Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Wajah pucat


__ADS_3

Setibanya disana, hari sudah kembali sore.


Agatha sama sekali tak perduli kalau dirinya bahkan belum sempat makan, ia hanya memikirkan bagaimana caranya menemukan Jeremy.


"****** sialan ! Mau apa dia kemari ?!." Dari kejauhan Marry melihat Agatha berjalan kearah dimana orang-orang berkumpul.


Sebelum hal itu terjadi, ia lebih dulu mendatangi Agatha dan menamparnya.


PLAKKKKKK !


"Dasar wanita kurang ajar ! Kau masih punya muka untuk datang kesini ?!." Kata Marry, Agatha sempat diam karena merasa lelah.


"Bukankah seharusnya aku yang berkata begitu ? Kau masih punya muka untuk datang ke tempat ini ? Tempat dimana suamiku hilang ?!!." Ucapnya keras membuat Marry mendengus kesal.


"Berani bicara seperti itu padaku ?! ****** sialan !." Ia menjambak rambut Agatha sehingga Agatha membalasnya.


"Lepaskan !." Pekik Marry.


"Lepaskan rambutku lebih dulu." Balas Agatha begitu tenang.


"Tidak tahu malu ! kau sama sekali tidak terlihat seperti sedih ! Kau pasti ingin menertawai Jeremy kan karena dia hilang ?." Ucap Marry asal.


"Sungguh ? Kau mengatakan itu ?." Agatha melepaskan tangan Marry dari rambutnya kemudian memegang kedua tangan Marry dengan sangat keras.


"Kau gila ya ?! Sakit !." Kata Marry.


"Bukannya kamu yang membuat aku gila ? Hah ?! Cepat katakan sekali lagi kalau aku tidak sedih kehilangan suamiku ? Katakan !." Agatha mendorong Marry perlahan-lahan sampai wanita itu panik.


"Wanita sialan ! Pergi kau !." Marry menendang perut Agatha sampai ia terjatuh.


"Aaaahk !." Sebetulnya sangat sakit, tapi ia berusaha untuk kembali berdiri.


"Marry ?! Nona Agatha ?! Sedang apa mereka ?!." Zheng berlari menghampiri kedua wanita yang sibuk bertengkar.


"Kau sangat rendahan ! Rasakan ini." Marry ingin menginjak kaki Agatha memakai high heelsnya, namun tepat sekali Zheng datang dan mendorong Marry hingga jatuh tersungkur.


"Aaaaahk ! Zheng ?! keterlaluan kau !." Marry sangat kesakitan.


"Anda baik-baik saja ?." Zheng bertanya pada Agatha, sementara anak itu hanya mengangguk padahal wajahnya berubah menjadi pucat.


"Apa kau sudah menemukan Jeremy ?." Kata Agatha.

__ADS_1


"Jeremy masih dalam pencarian, wajah anda pucat, masih kuat berjalan ?." Tanya Zheng, Agatha hanya mengangguk.


Ketika ia berdiri dalam bantuan Zheng, Agatha justru pingsan.


"Nona !." Zheng panik dan langsung menggendongnya kedalam mobil, ia tak tahu harus diletakkan dimana karena tenda sudah dipenuhi korban jiwa.


"Oh yaampun, bagaimana dia datang dengan kondisi seburuk ini ?!." Zheng mengambil minyak kayu putih untuk diarahkan ke lubang hidung Agatha.


"Wajahnya sangat pucat." Pria tersebut berusaha keras untuk membangunkan Agatha memakai segala cara, sampai tiba-tiba wanita itu sadar.


"Kalau sakit sebaiknya jangan datang." Ucap Zheng sambil menghela nafas.


"Tidak sakit." Agatha menjawab lemah perkataan itu.


"Tidak sakit apanya ?! Anda hanya akan membuat pekerjaan saya menjadi dua kali lipat, lihat ini ! pucat kan ?!." Zheng seperti memarahi teman sendiri.


"A-aku lemah karena belum makan, ditambah lagi Marry sempat menendang perutku." Zheng terkejut.


"Anda belum makan ?! Perut anda ditendang ? Sebelah mana ?! Saya akan memanggil dokter." Agatha langsung menahan Zheng agar tidak meminta dokter datang.


"Aku tidak butuh dokter, tolong bantu aku menemukan Jeremy." Zheng menyadari wajah Agatha dipenuhi rasa cemas dan sedih, lalu ia berinisiatif membelikan makanan.


"Apa kau ingin kembali mencari Jeremy ? Aku akan ikut bersamamu." Balas Agatha.


"Hanya ingin membeli makan, dengarkan saya kali ini." Zheng keluar, menutup pintu mobil dan pergi.


Setelah beberapa menit kemudian ia kembali membawa makanan.


Menyuruh Agatha makan seperti mengajak orang lumpuh berlari, sulit sekali.


Tetapi akhirnya dia makan juga.


MALAM TIBA,


"Anda tidak bisa terus menerus disini, fisik anda sedang lemah." Ujar Zheng.


"Tidak perduli seberapa lemah aku, Jeremy harus ditemukan malam ini." Kata Agatha.


"Saya akan menemukannya, tapi anda harus pulang." Mendengar itu Agatha marah, sampai hendak meninju kaca mobil.


"Kau dengar tidak kalau aku akan disini ?!! Satu hari, dua hari bahkan selama Jeremy belum ditemukan !." Zheng tak percaya melihat Agatha seperti baterai yang hampir habis.

__ADS_1


"Oke baik, anda menang." Zheng melepaskan jaketnya untuk dipakaikan kepada Agatha.


"Jangan lepaskan jaket ini, atau Jeremy akan memukulku sampai mati." Agatha menurut.


Ditengah malam, dari jauh Zheng melihat tim SAR membawa kantung mayat yang cukup banyak.


Ia berlari untuk kembali mengecek kantung itu satu persatu.


Namun tak ada satupun wajah Jeremy disana.


"Apa kau masih hidup Jeremy ? Jika iya berikan aku petunjuk." Zheng benar-benar sedih.


Sampai hari berubah lagi menjadi pagi, ia tidak pernah melihat wajah Jeremy diantara para korban itu.


"Zheng, kau tidak tidur semalaman ?." Tanya Agatha menghampirinya.


"Saya lebih kuat dari pada anda." Sahut Zheng.


"Apa sudah ada kabar tentang Jeremy ?." Agatha bertanya, berharap mendapatkan jawaban yang membuatnya sedikit tenang.


"Tidak ada, saya belum bisa menemukan Jeremy." Katanya.


Disisi lain, Arkan masih memutari tempat dimana pesawat itu tenggelam. Dan sang Ayah kembali pulang pagi itu.


"Dasar bodoh, dimana dia ?! Bilangnya mau menjaga Adikku, tapi malah pergi entah kemana." Arkan bergumam.


Beberapa kali ia menemukan orang yang mengambang namun bukanlah Jeremy.


Terlepas dari itu semua, dia tetap membantu para korban jiwa tersebut.


"Aku tidak mungkin pulang dengan tangan kosong ! Agatha pasti akan menangis sepanjang waktu karena aku gagal menemukan cecunguk itu." Arkan menghela nafas panjang, sampai tiba-tiba dia melihat sesuatu yang aneh dari kejauhan.


Kilauan berlian yang tersorot matahari diatas batu.


"Tuan, sepertinya ada seseorang disana." Kata pria disebelah Arkan.


"Benar, cepat minta arahkan kapal kesana." Mereka semua menuju arah yang cukup jauh dari lokasi jatuhnya pesawat.


Dan saat tiba dimana kilauan itu muncul, ia terkejut karena melihat Jeremy tergeletak diatas sana.


"Dia Jeremy !!!!!!!." Sebut Arkan, sontak semua orang segera bergegas mengangkat tubuh itu agar masuk kedalam kapal.

__ADS_1


__ADS_2