Istri CEO Tampan

Istri CEO Tampan
Rosa tua bangka


__ADS_3

beberapa saat kemudian ponsel Satria berdering.


"Halo? ada apa?." Tanya Satria dengan tenang.


"Tuan, kita mendapatkan klien besar dan mereka meminta anda untuk datang ke perusahaan nya yang terletak di Negara C." Ucap seseorang.


"Baik, katakan padanya aku akan berangkat malam ini." Satria menutup ponsel kemudian beralih ke Adinda, wanita itu mengerutkan alis sebagai tanda tidak suka.


"Sayang, maafkan aku ya, tapi aku harus datang ke sana." Kata Satria.


"Memangnya kamu tidak bisa menunda sampai besok? aku tidak mau kamu pergi malam ini." Sebenarnya Satria tidak tega, namun dia tetap harus berangkat.


"Mas hanya pergi sebentar, lagi pula ada Angeline yang akan menjagamu." Satria berusaha menenangkan istrinya.


"Baiklah, tapi janji ya hanya sebentar? kalau Mas bohong aku akan marah." Gumam Adinda manja.


"Iya sayang, Mas janji." Kata Satria seraya mengacak rambut Adinda dengan halus.


..


Malam nya, Satria berjalan keluar kamar ditemani oleh Adinda.


"Hati-hati ya Mas, jaga dirimu di sana." Kata Adinda tersenyum.


"Aku pasti menjaga diri, oh ya Angeline? kakak titip Adinda ya padamu, tolong di jaga, jangan biarkan dia lelah." Ucap Satria, kemudian Angeline tersenyum lembut sambil menjawab.


"Siap deh kak! aku pasti jaga Kak Adinda, tenang saja, istrimu aman bersamaku." Kata Angeline.


"Terimakasih, sebagai imbalan nya, aku pasti akan membelikan mu hadiah." Satria tersenyum kepada Angeline lalu mencium kening Adinda.


"Sayang, dengar ya? Mas hanya sebentar, jangan terlalu banyak melakukan kegiatan berat, semuanya akan berefek buruk pada bayi kita." Ucap Satria.


"Iya Mas, hubungi aku kalau sudah di bandara ya." Satria pun pergi menaiki mobil mewahnya.


Dua hari kemudian, Adinda sedang menonton televisi diruang depan, lalu tiba-tiba suara bel berbunyi.


ting..tong


"Biar saya saja yang buka pintunya Nona." Ucap bibi.


"Baiklah, terimakasih." Adinda kembali menduduki sofa dan memakan cemilan yang ia pegang.


"Hei, dimana Rose?." Tanya seseorang didepan pintu.


"Nyonya Rose sedang sakit, ia dirawat dari beberapa hari yang lalu." Ucap bibi, tamu yang baru saja datang adalah seorang wanita seumuran Rose, ia masuk ke dalam lalu melihat Adinda yang sedang bersantai.


"Siapa kamu?." Tanya wanita tersebut.


"Oh ya, maaf Tante, namaku Adinda." Wanita itu melirik dengan sinis, kemudian meminta penjelasan dari sang bibi, setelah semuanya diberitahu, tiba-tiba wajah wanita itu berubah menjadi dingin.

__ADS_1


"Orang asing ya? aneh sekali Rose mengangkat wanita sepertimu sebagai anak." Wanita dihadapan Adinda sekarang adalah adik dari Rose, ia baru saja datang dari luar negri.


Adinda merasa canggung dan hanya bisa tersenyum ramah walaupun sebenarnya dia jengkel.


"Tolong bawakan koperku." Pinta Rosa.


"Biar saya saja yang membawakan nya Nyonya." Bibi mengambil koper itu kemudian Rosa menepis tangan nya sambil melotot.


"Aku yakin kau masih bisa mendengar dengan baik, cepat pergi! ini adalah tugas Adinda untuk membawakan koperku kedalam!." Kata Rosa, Adinda menurut dan membawakan koper itu masuk.


Rosa melihat kamar yang biasa dia tempati saat ini telah diisi oleh Adinda.


"Apa-apaan ini?! kenapa kamarku dirubah menjadi seperti ini?!." Ucap Rosa.


"Maaf Nyonya, itu semua atas keinginan Nyonya Rose. beliau sendiri yang ingin mengganti desain nya agar Nona Adinda menyukai kamar ini." Jelas bibi.


"Cepat pindahkan barang-barang mu dari sini! kau tidak layak tidur ditempat semewah ini Adinda." Rosa menekankan.


"Tapi Tante, aku ha..."


"Cepat!! jangan banyak bicara kamu! pindahkan sekarang!!!." Rosa meninggikan suaranya, lalu Adinda masuk ke dalam kamar untuk memindahkan barang-barang nya ke kamar tamu.


"Nona, sini saya bantu." Bibi membawakan barang-barang itu ke kamar lain, kemudian membereskan kamarnya agar Adinda merasa nyaman.


"Jangan diambil hati ya Nona, sudah biasa kalau Nyonya Rosa seperti itu." Kata Bibi.


"Iya." Adinda tersenyum lembut.


sudah beberapa jam berlalu, tapi Adinda tidak dapat tidur karena memikirkan banyak hal, namun suara teriakan Rosa terdengar sampai ke telinga Adinda.


"Adinda!." Panggil Rosa, Adinda segera menghampiri wanita tersebut dan bertanya.


"Ada apa Tante? apa kau membutuhkan ku?." Rosa meliriknya dari atas kepala sampai ujung kaki.


"Kau tahu tidak? di dunia ini tidak ada yang gratis? sekarang cepat pijit kakiku yang pegal ini." Ucapan Rose membuat Adinda terkejut.


"Maaf Tante tapi aku tidak bisa, kalau kau ingin pijit lebih baik hubungi ahlinya, aku takut badan Tante semakin sakit jika aku yang memijit kan nya." Adinda hendak pergi namun ditarik oleh Rosa.


"Cepat! Aku hanya ingin kamu yang melakukan nya!." Kata Rosa, setelah selesai dipijit oleh Adinda, Wanita itu meminta untuk dibuatkan susu hangat.


"Tante? sebaiknya anda meminta bibi untuk membuat teh itu, karena aku bukan pembantu di rumah ini." Adinda sedikit kesal.


"Lancang kamu!." Rosa kesal dan menyiram Adinda dengan air putih disebelahnya.


"Aaah!." Adinda mundur selangkah sambil memegangi bajunya yang basah, Rosa mendorong Adinda hingga hampir saja terjatuh.


untungnya Angeline datang, dan memegang tubuh Adinda.


"Hei! jaga sikapmu! keterlaluan kau ya! dia ini sedang hamil! dasar Rosa tua bangka!!!." Angeline berkata keras kepada wanita itu, sepertinya hubungan keduanya tidak terlihat baik.

__ADS_1


"Angeline terimakasih ya, a-aku ke kamar dulu." Adinda pergi ke kamar dan mengganti pakaian nya.


"Anak kecil! tau apa kamu! dia itu orang asing! kau tidak seharusnya membawa dia kesini!!! kau sama saja seperti ibumu yang bodoh itu!!." Angeline tercengang dan reflek menampar wajah Rosa.


"Jangan hina Mommy! dia jauh lebih baik dari pada kamu Rosa!." Angeline memelototi wanita dihadapan nya kemudian mendorong Rosa sampai jatuh diatas kasur.


"Kurang ajar kamu Angeline! awas saja ya!." Rosa marah sambil melempar sepatu tinggi nya ke arah Angeline, karena wanita yang dianggap bocah kecil itu memiliki kelincahan jadi sepatu tersebut tidak mengenai tubuhnya.


"Aku akan laporkan hal ini pada Dad!." Teriak Angeline pergi.


Sore-sore Adinda ingin makan bersama Angeline, lalu Rosa datang dan menarik tangan nya.


"Kau tidak pantas makan dimeja ini! makan lah di dapur!." Kata Rosa.


"Dasar wanita bermuka dua! berani nya kau mengusir kakak ku dari meja ini!! kau lah yang harus makan di dapur! bercermin dong! wajahmu itu mirip pembantu tau!." Angeline kesal, tapi Rosa jauh lebih kesal karena dipermalukan oleh Angeline.


"Kau senang ya kalau mulutmu aku kasih sambal?! beraninya melawan orang tua!." Kata Rosa.


"Lho?! kamu sendiri berani nya lawan anak kecil!." Angeline menjawab seraya tertawa sinis.


"Kak? jangan kemana-mana ya, makan saja disini." Angeline memegang tangan Adinda dan mengambilkan nya nasi.


"untuk ku mana?!." Rosa menatap Angeline dan menyodorkan piringnya.


Angeline mengambilkan nasi dan beberapa lauk untuk diletakkan di piring tersebut, sejenak Rosa tersenyum sinis, tapi Angeline segera merebut piring nya.


"Pusss, meongg!." Angeline memanggil kucing yang biasa datang meminta makan di rumah itu.


"Angeline!!!!!." Rosa kesal.


"Ups! maaf ya! mana mungkin aku sudi mengambilkan mu makan, aku jauh lebih sudi menyediakan semua itu untuk seekor kucing." Angeline tertawa kecil dan meletakkan piringnya ke bawah.


Saat makan selesai, Adinda masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya, ia menghela nafas karena harus bertemu dengan orang seperti Rose.


"Mas, kamu kapan pulang sih." Gumam Adinda sedih.


"Eh Rosa! lihat tuh Daddy sudah pulang." Angeline mengatakan itu dengan sengaja agar Rosa keluar dari kamar, ketika wanita itu melangkah penasaran ia langsung terpeleset.


"Aaaaaaah! BRUK!!!." Angeline tertawa geli melihat Rosa jatuh ke lantai.


"Angeline, tega sekali kamu ya!." Adinda mendengar suara keras tersebut dan keluar, ia melihat Rosa terduduk dilantai dengan kesakitan.


"Angeline?! apa yang kamu lakukan?!." Adinda tak melihat kalau ada sedikit minyak dibawah Rosa.


"Diam kau! bantu aku!." Adinda mengulurkan tangan dan meraih tangan Rosa, entah apa yang merasuki wanita itu, sudah di tolong bukan nya berterimakasih malah sengaja menjatuhkan Adinda.


"Aaah!." Adinda merintih kesakitan sambil memegang perutnya.


"Kakak?!!." Angeline panik, ia ingin membantu Adinda tetapi Rosa menariknya ke belakang.

__ADS_1


"Kau harus diberi pelajaran!." Ucap Rosa.


"Mas.. perutku sakit." Gumam Adinda pelan, tangan nya meremas perut itu dengan kuat, tubuhnya pun terasa lemas, jantung Adinda berdegup kencang, hingga air mata di wajah cantik itu perlahan menetes karena khawatir akan bayinya.


__ADS_2