
Sewaktu kapal sudah berlayar selama tiga jam, mereka akhirnya tiba disebuah pulau yang terlihat sangat indah!
"Baru saja memasuki pulau ini, tapi sudah banyak sekali orang yang berjualan." Kata Adinda tersenyum.
"Ini sama seperti dunia para pedagang, banyak orang-orang dari luar yang sering datang berkunjung kemari karena keindahan pulau nya." Sahut Satria.
"Wah menarik ya! dengan begitu dagangan mereka juga akan laku keras, lihat saja kalau semua barang yang mereka jual seunik dan sebagus ini? siapa juga yang menolak ha-ha." Adinda melihat-lihat barang para penjual kemudian menghampiri sang penjual topi.
"Sayang apakah menurutmu topi ini bagus jika dipakai dengan Arkan?." Tanya Adinda.
"Bagus, coba aku lihat, bagaimana kalau aku yang memakainya?." Satria berpose layaknya model kelas atas dengan topi di kepala nya.
"Ha-ha! Mas hentikan! kamu ini apa sih? aku akan membeli ini untuk Arkan, bukan untuk kamu." Adinda tertawa kecil sambil menarik topi itu.
"Tuan dan Nona sangat serasi, saya juga melihat rasa cinta kalian berdua sangat besar sampai siapapun tak akan mampu memisahkan nya." Ucap penjual topi.
"Kami memang saling mencintai, kalau begitu bungkus yang ini dua." Pinta Satria.
"Kira-kira aku beli apa lagi ya Mas buat Arkan? oh ya! jangan lupa untuk Mama dan Pa....Maaf." Adinda segera menghentikan ucapan nya dengan wajah murung.
"Sayang? kamu baik-baik saja?." Kata Satria memperhatikan wajah cantik itu.
"Aku baik-baik saja." Sahut nya, Satria langsung menggandeng tangan Adinda dan pergi ke tempat lain.
"Lihat, Mama pasti menyukai rok panjang itu." Kata Satria menunjuk penjual rok.
"Ah iya Mas, ayo ke sana! akan aku pilihkan rok yang cocok untuk Mama."
"Itu bagus Mas!."
"Aku akan pilih yang ini!."
Setelah mereka sibuk mencari hadiah untuk keluarga, Satria mengajak istrinya ke sebuah pelukis.
"Selamat datang Tuan dan Nona!." Kata sang pelukis.
"Bisakah anda melukis aku dan istriku? berapapun biaya nya akan saya bayar!." Pinta Satria.
"Lho Mas? kamu mau kita dilukis?." Kata Adinda.
"Tentu saja! lukisan ini akan aku pajang di dinding kamar kita! sini duduk disini!." Satria menarik tangan Adinda agar wanita itu duduk dipangkuan nya.
"Maaf Nona, apa anda sedang hamil?." Tanya pelukis.
"Ya, sudah kelihatan ya rupanya? ha-ha." Adinda tersenyum.
"Sebaiknya Tuan memangku Nona dengan tangan yang melingkar di pinggang, lalu Nona memegang perut Nona sambil memasang wajah sebahagia mungkin." Pelukis itu hendak membantu Adinda untuk meletakkan tangan nya didepan perut.
"Sssh! tidak perlu! hanya aku yang boleh memegang tangan istriku." Satria berkata dengan nada sedikit tak bersahabat.
"Tolong dimaklumi ya, suamiku memang sangat sensitif terhadap hal-hal seperti itu." Adinda menunduk tulus kemudian bergaya sesuai yang dikatakan pelukis tadi.
"Baiklah, tolong jangan bergerak ya, saya hanya perlu 10menit untuk menyelesaikan nya."
...
"Sudah selesai! tinggal menunggu cat nya kering lalu saya akan membungkus lukisan ini." Kata pelukis.
"Berapa totalnya ?." Tanya Satria.
"Hanya 8juta saja untuk Tuan dan Nona." Adinda sedikit mengerutkan alis namun Satria tetap membayarnya.
"Ambil saja sisanya, terimakasih." Kata Satria.
Ketika mereka sudah selesai, keduanya memilih kembali ke kapal karena memang sudah empat jam berjalan-jalan di dalam pulau.
"Mas, tahu tidak? lukisan tadi mahal sekali, padahal biasanya cuma 3-4juta saja." Gumam Adinda.
"Bumil ini sudah pandai membandingkan harga ya, tumben sekali sih, biasanya juga istri Mas tidak pernah tuh membedakan antara murah dan mahal, bawaan bayi ya?." Kata Satria.
"Ih! bukan begitu Mas, kamu tidak melihat ya waktu orang tadi memperhatikan mu dari atas sampai bawah? seperti sedang memikirkan om-om yang kaya raya gitu." Balas Adinda.
"Om-om? memang wajahku seperti om-om ya sampai kamu bilang begitu?." Satria menatap sinis.
"Bukan Mas! ah sudahlah, kamu tidak akan mengerti." Adinda segera mendahului suaminya.
__ADS_1
Wanita itu memasuki kapal dan langsung menuju kamar, ia duduk di atas ranjang seraya membaca buku novel yang sangat tebal.
"Andai saja ya di kenyataan seindah cerita dibuku ini." Ucap Adinda.
"Hei sayang, apa hidupmu tidak indah? kalau iya Mas akan menciptakan hal-hal yang paling indah kali ini." Kata Satria.
"Hal indah apa?!." Adinda menatap penuh harap, siapa tahu ia akan mendapatkan keindahan seisi langit, ha-ha.
Satria mendekati Adinda kemudian menciumi pipinya terus menerus.
Cup, cup, cup, cup!!!
"Mas!!! huaaa!!!! bukan keindahan seperti ini yang aku mau!." Adinda merengek seperti bocah.
"Ha-ha, istriku sangat menggemaskan, hati-hati kita akan bermalam di laut ini, peluk Mas yang erat ya saat tidur, kalau tidak kamu akan terbawa ombak, mau?." Tanya Satria.
"Ombak?! ombak apa?!." Adinda menyipitkan matanya.
"Ombak cintaku padamu." Sahut Satria.
"Astaga, bagaimana mungkin suamiku menggombal seperti ini, ya ampun!." Adinda memijat sedikit keningnya.
"Jangan coba-coba membuatku takut, memangnya kamu mau kalau aku terbawa ombak sungguhan?!." Adinda marah.
...
"Arkan, kenapa kamu main disini sendirian?." Tanya seorang laki-laki.
"Aku memang sendirian Om, kata Nenek tidak apa-apa jika hanya bermain di taman, kan tidak jauh dari pintu belakang." Ucap Arkan.
"Om bisa minta tolong?." Tanya laki-laki tersebut.
"Tolong apa? kalau bisa pasti akan aku bantu." Sahut Arkan.
"Om ingin meminta tolong pada Arkan untuk panggilkan Tante Selin." Katanya lagi.
"Baiklah, aku akan pergi." Arkan berlari ke dalam mencari keberadaan Selin, kemudian ia mencolek tangan wanita itu sehingga Selin menoleh.
"Halo sayang, ada apa? kau membutuhkan sesuatu?." Tanya Selin lembut.
"Seseorang? siapa dia?." Saat Selin bertanya, Arkan justru kabur dan segera menghampiri Selina yang sedang bermain di kamar.
Selin berjalan menuju taman belakang untuk memastikan siapa orang tersebut, lalu setibanya di sana ia menemukan sosok pria tampan yang sedang berdiri termenung.
"Bryan?." Gumam Selin, Bryan yang sadar akan kehadiran Selin langsung berlari kemudian memeluk nya.
"Selin!." Ucap Bryan.
"Lepaskan aku! mau apa kau datang kemari?! tidak puas kau menghancurkan ku?." Kata Selin marah.
"Bagaimana mungkin kau berkata seperti itu padaku? ini semua real kecelakaan! aku tidak berniat sedikitpun menghancurkan mu Selin, aku datang kemari karena aku ingin tahu perkembangan bayi kita." Jawab Bryan.
"Apa katamu?! bayi kita?! ha-ha, ini adalah bayiku! bayi Jonatan." Kata Selin.
"Tidak bisa begitu Selin! dia adalah darah daging ku! kau tak bisa menghilangkan nya seumur hidup." Ucap Bryan.
"Dengar ya Bryan, kamu sama sekali tidak berhak atas bayi ini, semua orang hanya akan mengetahui bahwa ini anakku dan Jonatan, jadi kau lebih baik pergi!! jangan ganggu aku lagi!." Bentak Selin.
"Selin aku mohon sama kamu, izinkan aku untuk melihat keadaan kalian beberapa kali saja, dia juga anakku." Bryan sangat sedih, bahkan dia sampai mengemis pada wanita dihadapan nya sekarang.
"Bryan?." Jonatan datang menghampiri mereka berdua.
"Maaf aku menganggu istrimu lagi, tapi aku berhak untuk datang karena bayi itu adalah anak kandungku." Selin geram mendengar omong kosong itu, tangan nya mulai terangkat hendak menampar pria yang berdiri dihadapan nya, namun Jonatan menahan tangan Selin kuat-kuat.
"Jangan!." Kata Jonatan, keduanya sama-sama terkejut.
"Kenapa?! kenapa kamu melarang aku untuk menamparnya?!." Tanya Selin.
"Apa yang dikatakan oleh Bryan adalah benar! dia berhak atas bayi yang ada didalam perutmu, kau tidak bisa menghapusnya, kelak anak itu pun harus tahu siapa ayah kandungnya." Wajah Selin memucat, kemudian menjatuhkan beberapa air mata.
"Sungguh tidak terduga! bahkan kamu akan mengizinkan dia untuk menjadi ayah dari anakku! kau jahat Jonatan! kau tahu dia seorang bajingan! hah! kau tahu itu! kau tahu dimana dia membuatku hamil seperti ini?!." Selin berteriak keras sambil menangis.
"Selin, redamkan emosimu, apa kau ingin bayimu dalam bahaya karena ulah mu begini?." Ucap Bryan.
"Sudahlah Selin, ini tidak sepenuhnya salah Bryan, kau hamil juga atas kesalahanmu sendiri, kau mabuk. sebetulnya aku kecewa, karena kamu lebih mementingkan tanggapan mu sendiri tanpa mendengarkan semua penjelasan ku, semuanya telah terjadi, tak ada yang bisa dirubah, bagaimana pun dia tetap ayah dari bayimu, dan bagaimana pun juga aku akan mencintai bayi ini seperti anak kandungku sendiri." Jonatan mengajak Selin masuk dan berusaha menenangkan nya, kemudian ia juga menemui Bryan secara gentle.
__ADS_1
"Aku tidak melarang mu sedetikpun untuk melihat keadaan Selin, tapi kau harus tahu batas Bryan, jangan sentuh istriku karena hak mu hanya bayi! bukan Selin! kau tidak ada hubungan apapun dengan nya sehingga kau tak bisa melakukan adegan seperti tadi! aku melihat kau memeluknya, kau pasti mengerti jika menjadi diriku, bagaimana wanita yang paling kau cintai mengandung bayi pria lain? datanglah jika ingin, tapi kumohon, jangan pernah mengambil tindakan yang melebihi hak mu, silahkan pergi." Jonatan mengarahkan tangan nya ke pintu keluar, lalu Bryan pergi dengan rasa amat kecewa.
...
Keesokannya, Adinda dan Satria telah kembali ke rumah, ia baru saja tiba sekitar 15 menit yang lalu.
"Bunda, ini hadiah untukku ya?." Tanya Arkan senang.
"Iya sayang, ini hadiah untukmu, bunda banyak sekali membawa hadiah untuk kalian semua, panggil Selina ya, katakan padanya kalau bunda ingin bertemu." Kata Adinda.
"Baik Bunda." Arkan berlari kecil menemui Selina di kamar.
"Kalian sudah pulang ya? bagaimana perjalanan nya?." Tanya Tania.
"Perjalanan kami baik Ma, bagaimana? apakah Arkan nakal saat aku pergi?." Ucap Adinda, lalu Tania menggelengkan kepala sambil tersenyum ramah.
"Anakmu adalah anak yang pandai, dia sama sekali tidak pernah merepotkan Mama sedikitpun, sangat penurut, jadi teringat Satria pada zaman dulu." Ucap Tania.
"Apa aku anak yang penurut juga?." Tanya Satria penasaran.
"Iya sedikit, tapi kau tetap nakal karena sering menangisi teman-temanmu diluar rumah, pada saat Adinda datang, kau jadi tidak sering keluar, Mama lihat kau juga fokus membahagiakan Adinda." Balas Tania lagi.
"Ah aku jadi malu, Mas memang pria yang manis." Adinda tertawa kecil dan bersandar ke bahu suaminya.
"Kalian ingat tidak sih? waktu dulu kecil saat Adinda memanjat sebuah pohon di taman karena Satria yang mengajari lalu kamu tidak bisa turun?." Kata Tania.
"Aku sedikit lupa, tapi sebentar akan aku ingat-ingat." Adinda berpikir sejenak.
"Aku ingat! Adinda menangis karena tidak bisa turun ha-ha!! lalu aku berusaha membantunya dengan cara mengambil tangga untuk naik ke atas pohon, dan kamu tahu sayang apa yang terjadi? sewaktu aku sedang menaiki tangga tersebut, tiba-tiba ia jatuh sehingga aku melayang ke udara dan ikut jatuh kebawah, demi kamu badanku menjadi sakit-sakit kala itu." Ucap Satria.
"Hei, kamu kan yang ajak aku untuk naik ke sana! dasar payah!." Adinda mencubit pipi suaminya kemudian duduk disebelah Tania.
"Ini hadiah spesial untuk Mama, semoga Mama suka ya." Adinda tersenyum manis.
"Apa ini sayang? Mama buka ya." Tania membuka bungkusan itu dan melihat beberapa rok panjang yang sangat langka di kota ini.
"Ya ampun! cantiknya! kau selalu tahu apa yang Mama suka, siapa yang memilihkan warna nya?." Kata Tania.
"Tentu saja istriku yang paling cantik dong Ma, dia yang memilihkan warna itu untukmu." Balas Satria.
"Sayang, terimakasih banyak ya, Mama akan pakai rok ini nanti." Tania memeluk Adinda karena bahagia.
"Ini sisanya letakkan saja disini, aku akan meminta pelayan untuk memberikan nya pada Selin dan Jonatan." Kata Satria.
"Bunda..." Panggil Selina.
"Halo sayang? apa kabar nak?." Adinda menarik bocah itu ke dalam pelukan nya.
"Kabarku baik, Bunda bawa apa?." Tanya Selina.
"Bunda bawa hadiah untuk kamu, bukanya dikamar saja ya nak, karena Bunda lelah ingin istirahat sebentar, bersenang-senanglah." Pinta Adinda.
"Terimakasih Bunda, aku sayang sekali dengan Bunda." Kata Selina mencium pipi Adinda.
"Bunda juga sayang sama Selina." Satria tersenyum melihat keduanya, dan mengajak Adinda menuju kamar.
Di kamar,
"Entah kenapa aku merasa justru Selina jauh lebih dekat denganmu dari pada Mama nya sendiri." Ucap Satria.
"Hmm, aku pun merasa kalau Selina jauh dari Kak Selin, karena selama ini Kak Selin selalu fokus dengan urusan nya, maaf ya Mas bukan nya aku menjelekkan sepupumu, tapi anak sekecil Selina sangat butuh support dari orang tuanya, aku pernah sangat takut karena tidak bisa bertemu Arkan secara rutin, tapi untungnya sekarang kami bertemu setiap hari, terlebih anakku tumbuh berkecukupan, dia punya ayah dan ibu seperti kita yang sangat mencintai dia." Sahut Adinda.
"Nona!!!!!." Teriak pelayan.
"Ada apa?! kenapa teriak-teriak begitu sih?." Tanya Adinda.
"Bisakah kau bicara yang becus? istriku sedang hamil! kau sangat menganggu ketenangan nya." Kata Satria.
"Arkan menangis Tuan karena topi yang anda hadiahkan penyok." Ucap Desi panik.
"Apa?! ko bisa?!." Adinda terkejut.
"Arkan tidak sengaja mendudukinya saat menaiki ranjang, ia menangis tak karuan, sebaiknya Tuan dan Nona datang ya." Desi segera pergi meninggalkan Adinda yang kebingungan.
"Aku bingung harus sedih atau tertawa karena kelucuan anakmu." Adinda menutup mulutnya dan bergegas turun dari tempat tidur.
__ADS_1