan langsung membawa Arkan pergi.


"Aku yakin, terimakasih." Satria segera bergegas menjalankan mobilnya.


Sebelum keluar dari parkiran tersebut, ia berhenti mendadak karena melihat sebaran permen yang sama persis dengan permen yang ada di mobil nya.


"Adinda ! aku tahu ini permen Adinda !." Satria mengikuti jejak permen tersebut sambil berjalan kaki, tetapi sangat disayangkan karena jejak itu terputus, mungkin permen nya terlalu sedikit sampai tak bisa memberitahu lokasi lebih jelas dimana keberadaan istrinya.


Ia berhenti ditempat yang sangat sepi, bahkan tak ada satupun mobil terparkir di sana.


"Sayang, aku mohon berikan petunjuk satu kali lagi, aku janji akan menemukan mu." Satria sangat frustasi, ia mengacak rambutnya sendiri dan hendak menangis.


Dukk!!!! dukkk!!!


Tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu besi yang kusam, bahkan sudah karatan seperti tak pernah lagi dipakai selama belasan tahun.


Satria berjalan mendekat, ia sangat berhati-hati, lalu mengintip sedikit ke lobang pintu besi tersebut.


takut sewaktu-waktu dia membuka, namun ternyata bukan Adinda.


Setelah mengintip, ia melihat istrinya diikat dengan tali tambang beserta kursi yang didudukinya.


"Adinda ?!." Satria segera membuka pintu itu dengan kasar dan menemukan istrinya.


Ia melihat wajah Adinda yang lusuh, bahkan menangis.


ditambah telinganya terluka akibat rampasan anting tadi. Mulutnya dilakban sehingga ia tak bisa bicara.

__ADS_1


Satria membebaskan Adinda dari semua itu, wanita yang kini berada dihadapan nya segera melompat memeluk suaminya dengan ketakutan yang paling besar.


"Sayang, jangan takut, aku ada disini bersamamu." Satria berusaha menenangkan nya, namun ia sangat sadar bahwa pelukan ini terlalu kuat.


"Kau begitu takut ? maafkan aku, aku terlambat menemukanmu." Pria itu mengelus rambut Adinda dan mencium keningnya.


Adinda tidak bicara sama sekali, dia hanya menangis dan mencengkram kuat kemeja suaminya.


"Kita pulang sekarang, kau aman bersamaku." Satria menggendong Adinda menuju mobil.


Sesampainya di mobil, ia mengunci seluruh pintu dan melihat wajah sang istri.


"Apa yang mereka lakukan padamu ? sampai kau seperti ini ?." Satria memegang tangan Adinda yang masih gemetar, lalu ia mencium punggung tangan nya serta memeluk wanita itu sekali lagi dengan harapan Adinda kembali tenang.


Satria menahan diri untuk bertanya lebih lanjut, ia tahu mungkin istrinya syok jadi memutuskan untuk cepat pulang.


Sesampainya di rumah, Satria membawa Adinda ke kamar dan mengunci pintu.


ia memandangi wajah istrinya dengan cermat, wanita itu sama sekali tak melihat Satria, melainkan melamun.


"Sayang, aku di sini, aku suamimu." Ia berkata sangat lembut sekali.


"A-aku sangat takut." Mendengar jawaban Adinda, Satria melihat ke arah tangan nya yang mengepal.


"Lihat aku, lihat." Ia memegang kedua pipi itu untuk melihatnya sejenak.


"Kau aman sekarang, tidak ada yang akan menyakitimu." Kata Satria lagi.


"Maafkan aku Mas, maaf." Adinda kembali menangis dan terus meminta maaf.


"Tidak perlu meminta maaf, Mas yang salah karena lalai menjaga kamu, sini peluk Mas lagi." Satria menarik istrinya, kemudian ia menyandarkan kepala itu di dada suaminya.


"C-cincin aku hilang, mereka mencuri semua yang aku punya." Kata Adinda ketakutan.


"Aku tidak perduli berapapun yang hilang, asal bukan kamu Adinda, hanya itu." Satria mencium kening Adinda lagi, kemudian meletakkan tangan Adinda di bahu nya.


"Mas akan ganti berapapun yang diambil oleh mereka, tapi ceritakan apa yang mereka lakukan padamu sampai kau ketakutan seperti ini." Ia membujuk Adinda agar bicara.


"M-mereka menggeledah seluruh tubuh ku, itu sangat menyakitkan, bahkan mereka menarik ku, mereka menamparku, dan mengikatku ditempat yang gelap dan sepi, a-aku..." Satria tak kuasa melihat istrinya yang gugup dan penuh rasa takut.


"Aku akan beri mereka pelajaran atas apa yang mereka lakukan padamu, jangan takut lagi ya ? aku bahkan tidak mengenalmu yang seperti ini." Adinda menatap wajah suaminya dan mengangguk.


"Tidak takut lagi, janji ?." Satria menunjukkan jari kelingkingnya.


Tanpa berkata-kata, Adinda mengaitkan jari kelingking mereka.


"Tidurlah sekarang." Ia membantu Adinda berbaring dan menarik selimutnya, lalu ia ingin meletakkan ponsel Adinda yang hancur ke dalam laci meja.


"Jangan !." Sejenak Satria terkejut namun ia kembali mendekatkan dirinya ke Adinda.


"Tidak sayang, tidak, aku tidak pergi, aku disini bersamamu." Pria tersebut ikut membaringkan tubuh nya kemudian memeluk Adinda sampai wanita itu tenang dan tertidur.


Setelah tidur, Satria bangun hendak ke kamar mandi, ia juga menaruh ponsel istrinya ke dalam laci.


setelah kembali dari kamar mandi yang jaraknya begitu dekat dengan kasur, ia langsung melihat dan mendengar Adinda.


"Jangan ! jangan ambil itu ! kau boleh ambil apapun yang kau inginkan, asal jangan cincin itu !."

__ADS_1


"Jangan sentuh aku ! jangan ! ini pelecehan, jangan lakukan ! aku mohon, hiiiksss...hikss."


"Istriku sampai seperti ini karena mereka ! bajingan ! akan aku habisi dia dengan tanganku sendiri !."


__ADS_2