
"Jika tidak, untuk apa berhari-hari aku menunggumu disini ? Mengertilah, aku mau kau segera sembuh." Agatha memeluk Jeremy erat-erat.
"Baiklah, aku mendengarkanmu kali ini." Pria didepannya mengelus kepala Agatha, dan bertekad didalam hati bahwa saat dirinya sembuh dia akan membalas perbuatan Liam pada istrinya.
"Tuan, ini buburnya..." Zheng yang masuk secara tiba-tiba langsung terdiam sesaat.
Agatha segera melepas pelukan itu, lalu menghapus air matanya sendiri.
"Maaf Nona ! Saya lancang karena lupa mengetuk pintu." Zheng terlalu bersemangat atas sadarnya Jeremy hari ini sampai dia begitu senang mengantarkan semangkuk bubur.
"Tidak apa-apa, aku akan keluar sebentar. Tolong jaga Jeremy." Agatha berbalik, mengambil tasnya dan pergi.
"Zheng, temani dia." Perintah Jeremy.
"Aku akan mengikutinya." Zheng meletakkan bubur diatas meja, kemudian beranjak mengikuti Agatha dari belakang.
"Bisakah kau berhenti ? Aku hanya ingin mencari udara segar diluar." Kata Agatha menghentikan langkahnya.
"Saya hanya menjalankan perintah." Balas Zheng.
"Apa Jeremy pernah mendengarkan ucapanmu ?." Agatha menatap Zheng.
"Mana mungkin, hanya saya yang boleh mendengarkan beliau. Tidak sebaliknya." Jawab Zheng.
"Maksudku, apa kau pernah melarangnya agar tidak bertindak gegabah ?." Sebut Agatha lagi.
"Tidak pernah, apa anda sedang dalam masalah ? Mengapa bertanya begitu ?." Kata Zheng menanyakan hal tersebut.
"Jeremy marah karena melihat obat yang terdapat didalam tas ku, entah bagaimana dia menemukannya. Lalu dia mendesakku agar berkata jujur." Agatha menunduk, terlihat wajahnya begitu murung.
"Sepertinya anda salah paham, dia bukan marah melainkan khawatir karena anda menyembunyikan sesuatu darinya." Ucap Zheng menjelaskan.
"Aku tahu, tapi bukan itu yang aku pikirkan. Jeremy hampir saja nekat melepas infusannya hanya untuk pergi menemui Liam ! Kau tahu kan apa yang akan terjadi setelah itu ?!." Agatha berteriak keras.
"Apa ?! Lalu bagaimana anda menghentikannya ?." Kata Zheng terkejut.
"Hanya dengan nyawaku maka dia akan tunduk. Aku tak bisa menghentikan Jeremy tanpa berbuat nekat seperti tadi. Jika aku tak melakukan apapun, dia pasti sudah pergi menjumpai Liam dirumah." Agatha memegang kepalanya sendiri karena bingung.
"Itulah salah satu sisi yang harus diketahui dari suami anda, dia tak akan menghentikan tekadnya untuk melawan seseorang yang telah mengusik wanita kesayangannya." Zheng bicara dengan tenang seolah Jeremy sering melakukan tindakan itu.
"Saat bersama Marry, apa Jeremy melakukan hal yang sama ?." Tanyanya secara tiba-tiba.
"Benar, beliau sangat marah saat mengetahui apabila Marry disentuh oleh seseorang. Tentunya saya pernah menjadi korban dari kemarahan itu." Zheng tertawa kecil.
"Apa maksudnya ? Kau menyentuh Marry ?." Kata Agatha.
__ADS_1
"Sebenarnya tidak seburuk itu, saya hanya menepis tangannya ketika dia hendak memukul seorang pelayan. Namun entah kenapa Jeremy termakan oleh kebohongan Marry, ia dengan sengaja berkata bahwa saya melukai tangannya sampai tergores." Kata Zheng memalingkan wajah, terlihat jelas kalau dirinya merasa muak akan bayangan itu.
"Apa ? Jadi kau dituduh ?! Sungguh busuk hati dan otaknya." Agatha bergidik ngeri.
"Maka dari itu, berhati-hatilah saat anda menghadapinya. Dia lebih berbisa dari seekor ular." Zheng memperingati.
"Terimakasih sudah memberitahuku." Balas Agatha.
...
Kreekkk..
"Dimana Adikku ?." Suara yang familiar membuat Jeremy menoleh kearah pintu.
"Apa kau tidak punya rasa empati walau hanya sedikit ?." Balas Jeremy dongkol.
"Hei, aku sudah melihat kalau kau baik-baik saja. Tak perlu kutanyakan lagi." Kata Arkan.
"Ayolah, jangan begitu." Rain mencubit perut Arkan secara hati-hati.
"Ugh ! Baiklah, bagaimana kondisimu ?." Tanya Arkan menepuk bahu Jeremy dengan keras.
"Aarghhhh !." Pria itu mengerang kesakitan.
"Arkan ! kau menyakitinya !." Rain menepis tangan Arkan dari bahu Jeremy.
"Apa Agatha pernah memiliki riwayat serangan panik ?." Pertanyaan Jeremy mengusik ketenangan Arkan.
"Maksudmu ?." Ia mulai berdiri dari sofa.
"Aku menemukan obat dari gejala penyakit tersebut didalam tasnya." Sesaat Arkan merenungkan ucapan pria didepannya, kemudian tak lama setelah itu ia menggeleng.
"Sejauh ini yang terlihat tidak pernah, apa Adikku sakit ?!." Dia bertanya serius.
"Arkan ! Tolong bantu aku untuk segera keluar dari rumah sakit ini." Jeremy hendak bangun, namun Rain menahannya.
"Maaf tapi untuk sementara jangan banyak bergerak, wajahmu masih pucat." Ucap Rain.
"Arkan, katakan pada dokter bahwa aku akan dirawat jalan saja. Dia pasti setuju jika ada perwakilan dari salah satu pihak keluarga." Kata Jeremy lagi.
"Maksudmu apa sih ? Barusan kau menanyakan riwayat penyakit Adikku, lalu sekarang mendadak ingin cepat keluar." Arkan bingung.
"Bantu aku, itu saja." Jeremy menatap Arkan serius.
"Kakak ?." Agatha tiba-tiba saja datang dari arah belakang, lalu Arkan tersenyum lembut padanya.
__ADS_1
"Apa kau sudah beristirahat ?." Arkan memeluk wanita didepannya, juga tak lupa membelai rambut Agatha.
"Tentu saja sudah, sejak kapan kalian datang ?." Kata Agatha.
"Belum lama, bagaimana kondisimu ?." Rain memeluk Agatha sambil tersenyum.
"Aku baik, jauh lebih baik saat Jeremy terbangun." Agatha tertawa kecil, Jeremy diam-diam tersenyum karena bahagia melihat istrinya senang.
"Syukurlah, aku berharap suamimu lekas pulih agar bisa pulang kerumah." Ucap Rain.
"Em itu, Agatha mendadak ingin mengajakku bulan madu saat pulang nanti." Jeremy terkekeh.
"Apa ?!." Arkan tercengang.
"Kenapa wajahmu begitu ? Bukankah itu wajar ? Mereka pasangan suami istri." Rain tertawa geli melihat wajah kekasihnya karena lucu.
"Jadi kau memintaku untuk bicara pada dokter tentang rawat jalan tadi karena tak sabar ingin berbulan madu ?!!." Arkan melotot kearah Jeremy.
"Pffttt." Zheng menahan tawanya akibat melihat kekonyolan ini.
"B-bukan begitu !." Jeremy menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Rawat jalan ? Apa kau benar-benar ingin seperti itu ?." Agatha mendekati Jeremy dengan wajah serius.
"Sayang, aku harus membereskan beberapa hal dan tak bisa berdiam diri terus disini." Ucap Jeremy terdengar seperti memohon.
"Kau baru saja sadar dari koma, lalu sudah memikirkan banyak hal ? Kau lupa aku mengkhawatirkanmu setengah mati ?." Kata Agatha.
"Rasakan itu ! Jangan coba-coba melawan Adikku." Timpal Arkan tertawa.
"Benar Jeremy, Agatha berulang kali tak sadarkan diri saat tahu kabar pesawat yang kau naiki jatuh." Ucap Rain.
"Apa benar ?." Jeremy menatap mata istrinya dihadapan semua orang.
"Mana mungkin Rain berbohong, aku sangat hancur karena tak sanggup mendengar berita itu." Agatha meremas tangan Jeremy kuat-kuat.
"Oh yaampun, aku tak akan membiarkanmu terluka lagi." Kata Jeremy mencium kening Agatha.
"Dasar tak tahu malu ! Bisa-bisanya mencium Adikku dihadapan orang." Arkan mengoceh.
"Memangnya kenapa ? Kau iri ?." Perkataan Jeremy membuat Rain tertawa geli.
"Hei, kalau dia mengabaikanmu terlalu lama, menikahlah dengan pria lain." Sebut Jeremy pada Rain.
"Sudah mengambil Adikku, sekarang kau ingin memprovokasi pacarku ya ?! Keterlaluan !." Arkan menggendong Rain lalu membawanya keluar ruangan sampai wanita itu berteriak untuk meminta diturunkan.
__ADS_1
Selang lima belas menit kemudian, Marry membuka pintu ruangan dan menyapa Jeremy.
"Jeremy ?! Kau sudah sadar ?!."