
Tak lama setelah itu Satria pun kembali dengan membawa sebungkus rujak ditangan nya.
"Ah ya ampun Mas, aku jadi semakin cinta padamu." Kata Adinda tertawa kecil.
"Memang wanita satu ini pintar sekali memberi wajah manis saat keinginan nya sudah terpenuhi, makan lah, dan ingat? jangan carikan ayah baru untuk Arkan serta calon adiknya." Ucap Satria sambil mengacak rambut istrinya itu.
"Ya ya baik, tergantung bagaimana kamu nanti saja ya." Adinda membuka bungkusan rujak dan segera melahapnya.
...
"Tuan Jonatan? istri anda sudah sadar." Kata dokter.
"Baiklah, saya akan masuk." Saat Jonatan hendak masuk ke dalam, tiba-tiba Bryan menyalip dan segera masuk lebih dulu.
"Bryan!." Jonatan ingin menarik kerah baju pria itu namun tangan nya tak sampai.
"Maaf Tuan, sebaiknya anda menunggu giliran, pasien hanya boleh dijenguk dengan satu orang saja." Kata suster yang tak tahu siapa Jonatan.
"Saya adalah suam..."
"Kalau begitu saya permisi." Suster itupun pamit pergi.
"Sialan!." Gumam Jonatan.
"Sabar Jonatan, setelah Bryan keluar kau bisa langsung masuk menemui Selin." Tania mengelus bahu pria tersebut.
Di dalam, Selin terkejut melihat keberadaan Bryan, karena yang dia pikirkan saat ini adalah suaminya. tapi kenapa justru Bryan yang datang?.
"Mau apa kau kemari?." Tanya Selin.
"Kau ceroboh! bagaimana bisa bayi kita mati?! hah!." Ucap Bryan.
"Bayi kita? sejak kapan semua itu terjadi? saat ini perutku telah kosong! dan mulutmu tidak layak menyebutkan bayi kita lagi!." Balas Selin.
"Apa maksudmu Selin?." Ucap Bryan.
"Maksudku adalah berhenti untuk menyebut bayi kita! cepat sana pergi! aku ingin bertemu dengan Jonatan!." Kata wanita itu.
"Keterlaluan kau! bagaimana bisa kau bersikap seperti tidak ada apa-apa disaat bayiku mati?!." Bryan marah.
"Jonatan! Jonatan!!." Selin berteriak.
"Ya Selin? apa dia memperlakukanmu dengan buruk??." Jonatan berlari dari luar karena khawatir Selin di apa-apa kan.
"Tolong suruh dia pergi! aku muak melihat wajahnya, sudah seperti pengemis saja." Pinta Selin.
"Bryan, aku minta maaf tapi kali ini kau harus pergi, tolong jangan membantah, aku malas ribut denganmu, anggap saja ini demi Selin." Kata Jonatan.
"Beritahu istrimu, dia tak pantas mengatakan hal seperti ini! aku tidak terima." Bryan pergi membawa luka dihatinya.
"Aku sudah mengusirnya, jadi apa yang telah kamu katakan sehingga pria itu marah dan kecewa?." Tanya Jonatan.
"Hei, apakah kekecewaan nya terlalu penting untukmu?." Selin membalas.
"Tidak juga, hanya saja menurutku itu terlalu buruk untuk dikatakan kepada Bryan." Kata Jonatan.
"Sejak kapan kau memperdulikan nya?." Tanya Selin sinis.
"Sejak kau mengandung bayi pria itu, sudah jangan menjawab perkataan ku lagi, bagaimana pun kau tetap terlihat jahat mengatakan hal-hal seperti tadi, dia pria yang memiliki hati, sama seperti aku, bagaimana rasanya jika kamu yang merasakan kehilangan? kemudian seseorang berbicara tanpa adanya rasa kasihan." Ucap Jonatan menasihati.
Klaak..
"Mama.." Sebut seorang anak kecil.
"Selina? kau disini nak?." Selin berusaha menggapai wajah cantik putrinya.
"Mama, kau harus lekas sembuh, aku sudah memaafkan mu." Balas Selina.
__ADS_1
"Terimakasih ya sayang, Mama senang sekali mendengar hal ini, Mama janji tidak akan marah-marah tanpa sebab lagi." Selin tersenyum ramah.
"Apa adik bayi masih berada didalam sini?." Selina menunjuk perut Mama nya dan berkata dengan polos.
"Selina, dengar Papa, mulai hari ini adik bayi sudah tidak tinggal di dalam perut Mama, adik bayi telah pergi ke tempat yang jauh lebih indah." Jelas Jonatan.
"Iya nak, adik kamu sudah pergi ke tempat yang lebih baik, tak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja di sana, kalau kamu menginginkan nya berada diperut Mama lagi, segera lah bilang pada Papamu ya." Kata Tania.
"Benarkah?! Papa? apakah adik bayi akan berada diperut Mama lagi saat aku memintanya padamu?." Ucap Selina polos.
"Lain kali akan Papa berikan ya sayang, tidak sekarang." Jawab Jonatan, pria itu lekas pergi tanpa menghiraukan Selin yang tersipu malu.
"Jonatan?!." Panggilnya.
"Kamu jangan banyak bergerak, Mama akan bicara dengan Jonatan." Tania keluar.
"Jonatan, ada apa? apa yang kamu pikirkan?." Kata Tania.
"Aku hanya tidak habis pikir dengan Selin, kenapa dia tega sekali pada bayinya?! ya walaupun semua ini diluar kendali, tapi dia tetap saja tidak boleh sebenci itu, dia yang melakukan nya dengan Bryan." Kata Jonatan frustasi.
"Mama tahu Selin salah besar, tapi Mama tidak bisa mengatakan apapun padanya." Kata Tania lagi.
"Asal Mama tahu, aku berusaha keras menahan amarahku saat aku tahu bahwa dia hamil dengan Bryan, namun saat aku sudah bisa menerima keberadaan bayinya justru Selin terlihat sangat bahagia ketika kami kehilangan bayi itu." Ucap Jonatan.
"Tolong sabar nak, ini adalah ujian, dan kau harus bisa melewati nya bersama Selin." Tania mengusap bahu Jonatan dengan lembut.
*****
3 BULAN BERLALU.
"Aaaaaaaahhhhhh!." Suara jeritan Adinda.
"Sedikit lagi Nyonya, anda harus bertahan." Ucap Dokter.
"Aaarghhhhh...huuu..huuhh." Adinda memegang kuat-kuat tangan suaminya sambil berusaha mengeluarkan bayi mereka.
"Sayang, sedikit lagi, ayo, lakukan." Pinta Satria, tangan nya tak lepas dari genggaman sang istri, belum lagi tangan satunya yang memegang kepala Adinda, ia terus menciumi kening itu.
"Syukurlah! Bayinya berhasil keluar." Sang Dokter memberikan bayi itu kepada suster untuk di bersihkan.
Kemudian Dokter segera memberikan bayi itu lagi kepada Adinda.
"Ini Nyonya bayi anda, sangat cantik, sama seperti ibunya." Kata Dokter.
"Terimakasih Dok." Ucap Adinda dan Satria bersamaan.
"Mas, mau diberikan nama apa?." Kata Adinda.
"Zeline Agatha Lateshia."
"Syukurlah cucuku sudah lahir, siapa namanya Satria?." Tanya Tania yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Zeline Agatha Lateshia Ma, kau bisa panggil dia dengan nama apa saja diantara itu." Jawab Satria tersenyum.
"Agatha, cucuku." Tania melihat bayi kecil itu dengan gemas.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya." Ucap seseorang dibelakang Satria.
"Oh malam semua, maaf saya bahkan tidak mengira kalian akan datang kesini." Balas Satria.
"Tidak apa-apa Tuan, maaf juga kalau saya sudah terlanjur masuk kesini, karena tadi sudah berusaha mengetuk namun tak ada jawaban." Kata nya.
"Nyonya, selamat atas anak kedua nya ya, saya turut bahagia melihat bayi mungil ini lahir ke dunia." Kata wanita yang bekerja di perusahaan Anggara.
"Terimakasih ya sudah menyempatkan waktu untuk datang." Kata Adinda ramah.
"Nyonya, kami membawakan hadiah untuk bayi yang cantik ini, oh ya siapa namanya?." Kata karyawan lain.
__ADS_1
"Namanya Zeline, terimakasih hadiahnya, kalian ini repot-repot sekali." Adinda tertawa kecil.
"Sudah lama saya tidak melihat Nyonya dan Tuan di perusahaan, hanya ada Tuan Farel saja di ruang direktur, kami rindu sekali dengan keberadaan Nyonya Adinda." Kata wanita perusahaan.
"Maafkan saya, belakangan ini saya memang hanya menghabiskan waktu di rumah saja bersama wanita manja ini, semenjak hamil dia banyak sekali keinginan ha-ha." Ucap Satria.
"Apanya yang manja Mas?! jangan dengarkan bos kalian, dia berbohong." Kata Adinda sinis.
"Aku sangat iri dengan Nyonya, memiliki suami yang pandai memanjakan istrinya." Terdengar suara tawa yang pecah setelah itu.
"Ha-ha, seharusnya Tuan kalian yang beruntung memiliki aku, karena aku manis dan penyabar." Semua orang di ruangan itu tertawa mendengar perkataan Adinda.
"Ya ya, kalian semua harus tahu bahwa yang beruntung adalah aku, jika aku tidak memilikinya di dunia ini, belum tentu kalian bisa datang sekarang untuk menjenguk anak kedua kita, iya kan sayang?." Satria melirik Adinda sambil tersenyum manis.
"Tidak di sangka ternyata Tuan dan Nyonya seromantis ini." Ucap para bawahan Satria.
"Selamat malam." Suara familiar tiba-tiba muncul di keramaian, semua orang terkejut melihat keberadaan wanita itu, namun tidak dengan Satria dan Adinda.
"Dia kan wanita yang pernah mengganggu Tuan Satria kala itu!." Bisik-bisik karyawan mulai terdengar.
"Aku dengar kabar bahwa kau sudah melahirkan, selamat ya." Kata wanita itu.
"Terimakasih Sheira, seharusnya kau tidak perlu repot-repot datang kemari hanya untuk mengucapkan selamat." Kata Adinda.
"Aku memang sengaja datang kesini, dan ini hadiah kecil dariku, semoga kamu menyukainya." Kata Sheira.
"Bukan kah pembicaraan Nyonya tadi terdengar seperti menolak halus keberadaan Sheira?." Para wanita yang berdiri tak jauh dari Adinda kembali berbisik satu sama lain.
"Benar! aku yakin istri Tuan Satria tidak menyukai Sheira, ya bagaimana bisa mereka begitu dekat kalau dulu saja Sheira berusaha mengambil Tuan Satria dari tangan nya." Katanya lagi.
"Ekhm... sebelumnya aku minta maaf karena menganggu kenyamanan kalian, tapi aku datang kemari dengan niat baik, satu lagi, aku bukan Sheira yang dulu, dan kalian semua harus mengetahui hal itu." Sheira angkat bicara setelah mendengar banyak orang berbisik tentangnya barusan.
"Sheira, maaf kalau tempat ini terlihat kurang nyaman untukmu, jika kau lelah dan ingin beristirahat pergilah ke kamar sana." Adinda menunjuk sebuah pintu yang berada didekatnya.
"Tidak perlu Adinda, suamiku menunggu diluar, aku akan segera pulang." Sheira berpamitan kemudian keluar dari ruangan.
"Hei?! apa kau melihat tangan nya? banyak sekali lebam-lebam, kau tahu apa itu?." Kata para wanita.
"Entah, hanya ada dua kemungkinan, suaminya terlalu kasar dalam bercinta atau memang dia dikasari akibat tidak cinta ha-ha."
"Mas, aku ingin beristirahat, tolong beritahu mereka untuk meninggalkan ruangan ini." Pinta Adinda.
"Aku akan meminta mereka pergi, istirahatlah, kau pasti sangat lelah." Satria mengecup kening istrinya kemudian menyuruh bawahan nya keluar.
"Sayang, Mama akan beristirahat juga di ruangan itu ya, Satria akan menjagamu disini." Kata Tania.
"Baik Ma, selamat beristirahat." Adinda memegang tangan Tania dengan lembut lalu membiarkan wanita itu masuk ke dalam ruangan disebelahnya.
...
"Kenapa kau keluar dengan wajah tertekan?! apa Satria macam-macam padamu?!." Kata Adi.
"Tidak, ini semua tidak ada hubungan nya dengan Satria, kau jangan menyalahkan dia terus menerus." Jawab Sheira.
"Lalu kau kenapa?!." Tanya pria itu.
"Aku malu saat semua orang membicarakan ku, ya memang dulu aku melakukan kesalahan, tapi kini aku sudah berubah, aku tidak pernah berpikir untuk merebut Satria kembali." Sheira berkata dengan sedih.
"Ha-ha, itu kesalahanmu sendiri, percuma saja menyesal, karena keburukan yang kamu lakukan akan membekas selamanya di hati mereka." Jawab Adi, ia berjalan mendahului istrinya tanpa perduli kalau Sheira sedang menangis dibelakang.
"Kenapa kamu selalu bersikap seolah tak perduli padaku? disaat aku melakukan sedikit kesalahan kau langsung memakai kekerasan untuk melukaiku, mana mungkin suami menyakiti istrinya sendiri!." Ucap Sheira.
PLAKKK!!
"Brengsek! diam kau! seharusnya kau bersyukur bisa menikah denganku, tanpa aku, kau akan menjadi pengemis jalanan, oh atau menjadi wanita kotor yang menjual dirinya di club malam hanya demi selembar uang." Kata Adi emosi.
"Sehina itu aku di matamu? kemana kau yang dulu mengatakan cinta padaku?! hah?! tidak ada cinta yang menyakiti!." Teriak Sheira.
__ADS_1
"Apa kau bilang? tidak ada? ha-ha, jika tidak siap untuk disakiti maka jangan pernah jatuh cinta." Kata-kata itu menusuk hati Sheira, bagaimana bisa Adi sekejam itu, padahal Sheira sudah terlanjur mencintainya.
"Begitulah kehidupan, disaat kamu menyakiti seseorang dan kemudian seseorang mencoba untuk menyakitimu, Sheira? ini adalah hukuman, aku pun pernah merasakan hal yang sama sepertimu." Kata seorang wanita yang tak lain adalah Monik, dia sengaja datang ke rumah sakit untuk menemui Adinda dan bayi kecilnya.